Ku Ingin Kau Kembali (Part Anisa)

Ku Ingin Kau Kembali (Part Anisa)
Bagian 10


__ADS_3

" Sama-sama ... " jawab Aditya lalu menyantap makanannya.


.......


Mereka kembali ke kamar masing-masing.


Aditya saat ini merasa amat gembira, dia tak pernah segembira ini , perempuan yang dulu dicintainya sekarang kembali berada di sisinya. Kadang kala dia berfikir dia amat bodoh, mencintai seorang wanita bertahun-tahun, tanpa pasti akan terbalaskan, tapi dia merasa Nisa pantas untuk di cintainya seperti itu.


Disaat orang lain menjauh darinya, Nisa malah mendekat, disaat orang lain menjatuhkannya, Nisa membuatnya bangkit, disaat orang lain merendahkannya, Nisa mengangkatnya, Disaat orang lain mengolok-oloknya, Nisa melindunginya, dia tidak tau apa yang akan terjadi padanya seandainya Nisa tidak hadir dalam hidupnya. Andaikan dia masih seperti dulu, mungkinkah ada seseorang yang akan membelanya seperti Nisa?.


Jadi ... dia benar-benar tidak bisa menggantikan Nisa dengan wanita yang datang padanya setelah dia berubah seperti sekarang.


Satu hal yang disesalkannya, dia tidak sanggup mengungkapkan perasaan nya saat itu sehingga Nisa direbut laki-laki lain.


...


Sementara itu, Nisa sedang bingung di kamarnya, dia tidak tau meski berbuat apa pada Aditya, dia memang mengakui, Aditya saat ini memang sangat mempesona, tapi mereka benar-benar tak kan mungkin bersama karna statusnya saat ini.


Dia takut hubungan mereka nantinya akan mendapat banyak tantangan, terutama dari keluarga Aditya, dia tidak mau di kira wanita yang tak tau diri karna berhubungan dengan seorang pria yang sangat jauh berbeda darinya.


Dia telah merasakan sakitnya hubungan yang tak direstui. Orang tua Nisa tak merestui hubunganya dengan Andra, tapi Nisa tetap keras kepala ... sampai akhirnya dia diancam akan di coret dari daftar ahli waris meskipun dia anak semata wayang dan dia tidak menerima sepeser pun dari harta orang tuanya yang tergolong cukup banyak. Dia tetap pada pendiriannya.


Disaat masalah melanda keluarganya, Nisa tak sanggup untuk menghubungi orang tuanya untuk meminta bantuan, meskipun kedua orang tuanya telah memaafkannya sejak kelahiran Elang, anak pertamanya, tapi dia tidak berani untuk memintai bantuan kedua orang tuanya dia terlalu malu untuk itu.


Nisa tak ingin Aditya akan mengalami nasib yang sama dengannya karna bersaman mereka. Sudah jelas pasti, kedua orang tua Aditya tak akan mau menerimanya sebagai menantunya meskipun kedua orang tua Aditya baik dan ramah, mereka tak akan mau menikahkan putranya dengan wanita yang tidak sederajat, apa lagi dia sudah menjadi janda dan punya anak tiga.


Andaikan saja dia masih bersama orang tuanya mungkin status mereka akan sama, tapi sekarang, dia tidak punya apa-apa.


....

__ADS_1


Pagi itu, mereka telah berada di ruang meeting, Aditya meminta Nisa untuk mempresentasikan proposal yang di buatnya. meski Nisa telah lama vakum, tapi dia tidak kehilangan kemampuannya, kemampuannya yang terpendam selama ini timbul kembali, dia merasa sangat senang, begitu juga dengan Aditya yang merasa takjub dengan kemampuan Nisa. Wanita ini benar-benar menyia-nyiakan bakatnya selama ini, pantas saja ayahnya menerima Nisa kembali dengan senang hati untuk bekerja di perusahaan mereka setelah sekian tahun berhenti.


....


Setelah beberapa saat, akhirnya mereka berhasil mendapatkan tender yang cukup besar itu, dengan senyum bahagia, Aditya mengangguk pada Nisa, wanita itu pun membalas dengan senyuman.


...


"Nisa  .. ternyata kau hebat juga, aku bahkan hampir tak bisa menjawab pertanyaan itu tadinya ... untung saja ada kamu," kata Aditya menatap kagum pada wanita didepannya. Mendapat tatapan seperti itu, Nisa sedikit malu dan grogi.


"Terima kasih Pak" Jawab Nisa singkat.


"Ayahku pasti akan sangat senang jika mengetahui kita berhasil mendapatkan proyek ini. " Kata Aditya lagi.


" Mudah-mudahan Pak," jawab Nisa. Masih jawaban singkat. Aditiya menghela napas lelah. 'Bapak' lagi-lagi panggilan itu yang keluar dari mulut wanita ini. Entah bagai mana membiasakan Nisa dengan panggilan lain selain Bapak. Aditiya, kan enak. Atau jika mau bisa memanggilnya dengan 'Mas' atau ... 'sayang'. 'Adit ... jangan terlalu banyak berharap' Aditiya terdiam beberapa saat karena perang batin.


"Nisa ... bisakah kau hanya memanggil namaku?" Pinta Aditya lagi.


"Maaf ... " jawab Nisa singkat.


"Maaf untuk apa?" kata Aditya tidak paham.


"Ku rasa ... kita tak mungkin bisa bersama, aku hanya akan menjadi masalah untukmu," jawab Nisa sedih.


"Ku pastikan kau tak akan menjadi masalah untukku. " Jawab Aditya.


"Ku mohon ... panggil aku seperti dulu lagi ... aku merindukan panggilan itu," kata Aditya penuh harap.


"Baiklah ... jika di luar kantor, aku akan memanggil namamu, " jawab Nisa.

__ADS_1


Aditya tersenyum lega mendengarnya.


"Apa kita pulang hari ini?" tanya Nisa lagi.


"Kau bertanya pada siapa? "Celetuk Aditya, sehingga membuat Nisa cemberut, melihat itu, Aditya menaikkan alisnya seolah meminta jawaban.


"Adit ... kita pulang hari ini?" Ulang Nisa. Seulas senyum menghias bibir Adit. Hanya sesaat. Kemudian wajahnya kembali datar.


"Tidak ... kita akan pulang besok" jawab Aditya santai. Spontan nisa melotot mendengar perkataan Aditiya


"Bukannya sudah selesai? " tanya Nisa heran. Perempuan ini protes dengan keputusan Aditiya.


"Aku masih ingin bersamamu!" Jawab Adit dengan pandangan sayu.


Nisa sedikit gugup dengan pandangan Aditya, dulu dia sering menerima tatapan seperti itu dari suaminya, tapi hampir dua tahun ini, pandangan itu mulai berkurang, dan setahun terakhir, pandangan itu benar-benar hilang dan berubah menjadi pandangan penuh kejengkelan.


"Kau kenapa? " tanya Adit saat melihat Nisa terdiam.


" Tapi ... aku tak bisa, aku masih terikat dalam status pernikahan," jawab Nisa.


"Bukankah dia telah menjatuhkan talaknya padamu? kau pernah bilang dia akan membebaskanmu jika kau ingin pergi, jika dalam tiga bulan ini kalian tidak rujuk, secara agama kalian telah sah bercerai," kata Adit, tapi Nisa hanya diam. lalu Aditya melanjutkan pertanyaannya ". Apa kau ingin kembali padanya? " mendengar pertanyaan itu Nisa segera menggelengkan kepalanya, sepertinya dia begitu syok. Perasaan lega menghinggapi hati Aditiya. Hanya sedikit. Aditiya masih khawatir jika suatu saat hati Nisa akan kembali luluh menerima suaminya.


"Aku ingin bersamamu beberapa saat lagi, jadi kita akan pulang besok pagi. lagi pula kemarin aku mengatakan akan membawamu selama tiga hari kan? ini baru hari ke dua. " kata Aditya lagi.


"Adit .. ku mohon ... aku tak bisa lama-lama meninggalkan putra-putraku." kata Nisa memelas. Nisa benar-benar khawatir dengan keadaan ketiga putranya di sana. Selama ini Nisa tak pernah meninggalkan buah hatinya dalam waktu lama. Tapi saat ini, mereka bahkan tak serumah hampir sebulan.


Aditya memandangnya dengan sayu.


"satu hari saja, aku ingi bersamamu sehari lagi, aku tak akan berbuat macam-macam," kata Aditya lagi.

__ADS_1


Entah kenapa dia menerima permintaan itu.


'Apakah ini bisa dikatakan selingkuh? ' Batinnya cemas.


__ADS_2