Kronik Senja

Kronik Senja
Bab 5


__ADS_3

"Siapa itu Syaiful?"


"Dia orang bodoh di kota kita, tidak, dia dulunya bodoh, tapi sekarang dia tahu lebih banyak daripada ayahku." Melihat para penambang pergi menjauh, Martin menjelaskan dengan buru-buru. "Dia pasti orang yang diberkati dewa, orang yang sama dengan penyair di kota Beloka itu, kita tidak bisa membiarkan dia mati begitu saja, Dewi Miya akan menyalahkan kita."


Selesai berbicara, Martin mengambil pedang pendek sebagai senjata untuk melindungi diri lalu mengikuti rombongan tanpa melihat ke belakang.


Wajah Perot terlihat ragu, tetapi dia dengan cepat kembali tenang.


Dia mendengus dingin. "Orang yang diberkati dewa? Apakah otaknya tidak beres?!"


Melyan yang perlahan-lahan masuk ke terowongan tambang tiba-tiba merasakan sesuatu.


Sepertinya dia pernah ke sini. Lebih tepatnya, tubuh ini pernah datang ke sini.


Melyan berjalan di atas tanah yang tidak rata, di dalam pandangannya yang redup, ada sebuah pilar batu yang menonjol dan akar tumbuhan  merambat yang menjuntai ke bawah, anehnya tubuhnya ini sepertinya dapat mengenal tempat ini dan menghindari akar tumbuhan merambat tersebut dengan santai.


Dan di saat masuk semakin dalam, ketakutan yang kuat mulai muncul di hatinya.


Aneh, meskipun gelap, biasanya dia juga tidak akan merasa takut kalau ada orang di sekitar.


Namun, Melyan sepertinya mengerti kenapa remaja malang itu ketakutan setengah mati ketika dia mendengar bahwa dirinya akan dibawa ke tempat ini. Dia yakin bahwa remaja itu pasti pernah ke sini sebelumnya, dan setidaknya meninggalkan trauma yang berat.


"Syaiful!" Teriakan dari belakang mengejutkan Melyan.


Mereka berlima menoleh bersama dan menemukan bahwa yang memanggil adalah Martin.


“Kenapa kamu di sini?” Melyan bertanya dengan heran.


“Aku ke sini untuk mengawasi kalian.” Martin menggaruk kepalanya dengan malu, dan pedang pendek yang tergantung di pinggangnya bersinar terang di bawah cahaya lampu penambang.


Hans mendengus dan terus berjalan dengan lampu penambang di tangan.


Melyan cemberut tak berdaya.


"Kak Syaiful, apakah kamu tidak takut sama sekali?" Setelah beberapa saat, Martin bertanya dengan suara rendah.


Namun, di terowongan tambang yang sunyi dan hanya terdengar suara langkah kaki itu, kalimat ini terdengar jelas oleh semua orang. Melyan bahkan dengan jelas merasakan semua orang memperlambat langkah kaki mereka dan sedang menunggu jawaban darinya.


"Yah, aku juga takut, tapi daripada mengkhawatirkan hal ini, lebih baik memikirkan apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang harus dilakukan. Oh ya, apakah ada bangunan aneh di sekitar sini, atau ada cerita dan mitos aneh?"


Melyan mengambil kesempatan ini untuk mengumpulkan informasi lagi. Karena setelah dia mengingat semua hal yang terjadi di "Era Daun Baru", tidak ada satupun hal yang terjadi di daerah Kansa.


Dalam waktu dekat, peristiwa yang menghebohkan adalah insiden populasi binatang buas yang meluap di Lembah Abu, dan kisah Amater, Sang Santo pedang perak dari klan elf, yang memperoleh warisan sayap perak melalui cobaan dan berangkat ke Jialan untuk menemukan cinta sejati. Itu terjadi di sekitar ibu kota tiga kerajaan besar, tidak ada orang yang akan mengingat cerita di tempat miskin seperti Kansa ini.

__ADS_1


"Tentu saja, penyair dari kota Beloka."


“Rorov, ‘kan Kamu sudah mengatakannya.” Melyan menyela perkataannya.


“Oh.” Martin menutup mulutnya, dia bertanya-tanya, “Apakah aku pernah menyebut nama Rorov?”


“Kudengar ada bunga monster yang tumbuh di pinggiran Kota Yese yang memakan orang dan ternak, apakah itu termasuk?” kata seorang paman yang memiliki tahi lalat di dagunya.


Bunga Kebencian Yese? Itu adalah misi level 40 yang sangat menarik, tapi tidak membantu situasi mereka saat ini. Jadi Melyan tetap menggelengkan kepalanya.


“Tiang kayu di hutan bakau sudah lapuk.” Hans berhenti, daging di wajahnya yang gemuk sedikit gemetar.


"Kulit dan daging pohon sudah hitam dan busuk, seperti terkena penyakit." Hans sangat ketakutan sekarang.


“Kebetulan sekali, mirip dengan pohon-pohon di dekat kota kami.” Kakak blandong itu juga satu tim dengan mereka. "Lapuknya mulai dari bagian dalam, setelah aku menggali bagian akarnya, aku menemukan bahwa bagian bawahnya membeku."


"Oh, mayat dua blandong yang mati di hutan bakau beberapa hari yang lalu juga membeku saat ditemukan." Hans semakin ketakutan.


Semua orang saling menatap dalam ketakutan, lalu tatapan mereka jatuh pada Melyan.


Setelah mendengarkan deskripsi mereka, Melyan membalas mereka dengan tatapan dingin.


Sepasang pupil mata biru muda membuat hawa di sekitar bertambah dingin.


Di tahun pertama kalender senja, penyihir jahat level 60, Zaix, tiba-tiba muncul. Dia membangun laboratoriumnya dari bawah tanah hingga tengah Pegunungan Hengduan untuk menyerap hawa bulan kembar guna menyelesaikan eksperimen terakhir untuk membangkitkan istrinya. Lokasinya terletak di sekitar sini.


Pada saat yang sama, dia juga merupakan bos terakhir dari "Halaman Sang Abadi" di bagian ekspansi kedua "Tekad Orang Mati". Ini adalah langkah pertama bagi pemain yang baru saja mencapai level 60 untuk menyelamatkan jiwa orang mati.


Begitu menghubungkan petunjuk tersebut, Melyan pun langsung mengerti.


Ternyata sejak tiga tahun yang lalu, yaitu tahun Daun Baru, Zaix sudah memulai eksperimennya. Suhu turun tajam di daerah Kansa, pepohonan perlahan-lahan membusuk, dan bahkan Bunga Kebencian Yese mungkin juga eksperimennya.


Sangat disayangkan bahwa semua ini musnah di saat  pertempuran selanjutnya, sehingga ketika membicarakan wilayah Kansa, sebagian besar pemain yang tempat kelahirannya tidak di sini hanya teringat wilayah aman, Cahaya Tekad. Itu juga merupakan wilayah peristirahatan sebelum memasuki dungeon.


Melihat ekspresi Melyan, Martin buru-buru bertanya, "Apakah kamu berhasil menebak sesuatu?"


Melyan tersenyum pahit dan berkata, "Iya, tapi tidak ada gunanya, aku lebih berharap tebakanku salah. Tebakan benar hanya bisa membantu kita mengetahui dengan jelas bagaimana kita mati."


Begitu kata-kata ini keluar, semua orang menjadi semakin gelisah.


“Brengsek, berhenti menakut-nakuti orang.” Hans melemparkan lampu penambang dan meraih kerah Melyan.


Wajah keduanya terlalu dekat, percikan air liur yang keluar dari mulut Hans pun beterbangan, Melyan juga melihat ada sisa sayur yang tergantung di gigi depannya yang hanya tersisa setengah.

__ADS_1


Hanya saja ekspresi di wajahnya mengkhianati rasa takut di hatinya.


Saat berikutnya, pedang pendek Martin sudah terhunus di leher Hans.


“Lepaskan tanganmu.” Meskipun suaranya sedikit bergetar, tapi wajahnya sangat yakin.


‘Inilah manfaat dari kepercayaan,’ pikir Melyan dalam hati.


Hans melepaskan tangannya dengan marah lalu mengangkat tangannya untuk memberi isyarat bahwa dia tidak berniat jahat.


Melyan merapikan jaket lusuhnya dan berkata dengan tenang. "Aku tidak akan masuk lebih jauh lagi, aku masih memiliki kesempatan untuk tetap hidup kalau kembali dan bertarung dengan pria-pria berotot itu. Bahkan kalau aku dipukuli hingga mati, aku masih memiliki kesempatan untuk bereinkarnasi, tapi kalau jiwaku diambil oleh makhluk di bawah tanah. Bersiaplah untuk menjadi bahan bakar di perapian."


Dia tidak mengintimidasi. Dalam permainan, setiap pemain memiliki satu kesempatan kebangkitan di awal akun baru, yang merupakan berkah dari Dewi Miya, dan profesi penyembuhan seperti pendeta dan druid dapat "bangkit" sekali sehari untuk membangkitkan seluruh anggota tim yang telah mati. Tetapi jika mati karena kehilangan jiwa, maka tidak bisa dibangkitkan lagi dan hanya bisa dibangkitkan dengan cara membeli item mahal di toko game atau memulai dari awal.


Jika sampai mengganggu Zaix dan terkena serangan "Pengambilan Jiwa-nya" yang memiliki kekuatan 4000 poin kerusakan, maka pemain yang memiliki HP dibawah 5000 akan langsung mati. HP normal pemain adalah 5000 poin.


Pada saat yang sama, itu juga satu-satunya pembunuhan pertama di dunia yang dimenangkan oleh Serikat Tiran Pakaian Nasional. "Klub Supercar Gunung Haruna". Menurut statistik yang tidak lengkap, untuk pembunuhan pertama ini, mereka membeli item kebangkitan senilai ratusan juta. Namun, justru karena dedikasi mereka, Cahaya Tekad berhasil didirikan setelah pembunuhan pertama mereka. Dengan restu dari para pendeta, pemain biasa akhirnya tidak lagi mati dengan mudah.


Melyan ingin bertaruh, jika dia berjalan kembali mungkin masih memiliki kesempatan untuk hidup, tapi jika jiwanya diambil maka dia harus memulai dari awal.


Melyan berjalan balik, dan Martin pun segera mengikutinya.


Hans dan yang lainnya saling memandang dengan cemas, dan akhirnya mengambil kesepakatan untuk terus berjalan ke dalam karena merasa Melyan sengaja menakuti mereka.


Saat Melyan semakin dekat ke pintu masuk gua, kegelisahan Melyan semakin kuat.


"Martin, apakah kamu percaya padaku?"


Meskipun dia tidak tahu kenapa Melyan tiba-tiba mengajukan pertanyaan seperti itu, Martin tetap mengangguk.


Melyan menarik napas dalam-dalam.


"Nanti setelah mendengar isyaratku, kamu langsung menikamku hingga mati dengan pedangmu."


“Apa?” Martin mengira dia salah dengar. "Menikammu hingga mati?"


"Satu tikaman sudah cukup, jangan terlalu kejam. Yang pastinya kamu harus menikamku, sedangkan kamu ingin menikam dirimu sendiri atau tidak, itu terserahmu." Melyan berkata dengan serius.


Martin ragu-ragu, dia melihat pedang pendek di tangannya, lalu menatap Melyan, dan kemudian menatap terowongan yang gelap.


"Kenapa?"


"Sejujurnya, aku tidak pernah percaya pada indra keenam, tapi sekarang aku tidak punya pilihan selain mempercayainya."

__ADS_1


__ADS_2