
BAB 13
_______
Dion memutar tubuhnya dan kemudian melangkah meninggalkan Mira yang masih terduduk mematung tanpa berucap.
Mira menatap punggung Dion yang telah menjauh. Mira melihat, Dion sempat berhenti di meja Kasir. Mira pun dengan cepat berdiri, ia tidak ingin jika harus berhutang budi lagi kepada Dion kalau Dion membayar pesanan'nya.
Mira dengan langkah cepat, menuju ke arah meja kasir. Masih ada Dion yang berdiri di sampingnya.
"Berapa Mba?" Tanya Mira.
Mba kasir menatap ke arah Mira, "sudah di bayarkan sama Mas'nya, Mba." Jawab Mba Kasir.
"Ah! Tidak—tidak. Kembalikan saja uangnya. Totalkan punya saya Mba," Mira mengeluarkan dompetnya.
Mba Kasir menatap ke arah Dion, lalu menatap ke arah Mira. "Baik. Mba, total—,"
"Tidak perlu di kembalikan Mba. Jika Mba ini mau membayarnya terserah." Ucap Dion yang langsung pergi beranjak.
Melihat hal tersebut, Mira menjadi kelabakan. Mira pun mengejar Dion. Mira menarik lengan Dion dengan kuat, membuat Dion memutar tubuhnya. Lalu menatap ke arah Mira.
"Apa maksudmu? Aku sudah tidak ingin berhutang lagi padamu. Ini ambil!" Ucap Mira seraya menyodorkan selembar uang Merah kepada Dion.
Dion melihat uang tersebut sambil tersenyum. "Aku tidak terima. Anggap saja, ini traktiranku yang terakhir," ucap Dion seraya mendorong tangan Mira yang menyodorkan uang.
"Tapi ak—,"
"Sttt! Sudah Ya. Aku pergi dulu, jaga dirimu baik-baik." Dion menaruh kari telujuknya di bibir Mira. Kemudian mengelus kepala Mira lalu memutar badannya kemudian melangkah.
Perlakuan Dion membuat hati Mira teriris. Bagaimana tidak, Sikap Dion begitu Manis. Mira hanya bisa berdiri terpaku melihat punggung Pria yang tengah berjalan di bahu jalan dengan dada yang terasa sakit.
'kenapa dia tidak menahan Taksi? Apa dia sengaja untuk aku menahannya?' batin Mira ketika melihat Dion dengan Ke-2 tangannya ia sisipkan di saku celana lalu berjalam santai menelusuri bahu jalan.
Mira menuju ke arah sepeda motornya. Mira duduk di atas jok motor, sembari menatap Dion yang yang masih berjalan dari kejauhan.
"Hhaarrhg! Sial, kenapa orang itu bisa membuatku iba," gerutu Mira yang kemudian menstater sepeda motornya.
Mira mengejar Dion menggunakan sepeda motor. "Kau mau kemana sebenarnya? Biar ku antar!" Ucap Mira ketika laju sepeda motornya di sesuaikan dengan langkah kaki Dion.
Dion menghentikan langkahnya, Lalu menatap Mira yang juga memberhentikan sepeda motor yang ia kendarai.
"Dugaanku tepat ya, kau masih peduli." Ucap Dion.
Mira pun menjadi kikuk, " jangan Ge'er. Aku peduli karena rasa kemanusiaan." sahut Mira.
"Oh!" Jawab Dion dengan tersenyum.
__ADS_1
"Apa maksud senyummu itu?" Tanya Mira.
"Tidak ada apa-apa, ya sudah kamu balik gih. Sudah malam," ucap Dion.
"Hmm... Aku tanya kamu mau kemana? Biar aku antar." Ucap Mira menekan.
Tit! Tit!
"Woi Mba! Ngobrol jangan di jalan! Kamu pikir ini jalan punya nenek moyangmu?" Teriak pengendara lain kepada Mira.
Mira sontak menoleh, "oh iya Mas, maaf," sahut Mira yang kemudian mendorong sepeda motornya ke bahu jalan dengan wajah yang di tekuk.
"Sialan, baru kali ini aku di bentak!" Guman Mira sembari ngedumel.
Dion yang melihat wajah Mira di sertai ngedumelnya Mira, membuat Dion tertawa kecil sembari menutup mulutnya dengan telapak tangan.
Mira melirik ke arah Dion yang sepertinya sedang menertawakan dirinya.
Plak!
"Gara-gara kamu! Aku sampai di tegur sama pengendara lain. Puas kamu!" Pekik Mira dengan tangan menampar pundak Dion.
Dion mencoba bersikap tenang, lalu menatap ke araj Mira. "Kamu sendiri yang ngejar aku. Kenapa kamu menyalahkanku?" Ucap Dion.
"Kamu salah'lah! Seharusnya. Kamu tuh naik ojek atau taksi. Biar aku ga mengejarmu," sahut Mira nyolot.
"Ya sudah terserah!" Ucap Mira yang kemudian melangkah menuju ke arah sepeda motornya.
"Tunggu!" Ucap Dion yang menahan Tangan Mira.
Langkah kaki Mira terhenti, ia memutar tubuhnya. Lalu menatap tangan Dion yang sedang menahan pergelangan tangannya, 'kenapa jantungku masih berdebar? Kenapa Dion, kau hadir di saat begini,' batin Mira.
"Aku bisa minta tolong?" Ucap Dion.
Mira menatap wajah Pria yang masih ia cintai, "minta tolong apa?" Tanya Mira.
"Tolong jaga hatiku yang ku titipkan padamu," ucap Dion pelan. Namun hal itu, dapat membuat pipi Mira menjadi blush.
Mendengar ucapan Dion, Mira dengan cepat menepis genggaman tangan Dion. "Cinta tak se becanda itu Dion!" Pekik Mira yang yang langsung menuju ke arah sepeda motornya.
Mira menaiki jok sepeda motornya, kemudian menstater sepeda motor yang sudah Mira naiki. Namun ada yang Aneh. Mira menoleh ke belakang, membuat Wajah Mira sontak mundur ke belakang memberi Jarak.
"Kamu ngapain ikutan naik?" Tanya Mira.
"Ikut!" Jawab Dion.
"Mau ikut kemana? " Tanya Mira.
__ADS_1
"Kemana pun kamu pergi "
"Turun ga?" Titah Mira.
"Enggak!" Sahut Dion dengan menggelengkan kepalanya.
Mira menggoyang-goyangkan body motornya dengan kuat. "Turun! Aku mau pulang!" Ucap Mira kesal.
"Aku ikut!" Sahut Dion.
"Kamu gila? Di kostanku tidak menerima tamu Cowok,"
"Nanti aku pakai daster buat nyamar!" Sahut Dion.
"Haaa!" Mira menarik Nafas berat.
"Emang kamu mau kemana sih Dion! Aku antar kamu ke penginapan atau ke hotel saja ya." Ucap Mira.
"Boleh! Tapi kamu temanin ya,"
Mira kembali menoleh ke belakang dengan tatapan murka, "kamu pikir, aku open BO?" Pekik Mira.
"Hehehe. Maaf! Ya sudah antarkan Aku ke bukit bintang," ucap Dion.
Mira tertunduk dengan beberapa kali ia membuang nafas yang terasa berat. Jika saja Dion bukan Duda dan hubungan mereka seperti dulu. Mira pasti akan sangat bahagia jika pergi ke bukit bintang, walaupun Mira sangat lelah karena beraktivitas seharian pasti Mira akan semangat jika harus menemani kekasihnya. Namjn sekarang keadaannya berbeda.
"Ya sudah! Akan aku antar," jawab Mira.
Mira kemudian menstater motornya, kemudian kembali menoleh ke belakang sebelam ia menarik Gas. "Bisakah kamu yang memabawa sepeda motor?" Tanya Mira.
"Ah tidak! Kamu saja, aku belum tahu Rute di kota ini," jawab Dion.
"Hmmm... Baiklah," sahut Mira yang kemudian menarik gas motor lalu melaju.
Di dalam perjalanan, mereka hanya terdiam. Apalagi Mira yang merasa risih ketika ia membonceng Dion. Entah mengapa, debaran jatung Mira selalu kesurupan di sepanjang perjalanan. Apalagi perjalanan yang akan Mira tempuh lumaya Jauh.
'hah! Perasaan macam apa ini? Degup jantung kenapa bisa seheboh ini? Padahal saat kita ke Warkop tadi, Debaran ini tidak berdemo. Kenapa sekarang begini?' batin Mira bingung dengan perasaan yang ia rasakan.
"Mira!" Panggil Dion.
Mira tekejut, untung saja Mira tidak menarik gas dengan kuat. Ketika Dion memanggil namanya, dengan bibir Dion sangat dengan di tengkuk lehernya .
"E. . . Ada apa?" Tanya Mira canggung.
"Kenapa diam Saja?" Tanya Dion.
"Aku tidak mendengar suaramu, Nanti saja jika mai bicara," sahut Mira. Yang sebenarnya tidak ingin berbicara kerena sedang mengendari sepeda motor.
__ADS_1