
Gadis manis itu! Aku sangat mengenalinya. Dia Jo. Segera kaki ini berlari menghampiri mereka dan dengan cepat melayangkan tinju ke arah lelaki yang berani menampar gadis pujaanku. "Tinggalkan dia sendiri. Lelaki macam apa kamu yang tega menampar seorang gadis?"
Lelaki itu tersungkur seraya memegangi bagian wajahnya yang terkena pukulan lalu bangkit. "Siapa kamu? Beraninya ikut campur urusan orang."
"Tolong, tinggalkan gadis ini," ujarku. Agak takut juga mengingat postur tubuhku yang tak lebih besar darinya. "Kumohon."
Tidak terima dengan perkataan dan pukulanku, dia pun berusaha membalas. Dengan cepat kutarik tangan kekar itu dan memelintirnya ke belakang menimbulkan bunyi gemeretak pada tulang lengannya dan kupiting leher lelaki itu.
"Arrgh!" jeritnya tertahan. Ia menggerakkan tangan berusaha melepas cengkraman.
"Tinggalkan dia, atau nyawamu habis malam ini," bisikku seraya menguatkan cengkraman. Entah kekuatan apa yang tiba-tiba muncul mengalahkan semua rasa takut.
"Le—lepaskan aku," ujar lelaki itu memohon.
Kulonggarkan cengkraman dan pitingan. "Pergilah. Sekali lagi kamu menamparnya, jangan harap dapat bertemu dengan hari esok."
Lelaki itu memegang lengannya yang tadi kupiting dengan tatapan garang. Terlihat perasaan kesal dan malu di wajahnya.
"Pergi!" ucapku.
Lelaki itu pun meninggalkan kami dengan wajah kesal. Kuperhatikan ia menggerutu sepanjang jalan menuju mobil yang terparkir di samping taman.
"Kenapa?" tanya gadis yang sedari tadi kubelakangi. Aku membalikkan tubuh, menatap Jo yang terlihat kesal. "Kenapa kamu harus terlibat ini semua? Seharusnya kamu nggak usah ikut campur." Suara Jo terdengar parau. Mata bulatnyamenatap kosong. Masih ada bekas tamparan di wajah manisnya.
"Tapi aku nggak mau lihat kamu diperlakukan seperti itu," jawabku.
"Ah, udahlah. Lupakan," umpat Jo seraya berbalik hendak meninggalkanku.
Seperti magnet, kakiku melangkah mengikutinya. "Maksudnya? Lupakan apa?"
"Lupakan kalau kita pernah bertemu." Jo tetap melangkah.
"Nggak. Aku nggak bisa," sergahku yang masih berjalan membuntutinya.
"Berhenti mengikutiku!" Jo tetap tak mau menoleh ke arahku.
"Nggak bisa. Kamu ada masalah apa dengannya?" tanyaku menyelidik sambil tetap mengikutinya. Yang ditanya hanya berjalan—tak menjawab. Kupercepat langkah namun tak juga bisa menjangkaunya, membuatku semakin geram. "Hei! Kamu bisu ya? Dari tadi aku tanya nggak dijawab."
__ADS_1
Langkahnya terhenti membuatku terpaku. Jo menatap tajam, wajahnya yang anggun terlihat sangat emosi. "Hei! Bukannya kamu yang tuli ya? Aku sudah bilang jangan ikuti aku!" sahut Jo tidak mau kalah. Ia pun berbalik badan dan meneruskan perjalanan, namun sebuah batu membuatnya tersandung dan jatuh. "Aw!"
Dengan cepat aku mendekati Jo berniat membantunya. Namun belum satu langkah mendekat, gadis itu sudah bangkit dan terus berjalan walau darah segar keluar dari lututnya yang terluka.
"Jo, kamu terluka," ujarku mempercepat langkah. Jo hanya terdiam. Kupercepat langkah lalu menarik tangannya. "Lukamu harus dibersihkan."
Jo berontak berusaha melepaskan peganganku. "Lepas!"
Tidak kujawab perkataannya. Kuperkuat genggaman membuatnya semakin geram.
"Kamu benar-benar tuli ya?" kesalnya.
"Terserah," jawabku datar, "akan kuantar kamu pulang. Lukamu harus segera dibersihkan."
Dengan terpaksa Jo pun menuruti kata-kataku.
*****
Kubersihkan luka menganga pada kaki Jo dengan alkohol. Wajahnya nampak datar, tidak menunjukkan rasa sakit sedikit pun. Kuberi plester pada luka tersebut lalu duduk di sampingnya.
"Terima kasih," ujarnya singkat tidak melirikku sama sekali. Ya ampun. Ia tidak terlihat kesakitan. "Maaf atas kejadian tadi."
"Dia Doni, kekasihku," jawab Jo singkat.
Tenggorokanku seperti tercekik mendengarnya. Lutut terasa lemas, jantung pun berdetak semakin cepat. Pikiran berubah menjadi kacau.
"Dia memaksaku untuk menerima tawaran membintangi film layar lebar," jelasnya membuyarkan pikiranku.
"Terus kenapa kamu tolak?"
"Simpel aja, aku nggak mau dikenal," jawabnya datar.
"Loh? Bukannya enak jadi terkenal?"
"Apa enaknya kalau setiap melangkah semua orang mengenali lalu membuntuti kita untuk meminta berfoto? Belum lagi kalau dikejar-kejar pemburu berita."
Aku menunduk, merenungi kata-katanya, benar juga.
__ADS_1
"Terima kasih," ujarnya lembut tetap tak mau melirikku.
"Untuk apa?" Kuangkat kepala berusaha mencuri pandangannya.
"Untuk keberanianmu tadi."
"Hhm, kenapa kamu nggak tinggalin aja? Dia kasar, kamu harus menjauhinya," sahutku meyakinkan.
"Nggak. Cuma dia yang sayang sama aku." Tatapannya kosong dan lurus entah memandangi apa.
"Kalau dia sayang, nggak akan memperlakukanmu seperti tadi."
"Apa kamu pernah mencoba kopi?" tanya Jo seakan mengalihkan pembicaraan.
"Nggak. Aku kan benci kopi. Kata orang, kopi rasanya pahit dan aku benci itu."
"Walau sedikitpun?"
"Iya," jawabku singkat. Entah ke mana perginya kekonyolanku.
"Hidup ini bagaikan secangkir kopi. Awalnya pahit namun jika diberi gula akan terasa manis, mereka berpadu menciptakan kenikmatan. Hidup memang pahit, namun kita dapat menentukan sendiri kadar kebahagiaan dengan terus bersyukur," jelasnya panjang lebar, "dengan itu keindahan akan tercipta dengan sendirinya."
Aku terdiam mencerna kata-katanya.
"Lantas apakah kamu akan terus membenci kopi tanpa sedikit pun menambahkan gula dan mencobanya?" ujar Jo dengan wajah datarnya, "Dengan kata lain tidak ingin mencoba dan berusaha dengan terus bersyukur untuk menciptakan kebahagiaan?"
"Lalu apa hubungannya dengan Doni?"
"Ada," jawabnya, "dia memang kasar, namun keberadaannya harus disyukuri karena dialah satu-satunya orang yang selalu mendukungku."
"Huh!" dengusku kesal, "Aku mau mendukungmu dengan semua kemampuan yang kumiliki. Aku mencintaimu."
"Simpan kata-kata itu, kamu hanya mengagumiku."
"Ini bukan sekedar rasa kagum, tapi cinta," ujarku meyakinkan, "kamu lihat kan dia berani menamparmu, apa itu yang dinamakan cinta?"
"Pulanglah. Hari mulai gelap. Terima kasih untuk semuanya. Aku nggak apa-apa."
__ADS_1
Aku bangkit dari duduk, dengan kesal menghampiri pintu yang sedari tadi mengikuti percakapan kami. "Aku membencimu."
Mata bulat milik Jo mulai berkaca-kaca. "Terserah," sahutnya datar. Air mata mulai menetes, menetes ke permukaan celana jeansnya. Dengan penuh sesal kubuka pintu dan meninggalkan Jo seorang diri.