
[22]•H͟a͟k͟i͟m͟ v͟s͟ T͟e͟r͟s͟a͟n͟g͟k͟a͟
Alkisah terdapat kasus pembunuhan, seorang pria yang dengan sadisnya membantai seorang nenek di kereta, kasus ini sudah mencapai tahap pembuktian di pengadilan.
Namun hakim hingga detik ini belum mampu mencari tau alasan kenapa pria ini membunuh nenek tersebut.
Hakim: “Tolong saudara jawab dengan jujur, kenapa sodara sampai tega membunuh nenek yang tidak bersalah itu? Anda orang kaya dan tidak ada indikasi mencuri, Dan dari data yang kita punya, anda pun tidak pernah dendam kepadanya…”
Tersangka: “Ceritanya begini pak, waktu itu saya dari Jakarta akan berangkat ke Surabaya dengan menggunakan kereta api, saya naik kereta satu gerbong dengan nenek itu. Saya duduk di dekat jendela & nenek itu berada tepat di sebelah saya.
Setelah kereta melewati pemberhentian pertama, datanglah pria yang akan memeriksa karcis kami.
Nenek itu lebih dulu dimintai karcis, kemudian nenek itu mengeluarkan tasnya yang besar dan di dalam tasnya yang besar dia mengeluarkan tasnya yang kecil dan di dalam tasnya yang kecil dia mengeluarkan dompet yang besar dan di dalam dompet yang besar dia mengeluarkan dompet yang kecil dan di dalam dompet yang kecil ada dompet tangan dan di dalam dompet tangan ada karcis kereta tersebut dan dikasihlah kepada si pemeriksa karcis, kemudian si pemeriksa karcis mendatangi saya dan saya berikanlah langsung karcis saya tersebut.
Kemudian tidak lama setelah pemberhentian pertama kereta kembali berhenti di pemberhentian kedua. Lagi-lagi di sana hadir pemeriksa karcis, nenek itu kembali didatangi lebih dulu dan kemudian dia mengeluarkan tasnya yang besar dan di dalam tasnya yang besar dia mengeluarkan tasnya yang kecil dan di dalam tasnya yang kecil dia mengeluarkan dompet yang besar dan di dalam dompet yang besar dia mengeluarkan dompet yang kecil dan di dalam dompet yang kecil ada dompet tangan dan di dalam dompet tangan ada karcis kereta tersebut dan dikasihlah kepada si pemeriksa karcis, kemudian si pemeriksa karcis mendatangi saya dan saya berikanlah langsung karcis saya tersebut.
Setelah 30 menit kemudian, kereta kembali berhenti untuk pemberhentian ketiga. Dan lagi-lagi datang si pemeriksa karcis, nenek itu kembali didatangi lebih dulu dan kemudian dia mengeluarkan tasnya yang besar dan di dalam tasnya yang besar dia mengeluarkan tasnya yang kecil dan di dalam tasnya yang kecil dia mengeluarkan dompet yang besar ada domp….”
Hakim: PLANNKK!! *mengetuk palu*:”Tolong ya! Saya mohon sodara lebih serius sedikit di pengadilan in! angan main-main ya!!”
Tersangka: “#?!%”*@#&% Tuh kaan… Baru sampe stasiun ketiga aja pak hakim udah sewot!! Saya sampai Surabaya Pak! Surabayaaaa…. !!”
Hahaha, wkwk…
__ADS_1
\[23\]•S͟a͟u͟d͟a͟r͟a͟ K͟e͟m͟b͟a͟r͟
Tono mempunyai sebuah perahu dayung yang sudah sangat tua. Kok kebetulan suatu hari istrinya si Tino itu meninggal bersamaan dengan hari tenggelamnya perahu dayung si Tono itu. Beberapa hari kemudian seorang wanita tua melihat Tono, dan secara tidak sengaja salah mengenalinya sebagai Tino yang kehilangan istrinya itu. Kata wanita itu kepada Tono,
“Saya turut sedih atas kehilangan anda. Anda pasti merasa sedih.”
“Sebenarnya sih saya bisa dibilang malah senang karena bisa menyingkirkannya. Dia sudah amat tua sekali bahkan sudah jelek dari pertama kalinya. Bagian bawahnya sudah lapuk dan berbau amis sekali. Bagian punggungnya pun sudah sangat jelek dan lubang di bagian depannya sudah sangat lebar. Setiap kali aku menggunakannya, lubangnya bertambah besar dan dia bocor tidak karuan.
Saya kira yang mengakhirinya adalah ketika saya menyewakan dia kepada 4 orang pemuda yang sedang bersenang-senang tempo hari. Saya sudah memperingatkan mereka bahwa dia sudah tidak begitu enak dipakai tapi mereka masih juga mau menggunakannya. Mereka berempat mencoba masuk ke dalam bersamaan dan akhirnya dia terbelah persis di tengah- tengah.”
__ADS_1
Wanita tua itupun pingsan.
[24]•P͟e͟n͟g͟a͟n͟t͟i͟n͟ N͟g͟e͟b͟u͟t͟
Seorang petugas polisi di kota kecil menghentikan seorang pengendara sepeda motor yang kedapatan ngebut di jalan utama kota.
“Tapi Pak,” kata pria pengendara motor itu, “saya bisa menjelaskan alasannya.”
“Jangan banyak omong,” bentak polisi itu. “Saya akan menahan kamu sampai Kepala Polisi datang.”
“Tapi, Pak, Anda harus dengar saya dulu. Saya …..,” coba menyela pembicaraan.
“Sudah kubilang jangan banyak omong! Kamu akan segera saya masukkan ke dalam tahanan!”
Beberapa jam kemudian, polisi itu menengok kembali tahanan tersebut dan berkata, “Kamu sangat beruntung, karena hari ini Kepala Polisi sedang menghadiri pernikahan putrinya. Hatinya pasti senang saat dia kembali ke sini nanti.”
“Jangan harap,” jawab pria tersebut dari dalam tahanan. “Saya adalah pengantin prianya.”
****
𝚂𝚎𝚖𝚘𝚐𝚊 𝚃𝚎𝚛𝚑𝚒𝚋𝚞𝚛( ͡° ͜ʖ ͡°).....
__ADS_1