
Problem
Tak ada yang ingin melakukan hal yang di luar kemampuannya, tapi jika mendesak? Apa kita hanya diam saja?_Raisa
**
Aku dan Chacha sudah memasuki kuliah. Dan itu terhitung sudah empat bulan, itu tandanya kontrak kerjaku dan VS akan berakhir. Jadi, aku akan memperpanjang kontrak atau aku akan mencari perusahaan lain untuk bekerja sama denganku. Atau, aku fokus sebagai CEO di perusahaan keluargaku yang ada di sini. Lupakan Raisa. Sekarang kamu lagi di kampus!
Seperti mahasiswa pada umumnya, aku dan Chacha juga di sibukkan dengan tugas-tugas yang mengejar kami. Seperti sekarang ini, aku sedang memperhatikan pejelasan dosen mengenai bidang yang ku ambil. Sampai...
Drttt....
Stella
Raisa aku minta tolong, tolong gantikan aku untuk pemotretan terakhir. Karena aku akan melangsungkan tunangan. Dan aku tidak mau mengecewakan ayahku. Bantu aku Raisa. Aku mohon.
Ya Stella Fork adalah anak tunggal dimana dia hanya memiliki ayah setelah ibunya meninggal melahirkan ia. Dan kami cukup dekat selama di VS Management, jadi wajar saja jika ia sekarang meminta bantuanku. Karena terkadang dia suka menceritakan hal pribadinya padaku. Memang aku harus berhati-hati, tapi entah kenapa aku merasa Stella bukan orang jahat. Jadi, aku ikuti saja naluriku.
Me
Nanti aku bicarakan dengan Chacha. By the way, semoga pertunangan kamu berjalan lancar ya!
Stella
Thanks. Jangan lupa kabari aku ya Ra.
Aku mulai fokus kembali kepada mata kuliahku. Sampai jam istirahat berbunyi, dosen di hadapanku memberikan kabar gembira.
"Sekian pembelajaran hari ini. Dan untuk miss Raisa pihak kampus setuju dengan pengajuan percepatan kuliah kamu. Saya nantikan kamu di jenjang lebih tinggi."
"Terima kasih mister! Saya akan berusaha dengan giat."
Mungkin bagi orang lain ini adalah semester satu untuk mereka, tapi tidak denganku. Beberapa bulan ini aku mulai mengambil kelas yang bukan kelas ku. Bahkan aku mati-matian untuk cepat kembali ke Jerman menemui Oppa. Aku yakin mama dan papa yang berada di atas sana, akan bangga melihat aku nanti.
Tak apa sekarang aku bersakit-sakit karena setelahnya aku akan bersenang-senang kemudian. Aku akan buktikan kalau aku bisa berdiri sendiri tanpa bantuan nama keluarga ku!
***
Aku dan Chacha sekarang menuju kearah tempat tinggal kami. Dan sekalian saja aku utarakan maksud dari Stella supaya Chacha mengerti kalau aku membantunya karena rasa pertemanan. Dan aku tidak mau di bilang ingkar janji karena pesan yang aku jawab setelah selesai perkuliahan tadi. Memang aku gegabah, tapi mau dikatakan apa lagi? Aku kan hanya mau membantu teman.
__ADS_1
"Apa?! jadi kamu harus gantiin Stella?!" Teriak Chacha membuat aku dan Pak Jo, supir pribadi keluarga Chacha saling pandang.
"Iya Cha, dan aku gak mungkin ingkar janji. Toh Alexa juga ikut bantu Stella, jadi semua gak aku yang ambil full job. Gak apa ya Cha, Please." Biarkan saat ini aku memohon pada sahabatku, habisnya sudah kepalang tanggung.
"Sudah lama non jadi model?" Tanya Pak Jo membuat aku menatapnya. Padahal aku tengah memohon pada Chacha saat ini.
"Sudah dua tahun sama ini pak. Ya bisa di bilang belum lama saya terjun. Lagian juga saya bukan model seperti di tv-tv." Jawabku.
"Ayolah Cha, cuma dua hari ini saja ko, setelah itukan kontrak kerja sama habis. Dan aku janji akan menuruti kamu, apapun." Aku kembali memohon pada sahabatku.
"Dua hari si dua hari Ra, nanti kalau Rafael marah gimana?" Tanya Chacha khawatir.
"Siapa Rafael? Apa aku kenal dengan dia? Seberapa dekat?" Tanyaku penasaran, kenapa Chacha bisa-bisanya menyeburkan nama asing tersebut?
"Ahhh aku salah bicara. Pokoknya kamu jangan ambil itu, lagiankan di sepakatan tidak ada pergantian orang." Aku tahu dia tengah mengalihkan pembicaraan ini. Apa mungkin Pak Jo kenal dengan Rafael? Mungkib ya, karena saat aku menatap matanya dia malah tak mau berkomentar apapun. Menyebalkan! Tadi dia tanya-tanya masalah aku jadi model, tapi saat aku kode untuk bertanya masalah Rafael tidak menjawab. Awas saja Pak Jo!
"Kata siapa? Ada Cha, kamu bisa baca ulang surat perjanjian itu. Dan saat pihak A meminta pihak B untuk menggantikannya pada saat itu aku wajib menggantikannya jika tidak? aku mendapatkan denda 3x lipat apa salahnya membantu teman? Lagi pula aku dan kamu sudah menandatangani kontrak itu. Jadi kita harus profesional Cha."
"Tapi Ra...."
"Aku tau kamu khawatirkan? Tenang aja, aku bisa jaga diri. Lagian kemarin kamu juga fine- fine aja." balasku.
"Nona Chacha memang seperti itu dia hanya emosi sesaat. Saya yakin nanti juga kembali reda."
"Siapa Rafael?" Tanyaku pada Pak Jo.
"Nona akan tahu nanti, saya tidak punya hak untuk menjelaskan tanpa seiizin nona Chacha dan keluarganya."
"Baiklah. Saya masuk dulu Terima kasih sudah mengantar dan menjemput kami. Selamat sore menjelang malam."
Aku memasuki lobi dengan malas. Aku yakin ini masih jalan yang sangat panjang untuk membuat Chacha berpihak padaku. Tapi aku akan berusaha semaksimal mungkin.
***
Lepas melakukan kegiatan bersih-bersih aku keluar kamar demi mengisi perutku yang sudah keroncongan. Di tambah lagi seharian ini aku hanya sibuk di perpustakaan membuat jam makan siangku terlawat begitu saja. Saat aku berjalan keluar dari kamar, aku melihat Chacha yang terdiam di ruang tamu sambil memainkan ponselnya. Aku tidak tahu apa yang tengah Chacha hadapi. Yang pasti aku merasa bersalah karena memutuskan semuanya secara sepihak.
"Cha, kamu sudah makan?" Tanyaku dan di balas dengan gelengan kepalanya. Astaga! Kenapa Chacha tidak memberi tahuku?! Memang di antara kita berdua akulah yang bisa memasak. Wajar jika saat ini Chacha kelaparan menungguku.
"Ya ampun Chacha. Kenapa gak bangunin aku?!" Aku langsung berlari ke dapur dan aku masih dengar permintaan maafnya.
__ADS_1
"Maaf.. Aku tadi bersikap kekanakan tadi."
"Sutttttt... Gak apa. Aku ngerti kok. Sebentar ya aku buatkan sesuatu." Aku berteriak sambil mengolah bahan makanan yang akan aku siapkan malam ini. Ya, wajar Chacha emosi tadi. Toh aku juga sebagai sahabatnya sangat salah di sini. Akulah yang membuat situasi menjadi tidak mengenakan.
Hampir setengah jam berkutat dengan peralatan dapur. Nasi goreng buatanku sudah siap. Aku menata semuanya di meja makan. Tak lupa kami berbincang seperti biasanya sampai lupa jika jam sudah menunjukkan pukul 10. Aku membersihkan piring kotor dan kembali ke dalam kamar begitupun dengan Chacha yang tadi merapikan meja makan.
Baru saja aku duduk di kasur, sebuah panggilan dari nomer tak di kenal muncul di layar ponselku. Awalnya aku takut untuk mengangkat nomer ini, tapi entah kenapa aku penasaran.
"Halo..."
"........." Tak ada jawaban, hanya suara helaan nafas yang aku dengar saat ini.
"Hallo?" Aku mencoba lagi memanggilnya namun belum juga dapat jawaban.
".........."
"Baiklah saya rasa anda tak mau berbicara. Saya tutup. Maaf." Sudah malam. Aku butuh istirahat setelah apa yang terjadi seharian ini.
Aku meletakkan ponsel diatas nakas. Seperti kebiasaan selama beberapa bulan ini, aku selalu mengirim pesan kepada keluargaku sebelum aku tidur. Ya, walaupun aku tidak mendapatkan jawaban dengan segera tapi aku selalu mengusahakan memberika kabar mereka.
Ting!
1#######
Bisakah anda batalkan kontrak anda dengan VS?
Hah? Batalkan? Bagaimana bisa aku batalkan kalau kami sudah mau habis kontrak. Dari pada di batalkan lebih baik habiskan saja kontraknya bukan? Lagi pula siapa gerangan orang ini? Tidak mungkin kan Chacha menerorku seperti ini.
1#######
Jika kamu membantah, aku kan lakukan apapun untuk membuat kamu berada di dalam hidupku
'Siapa dia? Fanskah? Atau psikopat?' Batinku.
1#########
Aku akan buat kamu menyesal, karena kamu memilih menjadi model VS.
Aku tidak mau melihat ponsel itu lagi, aku memilih untuk tertidur walaupun ketakutan masih melandaku. Setidaknya aku harus berusaha memejamkan mata.
__ADS_1
💗💗💗💗