
Kau Dimana, Ibu?
Penulis: Adeviaaa14
Part-4
"Dek, bangun!"
"Putri!" ucap Bang Devan sembari menepuk-nepuk lengan kananku.
Aku mengerjapkan mata, melihat sekeliling ternyata aku tertidur di rumah pohon ini.
"Kau mungkin kelelahan, jadi kau tertidur sampai malam," ujarnya.
Aku melihat keluar, ternyata ini sudah gelap, dan aku melirik ke arah jam yang ada di pergelangan tanganku, sudah menunjukkan pukul delapan malam.
"Kita harus pulang, Bang!"
"Tidak perlu," ucap Bang Devan menahan tanganku.
"Lalu, kita akan menginap disini?" tanyaku
Hanya anggukan dari Bang Devan sebagai jawaban.
"Kau tunggu dulu disini, jangan kemana-mana!"
"Abang mau kemana?"
"Cari makan," jawabnya. Lalu melangkah melewati jembatan gantung yang di sisi-sisinya sudah dipenuhi dengan lampu-lampu hias, kemudian Bang Devan turun dari tangga.
Ku kerutkan keningku, apakah di dalam hutan ini ada yang menjual makanan? Atau mungkin Bang Devan mencari makanan ke luar hutan? Ah entahlah, yang pasti perutku memang sudah mulai keroncongan lagi.
Aku menatap sekeliling, walaupun ada beberapa pohon yang di hiasi oleh lampu, tapi ternyata jika sudah malam pohon-pohon Pinus yang berjajaran seperti berubah menjadi suasana yang mencekam.
Aku merasa merinding kedinginan. Sembari menunggu Bang Devan, aku gegas masuk ke rumah pohon dan menutup pintunya.
Walaupun rumah pohonnya sangat minimalis, tapi di dalam ruangannya ada beberapa barang yang sangat tersusun rapi, seperti alat makan dan beberapa buku. Akan tetapi di dalamnya hanya cukup untuk satu orang saja. Namun untungnya, rumah pohon ini memiliki dua lantai, jadi tidak masalah jika aku dan Bang Devan menginap disini.
Aku memikirkan, apakah rumah pohon ini di bikin oleh Bang Devan sendiri? Karena sedari tadi aku tidak melihat siapa-siapa lagi di hutan ini selain aku dan Bang Devan saja.
"Putri."
Aku merasa ada yang memanggilku.
"Putri, cepat kesini!"
Aku membuka pintu, lalu melihat keluar.
Terlihat di bawah pohon ini, ada Bang Devan dengan tangan kanannya memegangi pancingan yang berisi dua ekor ikan gurami besar.
'Wah ... asik nih, bakar-bakar ikan.' batinku sumringah.
__ADS_1
Sebelum aku ke bawah, aku mengambil dua piring terlebih dahulu sebagai alas makan nanti.
Gegas aku langsung melewati jembatan gantung dan turun dengan hati-hati.
Bang Devan mengumpulkan kayu-kayu untuk di bakar, dan membuat api unggun. Setelah terkumpul, Bang Devan menyalakan apinya dengan korek api gas yang selalu ia bawa, lalu membakarkan ikannya. Tak lupa Bang Devan memanaskan air, untuk membuat Teh dan susu coklat hangat untukku.
"Nikmatilah, sebelum kita memulai perjalanan jauh," ujarnya, sembari membolak-balikan ikan yang di bakarnya.
Benar juga yang di katakan Bang Devan, aku harus menikmati malam ini sebelum memulai perjalanan yang sangat jauh.
Setelah menunggu beberapa menit, ikan yang kami bakar pun akhirnya matang. Aku dan Bang Devan mengambil ikan gurami ini, dan kami menyantap makanan masing-masing. Walaupun hanya makan dengan ikan, aku sudah merasa cukup kenyang.
Ketika aku sedang meminum susu coklat hangat ... bruk ... Bang Devan mendorongku ke samping. Aku terjungkal, dan gelas yang aku pegang pun jatuh beserta isinya.
"Aaww," Aku meringis "Uhuk! uhuk!"
"Ada apa bang?"
"Lihatlah, di sisimu ada kelabang!" ucapnya sembari menunjuk kelabang itu.
"Aaaaa," aku langsung berdiri, dan Bang Devan langsung membunuh kelabang itu.
Jika aku tidak di dorong oleh Bang Devan, mungkin kelabang itu sudah mengigitku.
"Minumanmu? Biar Abang bikin lagi," ujarnya.
"Tidak usah, Bang. Aku sudah kenyang," tolakku.
Gegas aku langsung duduk di depan api unggun yang sudah Bang Devan buat.
Hangat. Itulah yang sedang aku rasakan saat ini ketika duduk di hadapan api unggun, lalu Bang Devan duduk di sampingku, namun Bang Devan memberi jarak di tengah-tengah kami, dan kami sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Jika kau sudah ngantuk, tidurlah!" gumam Bang Devan karena melihat aku menguap beberapakali.
"Baiklah, aku tidur duluan Bang," pamitku, lalu gegas naik ke atas pohon.
Ketika aku sudah sampai di teras rumah pohon, Bang Devan memanggilku. "Putri, kau tidur di lantai atas saja!" teriaknya.
"Iya, Bang," jawabku, lalu naik ke lantai atas, dan langsung merebahkan tubuhku ke atas kasur.
***
Hoaam ... aku membuka mata dan langsung melirik jam, ternyata sudah jam tujuh pagi.
Aku gegas keluar, suasana pagi hari dengan hawa dingin yang sangat menusuk batin, berhias kabut yang sangat tebal. Sang mentari menyapa pagi hari dengan senyumannya yang sangat mengagumkan hati dan memancarkan kehangatan. Burung-burung bertebaran saling bertegur sapa satu sama lain, dengan lantunan yang menawan melodinya.
Ternyata Bang Devan sudah ada di luar sembari merokok ditemani secangkir kopi.
Aku menghampiri Bang Devan yang sedang duduk di teras.
"Kita akan pergi ke rumah Nenek sekarang. Jika kau ingin mandi dulu, mandilah di sungai," gumamnya dengan wajah datar.
__ADS_1
"Tapi bang, aku tidak bawa ...."
"Baju-bajumu sudah ada di mobil," ujarnya memotong ucapanku.
Bang Devan memberitahuku, ternyata Bang Devan pulang setelah aku tidur, dan membawa beberapa bajuku. Kata Bang Devan, Ibu marah-marah karena yang Ibu tau kalau aku telah kabur. Untungnya Bang Devan tidak memberitahu pada Ibu jika aku ada di sini. Setelah jam satu malam, Bang Devan diam-diam ke kamarku untuk mengambil beberapa bajuku dan kembali kesini.
"Bang, sebaiknya kita segera ke rumah Nenek," ujarku
Aku bilang ke Bang Devan, jika aku tidak ingin mandi sekarang. Selain cuaca yang sangat dingin, rasa takut mandi di sungai pun menjadi alasannya. Hanya cuci muka dan gosok gigi di bawah pohon.
Setelah itu, aku dan Bang Devan gegas pergi ke rumah Nenek.
Bang Devan melajukan mobil peninggalan almarhum Ayah dengan kecepatan sedang, dan setelah beberapa menit, mobil terparkir di halaman rumah sederhana yang bernuansa hijau putih. Terlihat Nenek sedang menyapu di halaman rumahnya. Walaupun usianya sudah memasuki kepala enam, tetapi badannya masih tetap sehat.
Aku dan Bang Devan segera menghampirinya.
"Assalamualaikum Nek," ucapku sembari mencium punggung telapak tangannya, begitu juga dengan bang Devan.
"Eh, Putri, Devan, Waalaikumsalam cucu-cucu Nenek," jawabnya sembari merangkul kami berdua.
"Mari masuk dulu Nduk!" titahnya mempersilahkan kami masuk ke rumahnya, lalu kami duduk di kursi rotan yang empuk.
"Ada apa Nduk? Kenapa kalian kemari?" tanyanya sembari menyiapkan beberapa cemilan. "Putri, Devan, kenapa kalian tidak sekolah?" lanjutnya.
Aku dan Bang Devan saling beradu pandang.
"Hem ka-kami ... kami ...." ucapku terbata.
"Kami kesini untuk menanyakan sesuatu pada Nenek," ucap Bang Devan. "Nenek ingat kan waktu ayah menemukan bayi di jalan dekat halte, dan ayah membawanya kemari," lanjutnya
Nenek yang hendak duduk, mematung sejenak dan membulatkan matanya.
"Iya Nek, Putri sudah tau semuanya," ucapku
"Nduk ...." ucapnya lirih, lalu Nenek duduk di sebelahku, dan memegang jemari tanganku.
"Nduk ... maafkan kami, karena telah menyembunyikan kebenaran ini darimu. Karena kami di amanahkan oleh almarhum Ayah angkatmu untuk memberitahukan kebenaran ini jika kau sudah berusia delapan belas tahun. Sedangkan kau saat ini baru berusia lima belas tahun," tuturnya lembut.
"Putri tau Nek, karena putri menemukan kertas dan foto ini," ucapku sembari menyodorkannya kepada Nenek.
Nenek mengambil kertas itu, lalu membacanya.
"Di dalam isi kertas itu, tertera ada nama tempat Nek, Putri dan Bang Devan berencena untuk pergi ke sana," ujarku.
"Ke Palembang?" tanyanya, terlihat rasa kagetnya tidak bisa di sembunyikan.
***
Selalu percaya pada impian Anda, karena jika tidak, Anda masih akan memiliki harapan.
-Putri Diana Irawan-
__ADS_1