
Penulis: Adeviaaa14
Part-3
"Aaaaa ...." teriakku, lalu menangkup wajahku dengan kedua tanganku.
Refleks, aku pun berjongkok.
Eh? Berhenti? Mobilnya berhenti?
Aku mengintip dari sela-sela jari. Aku bernafas lega ketika melihat mobilnya berhenti tepat di depan wajahku.
"Bangun!"
Suara itu ... aku mendongakkan kepala melihat siapa yang bersuara. Detik itu juga mataku membulat sempurna.
"Bang Devan?" pekikku.
"Kenapa Bang Dev ...."
"Masuk!" titahnya, memotong ucapanku.
Aku mematuhi perintahnya untuk masuk ke dalam mobilnya. Lalu Bang Devan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Saat di perjalanan, aku hanya menengok ke arah jendela yang ada di sisi kiriku. Aku pikir Bang Devan akan putar balik membawaku pulang, tapi ternyata Bang Devan terus melajukan mobilnya.
"Bang, kita mau kemana?" tanyaku penasaran.
"Diam, dan jangan banyak tanya!" jawabnya.
Begitulah Bang Devan. Semenjak kematian Ayah, Bang Devan menjadi lelaki yang dingin dan irit bicara. Terkadang aku berfikir, Bang Devan juga membenciku dan menganggapku sebagai penyebab kematian Ayah.
Di perjalanan, hanya ada keheningan di dalam mobil. Keningku berkerut, ketika mobil ini berjalan memasuki arah hutan.
'kenapa Bang Devan melajukan mobilnya ke arah hutan? Atau jangan-jangan, Bang Devan akan menculikku? Atau mungkin, dia akan membuangku di hutan ini?' pikirku negatif.
Aku melihat sekeliling dari kaca mobil, hamparan pohon-pohon yang rindang di sisi kiri dan kananku membawa kesan yang sangat sejuk.
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih empat puluh menit, mobil pun terparkir di dekat taman yang dipenuhi oleh bunga yang berwarna-warni. Seketika mulutku menganga melihat keindahan ini.
"Cepat, keluar!" titahnya.
Aku pun keluar dari dalam mobil, dan mengekori langkah Bang Devan.
Aku melihat sekeliling, hamparan jajaran hutan pohon Pinus yang terkesan asri, dan bunga-bunga yang berwarna-warni di bawahnya menambah kesan keindahan dari hutan ini. Namun aku harus melewati jembatan yang di bawahnya ada sungai yang mengalir dengan deras.
Langkah Bang Devan terhenti tepat di dua pohon besar yang saling berdekatan di atasnya terdapat rumah pohon, yang di lengkapi dengan jembatan gantung yang menghubungkan tangga dan area teras.
"Naik!" titahnya.
Aku menatap ragu ke arah Bang Devan. 'kenapa Bang Devan membawaku kemari?' pikirku penuh dengan kebingungan.
"Di suruh naik, malah bengong," cibirnya.
__ADS_1
Aku pun langsung menaiki tangga dengan hati-hati. Setelah sampai di atas, baru terasa betapa nyamannya berada di sini. Kakiku melangkah melewati jembatan gantung ini sampai ke teras rumah pohon.
Bang Devan duduk di sisi teras dan aku pun duduk di belakangnya dekat pintu rumah pohon ini.
Aku menatap dalam-dalam wajah Bang Devan dari samping. "Jangan menatapku seperti itu. Jika kau ingin menangis, menangislah sekarang!" ujarnya.
'Apa? Apa aku tidak salah? Bang Devan mengajakku kesini hanya untuk menyuruhku menangis?' batinku
"Bang?" tanyaku
"Hmm," jawabnya
Orang yang ku panggil tidak menengok ke arahku, hanya menatap lurus ke depan sembari melihat pemandangan indah di depannya dengan memasang wajah datar.
"Kenapa Bang Devan melakukan ini? Kenapa Bang Devan mengajak Putri kesini?" tanyaku penasaran.
"Karena kau sudah tau."
'Apa maksud perkataan Bang Devan? Sudah tau apa maksudnya? Apa jangan-jangan Bang Devan juga sudah tau kalau aku bukanlah adik kandungnya?' pikirku.
"A-apa Bang Devan sudah tau jika Putri bukan adik kandung Abang?" tanyaku lirih, "Jawab, Bang!"
Yang di tanya hanya mengangguk lalu menatapku.
"Se-sejak ka-kapan Bang Devan tau?" tanyaku terbata, kedua netraku pun mulai berembun.
"Sejak kau masih bayi,"
Dengan cepat Bang Devan menggelengkan kepalanya. Aku tak kuasa menahan bulir-bulir bening yang ingin keluar dari mataku. Detik itu juga, bulir bening itu mengalir dengan deras.
Aku menangis sesenggukan sembari meringkuk di depan pintu rumah pohon.
"Jadi, se-selama ini Abang tau jika Putri bukanlah adik kandung Abang. Ta-tapi kenapa Bang Devan ti-tidak memberitahu Putri? Kenapa Bang, kenapa?" tanyaku dengan bibir gemetar.
Orang yang di hadapanku ini tidak menjawab pertanyaanku. Namun memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Jika kau merasakan hati dan pikiranmu sedang kacau, berteriaklah dengan kencang! Sampai hatimu merasa lega," tuturnya dengan muka datar.
Aku yang masih menangis sesenggukan mendengar dan memikirkan ucapan Bang Devan, tanpa pikir panjang aku berteriak.
"Aaaaaaaaaaa ...."
"Aaaaaaaaaaaaaa ...."
"Aaaaaaaaaaaaaaaaa ...."
Nafasku terengah-engah setelah berteriak. Benar kata Bang Devan, aku merasa lega setelah berteriak dan merasa sedikit berkurang rasa sesak yang ada di dalam dadaku ini.
Aku tersenyum simpul ke Bang Devan. "Bang, terimakasih. Berkat Abang Putri bisa merasakan sedikit berkurang rasa sesak di dadaku," ucapku, "Tapi sekarang Putri harus melanjutkan mencari pekerjaan lagi, Bang," lanjutku.
"Apa kau tidak ingin mencari orang tuamu?" tanyanya dengan wajah yang tanpa ekspresi. "Apa kau tidak ingin bertemu dengan orang tua kandungmu, Putri?" lanjutnya.
__ADS_1
"Putri ingin sekali bertemu dengan orang tua kandung Putri, Bang. Tapi Putri tidak tau harus mencarinya kemana," jawabku.
Aku teringat akan secarik kertas yang aku temukan di dalam gudang dan aku menyimpannya di dalam saku celanaku.
Aku mengambil kertas itu dari saku celanaku, dan aku memberikannya ke Bang Devan.
"Bang, di dalam isi kertas itu tertulis di Palembang. Apa jangan-jangan orang tua kandung Putri berada di Palembang, Bang?" tanyaku
Bang Devan memegang dan menatap secarik kertas itu. "Bisa jadi," jawabnya.
"Tapi bagaimana caranya Putri bisa kesana, Bang? Bahkan Putri tidak punya uang untuk bekal ongkos pergi ke sana," ucapku sembari menundukkan kepala.
'Aku merasa, aku tidak memiliki jalan untuk bisa mencari orang tua kandungku ke Palembang, terkecuali aku harus bekerja terlebih dahulu dan mengumpulkan uang untuk bekal ongkos ke Palembang.' batinku.
"Kau tidak perlu memikirkan uang untuk ongkos ke Palembang, Dek. Abang yang akan mengantarmu ke sana," ucapnya hangat.
Seketika mataku berkaca-kaca, setelah mendengar ucapan dari Bang Devan.
"Ta-tapi Bang, bagaimana dengan Ibu?" tanyaku.
Aku mengkhawatirkan ibuku. Biar bagaimanapun sikap dia padaku, dia juga ibuku, aku harus meminta izin padanya.
"Kau tidak usah kembali ke rumah. Jika kau pulang terlebih dahulu, Ibu tidak akan membiarkanmu pergi," ujarnya.
Benar juga apa yang di katakan Bang Devan. Jika aku pulang, Ibu tidak akan membiarkanku pergi mencari orang tua kandungku.
"Tapi Bang, Abang kan masih kuliah, dan setau Putri, Abang juga harus menyelesaikan skripsi, bukan?" tanyaku, "Putri juga gak mau kalau Putri sampai membebankan dan merepotkan Bang Devan," lanjutku tak enak hati pada Bang Devan.
"Itu urusan nanti, yang penting Abang bisa membantumu," jawabnya, membuat aku terharu.
Refleks aku langsung memeluk Bang Devan, dan menangis di pelukannya. Aku merasa bahagia karena akan segera mencari orang tua kandungku.
Aku melepaskan pelukanku dari Bang Devan, "Bang, terimakasih banyak sudah mau membantu Putri," ucapku "Trimakasih juga karena Abang sudah menerima Putri sebagai adik Abang selama ini, walaupun Abang tau kalau Putri bukanlah adik kandung Bang Devan," lanjutku sembari menangis.
Bang Devan menghapus air mataku, "Sudah, jangan menangis! Jika kau ingin mencari orang tua kandungmu, kita harus pergi ke rumah Nek Ranti," ujarnya.
"Kenapa harus ke rumah Nek Ranti dulu, Bang?"
"Karena dulu sebelum kamu di bawa ke rumah, Ayah membawamu ke rumah Nenek dulu. Mungkin di sana kita akan mendapatkan petunjuk," jawabnya. "Kau istirahat saja dulu Dek, kau mungkin sudah kelelahan hari ini."
Aku mengangguk, menyetujui ucapan Bang Devan. "Baiklah, Bang."
Aku tidak menyangka, Bang Devan yang dingin dan irit bicara ternyata sangat peduli dan hangat padaku.
'Terimakasih, Bang. Suatu saat Putri akan membalas semua kebaikan Abang.' bantiku.
*****
Tanpa adanya pertolongan dari orang lain, kamu tak akan meraih apa-apa. Tanpa kamu menolong orang lain, kamu tak akan merasa mendapat apa-apa.
-Putri Diana Irawan-
__ADS_1