
Elang menarik ibunya ke kamar, Nisa duduk menangis di atas tempat tidur itu, ketiga anaknya memeluknya erat, si bungsu yang masih belum mengerti apa-apa, hanya berdiri memandang sedih ibunya. Bocah itu masih belum paham apa yang terjadi, namun di sadar, sesuatu yang tak baik sedang menimpa sang Ibu. Ibunya tidak baik-baik saja pada saat ini.
Tiba-tiba Andra masuk, perempuan itu masih saja terus menempel padanya laksana lintah. Laki-laki itu menatap istrinya tajam dan berkata ...
"Bisakah kau pindahkan semua barang-barangmu kebelakang? kami akan tidur di sini, kau tak butuh kamar yang luas," katanya dengan nada mengejek. Bahu Anisa semakin luruh mendengar perkataan pria yang menjadi kekasih pertamanya ini. Perempuan ini tak menyangka kata-kata itu keluar dari bibirsang suami.
"Apa katamu? teganya kamu mas ... kau mencampakkan istrimu demi perempuan ini?" katanya dengan nafas yang sesak, tubuhnya mengigil menahan amarah.
"Kau jangan lupa, dia juga istri sahku," Kata Andra dengan nada sinis. Mendengar itu, mata Anisa seketika melotot kaget
"Kapan aku memberimu izin menikah lagi?" Anisa berkata setengah berteriak. Mendengar itu, Andra tersenyum sinis seraya berkata.
"Apa kau tidak ingat kau pernah menanda tangani surat yang ku berikan?. Itu adalah surat persetujuanmu untuk dimadu," jawab Andra dengan nada kemenangan. Sementara perempuan disamping Andra menyunggingkan senyum mengejek.
Nisa terduduk, dia tidak menyangka surat yang di berikan suaminya tiga bulan yang lalu adalah awal dari kehancuran rumah tangga mereka. Nisa menanda tangani sebuah kertas yang disodorkan suaminya. Nisa tidak sempat membaca surat tersebut karena saat itu Nisa sedang kewalahan menenangkan sibungsu yang rewel karena demam. Jadi, tanpa pikir panjang, Nisa menanda tangani kertas tersebut tanpa membaca isinya, atau menanyakan isi kertas tersebut pada sang suami.
"Tapi kau tidak mengatakan padaku," kata Anisa sambil menangis.
" Kenapa kau tidak membaca nya sebelum menanda tangani? itu semua salahmu," jawab Andra. Tak ada sedikitpun wajah penyesalan di sana.
Nisa terdiam, dia tidak menyangka suaminya akan memanfaatkan kepercayaannya.
"Sekarang, silahkan kau pindah kebelakang!" kata Andra dengan nada pengusiran.
Nisa tak bisa menahan hatinya ketika melihat wanita itu menyeringai mengejeknya. Tanpa diduga, dia langsung menjambak rambut wanita itu dan meremas lengannya, sehingga meninggalkan goresan di tangannya. Perempuan itu kaget dengan ulah nisa yang mendadak brutal, sehingga hanya bosa meringis menahan sakit d kepala dan lengannya.
Melihat pujaan hatinya terluka, Andra meradang, dia menampar Nisa sehingga Nisa itu terdiam. Senyum kemenangan kembali terukir di bibir perempuan yang sedang dalam pelukan Andra. Laki-laki itu memeriksa kondisi kekasihnya dan menatap tajam sang istri ketika menemukan goresan di lengan sang kekasih.
__ADS_1
Kemudian Andra menyeret Nisa keluar rumah dan menutup pintu, ketiga anaknya berteriak memanggil ibunya, tapi Andra dengan cepat menahan mereka dan menyeret mereka ke kamar dan mengunci pintu kamar itu. Andra tak mempedulikan teriakan dan tangisan ketiga buah hati mereka memanggil sang ibu. Laki-laki itu sepertinya telah dikuasai oleh cinta buta pada istri keduanya sehingga tidak menghiraukan perasaan keetiga buah hati mereka. Tanpa sadar, Andra telah melukai mental sang anak, terlebih Elang, putra sulung mereka yang telah paham hal apa yang menimpa keluarga mereka.
Perempuan itu sedikit kesal karna Andra tidak membiarkan ke tiga anak itu mengikuti ibunya. Padahal dia berharap, Andra akan mengusir semua anaknya bersama Nisa agar dia bisa leluasa memilingi Andra seutuhnya. Namun untuk saat ini, dia tidak akan membantah keputusan pria tersebut
Nisa menangis di luar rumah, meminta jika dia harus pergi, biarkan dia membawa ketiga anak mereka. Mendengar tangisan Nisa, Andra malah menatapnya remeh sambil berkata.
"Dengan apa kau akan memberi makan mereka?" tanya Andra sombong sambil melempar beberapa lembar uang seratus ribuan padanya.
Anisa merasa sangat terhina, tapi untuk saat ini dia benar-benar membutuhkannya untuk bertahan hidup, tapi karna egonya, dia tidak mengambil uang itu.
Akhirnya dia juga menyadari akan kemampuannya. Jangankan untuk makan, kemana dia akan membawa dirinya malam ini saja dia tidak tau. Tapi dia tidak akan tenang dengan keadaan ini, apa yang akan di lakukan wanita itu pada ketiga anaknya terlebih si bungsu masih sangat membutuhkan dirinya. Akhirnya Nisa mengalah, dia berfikir untuk membiarkan ketiga buah hatinya bersama Andra dan suatu saat akan membawa mereka jika hidupnya sedikit stabil.
Dia tidak tau akan kemana malam ini, dia melihat kearah jendela kamarnya dan melihat bayangan suaminya sedang memeluk wanita itu, dan mereka tertawa penuh kemenangan.
Akhirnya dia melangkah pergi, tanpa tujuan, jika nanti terjadi sesuatu pada putranya, dia tidak akan pernah memaafkan mereka dan juga dirinya sendiri.
Tiba-tiba dia ingat seseorang yang mungkin akan dapat membantunya, Aura, wanita itu adalah sahabat karibnya dari dahulu, dan dia masih mengingat jelas nomor ponsel temannya itu.
Marbot mesjid yang dari tadi memperhatikannya mendekat.
"Ada apa bu Nisa?" tanyanya cemas.
"Suami saya menikah lagi, dan mengusir saya dari rumah"
Sebenarnya dia tidak ingin menceritakan masalah keluarga nya pada siapapun, tapi batinnya amat tertekan.
"Pak, bisa tolong perhatikan anak-anak saya? Saya tidak di izinkan membawa mereka," katanya sedih.
__ADS_1
" Baiklah Bu ... akan saya lihat-lihat," jawab Bapak itu prihatin.
"Sekarang ... kemana ibu akan pergi?"
"Ada seorang teman yang saya yakin dia bisa membantu, tapi saya tidak punya ponsel untuk menelfonnya."
" Ini ... pakailah!" kata Bapak itu sambil menyodorkan HP nya.
"Terima kasih, Pak!" Anisa sangat bersyukur.
Nisa menelfon sahabatnya, perempuan itu sangat prihatin dan akan menjemput Nisa ke mesjid itu malam itu juga, meskipun dia harus menempuh perjalanan satu jam lebih dari rumahnya.
Waktu pertama kali melihatnya, Aura kaget melihat Nisa, bagaimana mungkin, Nisa yang modis dan elegan bisa berubah seperti ini.
" Ternyata ... " kata Aura geleng -geleng kepala.
Begitu sampai di rumahnya, Aura langsung menarik Nisa ke kamarnya, dia menunjukkan foto Nisa sepuluh tahun yang lalu bersama dirinya, yang dibingkai cantik menghiasi dinding kamarnya.
"Apa kau tau siapa dia? " tanya Aura lagi.
"Jika kau seperti ini, dia tak akan mencampakkanmu."
"Tapi waktuku untuk mengurus ketiga putraku lebih penting dari pada mengurus diriku."
"Kau salah, mengurus dirimu juga penting, jika tidak, ini akibatnya. Mulai sekarang, aku akan membantumu merebut suamimu kembali"
"Aku tak menginginkan laki-laki itu lagi, Aku hanya menginginkan anak-anakku" katanya dengan emosi yang tertanam di setiap katanya.
__ADS_1
______________________________________