Kamu Dosenku Dan Jodohku

Kamu Dosenku Dan Jodohku
18. LAST DAY (?)


__ADS_3

Hari ini Chelsea berencana untuk pulang kembali kerumahnya. Disaat sedang berbenah, Fahren ternyata memandangi kegiatan tersebut dari pintu. Ia bersender disana.


"Kayak ada yang kurang, tapi apa?" Monolog Chelsea sambil berkacak pinggang, sedang memikirkan sesuatu. Ia sering sekali melupakan sesuatu, jangan sampai ia melupakan namanya sendiri, it's not good.


"Nyari ini?" Tanya Fahren, yang membuat Chelsea sedikit tersentak akibat terkejut. Ia berbalik badan, sedangkan pria itu mendekatinya sambil membawa sebuah barang yang memang Chelsea cari.


Fahren membeberkan nya keatas, terdapat sebuah novel yang berjudul "Kamu Dosenku dan Jodohku" hal itu sontak membuat wajah Chelsea memerah. Mana bacaan 18+ terpampang begitu nyata disana,///>_//.


"Kamu Dosenku dan Jodohku" Fahren membacanya hati hati dan dengan nada sedikit mengejek. Hal itu sontak membuat Chelsea kesal, dia kira dosennya ini sudah berubah, ternyata tetap saja.


"Kembaliin nggak??!" Ujar Chelsea sambil meloncat loncat meraih novel yang Fahren pegang ke atas. Tentu saja, dengan perbedaan tinggi yang ekstrem membuat Chelsea kewalahan.


Fahren terkekeh melihat gadis didepannya menahan kesal akibat novel yang gadis itu coba sembunyikan. Mukanya yang memerah meninggalkan kesan imut bagi Fahren.


"Kembaliin pak Fahren!!" Teriak Chelsea kesal sambil terus bersusah payah mengapai novel miliknya. Sementara Fahren malah terbahak lebih keras dan semakin meninggikan novel itu.


Chelsea trus saja melompat tak kenal lelah, meskipun novel itu tidak akan ia dapatkan, melihat tingginya yang hanya sedada Fahren. Gadis itu tak kenal lelah.


Tak sengaja keseimbangan Chelsea tergoyah sehingga membuat dirinya terjatuh ke arah Fahren. Chelsea menimpanya. Mereka jatuh tepat di ranjang milik Chelsea.


"Aduh" racau Fahren kesakitan. Sementara Chelsea hanya memberikan cengirang khas nya.


Fahren menatap Chelsea begitu intens yang membuat gadis di atasnya itu seolah terhinoptis untuk terus melihatnya. Lupakan tentang novel, lupakan tentang Chiko yang memandangi mereka dengan diam. Seolah dunia ini hanya punya mereka, dan seolah waktu mau berhenti sejenak hanya untuk mereka.


Mata Fahren sedikit menutup, kemudian mendekatkan wajahnya ke muka gadis di atasnya.


Cup.


Satu kecupan di bibir mendarat begitu saja tanpa Chelsea sadari. Pria dibawahnya hanya tersenyum, dan coba tebak, muka Chelsea sungguh sangat memerah sekarang.


Tangan kekar Fahren berjalan menyisir rambut Chelsea ke belakang. Lalu tersenyum. "Mau jadi pacar saya?" Tanya Fahren dengan lembut. Membuat Chelsea membulatkan matanya tak percaya.


"Boleh?" Tanya lagi Fahren, senyuman tulusnya masih melekat di bibirnya. Hal itu mampu membuat Chelsea betah melihatnya, tapi gengsi lah ya.

__ADS_1


Chelsea memalingkan mukanya, namun masih dengan keadaan menimpa Fahren.


Wajahnya sungguh memerah sekarang. Dengan tegas Chelsea berkata, "nggak!"


Hal itu membuat Fahren menaikkan sebelah alisnya. "Jadi Chelsea gak mau nerima Fahren jadi pacarnya?" Tanya Fahren seperti anak kecil. Gadis yang tadinya mencoba menahan senyum, sekarang merelakan senyumannya terlihat oleh dosen di bawahnya.


"Jangan lebay deh" Tangan Chelsea memukul dada Fahren pelan, sementara sang empunya hanya mencoba untuk menahan senyum dan pipi yang kian lama makin memerah.


"Trus gimana?" Tanya pria itu. "Harus pake bunga sama cokelat ya nembaknya?" Sambungnya. Chelsea menggeleng, "nggak kok". Fahren mengerutkan alisnya, "Trus, cara supaya kamu nerima saya gimana?" Tanya nya lagi.


Gadis bersurai sepinggang itu menatap mata Fahren, mereka berkontak mata selama beberapa detik. Kemudian Chelsea memalingkan wajahnya. Lalu mengangguk sambil menahan senyum. Jangan tanya bagaimana merahnya pipi gadis itu sekarang, begitu pula Fahren yang telinganya seperti udang rebus.


"Iya, saya mau"


Fahren dengan segera memeluk Chelsea, lalu mencium pucuk kepala gadis itu berkali kali. Sedangkan Chelsea yang bersender di dada kekar Fahren terkekeh melihat tingkah Fahren yang seperti sedang mendapatkan sebuah hadiah yang besar. Walaupun Chelsea memang hadiah yang besar bagi Fahren. Kebahagiaan menghiasi kamar tersebut.


"Dahlah Tri, nikahin langsung aja" ujar seseorang dari arah pintu. "Iya feb" jawab yang lainnya.


"Bunda?!"


•••••


"Gimana? Setuju nggak sama usul mama?" Tanya Mama, sementara kedua sejoli yang ditanya hanya diam menundukkan kepala. "Tadi aja senyam senyum karena udah pacaran. Giliran dikasi restu buat nikah malah gamau" kompor Bunda. Membuat Fahren menengadah dan menatap dengan mata berbinar, "Beneran direstuin??!!" Chelsea yang berada disampingnya segera menatap pria disampingnya. Betapa senangnya dosen itu saat mendengar kata restu.


"Kenapa nggak?" Ujar Bunda. Fahren yang mendengar itu reflek berkata "Yes!". "Tunggu dulu Bun!!! Chelsea kan belum selesai kuliah. Tunggu Chelsea selesai kuliah dulu lah.." tuntut Gadis itu.


"Iya Tri, kasihan anakmu. Tinggal buat skripsi plus sidang doang. Habis itu selesai." Sahut Mama. Sementara Bunda mengangguk membenarkan. "Tunggu Chelsea lulus kuliah dulu. Baru nanti kamu bisa nikah sama anak Tante, tapi inget selama beberapa bulan ini jangan macam macam sama Chelsea, tadi aja main seenaknya nyium anak orang" jelas Bunda.


"Makasih tan, saya janji akan jaga anak tante" kata Fahren meyakinkan sambil menyalami Bunda dengan semangatnya. Lalu beralih ke Chelsea yang menatapnya bingung, 'Nih dosen tumben banget semangat gini, ngebet banget nikah sumpah!' Batin Chelsea merasa heran.


Dengan tiba tiba Fahren memeluk gadis didepannya. Chelsea membulatkan mata. Sumpah! Ni dosen maunya apasihh?! Ada Bunda sama Tante Febri lohh!Tuhan tolongin Chelsea.


"Dasar anak muda" bisik Mama ke Bunda. Sementara Bunda hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala.

__ADS_1


•••••


Chelsea merebahkan diri di ranjang kesayangannya yang sudah lama tidak ia tiduri. Mengingat kejadian tadi pagi, membuat pipinya merah kembali. Ia tidak menyangka Fahren yang hobinya marah marah serta bertatapan tajam itu mejadi seperti abg yang baru saja mendapatkan cinta.


Dan ia juga tidak menyangka, mencintai dosen yang selama ini dia benci. Lelah, Chelsea memutuskan untuk pergi ke alam bawah sadarnya.


"Hei! Bangun! Hei!" Seseorang memanggil gadis yang tengah terlelap itu. Chelsea, merasa kesal akibat tidur siangnya yang diganggu, membuka dengan paksa matanya. "Pak Fahren? Kok ada dikamar saya?" Tanya Chelsea, sementara pria didepannya hanya mengernyit, kamarnya?


"Ini disofa, di apartemen saya" sejenak Chelsea mencerna perkataan Fahren, kemudian membulatkan mata. "Bapak nyulik saya?" Fahren mengangkat satu alisnya. "Kamu demam?" Tanya pria itu. Lalu berjongkok didepan Chelsea, tangannya bergerak ke dahi gadis itu. "Nggak" monolognya sambil menggelengkan kepala.


"Tadi abis ngapain?" Tanya Chelsea sambil menurunkan tangan dosen didepannya dari dahinya ke perutnya, ia tak sengaja melakukannya. "Abis jalan jalan ma Revan" jawab Fahren masih kebingungan dengan gadis didepannya.


"Trus Revan mana?!"


"Udah diambil tante Rima"


"Trus tadi ada postingannya Kelvin nggak?!"


"Kelvin? Ohh jadi itu yang buat kamu ketiduran di pelukan saya trus ngigo ngigo gak jelas, cuma karena postingan si Kelvin Kelvin itu?" Tanya Fahren mengangguk angguk seolah mengerti kenapa gadis didepannya ini bersikap aneh saat terbangun.


"Berarti tadi cuma mimpi dong?" Tanya Chelsea seolah tak percaya. Sementara Fahren mengangguk, "Mungkin. Kamu tidurnya sambil senyum senyum, saya jadi khawatir" jelas Fahren.


Chelsea menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya, merasa malu mengingat mimpi yang dia alami itu. Sungguh sangat memalukan, ia merutuki dirinya sendiri.


"Udah, besok saya yang nyelesaiin masalah postingan itu" tangan Fahren tergerak mengacak acak pucuk rambut gadis didepannya. Kemudian dia berlalu pergi kedapur.


Chelsea masih bengong, tidak menyangka dirinya bisa memimpikan dosen nggak jelas itu. Apalagi bermimpi ditembak, ahhh mengingatnya lagi semakin membuatnya malu.


Jika begini tentu saja ia tak suka, bagaimana tidak? Setiap melihat wajah Fahren, bayangan tentang mimpinya yang dicium pria itu lalu dengan lembut mengatakan dia mencintainya, ahh Chelsea sedikit berdoa agar ingatan tentang mimpinya itu dihapus saja. Giliran mimpiin bias aja nggak bisa, ini malah mimpiin dosen nyebelin, arghhh....!!!!!


*****


TBC🍈

__ADS_1


__ADS_2