Ku Ingin Kau Kembali (Part Anisa)

Ku Ingin Kau Kembali (Part Anisa)
Jika kau ingin pergi ... kau ku bebaskan!.


__ADS_3

Malam ini seperti biasa, Nisa menunggu suaminya pulang, sudah hampir tiga bulan ini Andra selalu pulang larut malam, bahkan tidak pulang sama sekali.


Pria ini sangat jauh berbeda dari ketika mereka pertama kali menikah, Andra dulunya seorang suami yang pengertian dan penuh tanggung jawab, dia sangat mencintai istri dan anak-anaknya, tapi ... semenjak setahun terakhir, sikap Andra mulai berubah, dia menjadi seseorang yang tak peduli dengan keluarganya, dia menjadi pribadi yang mudah marah, bahkan sering membentak Nisa di depan anak-anak mereka hanya karna kesalahannya yang kecil. Namun Nisa berusaha menerima semua peelakuan buruk suaminya demi mempertahankan keutuhan rumah tangga mereka. Nisa juga berharap, suatu saat suaminya akan kembali seperti dulu lagi dan menyadari kesalahannya. Tapi sepertinya harapannya sia-sia belaka.


Dan ... semenjak tiga bulan ini, Andra jadi sering pulang larut bahkan tak pulang sama sekali. Jikapun pulang, laki-laki itu seolah-olah enggan untuk bertemu dengannya.


Nisa mempunyai firasat kalau suaminya mempunyai wanita lain, bahkan mungkin sudah menikah dengan seseorang, namun semua dugaan itu ditepisnya. Anisa mencoba berfikiran positif pada suaminya, meskipun hatinya menentang pikiran yang berusaha di pupuknya. Suaminya masih seperti dahulu.


Nisa memang tidak seperti dulu lagi, badannya sudah mulai melar karna kurang terawat, karna dia lebih mengutamakan merawat ketiga putranya dari pada merawat dirinya sendiri. Hal itu tentu saja sangat melelahkan, apalagi mereka tidak mempunyai pembantu sehingga Nisa mengurus semua pekerjaan rumah tangga.


Nisa terpaksa berhenti bekerja saat dia melahirkan anak pertamanya, karna dia tidak ingin melewatkan semua masa pertumbuhan putranya ditangan orang lain. Pemilik perusahaan sangat menyayangkan hal itu, karna Nisa adalah seorang sekretaris yang cakap dan pintar, sehingga bantuannya sangat di butuhkan oleh perusahaan.


Atasannya juga mengatakan kalau dia akan menerima kembali Nisa kapan saja, tapi Nisa tidak berminat untuk itu dan lebih memilih menjadi seorang ibu rumah tangga di bandingkan menjadi seorang wanita karir.


Pukul satu dini hari, Nisa mendengar suara mobil suaminya memasuki halaman, dengan wajah sumringah dia membukakan pintu untuk suaminya, suaminya masuk tanpa menoleh wajahnya sedikitpun, dengan perasaan sedih dia menutup pintu itu kembali.


Dia teringat akan masa lalu, suaminya akan memeluk pinggang rampingnya dan memberikan kecupan mesra dibibirnya saat pulang kantor, tapi ... semua itu kini hanya tinggal kenangan. Akan kah mungkin suaminya kembali lagi seperti waktu dulu?


" Mas ... apa kamu sudah makan? aku sudah menyiapkan makan malam untukmu." Meskipun sudah menduga jawaban sang suami, Anisa tetap bertanya kepada laki-laki itu.

__ADS_1


Andra tak langsung menjawab, dia memandang kesal istrinya, melihat wanita yang mengenakan daster yang hampir mirip dengan buntelan ini. Rambutnya pun di ikat asal asalan. Melihat tatapan Angga, Anisa sedikit salah tingkah karena memperhatikan penampilannya.


" Aku sudah kenyang," jawabnya ketus. Anisa menghembuskan nafas lelah, karena jawaban itu selalu sama. Suaminya sudah kenyang. Makan dikuar kah?


Nisa duduk di sampingnya, tapi Andra langsung berdiri dan masuk ke ruang kerjanya. Nisa hanya terpaku di kursi tersebut. Air matanya jatuh membasahi pipi nya. Hal yang selalu saja terjadi.


Dia tau, Andra akan tidur di ruang kerjanya seperti hari-hari biasanya. hal ini lah yang dilakukannya selama tiga bulan terakhir ini jika dia pulang ke rumah, dia bahkan tidak pernah menyentuh istrinya sama sekali selama tiga bulan ini.


Pagi-pagi sekalipun Andra sudah berangkat ke kantor, sementara Nisa masih sibuk mengurus ketiga anaknya yang masih kecil. Anak pertama berusia 8 tahun sekarang sudah duduk di kelas 3 Sekolah Dasar, Anak ke dua berusia 5 tahun dan masih duduk di taman kanak-kanak . dan si bungsu, masih berusia 2 tahun, setiap hari Nisa akan mengantar jemput anak-anaknya, baik sekolah, maupun latihan karate dua kali seminggu, dan mengantar jemput pergi mengaji setiap sore, sehingga waktunya benar-benar habis untuk mengurus anaknya sehingga tak ada waktu untuk dirinya sendiri. Belum lagi sehabis magrib, biasanya dia akan selalu menyuruh anak-anaknya belajar, dan menemani mereka.


Sebelum suaminya bangun, Nisa telah menyiapkan pakaian untuk suaminya setelah berganti pakaian dan tanpa menyentuh makanan dia meninggalkan rumahnya. Sepertinya rumah mereka hanya tempat singgah sementara bagi Andra.


Nisa sekali lagi murung, hatinya terasa perih atas perlakuan suaminya, andaikan bukan karena anak-anak mereka, mungkin dia akan mengalah atas pernikahan ini, tapi ... demi ketiga buah hati mereka dia menahan semuanya.


Anisa tak ingin anak-anaknya mempunyai orang tua yang tak lengkap, tapi jika seperti ini , bukankah hal itu sama saja?. Ke tiga anaknya seolah-olah telah kehilangan sosok sang ayah.


Malam hari ini, Andra pulang cepat, Nisa melihat mobil suaminya masuk pekarangan, dengan berlari dia membuka kan pintu, tapi alangkah kagetnya ketika dia melihat suaminya sedang menggandeng seorang wanita yang cantik dan seksi, wanita itu mengenakan rok mini dan baju yang hampir memperlihatkan belahan dadanya. Dada Nisa bergemuruh, seolah -olah ada sebuah gunung berapi yang akan meletus dalam dirinya .Tapi mulutnya terkunci, tidak bisa mengeluarkan amarahnya.


Wanita itu memandang jijik kepadanya, apa lagi saat itu Nisa masih belum membersihkan diri, dan dia benar-benar berbau bawang.

__ADS_1


"Siapa wanita ini? Apa dia pembantumu?" Andra menyeringai mendengar perkataan wanita itu.


"Hahmm dia istriku ... " jawabnya kesal.


" Oh ... pantas saja ... kau lebih suka menghabiskan malam bersamaku," jawab wanita itu dengan nada manja sambil membelai pipi Andra. Andra memegang tangan wanita itu dan menciumnya.


Nisa benar-benar kehilangan kesabaran melihat ulah mereka, seperti Babi yang terluka dia mengamuk, ingin menghajar wanita itu, tapi sayang, suaminya malah melindungi perempuan sial itu, dan mendorongnya begitu keras, sehingga dia terduduk di lantai, ketiga buah hatinya berlari mengejarnya, memastikan ibu mereka baik-baik saja.


Elang anak tertuanya merasa geram atas perlakuan ayahnya kepada ibunya. Rasanya dia ingin menghajar laki-laki bajingan ini. Tapi bocah itu selalu ingat nasehat sang ibu, bahwa melawan pada orang tua adalah dosa besar.


Kemudian dia menarik tangan ibunya seolah-olah menyuruhnya berdiri, dengan air mata yang masih membasahi pipinya, Nisa mengikuti putra sulungnya.


" Jika kau ingin pergi ... kau ku bebaskan," kata Andra. Perkataan itu terdengar seperti dia telah di jatuhi talak oleh suaminya.


Jika kau masih ingin tinggal di sini ... kau harus bisa menerima istri keduaku," kata Andra.


Perkataan itu terdengar seperti petir yang menggelegar di siang bolong, dia benar-benar sudah tamat.


_______________________________________

__ADS_1


__ADS_2