
Rumah Jeon's Family, 02.30wib
Oeekkk~
Oeekkk~
Jeon kecil menangis, Jungkook yang terusik meski matanya setengah terpejam berusaha menenangkan si kecil, agar si kecil bisa kembali tidur. Sebelumnya ia cek lebih dulu popoknya—tidak basah.
Ah, mungkin si kecil lapar.
Jungkook menyibakkan selimutnya, lalu bangun dari ranjang menuju ke nakas untuk membuat susu untuk si kecil.
Setelah susu selesai ia buat, di gendonglah si kecil, Jungkook ambil dot susu yang ia taruh di samping tempat tidur.
Meski matanya setengah terpejam karena mengantuk, Jungkook berusaha sebisa mungkin untuk membantu sang istri. Setidaknya jika si kecil menangis tengah malam begini, Jungkook siap menangani.
Oeekkk~
Oeekkk~
"Ssst ssstt, cep cep cep... anak Papah jangan nangis... kan sudah minum susu." Ucap Jungkook sambil menguap.
Oeekkk~
Oeekkk~
Jimin, yang mendengar si kecil menangis lantas terbangun. Mengucek kedua matanya agar lebih terbuka. Jimin menatap Jungkook
bingung.
"Jung...?" Panggilnya,
Jungkook bergumam, namun tangannya masih sibuk menimang, meski Jimin lihat Jungkook melakukannya dengan mata setengah terpejam.
"Kamu ngapain??" Tanya Jimin heran,
"Si kecil nangis tadi, jadi aku gendong dan buatkan dia susu."
Jimin tersenyum lembut,"Tapi sayang... yang kamu gendong itu bukan anak kita."
Jungkook langsung melebarkan matanya detik itu juga, di pandanginya Jimin yang sibuk menggendong si kecil di pangkuan.
Kemudian beralih ke gendongannya sendiri,
"Astaga!!! Jadi sedari tadi aku ngasih dot susu ke guling?? Pantas si kecil nangis mulu."
__ADS_1
Jimin terkekeh lalu menggeleng kecil,"Kamu tidur aja, biar aku yang urus."
Jungkook mengangguk, lalu merebahkan lagi tubuhnya ke ranjang dan kembali tidur. Jimin menghela nafas lalu tersenyum kecil menatap sang anak.
"Sepertinya, Papah kamu kurang akua." Dalam tidurnya si kecil menggeliat kecil dan tersenyum tipis.
.
..
...
Masjid lagi rame, mengingat dua hari lagi bulan Ramadhan jadi para REMA alias Remaja Masjid sibuk bergotong royong, bersih-bersih lingkungan Masjid.
Di pimpin Ustadz Xiumin, kegiatan pagi itu berjalan lancar sebagaimana mestinya. Bahkan pemuda dari Komplek NCT juga Wanawan ikut membantu, mengingat Masjid Al-Ikhlas adalah Masjid terbesar di kawasan komplek mereka.
"Eh, Sepuluh... sapu yang bener kamu!!!"
"Nama saya Ten,Ustadz." Jelas Ten,remaja tanggung yang baru masuk SMP tahun ini.
"Sama ajalah, kan Indonesia Ten itu Sepuluh." Ujar Ustadz Xiumin gak mau kalah.
"Pak Uztads, itu di luar Daehwi sama Jinyoung rebutan kain pel!!!" Teriak Woojin dari depan teras.
"Astagfirullah, apalagi ini..."Gumam Ustadz Xiumin lalu pergi keluar untuk melerai keduanya. Dan benar saja, dua remaja tanggung yang masih labil itu asik tarik menarik kain pel yang mulai koyak.
"Bukan gitu Us..."
"Hush, manggil Ustadz tuh yang lengkap,Jinyoung." Seru Woojin sembari menggeplak pelan lengan Jinyoung.
"Ya, biar gak kepanjangan maksudnya. Ribet." Astagfirullah, Jinyoung anak nakal. Anaknya Sehun si tukang sayur kalo mau tau.
"Kenapa mesti ribut sih? Kain pel kan ada banyak. Bukannya ada yang bawa dari rumah masing-masing??" Tanya Ustadz Xiumin lembut.
"Tauk tuh Ustadz, padahal saya duluan yang pegang. Eh, Jinyoung main serobot aja, kan saya sakit hati Ustadz. Berasa Jinyoung itu nikung gebetan saya." Lah kok ini si Daehwi malah curhat, Ustadz Xiumin yang dengerin cuma cengo.
"Ck Ck Ck..." Woojin dan Ustadz Xiumin berdecak sambil geleng-geleng kepala, memang bapak-anak goal mereka ini.
"Ya sudah, Daehwi mendingan kamu beresin
ruang belakang aja bareng si Guan sama Daniel,sana." Ujar Ustadz Xiumin, Daehwi mengangguk patuh.
"Terus saya ngapain Us―tadz. Hehehe.." Jinyoung nyengir kuda,
"Kamu? Ya terusin ngepel, kan dari tadi kamu yang ngebet." Jawab Ustadz enteng lalu meninggalkan Jinyoung yang cemberut, sedangkan Woojin terkekeh geli disampingnya.
__ADS_1
Sementara di Masjid bersih-bersih, di rumah Bu Hajah Baekhyun,Ibu-ibu lagi asik marawisan.
"Yâ Thoybah Yâ Thoibah yâ dzawal 'ayânâ
Ustughnâlik walhawâ nadânâ, walhawâ nadânâ (2x)."
Suara tabuhan menggema, bahkan sampai terdengar sampai ke ujung gang. Memang the power of emak-emak itu gak boleh di ragukan.
Dan ke-tiga Uke cantik kita di Komplek Bangtan, tentu saja tidak ikut menyemarakkan acara marawisan di rumah Bu Hajah.
Melainkan ketiganya tengah asik ngobrol cantik di bawah pohon ceri, depan rumahnya Seokjin.
"Gak nyangka ya, dua hari lagi puasa." Seokjin memecah keheningan di antara mereka, sedangkan Hoseok dan Yoongi mengangguk setuju sambil memakan buah Ceri masak yang merah merona nan menggoda.
Hoseok mendongak, "Bang, ngambilnya yang banyak dong. Buat apa kamu manjat ampe atas, ngasihnya sebiji dua biji."
Lalu Hoseok menyodorkan kembali keranjang kecil lengkap dengan tongkat kecil keatas pohon, dimana Seokjin nangkring cantik.
Seokjin mah enak, makan langsung dari poonnya. Lha yang dibawah dapet sisa, salah siapa gak manjat.
"Giliran mau puasa, buah ceri aku malah panen. Makanya aku minta kalian bantu abisin. Kan sayang tar pas puasa gak bisa makan." Ya iyalah Seokjin, namanya juga puasa. Menahan lapar dan dahaga. Jelas makan itu di larang.
"Puasa nanti jualan takjil,yuk??" Hoseok menoleh kearah Yoongi.
"Tar kejadiannya kayak Ramadhan taun kemaren lagi." Cebik Hoseok, mengingat masa lalu itu menyakitkan, makanya Hoseok orangnya lempeng aja.
"Ya juga sih, tapi aku masih dendam aja gitu..." Gumam Yoongi acuh. Seokjin dan Hoseok mengangguk mengerti.
Oh ngomong-ngomong, Seokjin udah turun kok dari atas poon. Dengan sekeranjang penuh buah ceri masak. Eummm yummy~
Jadi pengen―giliran author yang ngidam.
Nah kalo para Uke cantik asik nongkrong di bawah poon, para daddy―tidak termasuk Namjoon,karena tinggal dirinya yang belum punya bayi. Ketiganya lagi asik mancing di kolam mas Chen, Juragan Empang.
"Tetet oh Tetet, kenapa engkau kurus??"
"Macam mana aku tak kurus, ikan tak mau timbul, ikan tak mau timbul."
"Ikan oh ikan, kenapa engkau tak timbul??"
Ketiganya melongokan kepala kebawah kolam, tiga detik kemudian ketiganya tertawa bersama.
Bapak-bapak edan.
Korban Upin Ipin.
__ADS_1
][TBC-in aja dulu...][
ahhshshshshhahahah di buat penuh kegajean...