Komivelist

Komivelist
Sesal


__ADS_3

Seminggu sudah berlalu dari kejadian di taman. Ada perasaan sesal yang begitu dalam di hati. Mengapa aku bilang benci? Bagaimana kalau dia yang malah membenciku? Hampir seminggu ini aku bolak-balik ke kafe tempat pertama kami bertemu, tapi tak terlihat gadis manis itu di sana. Ingin ke rumahnya tapi takut.


Hari Minggu yang menyebalkan, untung komik sudah disetor dua hari yang lalu. Saatnya mengistirahatkan diri ini. Aku menyalakan kipas angin mini dan menyorotkan benda itu ke wajah yang terasa gerah. Ah, nikmatnya.


"Aldo!" teriak Mama.


Seketika suasana menjadi hancur. Nyaris saja kipas angin itu jatuh menimpa wajah saking kagetnya. "Apa, Ma?" sahutku malas.


"Tolong antar Lidia!"


Apa? Mengantar Lidia? Memangnya mau ke mana dia? Sekolah di hari Minggu gitu?


"Antar ke mana, Ma? Emang Mama nggak bisa?"


"Ke rumah temannya. Nggak bisa, Mama mau pergi, ada janji sama seseorang."


Kenapa nggak sekalian? Apa boleh buat, aku harus menurut. "Iya, Ma." Raga ini bangkit seraya mematikan kipas. Mengambil sebuah kaus oblong berwarna hijau muda dan jaket abu-abu.


"Kak, mandi dulu kali." Terlihat Lidia berdiri di pintu kamarku.


"Udah, kok."


"Paling kemarin sore."


"Ya udah kalau nggak mau diantar. Mending Kakak tidur."

__ADS_1


"Aku telepon Mama, nih." Lidia meraih handphone-nya.


"Eh, jangan. Iya, Kakak antar."


"Tapi mandi dulu. Aku nggak mau diantar sama orang yang bau asem."


Lidia ini anak Mama banget. Sikap mereka mirip, sama-sama mencekal kebiasanku yang jarang mandi. "Bawel!" Aku melepaskan kaus kutang yang dari kemarin belum diganti ke wajah Lidia lalu bergegas ke kamar mandi.


"Huek!" Suara adik perempuanku itu terdengar mual dan terbatuk. "Ini kaus kutang kok baunya kayak karbit sih, Kak?"


"Itu aroma terwangi yang Kakak punya," sahutku dari kamar mandi.


"Amit-amit."


*****


"Iya, pulang jam berapa?"


"Jam tujuh, Kak. Jangan lupa, ya?"


Sepertinya Lidia sangat tahu kakaknya ini. "Iya."


"Dah, Kak. Hati-hati ya." Lidia berjalan menghampiri temannya.


"Itu siapa, Lid? Cowok lo? Ganteng banget. Kok nggak diajak ke sini?" Seorang gadis dengan tubuh tinggi memperhatikanku dari kejauhan.

__ADS_1


"Bukan, itu kakaknya Lidia. Ganteng, kan?" Seorang lagi menimpali.


"Dia itu ganteng-ganteng males mandi. Nyesel deh kalau sampe naksir dia." Lidia nampak berbisik, tapi seperti biasa bisikan itu sampai dengan mulus ke telingaku.


Dasar Lidia! Mama ngidam apa sih saat hamil dia? Aku segera memacu motor menuju rumah. Ada yang menggelitik hati untuk melewati rumah Jo. Ke mana gadis itu pergi?


Kini aku telah sampai di depan sebuah rumah dengan gerbang hitam setinggi satu setengah meter. Samar-samar terlihat ada motor di garasinya yang terbuka. Sepertinya sedang ada tamu. Dari luar juga kulihat siluet seorang wanita yang tergambar di jendela. Apa itu ibunya? Lebih baik aku pulang. Lagipula masih ada perasaan tak enak dalam hati karena perkataan beberapa waktu lalu.


*****


Cacing di perut protes minta diberi makan. Ini bukan lagi keroncongan, tapi dangdutan! Oh perut, janganlah kau berbunyi saat Mama tidak ada. Tiba-tiba sesuatu terlintas dalam ingatan. Aku segera berlari menuju dapur.


Sesampainya di sana aku segera membuka lemari penyimpan makanan. Ini dia yang akan menyelamatkan hidupku! Sebuah mie instant cup. Dengan lincah tangan ini membukakemasan dan menaruh bumbu serta air panas. Aroma harum menerobos dinding hidung.


"Assalammu'alaikum. Aldo!"


Nyaris saja tanganku tersiram air panas karena kaget. "Wa'alaikummusalam. Iya, Ma."


"Tadi Lidia kamu antar, kan?"


"Iya dong, Ma." Aku meniup air panas pada cup mie instant tersebut.


"Bagus, deh." Mama berjalan ke ruang tamu.


Aku melangkah menuju kamar. Baru saja sampai di anak tangga ketiga, terlihat Mama mengeluarkan uang dengan jumlah cukup banyak dari dalam tas dan memasukkannya lagi. Uang dari mana, ya? Ah, sudahlah paling bayaran untuk catering kemarin.

__ADS_1


Aku duduk di atas tempat tidur seraya mengaduk mie instant tersebut lalu meniupnya. Setelah mulai hangat kulahap suapan pertama. Wah! Sangat nikmat untuk perut yang lapar. Tiba-tiba terdengar seseorang mengetuk kamar.


Mama ngapaih, sih? Mengganggu selera makanku saja. Dengan langkah gontai aku membukakan pintu. "Ada apa sih, Ma ...." Suara ini melemah saat melihat siapa si pengetuk pintu. Dia berdiri di hadapanku. Gadis dengan tatapan sedingin es.


__ADS_2