
“Rencana dari misi kami bukan pergi ke tempat tertentu ataupun membunuh seberapa banyak musuh, serta apa yang didapatkan. Tujuan dari misi kami adalah menyelesaikan masalah dan mendapatkan imbalan, baik untuk karakter non-pemain maupun pemain.
Keesokan paginya, di depan hotel.
"Tuan Syaiful, wajahmu terlihat pucat, kamu baik-baik saja?" Samuel bertanya dengan prihatin.
“Tidak apa-apa, aku tidak tidur nyenyak semalam dan masuk angin.” Melyan bermata panda, dan terlihat lesu.
Samuel melirik Zulia yang berwajah dingin, dia tampak ragu-ragu untuk menyapa Zulia.
"Ayo segera berangkat," kata Melyan sambil menguap.
Samuel mengangguk dan berangkat bersama mereka berdua.
Pasar di Kota Yese sangat ramai, bahkan di pagi hari sudah banyak orang yang lalu lalang dengan kebisingan tidak ada habisnya.
"Selamat pagi, Bibi Susan."
Samuel membawa keduanya berhenti di depan seorang bibi berkerudung. Di sekelilingnya ada ember susu dan sedikit sayuran.
"Eh, Samuel, selamat pagi."
Bibi Susan tersenyum dengan paksa, seolah-olah dia sedang memikirkan sesuatu.
Samuel juga menyadarinya, Bibi Susan bahkan tidak memperhatikan dua orang asing yang berdiri di belakangnya, tidak seperti Bibi Susan yang biasanya ramah.
Samuel pun bertanya, "Bi, ada apa, mungkin aku bisa membantumu."
Bibi Susan ragu-ragu, dan melambaikan tangannya dengan lesu.
“Bi, apakah kamu memelihara sapi perah di rumah?” tanya Melyan.
Bibi Susan menatapnya dengan heran, lalu menatap Samuel.
"Apakah dia temanmu?"
Samuel buru-buru menjelaskan apa yang terjadi tadi malam.
“Lalu bagaimana kamu bisa tahu bahwa aku memelihara berapa ekor sapi perah di rumah?” Bibi Susan sedikit penasaran.
"Samuel tidak memberitahumu, apakah kamu mencari tahu sebelumnya?"
"Sepatumu berlumpur, tanah sangat dingin dalam cuaca seperti ini, dan hanya lumpur lembut yang ada di kandang sapi yang masih hangat, ditambah bulu sapi dan bau susu di pakaianmu, tidak sulit untuk menebaknya. "
Melyan mengangkat bahu dan tersenyum. "Aku penasaran, apakah ada masalah dengan sapi perah yang kamu pelihara?"
Bibi Susan tidak hanya penasaran, tetapi juga sedikit terkejut.
"Bagaimana kamu tahu ada yang salah dengan Jasmine dan Tulip?"
Ternyata Jasmine dan Tulip adalah nama dua ekor sapi perah.
"Kamu sedang dalam suasana hati yang buruk. Bahkan Samuel yang biasanya ceroboh pun tahu, bagaimana mungkin aku tidak bisa mengetahuinya?" Melyan sengaja bercanda.
Samuel menggosok kepalanya dan tersenyum malu.
"Lagi pula, musim ini adalah musim kutu ternak, terutama di kandang sapi yang hangat. Kurasa mereka kehilangan nafsu makan, dan kemudian kuku mereka membusuk, tapi tidak menemukan luka di tubuh mereka, kan?"
Bibi Susan membuka mulutnya karena terkejut.
"Iya benar, apakah kamu punya cara untuk menyelamatkan mereka?"
“Sangat sederhana, kamu hanya perlu membeli jahe dan bawang putih di tempat Samuel, menggorengnya dengan rumput tall fescue, lalu mengoleskan pasta hijau pada kuku yang bernanah, dan menyemprotkan air yang disaring ke kandang sapi. Dan ingat, sirkulasi udara kandang sapi juga harus bagus, tidak boleh selalu lembab.”
__ADS_1
Sekarang Bibi Susan sudah hampir percaya sepenuhnya pada Melyan. Dia dengan penuh syukur mengambil dua lobak putih dan menyerahkannya ke tangan Melyan.
Samuel segera angkat bicara untuk membantu Melyan.
"Bibi, Tuan Syaiful berasal dari Kamar Dagang Mawar Emas Bintang Kejora, dia adalah seorang pe ..."
"Penasihat akademik, sederhananya adalah seorang sarjana."
“Ya, penasihat akademik.” Samuel menggaruk kepalanya.
"Dia sedang berbulan madu dengan Nona Susi, sekalian jalan-jalan ke sini. Dia tidak bisa membawa terlalu banyak barang, jadi kurasa dia juga tidak bisa membawa lobak ini."
Melyan menambahkan, "Kebaikanmu sudah kuterima, kurasa lobak ini ..."
Setelah Susan mendengar latar belakang Melyan, dia tidak lagi bersikeras, tetapi bertanya dengan hati-hati. "Tuan Syaiful, apakah Anda tahu banyak tentang pohon kiwi?"
Misi berantai dimulai.
"Tentu saja." Melyan tersenyum dengan percaya diri.
"Baguslah kalau begitu." Bibi Susan bertepuk tangan dengan gembira dan berteriak kepada anak kecil yang sedang berjongkok di tanah. "York kecil, kemarilah, ada seorang sarjana dari ibu kota kerajaan yang dapat menyembuhkan pohon kiwimu."
York kecil buru-buru menjatuhkan mainan kayu di tangannya, berlari seperti lalat, dan menatap Melyan dengan sepasang mata besar hitamnya yang berkilau.
Di matanya, bagaimana mungkin pria yang tidak terlihat lebih tua dari kakaknya ini bisa menyembuhkan pohonnya, bahkan Kakek Mawson saja tidak bisa berbuat apa-apa.
“Adik kecil, apakah sekarang kamu berusia sepuluh tahun?” Melyan bertanya terlebih dulu.
York kecil mengangguk, dia tidak berbicara dan tampak sedikit takut pada orang tak dikenal.
"Kamu punya pohon kiwi, ‘kan?"
Anak itu tetap mengangguk.
York kecil melirik Bibi Susan dengan heran, Bibi Susan mengangkat bahu mengatakan bahwa dia tidak memberi tahu apa pun.
"Aku punya seorang kakak perempuan." York kecil menjawab dengan suara manis.
"Tapi dia adalah milikku, kamu tidak boleh merampasnya."
Orang dewasa di sekitarnya tertawa, dan bahkan Zulia yang berwajah dingin pun ikut tertawa.
"Oke, kalau begitu aku masih punya satu pertanyaan lagi, apakah kakakmu menanam pohon itu untukmu?"
"Tebakanmu benar." York kecil semakin terkejut.
Melyan tersenyum lalu menyentuh kepala kecilnya, anak kecil itu tidak menghindar.
"Kiwi adalah tanaman yang kuat. Ia suka cuaca yang hangat tetapi juga bisa tumbuh di daerah Kansa yang dingin. Kakakmu menanamnya di saat kamu lahir agar kamu bisa sesehat pohon kiwi. Oh ya, daun pohon kiwi akan gugur dalam jumlah besar setiap sepuluh tahun, seperti ular berganti kulit dan jangkrik melepaskan cangkangnya. Setiap kali hal ini terjadi, pohon kiwi membutuhkan perawatan khusus. Kamu bisa pergi ke rumah Bibi Susan untuk mengangkut sedikit kotoran sapi yang masih segar, dan diletakkan di sekitar akar pohon, maka pohonmu akan sembuh."
York kecil mendengarkan dengan teliti, seolah-olah dia ingin menghafal setiap kata-kata Melyan, dan setelah mengingatnya, dia mengangkat kepalanya dan menatap Melyan.
"Benarkah?"
"Tentu."
"Kalau begitu ayo berjanji denganku, kalau kamu berbohong padaku, aku akan menggigitmu."
Melyan mengulurkan tangannya dengan tak berdaya, dan berjanji pada York kecil dengan cara saling mengaitkan jari kelingking.
"Sekarang kamu adalah teman baikku, kalau temanku mengalami masalah, Bisakah kamu membantunya?"
"Tentu, dengan senang hati."
__ADS_1
York kecil meletakkan tangannya ke mulutnya dan berteriak dari kejauhan. "Kakek Mawson, York kecil mencarimu."
Suaranya tidak hanya memanggil Kakek Mawson, tetapi juga menarik banyak orang di jalan.
Penduduk kota yang ada di pasar meletakkan pekerjaan di tangan mereka dan berkumpul.
"Kakek Mawson, dia teman baikku. Oh ya, siapa namamu?"
Sebelum Melyan berbicara, Bibi Susan tersenyum dan menjelaskan secara singkat apa yang baru saja terjadi.
"Mawar Emas yang di ibu kota kerajaan itu?"
"Itu sangat luar biasa."
"Sarjana muda, kamu luar biasa muda, tidakkah terlalu berbahaya kamu datang ke tempat sejauh ini?"
“Dia membawa tunangannya untuk berbulan madu, lihat pendekar pedang wanita di belakangnya.”
Dalam sesaat, seluruh penduduk kota membicarakan mereka.
“Guru Syaiful?” Mawson berkata sambil tersenyum. "Agak malu untuk mengatakannya, dulu aku adalah seorang sarjana di kota Soman, setelah tua aku datang ke sini untuk memelihara ikan."
“Panggil saja aku Syaiful.” Di depan orang yang lebih tua, Melyan tidak berani sombong, dan menjawab dengan hormat.
“Orang yang berpengetahuan luas harus dipanggil dengan panggilan guru.” Mawson melambaikan tangannya.
"Aku memelihara satu kolam ikan, tapi tidak tahu kenapa akhir-akhir ini jumlahnya menurun tajam. Aku pernah meminta York kecil untuk membantuku mengawasi selama beberapa hari, tapi tidak ada pencuri yang mencuri ikanku."
"Aku mengerti, kamu dapat menyewa seorang pria yang pandai berenang untuk turun ke dalam air dan melihat apakah ada sesuatu selain ikan di kolam. Mungkin ada invasi spesies."
"Invasi spesies?" Mawson mengerutkan kening.
"Misalnya, ada naga raksasa yang jatuh dari langit sekarang, semua orang yang ada di sini akan menjadi mangsanya, kita tidak mampu melakukan perlawanan. Itulah namanya invasi spesies."
Mawson tiba-tiba memahami.
"Aku benar-benar sudah tua, masa depan benar-benar milik dunia anak muda."
"Itu itu" Pada saat ini, ada seseorang menyelah pembicaraan mereka.
Melyan mengangkat kepalanya dan melihat seorang pemuda ganteng.
"Kak Leki" York kecil berlari ke depan dengan penuh semangat dan memeluk kakinya.
"Kamu berjanji akan menangkap ikan untukku."
"Maaf, York kecil, aku datang kemari untuk mencari Kakek Mawson, aku berjanji akan menangkap ikan untukmu lain kali, ya?"
York kecil melepaskan tanganya dan berkata dengan acuh tak acuh. "Ayo, seorang kesatria sejati harus tahu untuk mengalah."
Leki tersenyum dan berjalan ke depan mereka berdua.
"Kakek Mawson, apakah menurutmu aku mahir berenang?"
Mawson membelai janggutnya dan tersenyum. "Katakan padaku, apa yang kamu ingin aku lakukan untukmu kali ini?"
"Hei, kamu sangat memahamiku." Leki menyeringai.
"Aku dengar dulu ada teknik ramalan jodoh di Kota Soman, teknik tersebut menggunakan pola di punggung kura-kura dan ...."
"Ke sini sebentar, ada yang ingin kubicarakan denganmu."
Melyan tiba-tiba menarik Leki dan membawanya ke samping.
__ADS_1