
Rasa nyeri merambat ke penjuru tubuh Clara ketika gadis itu kembali tersadar. Sakitnya sungguh terlalu membuatnya kapok tidak ingin memaksakan diri menggunakan sihir lagi.
Clara menengok kanan-kiri untuk mencari keberadaan rekannya dan menanyai rincian kejadian setelah dia pingsan.
Tapi tidak ada orang di sekitar. Mereka, tiga orang pria dewasa, meninggalkan gadis manis tak berdaya seorang diri di tempat antah berantah. Sungguh terlalu.
Seingatnya, mereka sedang melarikan diri dari gagak-gagak sialan itu. Kemungkinan besar mereka berhasil melarikan diri ke tempat aman karena dirinya dibiarkan terbaring sendirian di sini.
"Apa mereka sedang pergi berburu atau semacamnya," pikirnya.
Clara memutuskan untuk bermeditasi untuk memulihkan mana-nya yang kering. Mungkin karena efek samping dari memaksakan diri pemulihan mana alami Clara menjadi sangat, sangat lambat.
Clara duduk bersila lalu memulai persiapannya. Namun,
"Guh! Uhuk! Uhuk!"
Gadis itu memuntahkan seteguk darah segar. Ketika hendak menyerap mana di udara tubuhnya mengalami reaksi penolakan yang hebat. Rasanya seperti Clara memiliki semacam alergi terhadap mana.
Tunggu, dirinya memang memiliki semacam alergi mana. Tapi kejadian seperti ini baru pertama kalinya terjadi.
"Apa ini ya~ efek samping lainnya?"
Mana, sukma—pikiran/jiwa, selira—tubuh. Ketiganya adalah komponen kunci bagi seorang penyihir.
Ayahnya selalu berpesan, "Sebagai penyihir, kamu harus bisa menyeimbangkan ketiganya. Jika tidak, sesuatu yang buruk akan terjadi padamu."
Karena sebelumnya dia memaksakan diri dalam menggunakan sihir, selira Clara kemungkinan mengalami kerusakan dan oleh karenanya ketiga komponen menjadi tidak seimbang.
"Gawat nih."
Keringat dingin menetes dari dahi pucat Clara. Dia harus segera menemui seorang pakar untuk memeriksakan keadaan tubuhnya, jika tidak, mungkin akan ada efek permanen yang membahayakan.
Untuk sementara ini Clara kelihatannya tidak akan bisa menggunakan sihir lagi. Dirinya yang sudah menjadi beban tim semakin tambah tidak berguna. Hal ini membuatnya sedikit depresi.
Setelah menenangkan diri, Clara memutuskan untuk pergi menjelajahi gua.
Tempat ini tidak memiliki persimpangan. Butuh waktu sekejap baginya sebelum akhirnya mencapai ujung jalan. Di sana ia menemukan empat primata tergeletak tak bernyawa. Kemungkinan besar semua ini ulah Pedro dan yang lainnya.
Clara melihat-lihat sebentar sebelum akhirnya terduduk dengan wajah cemberut.
"Mereka kemana, sih!"
Kemungkinan besar mereka pergi keluar gua. Karena di luar ada banyak musuh yang bisa membunuhnya hanya dengan sekali serang maka dari itu Clara hanya bisa dengan pasrah menunggu kepulangan mereka.
__ADS_1
Clara menjadi dongkol karena tidak ada yang bisa ia lakukan.
"Bosan itu musuh yang menakutkan," pikirnya.
Sangking bosannya menunggu, gadis itu sampai-sampai ketiduran.
Kali kedua dia membuka mata, Pedro, Lial dan Rhino sudah kembali.
"Kalian ya~ darimana? Ninggalin gadis manis sendirian di alam liar," gerutu Clara.
"Maaf, maaf." Lial mengacak rambut Clara, tanpa adanya satupun penyesalan dalam nada suaranya.
"Kami menemukan sesuatu yang menarik," ujar Pedro. "Ternyata gua ini dan gua tempat kita tinggal sebelumnya saling terhubung."
"Eh?"
Pedro memulai penjelasannya.
Ternyata, sejak awal Pedro memiliki suatu kecurigaan tentang gua-gua ini. Barulah setelah menemukan gua kedua dia dapat mengkonfirmasi teorinya itu.
"Gua ini tidak terbentuk secara alami. Setelah kuselidiki ternyata dugaanku tepat. Ada sebuah mekanisme rahasia di dekat ujung gua yang membuka jalan bercabang menuju berbagai tempat."
"Salah satunya menuju gua tempat kita tinggal sebelumnya," timpal Rhino.
Burung gagak api sangat pendendam dan tidak akan melepaskan siapapun yang pernah membunuh salah satu spesies mereka. Oleh karenanya penemuan gua ini adalah berita baik sebab mereka dapat meninggalkan wilayah gagak api melalui bawah tanah.
Setelahnya Clara mengingat peringatan Lial dari sebelumnya jadi ia menyampaikan kondisi tubuhnya secara mendetail.
"Begitu. Awalnya aku ingin melakukan penjelajahan secara perlahan. Tapi karena kondisi dik Clara saat ini agak berbahaya maka mari tingkatkan tempo perjalanan," ucap Pedro.
Kelompok empat orang itu akhirnya melanjutkan perjalanan mereka.
Ada dua pilihan bagi mereka.
Pertama, mereka dapat kembali ke gua sebelumnya lalu dari sana mencari rute berbeda menuju pohon parasol raksasa.
Kedua, mereka dapat menjelajahi jalur bawah tanah misterius ini dan melihat kemana jalan ini akan membawa mereka.
Mereka sepakat memilih pilihan kedua karena pilihan pertama kurang menjanjikan. Apalagi setelah mereka tahu kalau dungeon ini jauh lebih berbahaya dari yang mereka kira.
Tujuan utama mereka adalah mencari jalan keluar. Gua bawah tanah ini sangat mencurigakan dan mungkin saja ada jalan keluar di sana.
"Sejauh ini kami hanya menemui satu atau dua primata yang berkeliaran di dalam jalur bawah tanah. Strukturnya yang mirip labirin akan sedikit bermasalah. Tapi jangan khawatir karena kita memiliki ahlinya di sini! Beri tepuk tangan pada Tuan Pedro!" Lial menjelaskan dengan meriah.
__ADS_1
"Tepuk tangan! Tepuk tangan!"
Seperti kata Lial, struktur jalur bawah tanah mirip seperti labirin. Clara merasa deja vu selama beberapa kali seolah melewati jalan yang sama berkali-kali.
Jika mereka bertemu primata, Pedro akan menembakkan beberapa panah lalu Lial akan mengeksekusi primata yang berhasil bertahan hidup.
Selain dari masalah ini, perjalanan mereka berlalu dengan aman. Ada juga masalah makanan dan air. Tapi karena jalur ini terhubung dengan gua pertama yang dekat dengan danau, seharusnya tidak ada masalah. Mungkin.
"Ngomong-ngomong, sesuatu membuatku penasaran. Para primata itu, mereka makan apaan?" Lial memulai pembicaraan sambil tetap waspada.
"Entah. Cacing, mungkin," balas Pedro.
"Tanah? Atau mungkin mereka bisa berfotosintesis?" terka Clara.
"Imajinasimu sungguh luar biasa, dik Clara!" Lial mengacungkan jempol sambil menutup sebelah mata.
"Jangan ngolok Clara ya~ kalau enggak nanti Clara kutuk."
"Eh! Aku serius, loh."
Entah sudah berapa lama mereka berjalan yang pasti akhirnya mereka sampai pada sebuah daerah terbuka jauh di dalam tanah.
"Waah!"
"Sungguh mengejutkan."
Kristal biru pada langit-langit menerangi setiap sudut bukaan. Melalui pantulan cahaya ini lanskap kota yang sudah lama ditinggalkan terpantul di mata mereka.
"Apa ini artinya ada sebuah peradaban yang pernah tinggal di dungeon ini? Fantastis! Penemuan ini akan mendatangkan banyak uang!" Lial yang matanya sudah hijau menghela napas dengan senyum lebar.
"Apa mungkin para primata itu yang membangun kota ini," gumam Rhino.
"Kayaknya ya~ ga mungkin. Monyet-monyet itu ga mungkin secerdas itu buat bisa bangun kota," sanggah Clara.
"Ada banyak primata berkeliaran di sini. Melanjutkan perjalanan akan jadi sulit," ucap Pedro. "Mari cepat bersembunyi."
Mereka mengikuti arahan Pedro memasuki sebuah rumah yang sudah setengah hancur. Tiga primata tampaknya menjadi pemilik tempat ini.
Anak panah Pedro melesat, berhasil mengambil nyawa primata yang tidak berdaya. Lial juga melakukan serangan penyergapan namun berakhir dengan kegagalan. Tanpa berkecil hati Lial menyerang primata itu secara bertubi-tubi.
Primata terakhir mencoba untuk berteriak tapi digagalkan oleh serangan Rhino. Pedro juga datang membantu Rhino menggunakan golok hijaunya. Pertarungan tidak seimbang dua lawan satu segera mencapai akhirnya.
Lial di sisi lain juga berhasil membunuh musuhnya.
__ADS_1
Sedangkan Clara, gadis itu hanya duduk manis sambil bersikap seperti pemandu sorak.