Kisah Petualangan Clara

Kisah Petualangan Clara
Berburu


__ADS_3

Clara bermeditasi untuk memulihkan mana-nya yang hampir habis. Dia cukup terkejut mana di dungeon ini sifatnya stabil seperti yang ada di wilayah selatan benua. Dengan ini dia akan dapat bermeditasi tanpa takut terkena serangan balik.


Tiga hal paling mendasar dalam bermediasi adalah sikap, pernapasan/indra, dan pikiran.


Gunakan posisi yang paling nyaman untuk merilekskan tubuh. Atur pernapasan dan gerak-gerik indra. Selepasnya pusatkan pikiran pada satu titik.


Setelah ketiganya berhasil dilakukan barulah Clara mulai menyerap mana di udara melalui saluran pernapasan. Dari hidung menuju paru-paru, lalu disebarkan ke seluruh tubuh.


Sedikit demi sedikit, mana akan memurnikan tubuh Clara. Penglihatan, pendengaran, serta indra lainnya akan semakin dipertajam. Sebagian dari mana juga akan memperkuat otot tubuhnya.


Selepasnya mana akan kembali keluar melalui saluran pernapasan. Sebagian mana akan tetap tertinggal di tubuhnya. Setelah melalui proses pemurnian barulah mana yang tertinggal ini menjadi milik Clara sepenuhnya.


Tarik napas, keluarkan.


Tarik napas, keluarkan.


Setelah mengulangi proses ini selama puluhan kali, akhirnya mana Clara cukup penuh.


Selanjutnya gadis itu menggunakan mana-nya untuk mencoba membuka titik cakra dasar yang terletak di tulang ekor. Tak tanggung-tanggung, Clara segera menghabiskan semua cadangan mana-nya dalam sekali jalan.


Namun tetap saja mana sebanyak ini belum cukup untuk membuka titik cakra dasar.


Setelah mana-nya sekali lagi habis, Clara akan kembali menggunakan teknik meditasi untuk mengisinya kembali.


Siklus ini Clara lakukan sebanyak tiga kali sebelum ia berhenti karena kelelahan.


"Dilihat dari manapun teknik ini sungguh luar biasa!"


Dua, tidak, tiga burung dengan satu batu.


Perkuat tubuh sekaligus memulihkan mana. Setelah penuh gunakan mana untuk membuka titik cakra. Ulangi. Profit.


Siapapun yang menciptakan teknik ini pastilah seorang jenius.


"Fuu ...."


Jika perhitungannya tepat, maka akan butuh 20 siklus lagi untuk membuka titik cakra dasar di tubuhnya dan mungkin 100 kali siklus untuk membuka titik kedua. Cukup lama, sih, tapi biarlah.


Clara bangun lalu menggerakkan tubuhnya yang kaku sambil mengamati sekelilingnya. Rhino dan Lial tengah terlelap. Sementara itu Pedro kelihatannya sedang bersiap-siap untuk bepergian.


"Kak Pedro mau kemana?" tanya Clara.


"Keliling sebentar. Mau ikut?" ajaknya.


"Eh? Enggak apa-apa, nih?" Clara bertanya-tanya.


Dia takut menjadi beban bagi lelaki itu. Tapi karena Pedro sendiri yang mengajaknya, mengapa tidak.


Gadis itu buru-buru mengenakan jubah dan mengambil tongkat sihirnya. Tidak lupa dia memasukkan beberapa ramuan penyembuh ke dalam sebuah ransel kecil.


Setelahnya Clara pergi keluar gua bersama Pedro.


Sengatan cahaya sedikit mengaburkan penglihatan si gadis yang sudah terlalu terbiasa dengan kegelapan. Butuh beberapa waktu baginya untuk kembali berdaptasi pada lingkungan luar.


"Kita mau kemana? Tolong jangan ke wilayah burung kamikaze lagi." Tubuh Clara sedikit bergetar. Rupanya dia agak trauma dengan burung menjengkelkan itu.


"Ahaha. Kita tidak akan ke sana. Kita akan pergi sedikit jauh ke dalam hutan untuk mencari makanan."

__ADS_1


"Oh. Jadi kita pergi berburu?"


"Tepat."


Keduanya berjalan jauh ke dalam hutan. Pada satu titik, Clara akhirnya menyadari kalau selain burung yang terbang bebas di udara, mereka sama sekali tidak menemukan jenis hewan lainnya.


Ya, tentu Pedro sudah mengatakan kalau hutan selatan adalah wilayah burung. Namun tetap saja aneh rasanya jika penghuninya hanya berasal dari spesies burung.


Padahal sebelumnya mereka menemui kawanan monyet di dalam gua.


"Ini kok enggak ada hewan lain, ya~?"


"Memang begitu. Biasanya dungeon hanya memiliki satu atau dua varian spesies saja. Malahan dungeon seperti ini yang punya banyak variasi burung, reptil, dan primata sangatlah langka," jelas Pedro.


Clara tidak heran, sih. Jika dungeon yang terdapat naga dan phoenix ada di mana-mana, maka umat manusia pasti sudah lama musnah.


Pedro menghentikan gerak Clara yang sedang dalam lamunan. Si pemburu menunjuk pada sebuah tangkai pohon jauh di depan. Di sana, tampak anak burung sedang mencicit di atas sarangnya.


Si gadis memiringkan kepalanya, tidak tahu maksud dari pria itu.


Namun seketika, anak burung yang sedang diamati menghilang dengan sendirinya.


"Eh?"


Clara hanya berkedip dan anak burung itu langsung menghilang. Gadis itu menatap Pedro untuk meminta penjelasan.


"Ada burung lain pemangsa menyambar bayi burung dari langit. Kemungkinan besar bayi itu sudah berada di perut pemangsanya."


"Ah ...."


Burung yang malang. Tapi memang seperti inilah hukum alam, yang kuat memangsa yang lemah. Bahkan Clara sendiri hampir mati beberapa kali hanya dalam kurun waktu satu hari.


Di sini sepertinya adalah wilayah spesies burung tertentu. Ada banyak sekali sarang burung di pepohonan sekitar. Bahkan pada satu pohon bisa terdapat empat sarang burung.


Sebagai permulaan mereka mengambil satu telur dari sarang tempat bayi burung malam sebelumnya.


Lalu mereka memeriksa sarang burung satu demi satu. Mereka menghindari sarang yang memiliki penghuni dan mencari yang sedang ditinggalkan pemiliknya.


Di waktu yang sama Clara memanfaatkan momen ini untuk mengasah kemampuan memanjat pohonnya. Kemampuan ini pasti akan sangat berguna mengingat mereka akan menjelajahi hutan.


"Ah. Ketemu satu lagi ... ini berbeda dari berburu yang ada di bayangan Clara, tapi biarlah ... hm?"


Dari sebuah pokok kayu, Clara dapat melihat pohon parasol yang tidak masuk akal tingginya. Seberapa tinggi pohon itu? Mungkin sekitar 500 meter.


Menurut dugaan Pedro, pohon itu haruslah sarang burung phoenix. Artinya pohon itu akan menjadi tujuan mereka selanjutnya.


"Haa ... susah, nih, kayaknya," gumam Clara.


Setelah mengumpulkan sekitar dua puluh butir telur dan juga seekor burung, Clara dan Pedro memutuskan untuk kembali ke markas mereka.


"Ini lebih mudah dari dugaan Clara ... ups. Clara, jangan sombong. Ingat pelajaranmu sebelumnya."


Belajar dari pengalaman sebelumnya, Clara tidak berani menurunkan penjagaannya. Setidaknya hingga mereka mencapai gua.


"AAAAKK! AAAKK!"


"Nah, kan ...."

__ADS_1


Menilik kebelakang, Clara melihat kawanan burung saling berperang. Di satu sisi ingin mencari mangsa sedangkan di sisi lain ingin mempertahankan rumah mereka.


Untungnya kedua sejoli sudah berjalan cukup jauh jadi terhindar dari pertempuran tidak perlu.


"Ayo."


Tanpa penundaan lebih lanjut, Clara dan Pedro kembali melanjutkan perjalanan pulang.


Jujur saja, setiap burung dewasa di dungeon ini agak kuat. Mereka punya cakar dan paruh sangat tajam sampai bisa membuat lubang pada badan Clara. Selain itu kecepatan terbang mereka juga sulit untuk diikuti oleh mata pejuang amatir.


Clara tidak tahu bagaimana cara mengalahkan mereka jika harus berhadapan satu lawan satu.


Ketika keduanya sampai di gua, mereka melihat Lial menunggu di pintu masuk sambil bersedekap.


Gerak-geriknya seperti menanyakan, "Dari mana saja kalian?"


Clara mencoba menjelaskan, "Kami habis pergi kenc-"


"Cari makanan."


Tapi penjelasannya segera di interupsi oleh Pedro.


"Cih."


Pedro menatap Clara dengan pandangan aneh.


"Dik Clara, apa kau memakan buah liar? Tingkahmu jadi aneh."


"Tidak sopan, ya~ manggil Clara aneh," balas gadis itu.


"Dari awal dia juga sudah aneh," balas Rhino yang baru keliar dari dalam gua.


Clara ingin menginjak kaki pria itu tapi menahan diri mengingat Rhino sedang tidak dalam kondisi prima.


"Gimana kondisimu?"


"Sudah lumayan, lah."


Setelah itu mereka menyantap sarapan bersama. Lauknya adalah telur dan daging burung buruan Pedro.


Rasa telurnya lumayan lezat. Tapi daging burung terlalu hambar. Sangat hambar bahkan setelah diberi bumbu seadanya. Clara bertanya-tanya bagaimana bisa rasa dagingnya seburuk ini. Apa mungkin semasa hidupnya si burung memiliki banyak dosa?


Oke, hentikan pikiran ngawurnya.


Sehabis makan mereka mengadakan pertemuan singkat untuk membahas rencana selanjutnya.


"Air sudah di isi ulang. Kita juga tidak perlu khawatir tentang makanan. Semuanya sudah siap," tutur Lial.


"Kalau begitu kita akan mulai menjelajah lusa."


Kenapa lusa?


Karena besok Pedro akan pergi lebih dahulu untuk menentukan rute terbaik menuju pohon raksasa.


Clara merasa tidak enak karena terlalu bergantung pada Pedro. Tapi nyatanya orangnya sendiri tidak keberatan.


Pedro bilang, "Ini sudah menjadi tugasku."

__ADS_1


Ya, kalau begitu apa mau di kata.


__ADS_2