
Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ), Suterman yang dikurung oleh keluarganya selama lima tahun saat dievakuasi di Jalan Bromo, Medan, Sumatera Utara, Rabu (2/5/2018). Dinas Sosial dan Dinas Kesehatan Pemko Medan melepas Suterman (34 tahun) dari pemasungan, untuk menjalani proses penyembuhan di rumah sakit jiwa.
Masalah kesehatan jiwa masih dianggap kalah serius daripada masalah kesehatan fisik. Masyarakat belum menilik masalah kesehatan jiwa sebagai penyakit.
Hal ini dikatakan oleh Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Anung Sugihantono kepada Tribun Network, Senin (7/10/2019).
"Seringkali sakit hanya diartikan apabila kita tidak mampu melakukan sesuatu," kata Anung.
Masalah kesehatan jiwa sama halnya dengan masalah kesehatan fisik karena dapat mengancam kehidupan seseorang. Anung memaparkan berdasarkan data hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2018 prevalensi rumah tangga dengan anggota yang menderita skizofrenia atau psikosis sebesar 7/1000 dengan cakupan pengobatan 84,9 persen. Pada kelompok usia remaja, prevalensi gangguan mental pada remaja berumur lebih dari 15 tahun sebesar 9,8 persen. Angka ini meningkat dibandingkan pada tahun 2013 yaitu sebesar enam persen.
Persoalan kesehatan jiwa perlu dicegah dan dikendalikan melalui upaya promotiv, preventif, kuratif dan rehabilitatif. Penanganan masalah kesehatan jiwa perlu melibatkan semua aktor pembangunan secara inklusi. Keterlibatan penanganan tidak hanya berbasis fasilitas kesehatan, individu dan keluarga, namun juga komunitas di satu wilayah.
"Saat ini kita bicara tentang transformasi kesehatan dari sebuah pengobatan menjadi sebuah tanggung jawab kepedulian," ujar Anung.
Permasalahan kesehatan jiwa dan penyalagunaan narkotika, psikotropika dan zat adiktif lainnya (NAPZA) perlu mendapat perhatian khusus. Tujuannya adalah pencegahan dan pengendalian melalui upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif. "Kunci dasarnya ada pada shifting dari cure, service dan care," kata Anung. Sosial yang sehat akan menciptakan tarap hidup yang sehat ODGJ semakin banyak karena mereka tidak tahu bagaiman caranya hidup sehat baik secara pemikiran, maupun jasmani serta rohani. Coba kalau diedukasi dengan bahasa merehabilitas supaya tarap hidupnya membaik. Mereka hadir di hadapan kita bukan malah di usir namun diberi makanan atau apapun itu suatu saat mereka akan mengingatnya mereka secara tidak langsung akan melakukan seperti yang kita lakukan, perlakukan dengan baik maka mereka akan berperilaku baik juga, begitupun sebaliknya kalau kita memperlakukan mereka dengan kekerasan justru tidak akan membuatnya sembuh karena ODGJ lebih mengedepankan bawah alam sadarnya ketimbang dengan akalnya kalau sampai ini terjadi maka akan menimbulkan kerusakan otak makin parah. Psikoterapi merupakan salah satu langkah penanganan yang paling sering dilakukan oleh psikiater dan psikolog untuk menangani gangguan emosional atau masalah psikologis yang dirasakan oleh pasien. Selain itu, psikoterapi juga dapat dilakukan untuk mengatasi masalah perilaku, seperti tantrum dan perilaku adiksi atau ketergantungan terhadap hal tertentu, misalnya narkoba, alkohol, berjudi, hingga pornografi. Melalui psikoterapi, psikolog atau psikiater akan membimbing dan melatih pasien untuk belajar mengenali kondisi, perasaan, dan pikiran yang menyebabkan keluhan serta membantu pasien untuk membentuk perilaku yang positif terhadap masalah yang sedang dihadapi.
Dengan demikian, pasien diharapkan akan lebih mampu mengendalikan diri dan merespons situasi yang sulit dengan lebih baik. Kondisi yang Membutuhkan Psikoterapi
Banyak anggapan yang kurang tepat atau stigma bahwa orang yang menjalani psikoterapi ke psikolog atau psikiater menandakan bahwa orang tersebut mengalami gangguan jiwa atau gila. Padahal kenyataannya bukan demikian.
Psikoterapi ditujukan bagi siapa saja yang menyadari bahwa dirinya memiliki masalah psikologis atau berisiko tinggi mengalami gangguan mental dan berniat mencari pertolongan untuk mengatasi masalah tersebut.
Berikut ini adalah beberapa keluhan atau masalah kejiwaan yang perlu ditangani dengan psikoterapi:
Merasa putus asa atau sedih yang luar biasa selama beberapa bulan, misalnya karena depresi.
__ADS_1
Rasa cemas, takut, atau khawatir yang berlebihan yang menyebabkan kesulitan dalam menjalani aktivitas atau pekerjaan sehari-hari. Perubahan suasana perasaan atau mood yang ekstrim, misalnya tiba-tiba bersemangat atau sangat sedih tanpa alasan yang jelas. Mulai menunjukkan perilaku negatif, seperti mudah marah, penyalahgunaan zat atau narkoba, kecanduan minuman beralkohol, atau makan berlebihan.
Memiliki ide atau keinginan untuk bunuh diri atau menyakiti orang lain.
Memiliki halusinasi. Kesulitan mengungkapkan perasaan atau merasa tidak ada orang lain yang bisa memahami perasaan atau masalah yang Anda hadapi.
Memiliki obsesi atau kebiasaan yang sulit dihentikan, misalnya terlalu sering merapikan dan membersihkan rumah, mencuci tangan berkali-kali, hingga bolak balik ke dapur untuk memeriksa kompor gas berulang kali.
Merasa sulit mencapai rasa senang, nyaman, atau puas saat menjalani aktivitas yang sebelumnya disukai (anhedonia)
Keluhan-keluhan di atas bisa saja terjadi saat seseorang mengalami tekanan batin atau peristiwa traumatis, misalnya setelah perceraian, ada anggota keluarga atau teman dekat yang meninggal, baru saja kehilangan pekerjaan, atau baru saja menjadi korban bencana atau kekerasan, termasuk pelecehan seksual.
Selain karena kejadian traumatis, beberapa gejala di atas juga kemungkinan bisa disebabkan oleh gangguan mental tertentu, seperti gangguan identitas disosiatif (kepribadian ganda), depresi, gangguan kepribadian, gangguan bipolar, PTSD, gangguan cemas, dan skizofrenia.
Metode dan teknik psikoterapi yang dilakukan oleh psikolog atau psikiater ada banyak. Jenis terapi yang akan digunakan umumnya disesuaikan dengan kondisi pasien dan respon pasien terhadap psikoterapi.
Beberapa jenis psikoterapi yang cukup sering dilakukan, antara lain:
1. Terapi perilaku kognitif
Terapi perilaku kognitif bertujuan untuk mengevaluasi pola pikir, emosi, dan perilaku yang menjadi sumber masalah dalam kehidupan pasien. Setelah itu, dokter atau psikolog akan melatih pasien untuk merespon sumber masalah tersebut dengan cara yang positif.
Misalnya jika dulu pasien sering menggunakan obat-obatan atau minuman beralkohol untuk mengatasi stres, maka dengan psikoterapi ini, pasien akan dilatih untuk merespon stres dengan aktivitas yang lebih positif, misalnya berolahraga atau meditasi.
2. Terapi psikoanalitik dan psikodinamik
__ADS_1
Jenis psikoterapi ini akan menuntun pasien melihat lebih dalam ke alam bawah sadarnya. Pasien akan diajak untuk menggali berbagai kejadian atau masalah yang selama ini terpendam dan tidak disadari.
Dengan cara ini, pasien dapat memahami arti dari setiap kejadian yang dialaminya. Pemahaman baru inilah yang akan membantu pasien dalam mengambil keputusan dan menghadapi berbagai masalah.
3. Terapi interpersonal
Jenis psikoterapi ini akan menuntun pasien untuk mengevaluasi dan memahami bagaimana cara pasien menjalin hubungan dengan orang lain, misalnya keluarga, pasangan, sahabat, atau rekan kerja. Terapi ini akan membantu pasien menjadi lebih peka saat berinteraksi atau menyelesaikan konflik dengan orang lain.
4. Terapi keluarga
Terapi ini dilakukan dengan melibatkan anggota keluarga pasien, khususnya jika pasien memiliki masalah psikologis yang berhubungan dengan masalah keluarga. Tujuannya agar masalah yang dihadapi pasien dapat diatasi bersama dan memperbaiki hubungan yang sempat retak antara pasien dan keluarga.
5. Hipnoterapi
Hipnoterapi adalah teknik psikoterapi yang memanfaatkan hipnosis untuk membantu pasien agar bisa mengendalikan perilaku, emosi, atau pola pikirnya dengan lebih baik.
Metode psikoterapi ini cukup sering dilakukan untuk membuat pasien lebih rileks, mengurangi stres, meredakan nyeri, hingga membantu pasien berhenti melakukan kebiasaan buruknya, misalnya merokok atau makan berlebihan.
Untuk menangani masalah kejiwaan, psikoterapi sering kali dikombinasikan penggunaan obat-obatan, misalnya obat antidepresan, antipsikotik, obat pereda cemas, dan penstabil mood (mood stabilizer), tergantung apa diagnosis penyakit atau masalah kejiwaan yang diderita pasien.
Selain itu, hasil dari psikoterapi pun akan berbeda pada tiap individu. Jenis psikoterapi tertentu mungkin cocok untuk satu pasien, namun belum tentu efekfif jika diterapkan pada pasien yang lain. Oleh sebab itu, Anda dianjurkan berkonsultasi dengan psikolog untuk menentukan terapi yang sesuai dengan kondisi Anda.
__ADS_1