KUTANG GANTUNG

KUTANG GANTUNG
NASIB SEPERTI KUTANG GANTUNG


__ADS_3

Pernikahan Mirna dan Herman ternyata membawa petaka bagi Dara. Baru tadi pagi. Ardi menghujam miliknya. Bahkan rasa sakit itu belumlah tuntas. Kini pada malam hari, Dara harus dihujam lagi oleh ayahnya sendiri.


Panas dingin sekujur tubuh Dara yang menahan rasa sakit pada miliknya. Matanya tak sanggup membuka melihat kebejatan sang ayah.


“Ayah. Sudah, ayah sakit! Sakit!”


“Ah, kamu ternyata lebih enak, Dara. Kalau begini, ayah jadi ketagihan,” desis  Herman di tengah gerakan cepatnya.


Kembali warna merah itu menyapa seprai milik Dara. Dan milik Dara pun berdenyut hebat menahan rasa sakit luar biasa. Peluh lelah itu kembali mengucur dari sekujur tubuh Dara.


“Haha, ayah merasa puas. Dara. Mulai sekarang kamu harus melayani ayah setiap malam, oke sayang. Dan satu lagi … jangan coba-coba mengadu pada ibumu. Kalau tidak, ayah akan membuat hidup ibumu lebih mengerikan dari Farhan.” Herman mengecup kening Dara yang meringkuk kesakitan.


Suara pintu kamarnya yang menutup, memberi aba-aba pada tangis Dara untuk segera menumpah. Isakan lirih dan sedih itu kembali terdengar.


“Apa Dara ini, Ibu ? kenapa jadi begini? Hik hik hik,” isak Dara.


Kamar gelap malam itu seakan menggambarkan masa depan Dara yang sudah hancur. Hancur sehancur-hancurnya oleh ayah dan kaka tirinya. Ruanya sejak awal, Ardi memang diam-diam memiliki keingin lain pada Dara. Bukan sebagai saudara melainkan sebagai sosok pria dan wanita.


Namun tidak disangka juga, ternyata Herman pun lebih gila lagi. harta Mirna memang menjadi sasaran empuk Herman, tetapi sekarang, jiwa mesumnya yang liar menuntut hal yang lebih bejat lagi. Tidak perduli Dara itu siapa, yang jelas bagi Herman, harta dan birahi adalah kebutuhannya.


Sejak saat itu, Dara harus melakoni dua percintaan. Paginya dia harus melayani Ardi di atas ranjang. Dan tengah malam ia harus melayani Herman.

__ADS_1


“Ini pil KB. Minum. Ntar lo bunting lagi sebelum tamat sekolah,” kata Ardi yang melepar obat ke sisi tempat Dara yang meringkuk menyembunyikan air matanya. Adalah hal yang biasa ditemukan Ardi ketika ia selesai meniduri gadis belia itu. Tapi apa perdulinya, yang penting kebutuhan biologisnya tersalurkan. Dia tidak perlu mengeluarkan uang jajanya hanya untuk membeli pelacur. Kini adik sambungnyalah yang dijadikan pemuas nafsunya. Pikiran yang sama pula tercipta dalam otak Herman.


“Terima kasih ya Dara. Kamu anak yang baik,” ucap Herman mengusap ujung kepala Dara setelah lelaki itu selesai menggauli Dara. Tetes air mata menjadi pengantar akhir dari pergelutan birahi yang dilakoni Dara pada kedua pria itu.


Dua minggu, semua itu berlangsung lama. Hingga kini, Dara sudah tidak tahan lagi dan mencoba menyelamatkan diri dari kedua pria itu.


“Ra! Dara!” panggil Deno, sahabat Dara satu-satunya di sekolah. Lelaki itu tampak berlari mengejar Dara yang pura-pura tak mendengar panggilannya.


Sosok Deno, pemuda seusia Dara yang sangat tampan dan kutu buku. Namun sayang dia kalah finansial dari Dara. Deno anak lak-laki dari keluarga bersahaja. Orang tuanya hanyalah seorang pekerja buruh pabrik. Bisa dikatakan, Deno pun bergantung uang jajan pada Dara.


“Dara! Astagfirullah! Lo sejak kapan budek gitu sih, Ra?!” omel Deno di tengah napasnya yang terengah-engah. Dara masih belum merespon.ia tetap saja dengan langkah santai dan tatapan fokusnya.


“Dara! Dara!” Deno mencengokkan kepalanya dan mencoba mengintip wajah Dara yang berjalan mengayuh-ayuhkan kakinya.


“Loh, kok, lo gitu sih, jelas aja gue panggil-panggil, lo nggak nyahut-nyahut dari tadi. Kan gue nggak tahu lo itu dengar apa nggak panggilan gue, emang lo kenapa sih?” Deno memang baik, setia, dan solid sebagai sosok seorang sahabat. Tapi kekuarangannya yang O’on, membuat ia lemah dan tak bisa membantu Dara menyelesaikan masalah gadis itu.


Teringat bagaimana dulu, Dara begitu rutin curhat sama pemuda itu mengenai masalah keluarganya yang selalu bertengkar. Dan mendapat siksaan dari ayah tirinya, Farhan.


“Gue lagi nggak mood, Den. Lo jangan ganggu gue,” ucap Dara mempercepat langkahnya. Deno langsung membatu di tempat. Ia heran, tumben Dara bersikap seacuh itu dan tidak ingin berbagi cerita dengannya. Padahal dulu, serumit apapun persoalan yang dihadapai oleh Dara, ia pasti akan mendengarkan bagaimana gadis itu menangis dan mengomel, melampiaskan kemarahannya pada Deno. Deno sudah biasa dan hafal dengan kebaiasaan sahabatnya tersebut. Tapi kali ini berbeda. Untuk pertama kalinya, Dara tertutup padanya.


“Ra! Dara! Tunggu!” panggilan Deno sia-sia saja. Meskipun ia mengejar, tapi tidak ada gunanya. Di depan sudah ada mobil Ardi yang menjemput. Deno tak menampik, dan juga tak merasa aneh dengan Ardi. Dia tahu, Ardi adalah sosok kakak tiri yang baik bagi Dara. Buktiknya sampai satu minggu lebih sejak ibu Dara menikah lagi, gadis itu tidak pernah mengeluh tentang apapun lagi. Itu artinya, saat ini hidup Dara sudah damai kembali.

__ADS_1


“Masuk!” perintah Ardi. Dara terheran menemukan pemuda itu sudah di depan gerbang sekolah menjemputnya. Ini tak biasa. Karena Dara selalu pulang sendiri dengan taksi atau bus Trans. Dara tidak bisa menyetir. Dulu, saat ibunya belum menikah, ia kerap diantar ke sekolah oleh ibunya. Atau jika ada meeting mendadak, maka Dara akan berangkat dan pulang dengan angkutan umum.


“Tumben kak Ardi jemput?” tanyanya menyusupkan tubuh ke dalam mobil.


“Dah, lo jangan bawel. Diam aja,” ketus Ardi melajukan kendaraan mobilnya.


“Kak Ardi dibelikan ibu mobil ya? Berapa?”


“Kepo sih lo. gue dibelikan oleh siapa, itu bukan urusan lo. yang jelas gue sebagai anak pandai menggunakan duit orang tua, emang lo, yang sampai sekarang nggak bisa nyetir? Udik banget sih lo.” kalimata Ardi langsung membungkam mulut Dara.


Barang kali Ardi benar, Dara tidak terlalu pintar menggunakan uang ibunya. Ia terlalu sayang pada wanita itu, hingga satu sen pun uang yang diterima tak pernah ia permasalahkan. Asal wanita itu bahagia, tenang, baginya itu sudah cukup. Gengsi, gaya hidup, bukanlah prioritas Dara meskipun ia mampu melakukannya.


“Kita mau ke mana. Kak?”


“Gue mau pakai lo. hari ini temen gue ajak pesta ****. Lo adalah pasangan gue.”


“Astagfirullah, kak Ardi! Stop!”


“Ciih, hak apa lo menghentikan gue?! Tugas lo simple … ngengkang doang,” ujar Ardi penuh penekanan.


Terhina, kotor, itulah yang dirasakan Dara di hadapan pemuda itu. Sungguh begitu sangat rendah nilainya di mata lelaki yang berkedok kakak itu. Hubungan macam apa ini? Dia kakak macam apa ini? Semua membuat hati Dara tak berhenti menjerit pilu.

__ADS_1


 


__ADS_2