Kau Dimana, Ibu?

Kau Dimana, Ibu?
Membalas jasa Ibu


__ADS_3

Penulis: Adeviaaa14


Part-2


"Putri!"


Aku merasa ada yang memanggilku.


"Heh Putri, bangun!"


Aku mengerjapkan mata, terlihat Ibu mengguncangkan tubuhku menggunakan kakinya.


"Bagus, ya. Di suruh bersihin gudang, malah enak-enakan tidur disini," ucap Ibu sembari berdecak pinggang.


Aku menatap sekeliling, ternyata aku masih di dalam gudang. Aku mengubah posisiku menjadi duduk, dan memijit kepalaku yang masih terasa sangat berat.


Aku mengingat kejadian tadi, kertas itu ....


"Bu, pu-putri ... Putri ingin bertanya sesuatu pada Ibu!" ucapku.


"Apa, hah?"


"Tapi Putri mohon, jawab pertanyaan Putri dengan jujur. A-apakah Putri bukan anak kandung Ibu?" tanyaku, "Jawab dengan jujur, Bu! Putri mohon," ucapku dengan menyatukan kedua telapak tangan.


Terlihat mata Ibu membulat, dan terdiam beberapa saat. Lalu menatapku dengan tatapan hangatnya. Tatapan itu ... tatapan yang aku rindukan selama ini darinya.


"Kau sudah tau?" tanyanya.


Aku hanya mengangguk pelan sebagai jawaban.


"Yang kau tanyakan itu memang benar, Putri." jawab ibuku lirih. Namun matanya menajam kembali ke arahku. "Kau bukan anak kandung Ibu ataupun Ayah Ridwan."


"Kau mau tau, penyesalan terbesarku apa, hah?" ucapnya, aku melihat Ibu seperti menahan emosi padaku. "Aku menyesal telah mengizinkan Ayah angkatmu merawatmu. Seharusnya dulu ayahmu tidak memungutmu di jalan, mungkin sampai saat ini suamiku masih ada." teriak Ibu, lalu bulir bening membasahi pipi ibuku.


Bak di sambar petir di siang bolong setelah mendengar jawaban kebenaran dari ibuku.


"Ja-jadi benar b-bu, Pu-putri bukan a-anak kandung ibu?" tanyaku terbata, meyakinkan bahwa ini semuanya salah.


Tidak ada jawaban dari ibuku, hanya anggukan kecil dari kepalanya. Tangisku pecah seketika setelah tau kenyataan pahit ini.


"Lalu dimana orang tua kandung Putri, Bu?" tanyaku


Aku segera bangkit. "Pu-putri harus mencari orang tua kandung Putri, Bu. Putri yakin mereka masih hidup," ucapku, lalu gegas keluar. Namun ibu mencekal lenganku dengan tatapan tajamnya.


"Kau tidak akan bisa keluar dari sini, Putri!" ucap Ibu, penuh emosi.


Ibu menarik lenganku masuk ke dalam gudang kembali. Lalu mendorong tubuhku hingga aku tersungkur mengenai kardus yang ada di belakangku ... bruk ... kardus itu terjatuh mengenai kepalaku.

__ADS_1


"Tidak akan ku izinkan kau mencari orang tua kandungmu, Putri." bentak Ibu. Lalu berlari ke arah pintu, dan mengunci pintu gudang dari luar.


"Bu ... buka, Bu!" teriakku dengan menggedor pintu.


"Jangan kunci Putri disini, Bu. Tolong buka pintunya ...!"


Badanku terasa semakin lemas, aku meringkuk di sisi pintu, menangis sejadi-jadinya meratapi nasib diri yang malang ini.


"Ibu, kau mungkin bukan ibu kandungku, tetapi kau telah merawat dan membesarkanku selama ini."


"Aku tau Bu, kau juga menyayangiku, selayaknya anak kandungmu. Tetapi kau masih menganggap aku sebagai penyebab kematian Ayah," gumamku yang masih menangis sesenggukan.


Kedua netraku tidak sengaja melihat ke arah kardus yang berisi kertas tadi. Aku mengambil kembali kardus tersebut. Mataku membulat saat melihat selembar foto yang ada di bawah selimut bayi. Terlihat di dalam selembar foto tersebut berisi sepasang suami-istri yang tersenyum, sedang merangkul satu sama lain.


"A-apakah mereka adalah orang tua kandungku?"


Tangisku pecah memenuhi ruangan ini. "Ibu ... ayah ... jika memang benar kalian orang tua kandungku, lantas kalian dimana? Kenapa kalian tega membuangku?"


Tiba-tiba terdengar derap langkah kaki menuju arah gudang. Sebelum pintu terbuka, aku menyimpan kertas dan foto itu ke dalam saku celanaku.


Ceklek!


Pintu terbuka menampilkan seorang wanita berkisaran empat puluh tahun lebih. Ditangan kanannya membawa piring yang diisi dengan nasi dan lauknya. Wanita itu ... wanita yang telah rela membesarkanku selama ini, walaupun dirinya tau bahwa aku bukanlah anak kandungnya.


Aku langsung berdiri, dan langsung memeluk erat tubuhnya.


Ibu melepaskan paksa pelukanku, lalu piring yang di pegangnya di simpan di lantai dekat kakiku.


"Cepat, kau makan dulu!" titah Ibu. "Setelah itu kau cari kerja sana! Jangan coba-coba untuk kabur!" bentaknya.


Saat Ibu hendak melangkah ke luar, aku menghentikan langkahnya.


"Bu, tunggu ...." ucapku lirih


Ibu menoleh ke arahku dengan muka geramnya.


"Bu, Putri tau Ibu sangat menyayangi Putri."


Ibu berjalan ke arahku, lalu mendekatkan tubuhnya di hadapanku. Tangan Ibu mencengkram kedua pipiku. "Jangan berharap aku dapat menyayangimu, Putri. Ingat baik-baik, a k u b u k a n i b u m u," ucap ibuku penuh dengan penekanan. "Tetapi kau harus membalaskan semua jasaku yang selama ini sudah merawatmu. Jadi kau harus menuruti semua perintahku!" teriaknya, "Kau mengerti, tidak. Hah?" bentaknya.


"I-iya, Bu. Pu-putri mengerti," jawabku terbata. Lalu Ibu melepaskan cengkraman tangannya dari pipiku.


"Cepat, habiskan makanan itu!" titahnya, "Aku tidak mau jika kau mati kelaparan. Kau harus membalaskan dulu semua jasa budiku selama ini." ucapnya sembari menaikkan telunjuknya ke depan wajahku, lalu Ibu mengunci kembali pintu gudang.


Aku menatap piring yang di berikan oleh ibuku. Di dalam piringnya ada nasi, ayam kecap dan sambal yang aku buat tadi pagi.


'Lihatlah Bu, bahkan kau memberikan nasi ini dengan penuh kasih sayang. Tidak mungkin jika kau tidak menyayangiku akan memberikan makanan seenak ini padaku, bahkan makanan ini adalah kesukaanmu, dan kau membaginya padaku.' batinku lirih, yang masih sesenggukan menahan tangis.

__ADS_1


Aku menyendokkan nasi ini ke dalam mulutku, kenangan manis bersama ibuku kembali teringat. Saat aku sakit, ibuku selalu menyuapiku dengan kasih sayangnya, walau dia tau bahwa aku bukanlah anak kandunya. Tak terasa air mataku hujan luruh di pipi.


Aku memang sedang lapar. Namun, nafsu makanku sudah hilang setelah aku pingsan tadi. Akan tetapi, sebagai rasa hormatku pada Ibu yang sudah memberiku makan. Aku mamakan nasi ini, tetapi hanya beberapa suap saja.


Ceklek!


Ibu membuka pintu gudang kembali.


"Heh Putri, cepat kau keluar!" ucap Ibu sembari menarik tanganku sampai ke depan rumah.


"Selama ini kau hanya menumpang disini. Cepat pergi, cari kerja sana!" titahnya, dengan mendorong tubuhku, namun aku masih bisa mengimbangi tubuhku.


"Ta-tapi Bu, aku harus mencari kerja kemana?" tanyaku lirih.


"Itu bukan urusan Ibu, kalau kamu mau makan ya cari kerja sana!" ucap Ibu, sembari menyuruhku pergi. "Mulai hari ini kau jangan pernah membebaniku lagi!"


"Cepat sana. Cari uang yang banyak!" titahnya.


Aku menatap ibuku dengan tatapan sendu, air mataku yang sedari tadi mengalir tidak berhenti hingga sekarang, dan isak tangisku menambah dadaku semakin sesak.


'Bu, aku siap untuk membalas semua jasa dan budimu selama ini.' batinku.


Dengan langkah gontai, aku berjalan meninggalkan rumah. Aku menghapus air mataku. Aku tidak ingin orang-orang menatapku dengan tatapan aneh. Aku harus mencari pekerjaan agar aku tidak selalu merepotkan ibuku.


Aku menyusuri jalan raya, menengok kanan-kiri sembari mencari pedagang. Berharap aku menemukan pekerjaan hari ini.


'Ya'allah, bantu aku.' batinku.


Terlihat di depan mataku ada pedagang bakso memakai gerobak. Mumpung terlihat lagi sepi, aku akan menghampirinya.


"Assalamualaikum, Pak. Punten saya mau tanya. Apa disini ada lowongan kerja?" tanyaku ramah kepada Bapak pedagang bakso tersebut.


Bapak itu hanya memandangiku dengan lekat dari atas kepala sampai ke bawah kakiku.


"Waalaikumsalam, Neng geulis. Maaf, di Bapak lagi tidak ada lowongan. Kenapa atuh Neng, masih remaja bukannya sekolah malah nyari kerja?" tanyanya penasaran.


"Saya lagi butuh pekerjaan, Pak." jawabku. "Oh iya atuh, kalau begitu mungkin saya cari di tempat lain saja, Pak. Punten," ucapku pamit.


"Uhun mangga-mangga, Neng." jawabnya.


'Ya'allah, aku harus nyari kerja kemana.' batinku lirih.


Saat aku melanjutkan perjalananku, aku melihat di sebrang jalan ada pedagang Soto Lamongan.


'Mungkin saja di sana ada pekerjaan untukku, tidak masalah jika aku hanya menjadi pencuci piring.' pikirku.


Aku menengok kanan-kiri untuk menyebrang. Saat aku ingin nyebrang, tepat di tengah jalan ... tin-tin ....

__ADS_1


__ADS_2