
01.17
Cody dan Ajudan datang untuk melapor.
"Nightmare ya. Walau melemah mereka tetaplah merepotkan," ujar Wali Kota.
Lebih dari tiga ratus tahun yang lalu, tiga eksistensi muncul dan menghancurkan tatanan dunia. Hampir memusnahkan manusia.
Keturunan Bunda Suci—demi human—adalah yang tercerdas. Mereka sangat merepotkan dan juga tidak pada saat bersamaan. Itu karena mereka memiliki kecerdasan menyamai bahkan beberapa melampaui manusia. Dalam waktu singkat mereka mampu mendirikan kerajaan sendiri. Mereka saat ini di anggap sebagai musuh utama kekaisaran manusia. Poin baiknya, sebagai makhluk berakal, mereka bisa diajak berkomunikasi.
Lalu ada dungeon. Ada dugaan kuat kalau dungeon tidak terbentuk secara alami, tapi diciptakan oleh seseorang. Jika ditangani dengan benar dungeon malah akan mendatangkan untung. Tentu saja sedikit salah penanganan maka yang terjadi adalah bencana.
Terakhir adalah Dunia Mimpi berserta penghuninya.
"Tidak seperti alat itu bisa memanggil mereka tanpa batas," ucap Detektif Greyhorn.
"Tapi tetap saja ... Bisakah kau sedikit membocorkan informasi padaku?"
Sang Detektif tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya membuka mulutnya.
"Di antara tiga eksistensi yang muncul 300 tahun silam, Dunia Mimpi dianggap yang paling berbahaya. Apa kau tahu alasannya? Itu karena makhluk dunia mimpi sangat menyimpang, liar dan tidak berakal," jelas Detektif Greyhorn. "Suatu hari seorang jenius tertentu berkata 'karena mereka pada dasarnya hanyalah binatang buas, mengapa kita, sebagai makhluk berakal, tidak mengendalikan mereka?' Itulah asal-usul projek Bizantium," lanjutnya.
Wali Kota yang semerah tomat memuntahkan seteguk darah. Ajudan yang panik memberikan sapu tangan dan segelas air kepada Wali Kota.
Apa sih yang ada di kepala orang-orang itu. Mereka selalu menyalahkan petualang sebagai biang keladi segala masalah. Namun kenyataannya mereka sendiri membuat banyak masalah.
"Apa alasan pria itu berkhianat?"
Pria yang di maksud tentu saja Blackjack. Dia saat itu menjabat sebagai kepala peneliti. Bahkan Darton yang berada jauh di utara kekaisaran mendengar ketenarannya.
"Entah. Siapa yang tahu."
Pertempuran berlanjut.
Penjaga kota memiliki keunggulan jumlah mutlak. Namun setiap dari mereka jelas lebih lemah dari Batalion Kesatria.
Jika Kesatria yang secara khusus berlatih untuk menaklukan monster berbahaya saja mengalami kesulitan, maka tidak perlu di tanya seperti apa nasib mereka.
Jumlah prajurit yang gugur segera meroket. Tidak sedikit juga penjaga yang memutuskan untuk melarikan diri.
Biarlah.
Sejak awal tujuan mereka hanya untuk membeli waktu agar para kesatria bisa rehat.
Tetap saja, jumlah korbannya terlalu tinggi. Ajudan Wali Kota sampai kesulitan menahan Darton agar tidak terjun langsung ke medan perang.
"Maaf membuat kalian menunggu!"
Suara merdu bak bidadari membubarkan suasana suram.
Seorang wanita cantik muncul mereka tanpa ada yang menyadarinya. Penjaga yang panik buru-buru mengacungkan senjata mereka. Wali Kota memasang ekspresi kaget dan tak percaya. Sedangkan Detektif Greyhorn sedikit mengangguk lalu kembali menatap medan perang.
__ADS_1
Sekitar 30 orang memasuki medan perang dan segera membalikkan papan permainan. Jangan hanya melihat jumlah mereka yang menyedihkan. Normalnya butuh sepuluh sampai dua puluh penjaga kota untuk menaklukkan salah satu nightmare. Namun orang-orang ini mampu melawan makhluk tersebut sorang diri dan masih bisa meraih kemenangan. Alhasil statistik jumlah korban langsung anjlok.
Wali Kota sedikit merilekskan pundaknya yang kaku. Ia kemudian bertanya alasan keterlambatan para petualang.
"Kami kedatangan tamu," jawab Anna dengan senyum lembut. "Ngomong-ngomong, inikah buah penelitian selama hampir sepuluh tahun itu, Delta?"
Wali Kota kembali terkejut. Bukan hanya wanita ini memanggil Detektif Greyhorn dengan sangat kasual, sang detektif juga bersikap sopan padanya. Apa hubungan keduanya?
Wanita ini memang misterius.
"Itu benar, nona Anna. Inilah buah dari kelinci percobaan yang tak terhitung jumlahnya itu," sarkas Greyhorn.
Sebuah projek gila dengan tujuan membuat senjata pamungkas demi keberlangsungan umat manusia justru di gunakan untuk membantai manusia itu sendiri.
"Sungguh ironis. Yah, bagaimanapun, mari akhiri dengan cepat."
Anna terlihat ingin melakukan sesuatu tapi segera di hentikan oleh Detektif Greyhorn.
"Nona Anna. Aku minta maaf tapi kuharap nona mau melakukan sesuatu yang lain."
Anna segera mengerti maksud dari juniornya itu.
"Hm~. Okay. Kalau begitu aku akan pergi melacak bocah itu."
"Ya. Tolong-"
"GRAAAHHHHHHH!"
Perasaan ini, sebuah teror.
"Apa itu ...?"
"Aku pergi dulu."
Tanpa menunggu lebih lama lagi Anna segera menghilang entah kemana. Mungkin menuju sumber suara berasal.
01:29
“Kau terlalu keras kepala, bukan.”
“Sudah, berhentilah lari! Kenapa kau tidak menyerah saja, sih, Jack.”
Kapten dari unit penghakiman saat ini sedang menyudutkan dalang dari insiden malam ini.
“Ya ampun. Kau ini sudah besar, tahu. Berhentilah menempel padaku.”
“Ya, aku manja. Jadi tolong sudahi semua ini.”
Tanpa disangka sang kapten yang biasanya tampil garang kini memasang wajah memelas.
“Yak. Kau tidak bisa menipuku dengan wajah manismu kali ini.”
__ADS_1
“Cih. Kalua begitu mati.”
“Jangan kasar begitu.”
Bunga api berkibar di sana-sini.
Keduanya bergerak dengan sangat cepat. Namun, bahkan amatir pun tahu sang Kapten memiliki keunggulan yang jelas.
Dalam pertandingan satu lawan satu tidak mungkin bagi Blackjack untuk menang.
Sayangnya, tidak ada yang pernah mengatakan kalau Jack akan bertarung secara adil.
Mendadak cahaya ungu muncul di atas tanah. Cahaya itu semakin terang dan terang hingga akhirnya membentuk sebuah simbol di udara.
“Kau tahu kenapa aku memancingmu ke sini?”
“Tunggu, jebakan?”
“Bingo. Kenapa malam ini kau sangat ceroboh, sayangku.”
Pekikan teror menyebar ke seantero kota. Untuk sesaat tubuh mereka didominasi oleh rasa takut. Sebuah pemikiran terlintas secara bersamaan di benak mereka, sesuatu yang sangat buruk akan datang ke dunia ini.
Setelah cahaya meredup puluhan tentakel datang menggantikannya.
Sepertinya makhluk yang sangat mengerikan sudah di panggil melalui ritual. Walau, kelihatannya hanya sebagian dari tubuhnya yang mampu memanifestasikan ke dunia ini.
Tentakel bergerak dengan ganas dan tidak karuan. Setiap serangan menciptakan dampak eksplosif, memberikan kematian instan bagi penerimanya.
Menghindari satu tentakel cukup mudah bagi orang sekelas O’hime. Tapi jika ada sepuluh, seratus dari mereka maka sang Kapten juga akan kesulitan. Lebih-lebih mereka ditutupi lendir lengket yang meminimalkan dampak serangan.
O’hime sangat disibukan dengan tentakel ini hingga hanya bisa menyaksikan kepergian Blackjack.
Tentu saja dia sangat tidak rela.
“JAACK!”
Sang Kapten melemparkan pedangnya. Sebuah tindakan yang sangat berbahaya memang. Untungnya dalam perjalanan dia memungut pedang lain.
Lemparan itu mengandung niat yang sangat kuat dari O'hime sehingga tidak mungkin untuk dihindari. Dengan lancar pedangnya melesat di udara hingga akhirnya menusuk pundak Blackjack. Serangannya agak meleset.
Pak tua itu tidak bergeming dan tetap melarikan diri.
Rasa kesal O'hime semakin menjadi. Dengan monster setingkat ini sebagai penghalang akan memakan waktu sangat lama untuk mengalahkannya. Dia juga tidak bisa meninggalkan monster ini bertindak semaunya karena bisa membahayakan seisi kota.
Frustasi.
Sungguh frustasi.
Sangat Frustasi.
Sebuah kekuatan yang luar biasa meletus dari tubuh rampingnya, menciptakan ilusi sesaat seakan dunia sedang bergetar.
__ADS_1
"AAAAHHHHHH! PAK TUA!"