Kisah Petualangan Clara

Kisah Petualangan Clara
Gagak Api


__ADS_3

Dua hari kemudian kelompok Clara akhirnya memulai penjelajahan mereka. Tujuannya adalah untuk menemukan jalan keluar dari dungeon ini. Dugaan pertama mereka adalah pohon parasol raksasa yang merupakan sarang burung phoenix.


Kelompok empat orang itu memulai perjalanan di pagi hari, atau waktu yang mereka rasa pagi. Dungeon ini tidak memiliki siang dan malam sehingga perasaan akan waktu mereka agak terganggu.


Sepanjang perjalanan tidak ada kejadian menarik yang terjadi. Semua berkat panduan luar biasa Pedro mereka dapat menghindari pertempuran yang tidak perlu.


"Hei, apa menurut kalian penghuni dungeon ini agak terlalu kuat?" tanya Lial sambil membabat habis musuhnya. Setelahnya dia mulai mengupas habis bulu pada burung tersebut.


"Ya. Monyet tempo hari juga susah untuk di lawan," balas Rhino.


"Ya, kan. Yang mau kukatakan adalah, apa menurut kalian di tempat ini ada harta karun?"


Mendengar kata harta karun membuat telinga Clara bergerak-gerak sendiri.


"Pikirkanlah. Biasanya semakin sulit sebuah dungeon untuk ditaklukan, semakin berharga pula isinya. Belum lagi dungeon ini baru saja ditemukan. Jika beruntung kita mungkin bisa jadi orang kaya waktu kembali ke Kota Denia."


Mata Lial berwarna hijau ketika membahas tentang harta. Clara mungkin juga sama saja. Bagaimanapun gadis itu butuh sangat, sangat banyak uang guna mengumpulkan semua barang berharga yang dibutuhkan dalam ritual kelahiran kembali.


Ngomong-ngomong tentang harta dan bahan ritual, Clara sangat tertarik dengan abu phoenix. Jika memungkinkan dia ingin mengumpulkannya walau hanya secuil. Jika dia gagal mengumpulkannya maka mau tidak mau Clara harus menunggu orang lain untuk menaklukan dungeon ini lalu membeli abu phoenix darinya.


"Huft ... hidup ini sulit, bro."


"Haha kau terdengar seperti kakek-kakek pinggir jalan, dik Clara."


"Kesampingkan soal harta. Fokus saja untuk mencari jalan keluar," sela Pedro.


"Dan inilah dia sang penghancur impian. Setidaknya kita tidak bisa pulang dengan tangan kosong, kan?" keluh Lial.


"Ambil saja batang kayu atau bangkai hewan harganya pasti mahal."


"Tidak, maksudku harta yang lebih spesial! Seperti, bagian tubuh phoenix misalnya."


"Mau mati? Apa gunanya harta melimpah jika kau tidak bisa menikmatinya."


"Yah, benar juga, sih."


Mereka menyimpan daging burung yang sudah dibersihkan lalu memakan sisa ransum yang sebelumnya mereka beli di Kota Denia.


Kenapa mereka tidak makan daging buruan, katamu?


Yah, jika mereka cukup gila untuk menarik perhatian dengan menyalakan api maka mungkin saja. Tapi sayangnya mereka masih cukup waras dan sayang nyawa.


Setidaknya tunggu sampai menemukan tempat aman sebelum memasak makanan.


Perjalanan selanjutnya menjadi lebih sulit karena Pedro belum menjelajahi wilayah ini secara menyeluruh.


Clara berdoa semoga saja wilayah ini bukan wilayah kekuasaan spesies yang sama dengan burung kamikaze.


"WAA!"


Setelah berjalan selama beberapa jam Clara memiliki kabar baik dan kabar buruk. Kabar baiknya ini bukan wilayah burung kamikaze.


"WAAA!"

__ADS_1


Kabar buruknya, penghuni wilayah ini jauh lebih menakutkan dari burung kamikaze.


"WAAA!"


"Berisik! Jangan teriak di samping telingaku," hardik Rhino.


"La-lagian ...."


Pemandangan yang mirip seperti ketika mereka baru memasuki hutan dan memasuki wilayah burung kamikaze. Namun kondisi mereka saat ini jauh lebih buruk.


Mereka saat ini berada di wilayah burung gagak api. Ya, untuk saat ini sebut saja begitu.


Mereka sedikit lebih besar dari gagak biasa dan memiliki bulu berwarna putih serta dapat terbakar.


"Apa-apaan mereka ini! Apa mereka bersaudara dengan burung phoenix?"


"Jangan tanya aku."


Semua bermula ketika mereka ditemukan oleh seekor gagak api. Membunuh satu saja tidaklah terlalu sulit.


Masalah baru muncul setelahnya ketika gerombolan puluhan, mungkin ratusan burung gagak api memburu mereka dengan mata penuh darah—secara harfiah.


Pemandangan ini menanamkan teror di hati Clara.


Rhino yang berlari sambil membawa beban bernama Clara mampu menghindar menghindari serangan musuh dari segala arah.


"Rhino ganteng, deh."


"Simpan pujianmu untuk waktu lain!"


Tugasnya adalah meliputi sihir dukungan dari waktu ke waktu. seperti merapalkan sihir [Dinding Tanah] ketika Rhino tidak bisa menghindar. Atau menggunakan sihir [Peluru Air] untuk menyerang musuh.


Sihir air terbukti paling efektif bukan hanya untuk memadamkan api, tapi juga untuk menghilangkan kemampuan terbang burung gagak selama beberapa saat.


"Mereka ada berapa banyak, sih!"


"Daripada mengeluh lebih baik gunakan waktumu untuk merapal mantra!"


"Badan Clara sudah enggak kuat. Rhino ganteng tunggu sebentar, oke."


"Oi!"


Tubuh Clara saat ini sangat panas akibat menggunakan sihir berturut-turut. Jadi yang dia katakan bukan hanya sebuah alasan untuk bermalas-malasan. Serius.


Tanpa sihir dukungan Clara Rhino akhirnya terkena serangan di beberapa tempat. Walau terluka pria itu tetap saja berusaha paling keras agar punggungnya—Clara—tidak terkena serangan. Sungguh pengertian.


"Berjuanglah kakak."


Ngomong-ngomong di waktu senggangnya ini Clara menyadari sesuatu yang sangat jelas namun juga aneh. Kenapa hutan ini tidak terbakar meski menjadi rumah dari ratusan obor terbang. Kalau dipikir ulang pohon parasol raksasa juga tidak terbakar meski dijadikan sarang burung api yang panasnya luar biasa.


Kenapa, ya, Clara bertanya-tanya.


Mungkinkah pohon di sini kebal api semua?

__ADS_1


Ya, kesampingkan dahulu hal ini. Rhino kelihatannya sudah tidak sanggup lagi jadi Clara mulai kembali merapalkan sihir dukungan. Tidak lupa dia mencekoki Rhino dengan ramuan penyembuh.


Rhino sendiri sudah terengah-engah. Tampaknya staminanya sudah mencapai batasnya. Jika terus seperti ini nyawa mereka akan dalam bahaya.


"Sial. Rhino, ini akan sedikit sakit. Tolong tahanlah."


"Ha-Hah?"


Clara memaksakan tubuhnya untuk merapal sihir area luas. Dia menutup matanya. Dia membentuk puluhan aura biru berbentuk jarum di dalam sukmanya. Namun seolah tidak puas, gadis itu membentuk lebih banyak aura biru dan mengabaikan tubuhnya yang sudah seperti gelas retak.


Mana mengalir keluar dari dalam tubuhnya bersama dengan lantunan mantra menciptakan sebuah keajaiban bernama sihir.


[Hujan Jarum Es]


Aura biru dari sukma Clara berhasil dimaterialisasikan ke dunia nyata menjadi puluhan jarum es yang tajam, tanpa ampun mengoyak korban-korbannya.


Gagak api memiliki kecepatan dan daya serangan yang tinggi namun pertahanannya lemah. Jika terkena jarum es mereka akan langsung mati di tempat.


Sihir pamungkas Clara ini mampu melibas puluhan gagak api dalam sekejap.


Sayangnya mantra area ini menyerang siapapun yang berada di dalam wilayah efeknya, tak terkecuali Rhino dan si perapal mantra.


"Oi! Bilang lebih awal, dong!"


"Ya, ya~. Duh, Clara jadi ngantuk."


Kemarahan Rhino bisa dimengerti karena luka yang ia derita akibat mantra sihir Clara jauh lebih parah daripada gabungan luka akibat serangan gagak api.


Untungnya Mereka segera keluar dari area mantra.


Dengan sisa tenaganya Clara memandikan Rhino dengan ramuan penyembuh sebelum akhirnya pingsan akibat kelelahan.


Di sisi lain, Lial yang juga terjerat mantra bunuh diri Clara mampu keluar hanya dengan sedikit luka.


Dia bergerak seperti kancil lalu memotong-motong banyak gagak seolah sedang menepuk nyamuk.


Namun bahkan setelah semua ini jumlah burung gagak api masih sangat banyak. Situasi mereka tidak mengalami perubahan.


"Kemari!"


Teriakkan Pedro terasa seperti oasis di tengah teriknya gurun pasir. Mengikuti arahan Pedro, mereka tiba di sebuah tebing yang tampak seperti jalan buntu.


Pedro mengarahkan mereka ke dalam celah sempit di dalam tebing. Si pemburu membunuh lusinan gagak api terdekat sebelum akhirnya ikut masuk ke dalam celah.


Rhino harus berjalan miring di dalam celah dengan jalan menurun. Semakin jauh mereka berjalan celah menjadi semakin lebar hingga tanpa disadari kelompok itu telah memasuki gua bawah tanah.


"Syukurlah kita bisa kabur dari burung laknat itu ... ada apa, Pedro?"


Pedro dengan cermat mengamati dinding gua. Bukan hanya melihat, dia juga meraba bahkan menjilat dinding gua. Rhino juga Lial mengernyit melihat tingkah tidak biasa rekan mereka yang satu ini.


Setelah puas akhirnya Pedro menjawab, "Sesuai dugaanku. Gua ini dan yang sebelumnya kita tinggali tidak terbentuk secara alami."


"Maksudmu?" Lial memiringkan kepalanya, bingung.

__ADS_1


"Maksudku adalah, ada orang lain yang sudah menjelajahi dungeon ini sebelum kita."


__ADS_2