
Satu tahun kemudian..........
Setahun telah berlalu tapi Elsa masih saja terus dihina, bahkan sekarang bukan hanya dihina saja terkadang dia sering mendapatkan pukulan, caci makian,bentakan bahkan yg lebih parahnya lagi sekarang dia dianggap sebagai pembantu dirumahnya sendiri tapi Elsa hanya bisa bersabar,mungkin ini adalah ujian yg harus dihadapi nya,akan tetapi seberat itukh ujian yg harus dihadapinya??.
Seperti sekarang,saat ini dia berada ditengah2 keluarga nya yang sedang berkumpul ,dengan posisi kepala menunduk dan tangan bergetar.
"Apa kamu tau berapa harga baju saya ini ha?!"bentak Susi .
"Maafkan aku Tante aku gak sengaja"jawab Elsa lirih
Susi tertawa sinis" hh maaf kamu bilang??emang maaf kamu itu bisa buat baju saya kembali ha?!"bentaknya lagi.
Susi melemparkan pakaian yg hangus karena setrika didepan muka Elsa,mereka yg melihat kejadian tersebut hanya ketawa puas dan sinis karena ini merupakan tontonan yg sangat luar biasa bagi mereka, kecuali Linda yg hanya bisa melihat dengan mata berkaca2.
__ADS_1
Elsa hanya bisa menunduk kan kepalanya sambil menangis pelan.
"He ngapain kamu menangis?? Emang air mata kamu itu bisa membuat baju saya kembali lagi??air mata kmu itu cuma air mata buaya yg membutuhkan belas kasih"kata Susi sambil mendorong kepala Elsa keras setelah itu ia menarik rambutnya yg ditutupi hijab dengan sangat kuat.
"Aww sakit Tante ,tolong lepasin Tante, Elsa mohon hiks"kata Elsa yg menangis pilu sambil terisak.
"Sakit kamu bilang??makan ni sakit, makan2"jawab Susi seraya mengeratkan tarikan rambut Elsa.
"Makanya kamu itu jangan macam2 sama saya,kamu itu cuma pembantu disini,PEM.BAN.TU ngerti??"lanjut Susi sambil melepaskan tangannya dari rambut Elsa dengan kasar sehingga menyebabkan kepala Elsa terdorong.
"Apa salahku kepada kalian sampe kalian tega memperlakukan ku layaknya seperti tamu yg tidak diundang??"kata Elsa lirih sambil berlinang air mata.
"Selama 16 tahun aku hidup, aku sama sekali tidak pernah mendapat kan kasih sayang yg selayaknya aku dapatkan"lanjutnya lirih.
__ADS_1
"Heh gak usah drama deh Lo ,gak usah pura2 bego,Lo itu udah ngerusak pakaian Tante Susi,masih mau ngeles lo? , iya?"kata Cindy bernada sinis kearah Elsa.
Elsa tersenyum miris"aku merasakan siksaan ini bukan hanya sekali Cindy,aku merasakannya sudah beribu ribu kali,saat aku melakukan kesalahan sedikit saja aku sudah disiksa layaknya aku sudah melakukan dosa yg sangat besar,bahkan siksaan ku ini lebih menyakitkan dibanding siksaan para pembantu"kata Elsa dengan derai air mata yg bertambah deras.
"Aku pernah bertanya kepada diriku sendiri,knp aku selalu mendapatkan siksaan dan hinaan??apakh aku pernah bersalah??atau aku bukan anak kandung keluarga ini??aku diperlakukan layaknya sampah yg harus dibasmi, hiks... hiks...hiks"kata Elsa sambil terus menangis terisak.
Orang2 yg berada disekitar mendadak bungkam mendengar kata2 elsa,para pembantu yg ikut menyaksikan kejadian tersebut menangis ,seperti ikut merasakan penderitaan sang nona,mereka selama ini sering melihat Elsa disiksa oleh keluarganya sendiri, mereka merasa salut kepadanya yg walaupun sering mendapatkan siksaan dan hinaan ia tetap bersabar dan bertahan,jika orang lain yg ada diposisi Elsa mungkin mereka sudah pergi meninggalkan rumah yg bagaikan neraka bagi mereka,mereka pernah sempat bertanya kepada Elsa ,knp dia tidak pergi saja dari rumah ini??tapi Elsa selalu menjawab"selagi aku masih bisa bertahan aku akan tetap bertahan"begitu lah kata2 dari seorang gadis yg berhati mulia seperti Elsa.
Linda yg melihat itu hanya menangis dalam diam sambil menutup mulutnya agar isakannya tidak keluar,karna memang posisi Linda berada di belakang sehingga dia tidak terlalu diliat.
"Lo mau tau knp selama ini kita selalu nyiksa Lo dan knp kita benci banget sama lo??"jawab Winda angkat suara.
Elsa hanya diam sambil terus menatap Winda dengan derai air mata nya sedari tadi,Winda tau arti tatapan Elsa yg seolah-olah mengatakan iya.
__ADS_1
"Karna Lo itu jelek ,Lo itu aib dikeluarga ini,dan kita gak mau keluarga ini dipermalukan gara2 kejelekan Lo,makanya selama ini kita selalu nyiksa Lo"lanjut Winda dengan tatapan sinis nya.