
Kawasan Tundra Hitam
Namun ketika jeda 5 riak EMP Pulse menyebar dan Mana Bomb tengah proses fusi, sistem perlindungan diri A.I Super Computer nampaknya mengalami sedikit perubahan...
"......."
"Host detected, 99,9% match..."
"......."
"System reboot..."
...****************...
Kota Shen, Daratan Utama
2219
Denyut sengatan listrik itu sebelumnya lembut, meski lama-lama akan menguat, dan jika si sasaran tetap belum merespon, kapasitasnya akan naik hingga setara ledakan kecil, yang seringkali, akan membuat sasaran yang tak siap terjungkal dari tempat duduk mereka. Kondisi itulah persisnya yang memaksa Ran untuk membuka matanya.
Diiringi derai tawa rekan-rekan sekelasnya, pemuda itu panik mengedarkan pandangan matanya, dan apa yang menyambutnya benar-benar mengejutkannya, meski sedikit menyelipkan rasa sedih dalam hati.
"Mr. Chicken, if you pleased, would you like to join with our lesson with some more passion?"
Kata-kata lembut yang berkumandang melalui sorphone itu mengundang tawa lanjutan yang makin membahana. Erhan, mentor pengganti untuk pelajaran bahasa asing selalu menyebutnya sebagai Chicken, berdasar judul buku tua dari jaman kuno, Chicken Run.
Ran menghela nafas ketika rasa sedih menguat dalam hatinya ketika ia berdiri sambil mengusap kedua lengannya yang masih kesemutan akibat tombol hukuman, sistem yang akan mengirimkan sengatan listrik ringan ke setiap murid yang kehilangan konsentrasi mereka dalam ruang kelas selama pelajaran. Banyak wajah-wajah yang tertawa ini tak mampu menyelamatkan diri ketika gelombang pertama datang 3 tahun dari saat ini...
Ah, nampaknya aku benar-benar berada di neraka. Pintar juga Iblis menaruhku di fase kehidupan yang ini untuk menghukumku, desah batin Ran.
__ADS_1
Periode kehidupan yang ia hadapi saat ini adalah periode paling menyedihkan untuknya. Miskin, tanpa koneksi dan tak berotak. Kombinasi yang akan mampu membuat remaja manapun merasa sedih dengan hidup yang dimilikinya. Meski jika dibanding dengan hidup yang ia miliki 5 tahun kemudian, ini adalah surga...
"So, may I have your answer, Mr. Chicken?"
Chickan chicken, emang aku ayam apa??! gerutu batinnya lagi. Bahasa asing selalu jadi kelemahannya, dan Erhan tahu.
"I'm sorry, Sir. My name is Ran. R.. A.. N. Romeo Alfa November, not Run, like the ancient relic books you loved. But yes, i will be better for your class..." sahut Ran perlahan sambil kembali berusaha duduk di kursinya. Tombol hukuman tak akan mengijinkan sasaran untuk duduk kembali sebelum 5 detik berlalu. Menurut pemimpin akademi, hal seperti itu akan bisa memupuk keberanian untuk menerima kesalahan dan mengakuinya. Meski menurut Ran itu omong kosong. Lagipula, Erhan itu cuma seorang pembully yang mempergunakan kemampuannya untuk mengolok kelemahan orang lain, dan fakta ia cuma mentor pengganti yang usianya bahkan tak terpaut jauh dari mereka semua, itu tak membantu sama sekali. Hanya saja, ia tak memperhatikan pandangan terpana yang muncul di wajah teman-teman sekelasnya. Ran baru menyadarinya ketika ia berhasil duduk dan mencoba memeras setiap kemauan dalam dirinya untuk mengangkat wajah.
"Owh, nice answer. I think punish button is good for you on learning, Mr. Ch.. Ran?" sahut Erhan lagi. Senyum licik muncul di wajahnya, yang dengan segera, disambut gelak tawa rekan kelasnya.
"I hope it's not, Sir. But i guess, i will be some advance student on your lesson in short time start from now.."
Mendengar ini, keheningan menyelimuti kelas yang sebelumnya semarak, meninggalkan wajah Erhan yang seakan habis dipukul, ketika akhirnya ia memilih untuk menjadikan Ran sasaran dan meneruskan pelajarannya.
Sebenarnya ini bukanlah sebuah ketidakwajaran. Sejauh ini, "Yes", "Oui", "Haik", dan ya ya dalam berbagai bahasa lain yang mampu muncul dari mulut Ran. Sebuah kalimat balasan dalam artikulasi dan tatanan yang tepat tentu saja akan menjadi sebuah kejutan yang hebat. Bukan tak mungkin kalau tombol hukuman memang benar-benar melakukan sesuatu pada pemuda yang cuma unggul di bidang bela diri dan berbagai cabang olah raga itu.
Denyut lembut dari gelang komunikasi di tangannya menarik perhatian ketika sebaris pesan muncul di layar holografik, memunculkan nama Arlind di sana. Pemuda itu segera mengalihkan tampilan layar holografik ke telapak tangannya supaya monster kecil yang masih mengoceh di depan kelas itu tak memperhatikannya. QuantumComm yang ia gunakan hanya versi termurah, versi yang memunculkan tampilan dan memungkinkan siapapun untuk membaca apapun yang kebetulan melihatnya. Arlind, bunga kelas akademi Shonjin ini selalu baik padanya, tapi ia cenderung lupa kalau pesan yang ia kirim bisa membuatnya diskors atas penggunaan media komunikasi di waktu belajar.
Ran mendongak ke arah gadis yang tengah memalingkan wajah kearahnya itu dan meringis. Namun ketika ia melihat gadis itu bermaksud mengirim pesan lanjutan, Ran menggelengkan kepalanya. Ia memilih untuk tidak mendapat tombol hukuman tambahan hari ini...
......................
Entah kenapa gadis itu tak berhenti memandang dan tersenyum. Ia bahkan tak menyentuh makanan didepannya. Hampir seluruh waktu berlalu di ruang kantin sejak pelajaran bahasa asing tadi berakhir, ia habiskan untuk memandang wajah pemuda yang tengah asyik makan itu.
"Ada bunga tumbuh di wajahku, Lind?"
"Iya. Bunga bangkai!" balas gadis itu sambil menjulurkan lidahnya sambil tertawa tanpa menyadari kalau pesona yang ia pancarkan mampu membuat mawar iri akan keindahannya.
"Huh, apa yang perlu dibanggakan, Inggris kan gampang? Erhan aja yang sok-sok an. Kayak udah jadi mentor beneran aja." ujar Ran setelah sekuat tenaga mengerahkan semua kemauannya untuk mengalihkan pandangan dari wajah bagai dewi didepannya itu.
__ADS_1
"Heiii, ada yang sombong nih..."
"Bukan sombong, hanya saja kenapa harus belajar bahasa lain kalau kita punya bahasa kita sendiri coba?" ujar Ran lagi tanpa berusaha mengalihkan pandangannya dari sayur segar di piringnya. Sayuran adalah hal yang lama ia rindukan. Masa Pemusnahan benar-benar membuat sayuran menjadi komoditas paling dicari ketika para Gifted mulai berubah jadi Humong dan memburu manusia untuk otak dan daging mereka. Pemuda itu bahkan bisa mengabaikan rasa sakit seperti tusukan jarum di bagian dalam kepalanya.
"Lho, kita tinggal di area milik Persekutuan yang memiliki 7 bahasa pengantar utama lho, Ran. Bagaimana kau akan bisa jadi hebat jika kau bahkan hanya mau menguasai bahasamu sendiri?" sahut gadis manis tangkas. Arlind tak pernah bisa melewatkan perdebatan apapun.
Uh, sialan!
Rasa sakit itu muncul lagi, dan makin sering sekarang. Tusukan itu sebelumnya hanya terasa sekilas, namun kali ini lumayan menyakitkan. Ran terus berfokus untuk mengunyah sayur dalam mulutnya, dan ketika didapati pandangan penuh kontemplasi di mata gadis cantik itu, ia hanya menunjuk mulutnya yang penuh. Ran perlu melakukan ini hanya supaya ia tak menunjukkan rasa sakit yang mulai menguat.
"Yah, banyak kepala banyak pemikiran dan pendapat. Kalau menurutku, selama kita jadi yang terhebat, jangankan bahasa, bahkan cara berpakaian, budaya, atau mungkin bunyi kentut kita-pun akan dipelajari orang lain!" sahut Ran sambil tertawa ketika tangannya mengusap tempurung kepalanya yang berdenyut makin kuat. Sekarang, ia benar-benar butuh mengerahkan segenap kemampuannya untuk menahan rasa sakit itu.
Sialan... Bener juga, mana ada hidup di Neraka enak? Bisa makan enak, ngobrol sama gadis cantik, nggak ada api dan aneh-aneh, boleh balas guru tengil, tapi otak ditusuk-tusuk... Setaaaaaan, muncul dong...! desah pikiran Ran, rasa sakit yang ia rasakan mulai menggerogoti setiap kemampuan yang ia miliki.
Tapi bisa menikmati obrolan dan candaan seperti ini dengan Arlind adalah sesuatu yang tak pernah mampu ia lakukan dulu. Meski gadis ini selalu baik padanya, Ran tak pernah memiliki keberanian untuk berinteraksi dengannya. Ia berasal dari dunia gemerlap yang jauh dari jangkauan tangannya. Dan sayangnya, Arlind tak mampu bertahan selama perubahan gelombang pertama datang. Nyawanya direngut oleh calon pasangannya, dan itu adalah salah satu penyesalan terbesar yang selalu menyiksa Ran.
"Jika ini Neraka, maka akan kunikmati setiap detiknya... Rasa sakit ini.. Tak ak akkan meruntuhkan..ku! Kau perlu berusaha lebih keras, Setan!"
"Ran, k.. ka.. Kamu k. kena.. pa? Ke.. ringatmu baa..nyak sekali?"
Kenapa gadis ini? Apa dia mengejek intelejensiku?
Rasa sakit yang menghebat itu mulai terasa sama seperti ketika pemasangan dan aktivasi implan super human chips dilakukan ketika ia masih hidup dulu. Satu-satunya rasa sakit yang sangat hebat, hingga membuat sistem kerja otaknya memblokir ingatan tentang rasa sakit itu sendiri waktu itu.
"Kenapa kau berbicara dengan cara seperti itu? Jangan bertingkah seperti Erhan, kau terlalu cantik dan baik untuk itu!" sergah Ran sedikit keras meski segera ia sesali nada keras yang ia keluarkan ketika sorot mata kaget muncul di mata gadis itu.
Kepalanya benar-benar terasa amat sangat sakit sekarang. Rasa sakit aktivasi chips bahkan tak pernah sesakit ini. Ia bahkan mulai mengepalkan tangannya kuat-kuat dan menggigitnya hanya supaya ia mampu menahan jeritan kesakitan yang sudah sampai di tenggorokan.
"Raaan!"
__ADS_1
Pandangannya menggelap ketika akhirnya pemuda itu tak mampu lagi bertahan, dan ambruk ke lantai...