Komivelist

Komivelist
Cokelat dan Kopi


__ADS_3

Di celah antara lemari dan tembok sudut kamar aku terduduk dengan sebuah novel tebal  berjudul Breath, Coffee and Life yang sudah hampir rampung. Tak kulewatkan satu kata pun dalam setiap halamannya. Buku ini memiliki cerita yang sungguh indah.


Saat mata ini sampai di halaman terakhir, ada sebuah kalimat indah namun membuatku merinding. ”Dan kita awali kisah dari secangkir kopi pahit penawar rindu." Aku bergidik saat mengucapkan kata ketujuh pada kalimat itu. Kopi? Apa enaknya minuman dengan warna hitam pekat dan aroma yang mampu membuat isi perut terasa ingin keluar itu?


Johanna Aulia, penulis yang selalu memasukkan unsur kopi dalam novelnya. Aku memang sangat benci dengan minuman itu, tapi untuk novel ini tidak ada alasan untuk membencinya. Entah apa yang terlintas dalam pikiran wanita itu sampai membuat novel seperti ini. Aku bahkan selalu menjauhi unsur kopi dalam setiap komik buatanku.


Ia adalah penulis favoritku. Cerita dalam setiap novelnya sangatlah indah dan mengalir. Bahkan sering dibuat film. Namun sangat disayangkan, wanita itu enggan untuk menunjukkan dirinya. Oh, Johanna Aulia, aku ingin bertemu denganmu. Kaulah inspirasiku saat kesulitan membuat cerita untuk komik. Aku yakin pasti dapat bertemu dengannya, kalau cantik siapa tahu bisa aku pacari. Hahaha. Dari mana pikiran konyol ini datang?


Kututup novel tersebut lalu menghirup wangi kertasnya. Ah, harum sekali. Kira-kira parfum apa ya, yang dipakai Johanna Aulia? Merk terkenal atau jangan-jangan ia bukan tipe wanita yang suka memakai parfum? Aku bangkit sambil menahan keram pada kedua lutut lantas meletakkan novel tersebut ke atas meja kerja berisi beberapa sketsa komik.


Kuhempaskan tubuh ke tempat nyaman nan empuk sambil menatap langit-langit kamar. Menerka-nerka rupa dari penulis ‘kopi’ itu. Kira-kira ia berumur berapa, rambutnya dipotong sependek apa dan tingginya berapa. Mungkin mirip dengan salah satu tokoh dari novelnya. Entahlah.


Sedang asyiknya tersenyum menatap langit-langit kamar, tiba-tiba pintu terbuka cukup keras. Seketika aku menoleh dan mendapati Mama sedang menggeleng tanda prihatin. Kupasang wajah seakan bertanya 'mengapa' tetapi ia malah menghela napas panjang sambil menatap sekitar kamarku yang memang nyaris seperti kapal pecah.


Menyadari maksud Mama, aku hanya bisa mengeluarkan jurus andalan, yaitu menunjukkan deretan gigi kelinciku—nyengir kuda. Setelah itu Mama menunjuk ketiaknya mengisyaratkanku untuk mencium ketiak sendiri. Aku mengangkat lengan kanan lalu mengendusnya. Huek!


"Pasti wangi banget. Ngomong-ngomong udah berapa hari enggak mandi?"


"Aku udah mandi, kok, Ma," kilahku.


"Oh, ya? Kapan?"


"Kemarin pagi." Kembali kukeluarkan jurus nyengir kuda.


Mama menghela napas berat. "Pokoknya dua puluh menit lagi Mama ke sini. Kamu harus udah mandi dan kapal karam ini harus rapi."


Kapal karam? Ini markas terindahku!


"Dua puluh menit? Apa enggak bisa lebih cepat lagi?" sindirku.


"Oke! Kalau begitu sepuluh menit," sahut Mama.

__ADS_1


"Apa? Sepuluh menit? Ini namanya penyiksaan." Aku bangkit seraya melemparkan pakaian kotor ke keranjang berwarna hijau di samping pintu kamar mandi sambil berteriak kesal.


"Aldo, sekali lagi Mama dengar kamu teriak begitu, waktunya Mama kurangi 5 menit!" Suara Mama terdengar mengancam. Itu artinya keputusan tidak dapat diganggu gugat.


"Iya, mamaku yang cantik tiada tara bagai bidadari kayangan."


"Meskipun kamu bilang Mama mirip girlband asal Korea, waktu tetap sepuluh menit."


Huft! Sepertinya Mama memang mengerjaiku.


*****


We are fighting dreamers.


Takami wo mezashite.


Fighting dreamers.


Fighting dreamers.


Shinjiru ga mama ni.


Oi oi oi oh! Just go my way!


Kunyanyikan soundtrack Naruto yang menggema di telinga melalui earphone sambil berjingkrak-jingkrak layaknya penyanyi.


"Mah, dia gila ya?" ujar seorang gadis kecil pada ibunya.


"Sstt. Cuekin aja, Dek," jawab ibunda gadis kecil itu seraya menarik tangan anaknya untuk menjauh dariku.


Aku tuh enggak gila, tapi hampir stres. Secara deadline sebentar lagi tapi cerita pun belum ketemu, batinku sambil memperhatikan pasangan ibu dan anak yang sempat mengiraku gila karena jingkrak-jingkrak sendiri di pusat pembelanjaan modern. Kutapaki satu persatu lantai mall yang terbuat dari kaca sambil bernyanyi. Sesekali langkah ini terhenti di depan dinding kaca butik untuk sekadar merapikan rambut yang acak-acakan. Beberapa petugas butik menatap sinis, namun sebagian terpesona dengan tampangku yang keren walau penampilan agak berantakan.

__ADS_1


Setelah merasa cukup rapi, kulangkahkan kembali kaki menuju toko buku. Namun belum sempat sampai di tujuan, mataku terpaku pada sosok gadis bermata bulat, pipi tembam, kulit putih bersih dengan rambut ikal layaknya boneka Jepang. Gadis itu duduk di pojok sambil melamun menatap dinding kaca sebuah kafe. Jantungku terasa ingin melompat dari tempatnya, darah mengalir cepat.


Tanpa disadari, saking terpesonanya tubuhku telah merosot di atas lantai bagai lilin yang meleleh. Kubaca nama kafe di mana gadis itu berada dan tiba-tiba bulu kudukku meremang. D’Coffee? Aku menelan ludah. Namun pesona gadis itu sangat kuat membuat diri ini tanpa sadar telah melangkah menuju kasir.


“Selamat datang. Mau pesan apa, Mas?” sapa seorang gadis bertubuh jangkung di balik meja kasir.



“Cokelat panas satu.” Aku tersenyum lebar pada gadis itu.



“Ada lagi?” tanyanya seraya mengetik sesuatu pada layar besar di hadapannya. Telingaku mendengar logat Sunda di suaranya.



“Itu aja dulu.”



Kasir itu menyebutkan nominal yang harus dibayar. Segera aku menyerahkan beberapa lembar uang padanya. Sambil menunggu pesanan, aku mengedarkan pandang pada  sekitar. Dinding kafe ini dicat dengan warna merah, cokelat dan kuning yang dipadukan dengan corak kotak dan garis. Kuperhatikan juga lampu yang menggantung secara simetris. Unik juga. Suasana yang sangat nyaman untuk menyendiri. Lagi, tatapanku terhenti pada sosok gadis di sudut kafe yang tidak melepaskan pandang dari laptop berwarna biru muda.



“Maaf, Mas, pesanannya,” ujar gadis di balik meja kasir.



Lamunanku buyar, lantas menerima nampan dengan secangkir cokelat panas di atasnya. Aku melangkah meninggalkan meja kasir. Mencari meja yang dekat dengannya, namun semua telah penuh. Sayang sekali. Sepertinya aku harus memberanikan diri.


__ADS_1


"Maaf, sendiri? Boleh aku duduk di sini?"


__ADS_2