
Prolog
Bagiku, lulus S2 diusia muda adalah hal yang sangat membanggakan. Yaa ... diusia 21 tahun, aku sudah mendapatkan apa yang aku inginkan.
Karir yang bagus, sahabat yang mendukungku dan pasti kedua orang tuaku bangga padaku. Tak hanya itu, keluarga besarku juga bangga padaku
Sayangnya, aku hanya bisa tersenyum sendu. Karena kedua orang tuaku sudah tiada sejak aku berusia 15 tahun. Sejak saat itu, aku mulai mandiri. Merantau bersama sahabat kecilku membuat aku seperti menemukan diriku sendiri.
Canda, tangis dan tawa kita lalui bersama.
Namun semua berubah, saat aku mendapat pesan dari sahabat ku kalau ia akan memberiku kejutan. Tiba di penthouse kami. Aku melihat pria itu sedang duduk di sofa, sambil memainkan sebuah botol.
Ya pria itu mabuk, saat aku ingin berjalan ke arah pintu, tiba - tiba dia bangun dan menarik tanganku.
Dan dia melakukan hal yang sangat aku benci.
Saat itu aku benci dengan pria itu, bahkan aku kecewa dengan sahabat ku.
Aku pergi meninggalkan semuanya...
Meninggalkan semua rasa sakit dan kecewa...
đź’—đź’—đź’—
Merantau.
Untuk mendapatkan apa yang kita inginkan, kita gak harus fokus dengan satu titik. Tapi kita bisa keluar dari zona nyaman itu kita sendiri.
********
Aku Raisa Stevano. Anak tunggal, dari pasangan Rio dan Ai. Papaku berdarah campuran, Indo-German. Sedangkan mama, ia berdarah campuran Indo-Jepang.
Sejak berusia 15 tahun. Aku tinggal sendirian di rumah besar kedua orangtuaku. Sesekali, sepupu dari ayah atau ibuku selalu berkunjung kerumah.
Seperti halnya sekarang, aku akan merantau ke New York untuk melanjutkan kuliah disana.
"Sudah siap semuanya sayang?" tanya tanteku, Citra.
__ADS_1
"Sudah Mah. Ahh pasti aku akan rindu dengan kalian semua." Ucapku sambil memandangi semua orang yang ada disana.
"Kalau ada apa - apa hubungi kita ya Ra. Kita gak mau kamu merasa sendirian." Ucap Gadis cantik yang tengah menggendong bayi perempuan.
"Kak Sandra, tenang aja. Aku akan jaga diri kok. Dan aku akan selalu mengabari kalian semua."
"Awas ya kamu bohong!" Omel perempuan yang sedang menatapku
"Ya kak Sesil! Tenang aja" Balasku.
Mereka berdua adalah anak dari Tante Citra. Dan dari sekian banyak sepupu, merekalah yang paling dekat denganku. Mungkin karena mereka, sepupu dari papa. Ya karena memang aku dekat dengan mereka. Jika dengan keluarga mama mereka menganggap aku orang asing. Ya sudah lah lupakan.
"Jaga diri baik - baik! Jangan bikin malu!" Sindir seseorang perempuan yang ku balas dengan senyuman.
"Ya kak Rea. Raisa akan coba untuk tidak membuat kalian malu." Balasku.
Rea adalah sepupu dari pihak mama. Entah kenapa, ia selalu saja menjadi musuh buatku. Ia sangat mudah menghasut saudara - saudara ku yang lain. Dan ku pastikan semua saudara mama tak berkunjung, karena mendapat hasutan darinya.
"Hello everyyybodyyy!!! Chacha yang imuts ada disini!" teriak suara ang membuatku tersenyum.
"Suka - suka guelah, mulut - mulut gue! Dari pada lu, deketin Raisa cuma ada maunya!" tantang Chacha.
Chacha Fernandes, anak pengusaha. Dia menjadi sahabatku, sejak aku berada di kandungan. Chacha tau betul, watak dari keluarga mamaku. Dulu, aku pernah mendengar dari mama Citra. Kalau mama itu selalu diasingkan oleh keluarganya, karena mereka iri. Bahkan hal itu terjadi sampai hari ini.
Pria yang duduk disamping kak Rea adalah adiknya, Alvin. Dia pria yang selalu mencoba memfitnahku, dan berpura - pura respect terhadapku.
Kok aku tau? Ya... Karena permainannya terlalu ketara.
"Sudah Cha, duduk dulu atau mau langsung?" tanyaku sambil menghadap ke arahnya.
"Langsung aja Ra. Soalnya kamu di suruh kerumah sama mama." Balas Cacha.
"Baiklah. Mama Citra, Kak Sandra, kak Sesil, Kak Rea dan Kak Alvin. Aku berangkat ya"
"Hati - hati ya sayang" ucap mama Citra
"Hmmmm.... Bye semua"
__ADS_1
*****
Tibalah aku di mansion besar milik keluarga Fernandes. Mansion itu berdiri kokoh di tengah taman yang sangat indah. Arsitektur nya bergaya eropa. Dan aku sangat menyukai kediaman Fernandes.
"Ayo Ra, mama sudah nunggu"
"Hmmmmm..."
Saat masuk kedalam, aku melihat mama dan papa dari sahabatku. Mereka lagi menyaksikan siaran televisi.
"Sayanggggg peluk mama." Ucapnya dan ku balas dengan pelukan.
"Kamu makin cantik ya. Sama seperti mamamu. Ahh... Mama mau kasih tau, tolong jaga anak nakal itu!"
"Thanks mah. Soal itu, tenang saja mah. Ada Raisa"Balasku
"Kalian berdua bersengkongkol!" Ucap sahabatku yang membuat aku dan mama Reva tertawa.
"Ayolah girls. Tak bisakah kalian melihat ku? Aku cowo tampan disini." ucap suara berat.
"Papa Raka! I miss you." Ucapku sambil memeluknya.
"Wah kamu sudah besar. Rio pasti sangat bangga denganmu."
"Hmmmm...."
Selama berada di kediaman mereka, aku habiskan dengan bercerita serta mendengarkan semua wejangan yang harus kita jauhi selama di sana.
"Jangan pernah sentuh alkohol karena di sana kalian hanya berdua, Mama harap kalian mengerti konsekuensinya!"
"Baik Ma..."
Setelah acara ramah tamah, aku dan sahabat ku terbang ke NY melalui bandara Soeta.
'Good bye indonesia. I will miss you'
đź’—đź’—đź’—
__ADS_1