Kilas Percik Waktu

Kilas Percik Waktu
Second Chance


__ADS_3

Hangat sinar matahari pagi yang menerobos masuk dari jendela kaca besar itu yang menyadarkan Ran.


Pemandangan deretan pohon Tabebuya, sejenis Sakura yang bisa tumbuh di daerah Tropis menyapa matanya, menampakkan pesona dalam balutan bunga yang berwarna merah muda dan putih, seakan menari bersama desir lembut angin pagi. Mencoba memberikan penghiburan pada banyak pasien rawat inap intensive klinik terpadu milik Akademi Shonji dari balik jendela kaca.


Biasanya eastern wing sal klinik ini hanya diberikan pada minimal, siswa-siswa dari golongan menengah.


Selain memiliki lokasi kedua terbaik, lengkap dengan pemandangan menenangkan berupa taman yang berisi berbagai bunga dan jajaran pohon tabebuya yang menenangkan, sal ini memberikan layanan medis yang layak. Dilengkapi dengan ruang berprivacy, dan berbagai fasilitas kesehatan modern, pencahayaan dan ventilasi disini sangat bagus.


Tapi seharusnya, Ran tidak mampu dirawat di tempat ini.


Karena meski menempati bagian dari Shonji Akademi, Eastern Wing ini dioperasikan oleh perusahaan swasta, yang memberikan layanan kesehatan untuk mereka yang tak mau berbagi layanan kelas bawah di Center side sal, fasilitas kesehatan yang dimiliki akademi untuk semua siswanya, dan seharusnya, Ran lebih cocok berada disana. Tempat ini tak terjangkau oleh dana perwalian yang dimiliki Ran.


Tapi sementara pikirannya berpacu memikirkan jalur melarikan diri tanpa deteksi, tekanan lembut pada sisi kanan tubuhnya membawa mata pemuda itu ke sosok ramping dengan rambut ikal keemasan yang tertidur nyenyak dengan separuh tubuh bagian atas menyender di tempat tidur berbantalkan lengan Ran. Wajah yang oval sempurna membingkai mulut mungil berbibir merah yang agak terbuka, menambahkan kecantikan ekstra padanya.


Sungguh, gadis ini tak pernah menyadari betapa mematikan pesona yang dimilikinya, desah batin Ran kecut.


Nampaknya Alrind yang membawanya ke tempat ini, dan mengingat untuk mendapatkan layanan jasa kesehatan di sal ini mengharuskan pasien mendepositkan sejumlah besar dana terlebih dahulu, gadis ini telah membuat Ran berhutang budi lebih dalam lagi padanya.


Huft, gadis bodoh... Tapi di kehidupan ini, tak akan kuijinkan kau terancam oleh apapun. Bahkan tidak oleh calon pasangan imbesil-mu itu.


Ran memilih untuk tak bergerak dan menikmati memandang dewi yang tengah tertidur itu. Ia selalu menyukai Alrind meski tanpa kemampuan untuk bahkan sekedar berbicara dengan baik. Gadis itu selalu mampu membuatnya blingsatan tak terkendali dan akhirnya memunculkan berbagai kalimat-kalimat konyol yang memancing tawa banyak temannya yang lain. Yah, meski memiliki badan tinggi dan diberkahi dengan bakat kemampuan bela diri dan berbagai cabang olah raga, Ran miskin. Dan itu adalah kutukan!


Bumi saat ini, sudah berubah menjadi seperti rumah reyot dari campuran kayu dan semen, dengan lobang-lobang berbahaya yang rapuh dan mungkin menyimpan mahluk-mahluk aneh yang mampu mengancam nyawa.


Jauh di tahun-tahun sebelumnya, manusia yang terus bersaing dan berusaha mengumpulkan beragam sumber daya yang tersisa, mulai membuat planet yang sudah tua ini terluka hingga ke sumbernya. Meski banyak langkah yang ditempuh guna merestorasi kerusakan ini, tapi semuanya sudah terlambat.


Daratan mulai tak lagi menjadi tempat yang aman untuk ditinggali ketika beragam bencana alam mulai muncul lebih sering. Sementara itu, hewan-hewan seakan berevolusi dengan sangat cepat, dan bahkan mulai turut mengancam kelangsungan hidup manusia ketika alam memaksa mereka tumbuh menjadi lebih besar, lebih kuat dan lebih ganas.


Namun tak butuh waktu lama bagi manusia untuk bertahan.


Mereka mulai membangun kota-kota mereka, jauh di atas tanah. Pengembangan pola hidup manusia mulai dibagi berdasar golongan ketika sumber daya yang dikembangkan dengan teknologi baru, diatur oleh persekutuan guna menghindari perselisihan.

__ADS_1


Golongan atas, adalah mereka yang memiliki kemampuan otak setara dengan 3 orang Einstein dijadikan satu.


Orang-orang inilah yang hampir bisa dibilang, menentukan kehidupan banyak orang lainnya. Mereka pula yang memiliki wewenang dan tanggung jawab untuk membuat beragam terobosan dan peningkatan bagi manusia. Dan orang-orang ini pula yang dibilang memiliki hak khusus dalam menikmati sumber daya apapun yang bisa disediakan persekutuan, bahkan jika mereka membutuhkan subject penelitian manusia, persekutuan pasti akan menyediakan itu bagi mereka.


Sementara golongan menengah adalah mereka yang memiliki iq rata-rata di angka 170-200. Jenis mereka ini yang seringkali mondar-mandir di berbagai lab, rumah kesehatan, balai penyaringan air, dan banyak lainnya. Arlind adalah salah satu diantaranya.


Sementara Ran, dengan kemampuan fisiknya, jelas pasti masuk ke golongan bawah. Jenis yang hanya akan difungsikan sebagai pekerja dengan tingkat bahaya tinggi, termasuk diantaranya team surveyor sample tanaman di daratan, hampir 500 meter di bawah kota, team pengawal, dan banyak pekerjaan kasar lainnya.


Meski tak akan lama lagi, tak ada satupun diantara sekian banyak hal berkilau itu ada nilainya...


Era gelombang pertama akan datang 6 tahun lagi.


Diawali dengan terlepasnya sebuah formula biologi berbahaya dari sebuah fasilitas pengembangan formula biologi, dunia mulai diselimuti kekacauan ketika banyak manusia yang mati. Dengan susah payah, penangkal formula biologi yang disebut sebagai virus pandora itu bisa dikembangkan. Meski ada beberapa efek negatif terjadi pada beberapa pengguna, tapi banyak manusia yang kemudian justru mengembangkan berbagai macam mutasi yang mirip dengan kemampuan manusia super. Bergerak secepat kilat, terbang, bernafas dalam air, dan banyak lainnya. Hal ini yang membuat banyak manusia kemudian memilih untuk terpapar virus pandora dengan sengaja hanya supaya mendapatkan penawar, dan semua bencana itu akhirnya benar-benar dimulai.


Para manusia yang bermutasi, yang dikenal dengan nama gifted, entah bagaimana caranya, berubah menjadi ganas dan tak terkendali. Mereka mulai melukai, membunuh, hingga membantai manusia lain. Dan seiring mereka membunuh, semakin mereka tak terkendali dan tak lama, bumi tak lagi menjadi bumi yang sebelumnya.


"Ah, kamu sudah bangun, Ran?"


"Aaaah, aduh, ampun, Lind!"


"Ditanya malah bengong. Beneran deh, cari penyakit kayaknya!" dengus Arlind tanpa melepaskan tangannya. Matanya mendelik dalam usahanya untuk terlihat garang, yang sama sekali jauh dari berhasil. Wajahnya yang bersemu merah ketika titik halus keringat muncul disana, menambah pesona yang muncul ketika gadis itu terus berkutat dengan cubitan-cubitan, yang justru terasa bagai belaian sayang di tubuh Ran, sementara yang terakhir, terus saja berusaha untuk menghindari cubitan itu dengan setengah hati.


Apapun yang terjadi, aku tak akan membiarkan engkau terluka kali ini, desah batin Ran, sambil terus berusaha berakting kesakitan, meski rasa hangat tak henti menyebar dalam hatinya. Melihat kembali gadis itu, sehat dan hidup, menghilangkan salah satu penyesalan terbesar yang pernah ia rasakan di kehidupan sebelumnya.


Dan di kehidupan kali ini, bersama dengan seluruh pengetahuan dan kemampuan yang ia miliki, tak akan lagi ia mempunyai keinginan untuk kehilangan siapapun.


Penyesuaian akan selesai dalam waktu 10 menit. Sistem akan membutuhkan re-boot. Ran akan kembali memasuki fuga selama proses integrasi dan pengaktifan super human chips.


Pemberitahuan yang berdentang di dalam pikirannya, kembali menyentak kesadaran Ran. Antisipasi mulai berkembang dalam dirinya ketika membayangkan beragam kemungkinan tak terbatas yang bisa ia capai setelah ia kembali mendapatkan semua kemampuannya, jauh lebih awal dari yang seharusnya.


Huft, kali ini, tak akan lagi aku pontang-panting macam waktu itu. Tunggu saja, bahkan Baron, manusia super menyebalkan tak tahu sosial itu pasti akan hidup, tekad Ran kuat.

__ADS_1


But first thing first...


Ran menangkap tangan Arlind yang terus saja berusaha mencubiti badannya tanpa hasil, lalu digenggamnya tangan itu dengan lembut, menghentikan tawa yang muncul untuk diganti dengan rona merah di wajahnya yang mempesona.


"Lind, terima kasih... Aku dulu bodoh, dan tak memiliki cukup keberanian untuk melihat, tapi atas semua yang telah kau lakukan, aku akan mengubah dunia ini untukmu..."


"Ehm, ah, eh, Ran... Maksudmu apa?" sahut gadis itu pelan, tanpa mampu memandang mata Ran sedikitpun. Ia pun tampaknya tak ingin menarik tangannya yang tergenggam erat di tangan pemuda itu.


Ran tersenyum, perlahan, ia cium punggung tangan gadis yang tengah membara oleh rasa malu itu.


"Jika kau mengijinkan, aku ingin menjagamu, dan tak akan sedikitpun kubiarkan kau terluka." ujarnya perlahan.


"Apakah kau menyatakan rasa cintamu padaku dengan cara seperti ini, Ran?" balas gadis itu sambil menyipitkan matanya dengan berbahaya, ketika akhirnya ia mampu menguasai dirinya sendiri.


Ia terbiasa dengan cara bercanda pemuda ini. Cara yang seringkali mampu membuatnya tenggelam dalam perasaan ketika kemudian pemuda itu mementahkannya kembali. Hal yang benar-benar membuatnya sakit dan kecewa akan sikap Ran yang tak pernah mau memperjelas hubungan mereka, meski Arlind selalu berusaha membuat mereka berpasangan sejak dulu. Dan ia tak ingin kecewa lagi seperti biasanya.


"Tidak. Aku akan menyatakan perasaanku padamu dengan benar setelah aku keluar dari tempat ini. Untuk saat ini, ijinkan aku hanya menjanjikan hidupku untuk menjagamu, dari sekarang hingga akhir nafasku." sahut Ran tenang.


Butuh beberapa saat bagi gadis itu untuk menyadari arti omongan Ran, yang tetap terbaring tenang dengan pandangan lembut terpancar di matanya. Tapi baru saja gadis itu hendak membalas perkataan manis itu, Ran kembali menyela.


"Tapi untuk saat ini, ijinkan aku beristirahat dulu dengan tenang ya, Lind. Tangan kananku masih agak kesemutan rasanya." sahut Ran sambil tersenyum jahil, yang artinya tak bisa lagi lebih salah.


"Ehm, tangan kananmu kesemutan karena kugunakan sebagai bantal? Maksudmu, badanku berat?" desis Arlind sambil menghujamkan cubitan paling kuat yang bisa ia hasilkan ke perut lembut Ran, yang segera membuat pemuda itu tergelak pelan dan baru beberapa saat kemudian, ia menghentikan Arlind yang tampaknya kembali larut dalam perasaannya sendiri.


"I'll see you soon, dear. Ijinkan aku istirahat dulu sejenak..."


Tanpa mampu menunggu jawaban dari Arlind, mata Ran tertutup perlahan ketika denging mekanis yang terdengar dalam otaknya mencapai hitungan nol.


Integration processing...


Super human chips activating...

__ADS_1


Upgrading body level processing...


__ADS_2