
New York
Tempat baru bisa membawa kebaikan bisa juga membawa keburukan. Tergantung kita menempatkannya bagaimana_Raisa
**
Aku sudah tiba di bandara John F. Kennedy atau biasa di sapa JFK. Â Aku heran dengan sahabatku yang tak berhenti bernyanyi lagu Taylor Swift. Ya kalian pasti tahukan lagunya? Yes, Welcome to New York gitu-gitu.
Okey, back to topic. Aku dan Chacha sudah memasuki Taxi yang akan mengantar kami ke Penthouse keluarga Fernandes.
Selama di perjalanan, Chacha selalu bertelepon ria. Entah pada siapa.
Aku hanya diam,sambil memainkan ponsel keluaran terbaru. Ahhh... Alasan aku berada di NY, bukan hanya untuk kuliah. Aku juga dapat panggilan Model.
Aku heran, setiap kali Chacha berbincang di telpon, sesekali ia melirik ke arahku? Ahh.. Mungkin itu mama dan papanya?
Bicara tentang mama dan papa. Aku merindukan mereka. Apa meraka bahagia melihatku?
"Ra! Udah sampe!"
"Ahhh... Sorry."balasku yang sudah sadar dari lamunan ku.
Dia menatapku ...
"Kamu ada masalah?"
"Emhhh... Aku rindu mereka. Apa mereka senang lihat aku kaya sekarang? Atau malah mereka benci? Udah ah kok jadi sedih."ucapku sambil tersenyum sendu.
"Silakan nona Fernandes, tunjukan jalannya. Karena besok kita harus ke univeritas untuk menyerahkan berkas-berkas." Kataku.
"Siap nyoya" Balasnya.
"Eh Ra, kenapa gak kita suruh anak buah mamaku aja?" Tanya Chacha.
"No! Selagi kita bisa melakukan sendiri ya kita lakukan sendiri." Balas ku.
"Siap nyoya bijak" Balas Chacha
__ADS_1
Aku tersenyum melihat tingkahnya, sampai nada dering shawn mendes never be Alone mengalun indah.
Mama Reva Calling....
"Ya ma? Ada apa?" Tanyaku.
"kamu sudah sampai sayang?"Tanyanya
"sudah ma, ini kita lagi mau masuk ke dalam lift." Jawabku dan kami memasuki lift melupakan sejenak telpon yang masih tersambung.
Ting..
Aku dan chacha keluar dari lift. Disana sebuah penthouse menyambut kami dengan nomer 143.
"Kalian sudah masuk ?" Tanya mama Reva
"Sudah ma, kenapa harus 143?" Tanyaku penasaran.
"Karena biasanya kalau kamu mengajak pria kesana pasti kamu akan berakhir bahagia." Apa coba maksudnya? Dasar Mamanya Cacha bisa saja.
"Kalau itu memang harus sayang, ouh ya kamu besok gak usah ke universitas, mama sudah suruh Rafael untuk kesana."
"Ah ya ma. Sampaikan makasih pada orang yang bernama Rafael." Balasku.
Berbicara tentang Rafael, kenapa setiap mereka menyebut nama itu, aku merasakan pusing di kepalaku? Apa sosok itu aku kenali?
"Nanti mama sampaikan. Ouh ya! Kalian istirahat saja dulu nanti mama hubungi kamu lagi."
"Ya ma. Terima kasih banyak." Balasku
Aku menidurkan diriku di sofa, mencoba menghilangkan rasa pusing yang tiba – tiba menyerangku. Entah kenapa gara-gara Mamanya Chacha menyebut Rafael semua jadi seperti ini.
"Ra, kamu gak apa?" Tanya Chacha dengan wajah khawatirnya.
"Fine. Cuma ngantuk aja. By the way, kamar aku dimana?" Tanyaku.
"Dekat kolam renang, disana juga ada kamar bekas kakak sepupuku." Penjelasan Chacha hanya aku balas dengan anggukan tanpa mau peduli siapa sepupu yang dia maksud.
__ADS_1
"Ah okey. aku mau istirahat sebentar disini."
"Ya sudah, aku mau ke supermarket di bawah, mau isi kulkas" Katanya.
"Oke, hati-hati ya!" Seru ku.
***
Tringgg....
"Hallo.." Sapaku setengah sadar.
"apa benar ini Raisa Stevano?" Tanyanya.
Aku bangun dari tidurku dan duduk bersandar di sofa, saat aku lihat sang penelpon, ternyata nomer asing.
"Ya benar ini saya, ada apa?" Tanyaku.
"Saya mau memberi tahu anda, mulai lusa anda sudah mulai menjadi model di Brand kami."
"Apa anda pihak yang sama dengan pihak yang berada di indonesia?" Tanyaku bingung.
"Ya, kami pihak yang sama, cuma kami menangani cabang yang lokasinya di New York."
"Baiklah, jam berapa saya harus kesana?" Tanyaku.
"Setelah jam makan siang, kita mengadakan pemotretan di kafe."
"Okey, anda bisa bicara dengan manager saya, nanti biar pihak manager saya yang menghubungi anda."
"Baiklah. Senang bekerja sama dengan anda." Ucapku.
"Ya saya juga senang bekerja sama dengan anda." Kataku.
Setelah panggilan terputus, aku memasukkan koper kedalam kamar dan tak lupa mengganti pakaianku dengan pakaian renang. Time a Swimming!
💗💗💗
__ADS_1