
Karma Dari Sang Pelakor
BAB 12
Mira dan Dion tiba di sebuah kedai kopi. Sebenarnya ini bukan kedai kopi karna lebih tepatnya rumah makan outdoor dengan nuansa pedesaan karena, tempat meja dan tempat duduknya berupa gazebo yang menghadap lansung ke pematangan sawah.
Kedai ini di buka hingga larut malam, dan banyak para mahasiswa yang nongkrong di sini sekedar minum kopi dan mengerjakan tugas karna kedai ini menawarkan wifi gratis.
Setelah Mira memarkirkan sepeda motornya. Mira dan Dion berjalan memasuki kedai.
Mira memilih gazebo yang langsung menghadap ke arah persawahan. Kini Mira dan Dion telah duduk di dalam Gazebo.
"Untuk apalagi kau datang?" Ucap Mira ketika mereka telah duduk dengan saling berhadapan.
Dion menatap Mira dengan perasaan bersalah."maafkan aku Mira, bukan maksudku untuk membohongimu," ucap Dion.
Mira tidak ingin menatap ke arah Dion, matanya di alihkan ke tempat lain. Ia takut jika ia menatap ke dalam iris mara Dion, ia akan luluh seperti yang sudah-sudah.
"Ck..tidak bermaksud, tapi kau bahkan menikmati kebohonganmu. Apakah istrimu tahu jika kau mengunjungiku?"
"Istri yang mana lagi Mira! Aku tidak mengerti ucapanmu,"
Mira memutar kepalanya,lalu menatap ke arah Dion dengan tatapan tajamnya. "Dion Sanjaya! Mau sampai kapan kau ingin berkilah? Kirana dan Putri. Mereka itu siapa?" Teriak Mira kesal.
"Jangan berteriak, semua orang memandangmu." Ucap Dion. Merasa tidak enak dengan tatapan para pengunjung ketika Mira berteriak.
"Makanya terbuka! Apakah jika nanti, kalau kita menikah, Kau juga tidak mengakuiku sebagai Istrimu ha?" Pekik Mira.
"Haaaa! Maaf Mira, jika aku tidak benar-benar tulus kepadamu. Tidak mungkin aku datang kesini untuk mengunjungimu." Sahut Dion.
"Arah pembicaraanmu kemana sih, aku dari tadi bertanya Dion. Kirana dan Putri itu siapanya kamu? Dari tadi kok jawabannya ngalor ngidul." Mira membuang mukanya karna jengah dengan jawaban Dion yang entah arahnya kemana.
"Ok akan aku beritahu ke...-"
"Maaf Bu. Pak, mau pesan apa?" Tanya sesorang karyawan kedai.
Ucapan Dion terhenti. Ketika seorang karyawan kedai datang menawarkan menu yang akan di pesan.
"Milo susu dan roti bakar saja Mbak!" Ucap Mira.
"Baik, dan Bapak?" Sembari mencatat pesanan Mira di sebuah kertas.
"Kopi latte dengan dengan kentang goreng crypsi," jawab Dion.
__ADS_1
"Tidak ada tambahan lain?"
"Tidak!" Jawab Dion dan Mira secara bersamaan.
"Ok baik, mohon di tunggu ya!" Karyawan itu pun berlalu.
Dion menatap ke arah Mira yang sedang mengalihkan wajahnya ke arah pematang sawah.
"Mira, lihat kesini." Pinta Dion.
"Aku muak melihat wajah pembohong!" Sahut Mira ketus.
"Baik, maaf. Aku mengatakan bahwa 1 minggu lagi aku akan menemuimu. namun, karena ada urusan. Aku baru menemuimu sekarang," ucap Dion.
"Yang nanya? Tidak ada yang bertanya. Mau datang kek. Enggak kek, bodo amat!" Sahut Mira.
Dion meraih tangan Mira yang mira taru di atas Meja," jangan pegang-pegang. Najis tahu ngak!" Tepis Mira menarik tangannya.
"Mir, jangan seperti anak kecil begini. Aku datang dari jauh loh!, dan begini caramu menyambutku?" Ucapan Dion sudah terdengar kesal.
"Yang nyuruh kamu datang siapa? Sudahlah Dion, jika kamu datang hanya untuk hal yang tidak jelas. Mari! Sudahi semuanya. Kasihan istrimu Dion, " Ucap Mira yang hendak berdiri.
Dion yang melihat Mira berdiri pun ikut berdiri dan menahan pergelangan Mira.
Dengan memutar bola matanya, Mira pun kembali duduk.
"Silahkan pesanan'nya!" tiba-tiba seorang karyawan kedai datang mengantarkan pesanan.
"Terima kasih Mbak!" Ucap Mira.
Dion terlihat mengambil sesuatu di dalam tas ransel laptop'nya. Ia kemudian mengeluarkan sebuah kertas.
"Ini, penjelasan yang kau mintakan." Ucap Dion sembari menaruh kertas yang ia keluarkan dari dalam tas di atas meja.
Mira mengerutkan alisnya ketika menatap ke arah kertas yang di taruh oleh Dion di atas meja. Setelah menatap kertas tersebut, Mira menatap ke arah Dion.
"Apa maksud dengan kertas ini?" Tanya Mira.
"Ambil dan bacalah, semua akan terjawab tanpa aku harus menjelaskannya." Sahut Dion.
Mira meraih kertas itu kemudian membacanya, Mira terkejut. Ketika 2 kata pertama yang ia baca " Akta Cerai" Mira mendangak dan menatap ke arah Dion.
"Kau, sudah bercerai?" Tanya Mira.
__ADS_1
Kenapa. Kenapa ekspresimu begitu terkejut? Bukankah kau meminta penjelasan kan?" Dion balik bertanya.
"Hm.. kau sudah bercerai 3 tahun yang lalu?" Mira masih bertanya dengan wajah yang nampak masih terkejut.
Dion mengangguk,"kau bukan pelakor atau orang ke-3 dalam rumah tanggaku. Aku minta maaf karna aku tidak jujur." Ucap Dion sembari menyeruput kopi'nya.
Mira terdiam, dia juga bingung. Harus merasa bersalah atau bagaiman, Yang jelas. Saat ini, Dion adalah seorang Duda beranak satu.
"Kenapa diam, bukankah kamu butuh penjelasan. Jika kau sudah tahu, apa keputusanmu?" Tanya Dion. Ketika melihat Mira hanya terdiam ketika Dion menberitahu tetang statusnya.
Mira terenyak,"e... Jadi Kirana..-"
"Yah dia anakkku. Maaf! Aku bukan bermaksud membohongimu, aku hanya takut jika kamu tidak menerima keadaanku." Ucap Dion.
"Kau benar-benar pintar Dion!" Cibir Mira.
Dion menautkan alisnya menatap ke arah Mira. Ia tidak mengerti dengan ucapan Wanita yang ada di hadapannya ini.
"Maksudmu?" Tanya Dion.
Mira memajukan wajahnya ke arah Dion. Di tatap tajam iris mata Dion dengan saling beradu. Dion nampak tak bergemin ketika di tatap oleh Mira.
"Awal kita bertemu, kau tidak jujur padaku. Membuat aku jatuh cinta kepadamu, setelah hatiku ku beri. Kau baru menjelaskannya. Agar kau dapat memaksaku untuk menerima status duda'mu itu 'kan?" Ucap Mira dengan penuh penekanan.
Dion yang mendengar ucapan Mira pun tersenyum kecut. Sembari menarik mundur wajahnya dari wajah Mira.
"Ha..aku sudah katakan 'kan. Jika kamu sudah mendengar penjelasanku, itu terserahmu. Masih mau menerimaku atau membuangku. Namun yang jelas, Cintaku padamu itu tidak pernah bohong." Ucap Dion.
Medengar ucapan Dion, membuat Mira tertunduk. Niat hati ingin mengertak Dion agar Dion merasa sangat bersalah dan mengibah padanya. Malah jawaban seperti itu yang di terima oleh Mira.
"Ya sudah. Jika kehadiranku tidak kau butuhkan lagi, aku akan pergi. Dan satu hal yang kau harus tahu Mira, Dari sejak aku duduk di bangku SMP hingga kini. Aku masih tetap mencintaimu." Ucap Dion yang beranjak dari duduknya.
Mira tertunduk mendengar ucapan Dion kepadanya. Ia malu menatap wajah Lelaki itu dan juga, Mira bingung harus menjawab apa.
Dion pun turun dari gazebo melangkahkan kakinya. 2 langkah beranjak, Kaki Dion terhenti. Lalu menatap ke arah Mira.
"Mira!" Panggil Dion.
Mira memberanikan diri untuk menoleh ke arah Dion ketika namanya di panggil.
"Jika kau bertanya, jika aku mencintaimu. Namun kemudian menikah. Ketahuilah, itu keputusan yang sangat sulit untuk'ku. Di saat ayahku sakit dan aku di jodohkan. Kau tahu, hanya satu tahun usia pernikahanku. Mencoba menepis tentang rasa, Namun tidak bisa." Ucap Dion dengan tatapan sendu menatap ke arah Mira.
Dion melangkah Maju, di tatapnya wanita yang matanya sudah nampak berkaca-kaca.
__ADS_1
"Aku pergi. Jaga dirimu baik-baik, jangan tanya hatiku sesakit apa. Aku tetap mencintaimu, Jika hubungan kita harus berakhir sampai di sini. Maafkan aku," ucap Dion lembut. Sembari mengelus puncuk kepala Mira sambil tersenyum.