Karma Dari Sang Pelakor

Karma Dari Sang Pelakor
1.14


__ADS_3

BAB 14


________


Perjalan Dion dan Mira cukup membutuhkan waktu untuk menuju ke bukit bintang, itu adalah tempat Wisata yang berada di atas bukit. Karena berada di atas bukit, banyak orang mengatakan, bahwa itu adalah bukit cinta. Karena nuansanya yang di sajikan memberikan kesan romatis dengan kelap kelip lampu yang bisa di lihat dari atas bukit.


Mira, memacu sepeda motornya, menaiki tanjakan yang berkelok. Di mana tanjakan ini, di sisi kiri dan kanan jalan hanya di hiasi dengan pepohonan yang menjulang. Membuat jarang pandang menjadi terbatas, di tambah lagi. Hawa dingin yang yang menyerang.


Mira yang sedang fokus, tiba-tiba merasakan tangan Dion memeluk pinggangnya. Hal tersebut membuat Mira menjadi kikuk dan Risih. 'apa yang di pikirkan lelaki ini? Apa dia tidak tahu, aku sedang berkendara?' Mira membantin.


Salah satu tangan Mira mencoba menepis tangan Dion. Apa yang terjadi, Dion malah sengaja mempererat pelukan'nya.


"Aku dingin," ucapnya di bahu Mira.


'sialan, dia pikir aku tidak kedinginan apa? Aku yang menyetir dia mah enak'kan tubuhnya terhalang tubuhku.' batin Mira.


"Tanganmu tolong singkirkan!" Ucap Mira.


"Haa! Apa?" Teriak Dion.


"Taanganmu!! Tolong Singkirkan!!" Teriak Mira.


'ya ampun, bicara saja harus pakai tenaga begini,' batin Mira.


"Tidak dengar!!" Teriak Diong yang lebih menempelkan dadanya ke belakang punggung Mira.


Sontak Mira menegang, tak kala sesuatu di bawah sana menepel di antara b0k0n9 Mira. Mira menjadi semakin risih dan tidak nyaman,'cepatlah sampai, perasaan ini sungguh tidak nyaman,' Mira membatin.


Mira tak lagi menjawab ucapan Dion. Mira lebih fokus ke arah jalan dan mempercepat laju sepeda motornya dengan perasaan gelisah akibat benda yang ada yang menempel di bawah sana.


Akhirnya, Mira menepikan sepeda motornya di tempat parkir di bahu jalan yang sudah di sediakan.


Mira membuka helm'nya dan Dion sudah beranjak turun. 'haa! Akhirnya rasa canggung ini berakhir,' batin Mira.


Mira melihat ke arah Dion. Dion nampak terpesona melihat keadaan di sekitar bukit, terlihat dari manik mata Dion yang berbinar mengalahkan kelap kelip lampu-lampu di bawah bukit.


"Di kamu nikmati ya. Aku tunggu di sini," ucap Mira membuka pembicaraan.

__ADS_1


"He.. mana bisa begitu. Temani aku," pintanya.


"Aku di sini saja. Kau pergi sana ke sana, mumpung kamu di sini. Aku kan hanya mengantar."


"Tidak! Ayo kita ke situ. Sepertinya tempatnya asyik," ajak Dion dengan menarik tangan Mira.


"Haa!" Mira menarik nafas dengan bola mata yang di putar. Dengan berat hati, langkah yang gontai. Akhirnya Mira pun menurut.


Mira dan Dion pun duduk di sebuah beton yang di buat seperti tanggul untuk pengunjung yang ingin menikmati alam. Di bawah tanggul itu, berbagai penjual asongan menjajahkan jualan mereka.


"Kamu tunggu di sini ya!" Ucap Dion tiba-tiba. .


Mira tak merespon, Mira membiarkan apa yang ingi di lakukan Dion. Karena Mira saat ini sungguh merasa lelah, dan juga hasrat untuk menikmati malam dengan sang pujaan hati pun sirna tak kala Mira menyadiri bahwa Dion sudah memiliki seorang anak.


Mira menatap ke arah lampu-lampu di bawah sana, dengan pandangan kosong, seperti hati Mira yang saat ini juga kosong. Entah, Mira harus bahagia atau sedih dengan kehadiran Dion.


"Kok bengong, sayang dong jika tidak menikmati alam seindah ini," tegur Dion sembari duduk di samping Mira dengan sebuah nampan yang berisi susu dan beberapa buah jagung bakar.


Mira menyambut kedatangan Dion dengan senyum yang tidak tahu harus bagaimana.


"Haaa!! Tidak, hanya merasa bingung." Ucap Mira dengan pandangan lurus.


"Bingungnya?"


"Kita akhiri saja ya!" Ucap Mira dengan pandangan yang masih lurus.


Dion menoleh ke arah Mira yang berada di sampingnya, "Maafkan aku. Jika telah membuatmu kecewa, ternyata kesalahanku sangat besar ya?"


"Tidak, aku yang salah. Karena aku tidak mencari tahu terlebih dahulu. Maafkan aku Dion, aku harus mengakhiri hubungan ini. Aku sekarang lagi sibuk-sibuknya menyusun skripsi, aku takut hubungan kita mengganggu skripsiku." Jelas Mira.


Dion mengacak rambut Mira, sembari tersenyum. "Aku tidak memaksa kok. Jika kamu ingin pergi, semangat ya! Aku hanya minta 3 hari waktumu. Apakah kau bisa?" Ucap Dion.


Mira menoleh, "3 Hari? Untuk apa?" Tanya Mira.


"Untuk menemaniku selama aku di kota ini. Setidaknya aku punya kenangan bersamamu di kota ini," ucap Dion.


Mira nampak berpikir. Jika cuma 3 hari, sepertinya bisa. Karena Mira sudah selesai konsultasi tadi siang, dan mata kuliahnya juga sudah melengkapi SKS. Apa salahnya, menemani dia. Toh cuma 3 hari.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan menemanimu." Mira menyetujui.


Dion tersenyum, "ini susu jahenya, kamu pasti dingin karena bawa motor tadi. Dan ini jagunv bakarnya, isi perut biar ga kembung," tangan Dion sibuk menawari apa saja yang dia beli barusan.


Mira meraih susu jahe yang di berikan oleh Dion sembari tersenyum perih. Mira menatap Dion yang tengah menikmati pemandangan dengan sendu. 'kenapa kita berjumpa di saat seperti ini? Kenapa kamu berlaku semanis ini Dion? Membuatku ragu untuk melepaskan dirimu,' batin Mira.


"Dion! Bisakah kamu pulang menggunakan taksi?" Ucap Mira.


Dion menoleh ke arah Mira. " Kenapa? Kamu keberatan ya?" Tanya Dion.


Mira menggeleng lemas, "tidak. Aku sangat lelah hari ini, tapi aku janji. Besok aku akan menemanimu untuk berkeliling kota ini," sahut Mira.


"Oh maaf jika kamu capek, kalau begitu aku yang mengendarai sepeda motor. Kamu tunjukin jalan saja ya," ucap Dion.


"Apakah kamu sudah selesai menikmati nuansa di sini?" Tanya Mira.


Dion mengangguk, "sudah cukup puas. Maka dari itu, ayo kita pulang." Ucap Dion.


Mira pun beranjak dari duduknya. Mira dan Dion berjalan ke tempat motor yang terparkir, setelah itu. Dion yang mengendarai sepeda motor Mira.


Di dalam perjalanan, hanya hening tanpa ada yang berucap. Apa lagi Mira yang saat ini lebih tertekan dengan perasaannya sendiri.


Tangan Dion tiba-tiba memegang kaki Mira. Lalu di usap-usap. Hal tersebut membuat Mira terkejut dan sontak menepis tangan Dion.


"Apa yang kau lakukan Dion?" Tanya Mira panik.


"Aku tidak bermaksud apa-apa. Kenapa pikiranmu selalu negatif sih, aku hanya menyalurkan rasa kasih sayangku," ucap Dion yang terdengar jelas. Karena laju sepeda motor yang Dion kendarai sangat pelan.


"Apa sangkut pautnya kau mengelus kakiku dengan kasih sayang? Kau ini aneh!" Tukas Mira.


"Mmm.. iya aku salah, maaf. Kamu jadi sensitif bangat, dan terus ini kita kemana?" Tanya Dion.


"Lah kamu maunya kemana? Aku sudah tidak punya tenaga. Aku ingin buru-buru ke kostan untuk istrahat." Ucap Mira.


"Ke Hotel yang dekat dengan Kostanmu saja," sahut Dion.


"Ya sudah nanti aku tunjukan arahnya. Ini lurus saja, nanti jika mau berbelok aku akan beri tahu," ucap Mira.

__ADS_1


__ADS_2