Kau Dimana, Ibu?

Kau Dimana, Ibu?
Perpisahan Dengan Nenek


__ADS_3

Penulis: Adeviaaa14


Part-5


Aku dan Bang Devan mengangguk berbarengan.


"Iya, Nek," jawabku.


"Apakah Ibu kalian tau, jika kalian akan pergi ke Palembang, Nduk?"


"Kami tidak memberitahunya, Nek. Jika Ibu tau Putri akan mencari orang tua kandungnya, Ibu tidak akan mengijinkannya. Sebisa mungkin Devan akan membantu Putri, Nek," jawab bang Devan.


"Nenek bangga padamu, Nduk. Kamu memang anak yang bertanggung jawab, seperti almarhum ayahmu."


"Nduk ...," panggil Nenek kepadaku dengan lembut. "Dulu almarhum ayahmu pernah bercerita, setelah selesai dari pekerjaannya, di tengah-tengah perjalanan menuju pulang dia mendengar suara tangisan. bayi, dia menemukanmu di sisi jalan dekat halte didalam kardus, kebetulan saat itu sedang hujan lebat, jadi tidak ada seorang pun di jalanan itu," ucap Nenek sembari mengelus-elus punggungku.


"Saat almarhum ayah angkatmu menemukanmu, dia langsung membawamu ke rumah Nenek terlebih dahulu sebelum membawa ke rumahnya. Kebetulan abangmu ini sedang bermain di rumah Nenek. Saat itu Nenek masih ingat, abangmu ini baru berusia delapan tahun. Nenek yang melihat ayahmu membawa bayi ke sini, tentu saja Nenek sangat kaget. Tetapi berbeda dengan abangmu, dia sangat kegirangan karena pikirnya dia akan mempunyai adik," jelasnya, sembari menunjuk Bang Devan.


"Ayahmu berniat untuk mengadopsimu dan membawamu ke rumahnya, akan tetapi Ibu angkatmu tidak setuju dan menyuruh ayahmu untuk mengembalikanmu ke tempat semula saat kamu ditemukan, namun lambuat laun ibumu bisa menerimamu dan menyayangimu," lanjutnya panjang lebar.


Tanpa aku sadari, air mataku berlomba-lomba keluar setelah mendengar penjelasan dari Nenek. Detik itu juga aku langsung memeluk nenekku.


"Nek, Putri sangat bersyukur di pertemukan dengan orang-orang baik seperti kalian. Mungkin jika Ayah tidak menemukanku, entah aku berada dimana sekarang, entah masih hidup atau tidak. Terimakasih Nek, sudah menyayangi Putri selayaknya Nenek menyayangi cucumu sendiri," tangisku di pelukan Nenek.


Nenek melepaskan pelukanku, dan menghapus air mataku. "Kamu memang cucu Nenek yang cantik dan baik hati," pujinya.


"Kamu tunggu dulu disini, Nduk. Nenek akan mengambil sesuatu," ujar Nenek, lalu meninggalkan aku dan Bang Devan yang masih duduk.


"Bang, Ibu tidak mengubungi Abang?" tanyaku ke Bang Devan yang sedang memainkan ponselnya.


"Abang sengaja memblokir nomor Ibu," gumamnya tanpa melihat ke arahku.


"Aku khawatir pada Ibu, Bang. Pasti Ibu mencari kita," ucapku sendu, "Apa kita batalkan saja rencana untuk mencari orang tua kandung Putri, Bang?" tanyaku, karena aku pikir ini salah jika tanpa izin dari Ibu.


Bang Devan menghembuskan nafasnya dengan kasar, "Itu terserah padamu," jawabnya dingin.


Tak lama kemudian, Nenek kembali dengan membawa kotak kecil berwarna merah, lalu duduk di sampingku.


Nenek membuka kotak kecil berwarna merah itu. "Nduk, ini kalungmu. Dulu saat pertama kali almarhum ayahmu membawamu ke sini, ayahmu menitipkan kalung ini pada Nenek. Kalung ini ayahmu temukan di bawah selimutmu. Ayahmu dulu berpesan, akan memberikan kalung ini ketika kamu berusia delapan tahun, akan tetapi sekarang kamu sudah tau semuanya, jadi Nenek memberikannya sekarang,"

__ADS_1


Aku menganga takjub ketika melihat kalung itu, kalung emas yang berliontin berbentuk lingkaran di tengah-tengahnya berinisial huruf PDW dengan sisi lingkarannya dihiasi permata putih kecil, namun ada tiga mutiara di kedua sisi yang menghimpit liontin tersebut.


Nenek memasangkan kalung itu di leherku. Terlihat, mata Nenek berbinar, "Cucu Nenek sangat cantik memakai kalung ini," pujinya sembari mengusap kepalaku.


"Apa kalian sudah yakin, akan pergi ke Palembang?" tanya Nenek meyakinkan.


"Nek, sebenarnya Putri sedikit ragu, karena Putri sangat mengkhawatirkan Ibu. Akan tetapi rasa ingin bertemu dengan kedua orang tua kandung Putri lebih besar," keluhku jujur pada Nenek.


"Nduk, kamu tidak perlu mengkhawatirkan ibumu, biar Nenek yang mengurus ibumu nanti. Lebih baik kamu mencari orang tua kandungmu ke Palembang."


"Pergilah, Nduk! Nenek mengijinkanmu," ujar Nenek yang langsung memelukku, terasa isak tangis Nenek berguncang ke tubuhku. Aku pun menangis, dan membalas pelukan hangat dari nenekku.


Nenek melepaskan pelukannya, lalu merogoh saku dasternya, "Ambillah, Nduk. Nenek ada sedikit bekal untukmu!" ucapnya seraya memberikan uang berwarna merah satu gepok.


"Tidak, Nek. Putri tidak ingin merepotkan dan membebankan Nenek sama sekali," tolakku


"Nenek tidak meresa terbebani, terimalah! Kamu lebih membutuhkannya," ujarnya seraya memaksa untuk aku menerima pemberiannya. "Jangan lupa memberitahu Nenek jika kamu sudah bertemu dengan kedua orang tuamu, Nduk! Titipkan salam dari Nenek pada kedua orang tuamu nanti, dan jangan lupakan Nenek," tangisnya pecah.


"Iya Nek. Tenanglah, Putri akan selalu menjadi cucu Nenek sampai kapan pun," ucapku sembari mengusap air matanya.


"Devan, Nenek percayakan cucu Nenek yang cantik ini, jaga dia baik-baik, sampai dia menemukan orang tuanya!" ttitah Nenek menitipkanku pada Bang Devan.


Kami beranjak dari kursi, dan melangkah ke depan rumah, "Jaga diri kalian berdua baik-baik, ya!" ucap Nenek sembari memelukku dan Bang Devan.


"Iya, Nek." jawab kami berbarengan.


"Kami berangkat dulu, ya Nek." pamit Bang Devan.


Aku dan Bang Devan mencium punggung telapak tangan Nenek, "Assalamualaikum, Nek." ucap kami berdua


"Waalaikumsalam," jawabnya sembari menghapus air matanya, lalu melambaikan tangannya.


Kami segera masuk ke dalam mobil. Setelah di dalam mobil, aku memejamkan mata, menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan.


'Ya'allah, aku mohon diberi keselamatan dan kemudahan dalam menemukan orang tua kandungku' doaku dalam hati.


Bang Devan menengok ke arahku, "Kau sudah siap?" tanyanya.


Aku mengangguk sebagai jawaban. Lalu Bang Devan melajukan mobilnya menjauhi rumah Nenek.

__ADS_1


Perjalanan panjangku akan segera dimulai, dari Bandung ke Palembang bukanlah waktu yang sebentar, butuh waktu beberapa belas jam bahkan butuh satu atau dua hari di jalan.


Terdengar lagu yang berasal dari head unit membuatku tak kuasa untuk menitikkan air mata.


'Dalam hidup ini penuh cobaan dan liku-liku


Buatku menyerah dan putus asa


Hanya senyuman dan air mata


Setiap manusia pernah merasakan kegagalan


Jangan menyerah dan putus asa'


Ibu, Ayah ... aku tidak tau alasan apa kalian membuangku sampai sejauh ini, jika ayah terpaksa membuangku, kenapa ibu melahirkanku. Tapi aku berterimakasih pada kalian, karena aku menemukan keluarga yang sangat menyayangiku.


**


Aku merasa ada yang mengguncangku, "Dek, bangun! Kita mau naik kapal sekarang," ucap Bang Devan membangunkan ku.


Aku mengerjapkan mata, ternyata ini sudah sore. Aku melihat sekeliling, aku dan Bang Devan sudah berada di pelabuhan merak. Terlihat banyak kendaraan yang ingin memasuki kapal.


Secara perlahan, Bang Devan memasuki mobilnya ke dalam kapal. Baru kali ini aku bisa merasakan rasanya menaiki kapal.


Gegas aku dan Bang Devan masuk mencari tempat duduk. "Kau makan dulu, sedari tadi kau belum makan!" titah Bang Devan.


Aku segera makan, setelah selesai makan rasanya aku ingin keluar menikmatinya indahnya laut. "Bang Devan, Putri keluar dulu ya," izinku.


"Jangan jauh-jauh!"


Aku melangkahkan kakiku ke luar, dimana disini banyak orang yang sedang menikmati keindahan dari luar kapal ini.


Ibu, Ayah ... lihatlah, putrimu akan segera bertemu dengan kalian.


***


Aku tak pernah tau sejauh mana perahu besar ini akan berlayar dan dimna perahu besar ini akan berlabuh. Namun aku sangat yakin bahwa suatu saat perahuku akan berhenti berlayar dan berlabuh pada pelabuhan yang indah diwaktu yang tepat.


-Putri Diana Irawan-

__ADS_1


__ADS_2