
Chelsea memutuskan untuk bangun pagi sekarang. Sekitar jam 5:30 AM. Ia bersiap pergi kedapur untuk menyiapkan masakan, tak lupa ia membawa buku resep untuk dijadikannya pedoman.
Apartemen milik Fahren masih terasa sepi. Chiko sudah bangun mendengar suara Chelsea dari dapur. Sedangkan sang pemilik apartemen, masih bergulat di mimpinya.
Sekitar jam 6:00 AM. Masakan yang Chelsea buat masih setengah jadi. Sedangkan sang empunya apartemen sudah terlihat batang hidungnya.
Fahren masih dengan muka bantalnya, berjalan menuju dapur dan mengambil air minum. "Kamu masak?" Tanya Fahren, matanya sedikit tertutup akibat mengantuk. Sedangkan Chelsea hanya mengangguk, sambil sibuk membolak balikkan nasi yang ia masak.
"Pagi pagi makan nasi goreng. Nggak berlebihan?" Tanya Fahren yang membuat Chelsea cemberut. Padahal dia ingin membuatnya karena ingin berterima kasih pada dosennya itu, ahh ternyata begini responnya. Ia kira Fahren akan senang.
Melihat perubahan muka Chelsea, Fahren merasa bersalah. "Jangan buatkan yang pedas," ujar Fahren sambil tersenyum. Kemudian segera pergi lagi, meninggalkan Chelsea yang kembali cerah. Perkataan Fahren tadi maksudnya, dia mau kan memakan masakan yang Chelsea buat?
Selang beberapa menit, hidangan yang Chelsea buat sudah terhidang dengan rapi di meja kecil yang biasa mereka berdua gunakan untuk makan. "Pak Fahren, udah selesai nih" panggil Chelsea pada Fahren yang sedang duduk di sofa sambil memangku laptopnya.
Pria itu sudah selesai mandi, dan seperti biasa, ia akan bertelanjang dada dan membuat Chelsea kembali salah tingkah. Untungnya gadis itu pandai menyembunyikannya.
"Ada jaminan ini bakalan enak?" Tanya Fahren lalu mengambil nasi goreng miliknya yang sudah Chelsea tata sedemikian rupa. "Buku itu jaminannya," ujar Chelsea sambil menunjuk buku resep yang ia taruh dipojok meja, menggunakan dagunya.
Fahren tersenyum. Gadis didepannya ini sungguh membuat dirinya gila. Kadang menangis, kadang tertawa dengan keras, kadang bersikap konyol, juga bersikap dewasa. Fahren yang 4 hari ini sering berada disampingnya sudah terbiasa. Entah kenapa, semenjak Chelsea berada disampingnya, hidupnya terasa seperti lebih berwarna dibanding biasanya.
***
Disini Chelsea sekarang. Diam disebuah cafe menunggu teman temannya datang. Sudah sekitar 10 menit ia menunggu namun batang hidung teman temannya belum juga muncul.
"DAARRRRR."
Chelsea menekan dada, dan menutup matanya. Viona, temannya yang satu itu, membuat dirinya mematung untuk beberapa saat. "Bahahahaha, weee bangun. Ini gue, Vio" ujar temannya itu sambil meminum minuman Chelsea.
"Lo tau nggak?! Gue bisa mati akibat candaan lo itu. Tanggung jawab kalo Bangchan nggak bisa nemuin jodohnya nantik!" Kesal Chelsea yang malah membuat Viona tambah tertawa.
"Jodoh lo udah didepan mata, masih aja mikirin Bangchan. Aelah." Tangan gadis berambut keriting itu menoyor kepala Chelsea. Membuat yang ditoyor menatap tajam. Viona malah tambah tertawa. (Definisi temen laknat ya gini). Viona duduk didepan Chelsea sambil memakan biskuit yang temannya pesan.
__ADS_1
Bruk...
Gabriel, salah satu teman Chelsea yang lain. Dengan santainya mendudukan diri di samping Viona, telingannya ia sumpal dengan earpod, tangannya tak jemu mengetikkan sesuatu di smartphone yang ia pegang.
"Nah ini. Kerjaannya diem diem bae kek setan. Ngapain sih liat hape mulu? Ngechat juga biasanya singkat singkat," cerocos Viona dengan mulut yang masih penuh dengan biskuit yang ia makan. Hal itu membuat, remahan remahan biskuit keluar dari bibirnya.
"Diem bisa nggak?!" Kesal Gabriel, namun makin membuat Viona ngelunjak. Ia malah mendekatkan dirinya ke Gabriel, yang tentu membuat Gabriel merasa jijik.
Chelsea hanya terkekeh melihat kelakuan kedua temannya itu. Tiada hari mereka tidak heboh. Bahkan sekarang saja, beberapa pengunjung kafe terus saja melirik ke arah mereka. Chelsea? Ia sudah biasa dengan situasi ini. Jika nantinya ditanya, ia akan bilang, kedua manusia didepannya ini bukanlah temannya.
"Udah lama nunggunya?" Tanya seseorang dari belakang Chelsea, Rea. Gadis berambut seleher itu mengambil tempat duduk di samping Chelsea. Sedangkan Chelsea, ia cukup canggung akibat peristiwa terdahulu.
"Aduh, Gab. Gue mo ke kamar mandi dulu, anterin." Pinta Viona langsung menggandeng tangan Gabriel menuju kearah toilet, meninggalkan Chelsea dan Rea yang diam membisu.
Kecanggungan menghiasi mereka. Dari yang tadinya menjadi bangku terusuh, sekarang menjadi bangku tersepi yang pernah ada.
"Hai" sapa Rea sambil tersenyum. Chelsea membalasnya dengan senyuman canggung, "hai juga."
"Kita udah putus" jawab singkat Rea sambil tersenyum pahit. "Masih ada cowo yang baik diluar sana," ujar Chelsea menenangkan sambil menepuk pudak gadis bersurai pendek disampingnya. Rea membalas hanya dengan senyuman.
Hari ini, dari siang hingga malam, Chelsea habiskan bersama teman temannya. Mulai dari nongkrong di kafe, karaokean, dan menonton film mereka lakukan.
"Ehh.... kita ke klub di depan villa Freance yuk," ajak Rea yang mendapat persetujuan dari kedua temannya, kecuali Chelsea. Gadis itu bingung, bagaimana ia akan bilang pada Fahren nantinya. "Chel? Mau ikut nggak?" Tanya Viona sambil menggoyang goyangkan Chelsea yang sedang melamun. Gadis berambut panjang itu tersadar dari lamunannya, dan segera mengangguk sambil tersenyum. Biarlah nanti saja dia bilang pada Fahren.
Mereka memang sering pergi ke klub itu. Tentunya bukan klub klub kebanyakan yang isinya tidak pantas. Klub yang sering mereka datangi itu, merupakan klub khusus anak muda yang ingin bersenang senang. Didalamnya tidak ada alkohol atau anggur, para bartender hanya menyediakan minuman bersoda dan aneka jus.
Mobil yang Rea bawa sudah sampai di sebuah gedung dengan kerlap kerlip didalamnya. Terdengar sayup sayup suara musik yang menggema disana. "Yuk, masuk" ajak Rea. Chelsea mengambil smartphonenya hendak mengirimkan pesan ke Fahren bahwa dia tidak akan pulang sekarang karena menginap di rumah Rea. Namun, dihalangi karena Rea dengan cepat menggenggam tangannya untuk diajak masuk. Meninggalkan Smartphonenya didalam mobil.
"Haiiii....." sapa Rea pada semua orang yang ada disana, tidak terdengar suara karena musik terlalu keras, tapi mereka bisa melihatnnya dari gerak bibir. Kejadian menyenangkan akan dimulai sekarang, itu pikir Rea.
--
__ADS_1
Waktu di jam tangan Fahren sudah menunjukkan pukul 09:50 PM. Ia sudah menunggu dari sekitar 5 jam lalu dari pukul 05:00 PM. Tapi seseorang yang ditunggunya tak kunjung datang. Sudah menelepon, tapi tak kunjung diangkat. Ia cemas, apalagi keluarganya sudah mempercayainya untuk menjaga gadis itu, Chelsea.
Fahren baru saja pulang dari kampus, untuk menyelesaikan masalah tentang postingan pria bernama Kelvin itu. Dan pulang pulang, ia tidak mendapati Chelsea di apartemennya.
"Shit! Dimana gadis itu?" Tanya Fahren kepada diri sendiri. Sambil terus menelepon ke nomor Chelsea. Namun, nihil, tak ada satupun panggilannya terjawab.
Sementara itu, dilain tempat. Chelsea mematung, saat mendapati seorang lelaki yang ia cintai menatapnya lamat lamat. Kemudian mendekatinya. "Lama nggak ketemu Chel" sapanya sambil tersenyum.
Chelsea tersenyum paksa. "Iya, entah kenapa renggang banget ya kita, semenjak kejadian itu" ujar Chelsea. "Kalau boleh, apa ada kesempatan bagi gue?" Tanya pria itu sambil memegang kedua tangan Chelsea.
Chelsea mengangguk, mengiyakan.
"Trus Rea gimana?" Tanya Chelsea. "Rea ikhlas kok, tapi pacar lo nggak apa apa?"
"Pacar? Siapa?"
"Fahren"
"Kami nggak pacaran kok"
"Ohh, benarkah?" Chelsea mengangguk. Pria didepannya tersenyum menyeringai. "Ikut gue"
"Eh?! Kemana?" Tanya Chelsea dengan tangan yang terus ditarik oleh pria yang kini menjadi pacarnya itu. Mereka menuju ke depan klub, lalu memasuki villa Freance yang tepat berada di depan klub tersebut.
Pria itu mengajaknya kesebuah kamar. Chelsea bingung, apa yang mau ditujukkan pacarnya ini. Mereka memasuki ruangan tersebut.
Ceklek.
Chelsea yang sedang mengamati langsung berbalik saat mendengar suara pintu terkunci. Ia menatap tak percaya pada pria didepannya. "Kelvin, lo mau apa?!" Gumam Chelsea ketakutan. Sedangkan Kelvin, pria itu menyeringai penuh arti pada gadis didepannya.
*****
__ADS_1
Tbc🍈