Komivelist

Komivelist
Cokelat dan Kopi 2


__ADS_3

"Maaf, sendiri? Boleh aku duduk di sini?" Aku menunjuk bangku di hadapannya.


Ia melirik dan terlihat sedikit kaget, lalu dengan cepat memasang wajah datar seraya berkata, "Silakan."


"Terima kasih." Dengan penuh rasa senang aku menjatuhkan tubuh di kursi tersebut. Jawabannya singkat sekali, bahkan hanya melirik sebentar dan kembali fokus pada laptop-nya. Secangkir kopi hitam di hadapan gadis berambut ikal sepunggung itu terlihat mulai dingin. Sepertinya ia sudah lama di sini. Suasana hening sejenak.


"Nama kamu siapa? Kalau aku Aldo." Aku memulai seraya tersenyum mengulurkan tangan berharap gadis mungil itu mau membalasnya.


"Jo," jawabnya tanpa menoleh sedikit pun.


Segera aku menarik kembali tangan yang sudah terlanjur diulurkan. Singkat sekali jawabannya. "Hmm, apakah itu kopi hitam?" Ah, tampaknya basa-basiku terlalu basi.


"Seperti yang kamu lihat." Wajahnya masih terlihat datar.


"Aku enggak suka kopi, bahkan aku membencinya." Aku menyeruput cokelat panas setelah meniupnya.


Tiba-tiba mata bulatnya membesar dan menatapku agak lama. Bahkan dengan ekspresi misterius itu pun ia tetap terlihat manis. "Oh, ya? Alasannya?"


"Aroma kopi membuatku mual apalagi kalau tanpa gula." Aku bergidik saat aroma kopi menari di sekitar hidung.


"Aneh." Ia menyeruput kopi dengan ekspresi yang masih susah untuk ditebak. "Bukannya kebanyakan laki-laki menyukai kopi?"


Alangkah beruntungnya cangkir itu. Ya ampun! Sadar, Aldo, sadar! Aku menepuk pipi pelan. "Waktu kecil, saat Ayah mengopi pun aku memilih untuk menahan napas dan menjauh."


"Beliau pasti laki-laki sejati." Kembali Jo mengecup bibir cangkir dan meneguk minuman hitam pekat itu.


"Pasti. Hmm, tapi aku menyukai kopi yang ada di novel karya penulis terkenal Johanna Aulia karena aku dapat menikmati kopi tersebut tanpa mencium aroma dan merasakan pahitnya. Novel wanita itu selalu best seller bahkan difilmkan. Tapi kenapa dia enggak mau jati dirinya diketahui orang banyak, ya?" cerocosku panjang lebar.

__ADS_1


"Oh, jadi kamu suka Johanna Aulia, ya? Ada alasan lain mengapa menyukainya?"


"Hmm, cerita dalam novelnya kadang memberikanku penerangan ide saat pikiran sudah terasa buntu. Gaya tulisan, imajinasi, dan kejutan di tiap halamannya membuatku kagum. Aku yakin dia adalah gadis manis dan ceria. Ngomong-ngomong, pekerjaanmu apa?"


"Freelancer."


"Wah, sama. Kalau aku komikus di majalah Lovely."


"Apa kamu Aldo Darmawan?" Ekspresinya masih datar sedangkan terlihat tangan gadis itu memainkan pegangan cangkir.


"Bagaimana kamu tahu?" Senang rasanya dikenal gadis cantik.


"Ah, enggak." Ia memasukkan laptop ke dalam tas lantas menggantungnya di punggung. "Aku boleh meminjam nama dan karaktermu?"


"Untuk?"


Sebenarnya ini memuji atau meledek? Ah, tapi tak apa berhubung gadis manis yang berbicara. "Bo—boleh, kok. Kirimi aku setelah jadi, ya?"


"Aku enggak janji." Ia melirik jam tangan lalu berkata, "Maaf, aku harus pulang. Bye. Nice to meet you." Jo bangkit, tersenyum lantas melambaikan tangan sejenak dan berlalu.


Ya Tuhan! Hatiku terasa meleleh saat lihat senyumnya. Astaga! Aku lupa bertanya alamatnya.


*****


Aku bersiul saat memasuki rumah sambil menjentikkan jari diiringi gerakan tubuh. Terlihat Mama sedang duduk sambil membaca majalah di sofa. Sepertinya ada yang terlupa. Tapi apa? Aku benar-benar tidak ingat.


Mama melirik ke arahku lalu tersenyum cerah. "Eh, anak Mama yang paling ganteng udah pulang."

__ADS_1


"Ya iyalah paling ganteng, anak Mama, kan, cuma aku sama Lidia," sahutku saat menaiki anak tangga.


"Kamu mau ke mana?"


"Ke kamar, dong. Duh, ngantuknya." Aku menguap sambil menggaruk kepala yang terasa gatal.


"Buku pesanan Mama?"


"Buku apa?" Aku menerawang sedang Mama menatapku tajam. Alamak! Ternyata aku lupa buku resep masakan pesanan Mama. "Ya ampun! Aku lupa, Ma."


"Aldo, masih muda udah pikunan. Mama butuh untuk besok. Sekarang cepat belikan. Mama enggak mau tahu."


Aku menoleh ke arah jam dinding. "Tapi udah jam setengah sembilan, Ma, sedikit lagi tutup."


"Ya kamu buru-buru, dong. Okey? Mama tunggu."


"Iya, Ma." Aku berlari lalu menyambar motor matic berwarna hitam di garasi rumah. Sedang Mama berdiri di depan pintu. "Ma, aku jalan dulu ya. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam. Hati-hati ya. Jangan ngebut!"


"Iya," sahutku seraya menancapkan gas. Tadi dibilang cepat, tapi enggak boleh ngebut. Aku harus gimana, dong?


*****


Kurebahkan tubuh di atas kasur. Memandangi langit-langit kamar. Teringat pertemuan dengan bidadari di kedai kopi tadi sore. Cantik sih, tapi sikapnya dingin dan cuek. Namun senyum gadis itu membuat hatiku cenat-cenut tak karuan. Aih, bicara apa aku ini?


Katanya ia seorang penulis, pasti novel karya gadis es tadi tidak sebagus Johanna Aulia. Tapi entah kenapa aku sangat tertarik dengan gadis itu. Ia mau menjadikanku salah satu tokoh dalam novel yang akan dibuatnya? Senang campur sedih lantaran pujiannya menusuk hati. Tapi tak apa, yang penting happy.

__ADS_1


Apa setiap sore ia datang ke kafe tersebut?


__ADS_2