Karma Dari Sang Pelakor

Karma Dari Sang Pelakor
1.11


__ADS_3

Karma Dari Sang Pelakor


BAB 11


...****************...


1 bulan kemudian,.


Mira mulai menata hidupnya, walau pun ia menyesali keputusannya. Mira Tidak bisa memungkiri, bahwa Mira kadang-kadang merindukan sosok Pria yang pertama kali telah mengisi palung hatinya .


Di sela Mira ingin melupakan, Dion terus menerus mengganggu Mira Dengan menelfon bahkan sering mengirim SMS. Namun, semua itu di abaikan oleh Mira. Alasan Mira tidak mengganti nomor Ponselnya, Karna nomor tersebut telah terdaftar di kampus dan beberapa dosen telah menyimpan Nomor Mira.


Dan hari Ini, Mira kembali berkonsultasi kepada Dosen pembimbingnya. Mengenai proposal dan skripsi yang sedang Mira ajukan.


Setelah Mira selesai pengurusan, Mira berjalan di lorong koridor kampus yang nampak ramai oleh para Mahasiswa dan Mahasiswi yang berlalulalang.


"Woi Mir, Makan yuk!" Ajak Denok yang tiba-tiba merangkul punggung Mira dari arah belakang.


"Ah Iya, bagaimana urusanmu dek?" Tanya Mira.


"Ya Alhamdulillah beres! Eh, kamu kemaren libur ke kampung ya?"


"Iya. Kenapa memangnya?"


" Tidak! Soalnya kulitmu terlihat makin gosong."


" Sialan! Aku pikir ada apa," sahut Mira yang dengan refleks mendorong Wajah Denok.


"Hahaha! Mau makan di mana nih?" Tanya Denok di sela tawanya.


"Mbok yo terserah, aku mah manut wae,"


jawab Mira dengan langkah kaki yang terus melangkah menelusuri koridor kampus bersama Denok.


"Bosan aku, kalau makan di sekitaran kampus. Pengen cari yang lebih berkelas gitu!" Ucap Denok.


" Ye.. Sok banget berkelas, biasa juga makan mie pake telor," timpal Mira.


"Hahaha... Sekali-sekali lah, kita makan yang Rada-rada bergizi gitu,"


Mira menghentikan langkah kakinya," tunggu! Oh iya, bagaimana kalau kita ke WS aja. Lumayan Murah," ucap Mira memberi Saran.


"Ya.. Ayo kita gaskuen lah kita ke sana, Sudah lama ga makan di WS," Sahut Denok bersemangat.


Akhirnya, Denok dan Mira pun menuju ke Parkiran Motor. Lalu mengambil sepeda motor mereka, Kemudian menuju ke tempat yang di maksud.


Setelah tiba, Mira dan Denok pun memilih tempat duduk paling pojok. Lalu mulai memilih menu makanan yang ingin mereka makan.


"makan apa kamu Nok?" Tanya Mira.


"Mmmm... Beef steak blackpapper aja dah!" Jawabnya.

__ADS_1


"Ok. Aku juga sama, sama minumnya milk shake spesial coklat," Ucap Mira.


"Pake nasi tidak punyamu?"


"Pake dong. Tidak kenyang kalau nasi ga masuk lambung,"


Setelah mencatat pesanan, Denok melabaikan tangan. Tak lama, karyawan WS pun datang mengambil kertas yang sudah di tulis oleh Denok.


Denok, merupakan Teman kelas Mira. Orangnya asyik jika di ajak jalan. Meski begitu, Denok susah untuk di temui. walaupun Mira dan Denok satu kelas. Karna setelah mata kuliah selasi, Si Denok pasti sudah hilang entah kemana.


Setelah pesanan Denok dan Mira tersaji, mereka pun menyantap makanan mereka.


"Hmm... Yummy!!" Guman Denok.


"Untung saja, ada warung steak seharga kantong pelajar ya Nok. Jadi kita bisa makan ala orang kaya gitu," tukas Mira di sela makan mereka.


"Ya iyalah. Nama juga kota pelajar, jadi harus di sesuaikan 'lah"


Mira mengangguk dengan mulut yang terisi full, Setelah itu mereka pun makan dalam diam.


Setelah selesai makan, Mira dan Denok pun berpisah karna harus kembali ke kostan mereka masing-masing.


Mira mengendarai sepeda motornya menuju ke arah warnet. Ia ingin mengambil beberapa tugas kuliah. Setelah sampai di Warnet, Mira langsung menghidupkan PC yang ada di hadapannya.


Mira mulai fokus mencari-cari artikel menyangkut tugasnya. Sesekali ia menonton YT untuk menghilangkan bosannya. Lalu kemudian ia kembali bergelut dengan tugas-tugas yang di berikan oleh Dosen.


"Hooaamm... Sudah jam berapa ya?" Guman Mira menatap Layar PC paling bawah.


Setelah selesai, Mira membayar tagihan warnet. Lalu beranjak dari warnet tersebut, kemudian Mira melanjutkan perjalanannya ke arah Mirota UGM untuk membeli keperluan kehidupannya.


Mira akan membeli, mie instan, alat mandi, telur, roti tawar , susu dan beberapa kebutuhan lainnya. Agar Mira tidak kepikiran Lagi, setelah kebutuhannya telah terbeli. Mira kembali mengendarai sepeda motornya ke arah kostannya.


Mira merasakan lelah yang luar biasa, karna aktifitas hari ini. Ia memacu sepada motornya lebih cepat, agar ia dapat sampai di kostannya dan beristirahat dalam damai.


Setelah sampai di kostan, Mira memakirkan sepada motornya di garasi kostan.


"Eh Mir, itu ada orang yang nyariin kamu," ucap salah satu penghuni kost.


Alis Mira mengkerut, "siapa?" Tanya Mira.


"Tidak tahu , laki-laki. Dia nungguin kamu dari tadi." Sahutnya.


"Oh.. iya, makasih ya!" Ucap Mira.


"Iya sama-sama. Aku jalan yok!"


"Iya.. hati-hati!"


Setelah mendengar ucapan wanita penghuni kostan tersebut, Mira dengan cepat mengambil bawaannya hasil belanja yang ia gantung di sepeda motor.


Dengan penasaran, Mira melangkah menuju ke arah kamarnya.

__ADS_1


"Siapa yanga mencariku?" Guman Mira yang terus melangkah.


Degh!!


"Dion?" Ucap Mira kaget.


Dion langsung menoleh ke arah Mira yang langkahnya terhenti mematung.


"Mira, kamu sudah pulang kuliah?"


Ucapnya sembari beranjak dari duduk lalu berjalan menghampiri Mira dengan raut yang terlihat bahagian.


Mira terpaku, hatinya perih ketika menatap Dion. Pria yang ingin Mira lupakan, namun kenapa lelaki itu muncul di hadapannya?. Padahal, hari-hari Mira mulai membaik dan sedikit demi sedikit, Mira telah menghilangkan nama Dion di hatinya. Tapi, ia harus kembali merasakan getar di hatinya ketika berkontak mata dengan Dion kembali.


"Sini ku bantu," ucap Dion sembari tangannya ingin meraih beberapa kresek yang ada di tangan Mira.


"Tidak perlu!"


Ucap Mira tegas sambil mengelak tangannya yang ingin di raih oleh Dion.


"Kamu masih marah?" Tanya Dion dengan nada pelan.


Mira memasang wajah datar, dan menahan matanya yang terasa perih.


"Untuk apa kamu datang? Sudah aku katakan, bahwa kita putus! Anggap Saja pertemuan kita itu, sesuatu yang tidak sengaja." Ucap Mira.


"Kamu yang memutuskan hubungan ini dengan sepihak, tapi aku tidak ingin hubungan ini berakhir," ucap Dion.


Mira yang mendengar ucapan Dion, refleks memukul Dion dengan kantong belanjaan yang ia genggam,"Bajingan kamu Dion! Istrimu kau anggap apa Ha? Dan hubungan kita, hubungan kita mau kamu bawa kemana. Sialan!" Pekik Mira dengan terus memukul Dion dengan asal.


"Hei...hei.. tidak enak di lihat orang, bisakah kita mencari tempat untuk berbicara?" Ucap Dion yang mencoba menahan pukulan kresek yang di arahkan kepadanya.


Mira menghentikan tangannya dengan dada yang terlihat naik turun karna emosi , lalu Mira melirik ke arah kamar-kamar yang berjejer. Ternyata, ada beberapa orang yang sedang melihatnya dan Dion yang kini sedang bertengkar.


"Tunggu, aku menaruh barangku dulu,"


Ucap Mira yang kemudian menuju kamarnya. Setela itu, Mira kembali menemui Dion.


" Ayo!"


Ajak Mira yang langsung berjalan menuju ke sepeda motornya yang terparkir, dengan Dion yang mengekori Mira dari belakang.


Setelah mengeluarkan sepeda motor dari garasi, Mira menatap Dion dengan wajah yang datar.


"Kenapa masih berdiri di situ? Naik!!" Ucap Mira dingin.


Dion pun langsung berlari dan duduk di jok motor Mira. Setelah Dion menaiki boncengan, Mira menarik gas beranjak dari kostannya.


'sial! Niat hati ingin istirahat, kenapa laki-laki tidak tahu diri ini, malah datanga?' batin Mira menggerutu.


"Kitta mau kemana?" Tanya Dion di belakang tubuh Mira saat di bonceng.

__ADS_1


Mira tidak menjawab. Mira hanya fokus menatap jalan dan terus melaju, hingga ia tiba di sebuah warung kopi.


__ADS_2