KUTANG GANTUNG

KUTANG GANTUNG
TERNYATA AYAHKU JUGA TERLIBAT


__ADS_3

Pagi itu, Deno merasa sahabatnya sudah kembali. Seperti biasa, Dara mengajak Deno untuk menghabiskan saat istirahat nanti.


“Den, jam istirahat kita nongkrong di kantin. Gue mau trakti lo. sekalian ada yang mau omongin. Penting.”


“Asiap!” Deno menghentakkan dua jarinya di kening.


Dua sahabat itu kembali memasuki kelas. Sayang baru beberapa menit terlewatkan, tiba-tiba saja Dara ingin buang hajat ke toilet.


“Pak, mohon izin ke toilet!” teriaknya memecah keheningan dalam kelas. Pak Mud yang sedang menulis beberapa materi di papan tulis, memutar tubuhnya dan mengangguk ke arah Dara. Deno hanya menatap datar saja sembari menggelengkan kepala.


Buru-buru Dara berlari menuju lorong toilet. Suasana sekolah pagi itu memang sepi. semua kelas hampir terisi oleh guru masing-masing. Saking terburunya, Dara tidak menyadari keberadaan Ardi yang kebetulan menangkap bayangannya berlari sambil membelit perutnya.


Lelaki itu menyeringai sinis, akhirnya yang dicari sudah tertangkap oleh indera penglihatannya. Ardi celingukan sebentar. Setelah dirasa keadaan aman, ia pun langsung menerobos masuk ke dalam toilet. Dara yang baru selesai dari buang air kecilnya terkejut mendapati pria itu di dalam toilet.


“K … Kak Ar … di?” lirihnya panik. Mata Dara melotot tajam. Dadanya bergetar hebat seiring getaran tubuhnya yang mulai menggigil ketakutan.


“Gue butuh lo sekarang. Buruan!” ketusnya. Dara hanya menggeleng ketakutan menanggapi celotehan Ardi. Sementara lelaki itu semakin mendekat dan mengapit tubuh Dara.


Sudah barang tentu tangan sebelahnya sudah mulai mengangkat rok span Dara.


“Jangan, Kak. Jangan di sini. Ini sekolah, Kak. Nanti ada yang lihat kita.” Dara mencoba menahan tubuh Ardi. Namun bukannya gentar, Ardi semakin melanjutkan aksinya. Seakan tidak perduli dengan omongan Dara.


“Agh gue nggak perduli! Palingan lo yang malu sendiri. Buruan!”


“Nggak, Kak. Dara mohon. Sudah cukup kak Ardi memperlakukan Dara seperti ini. Cukup kak Ardi.” Rintihnya.


“Ooo,sudah bisa ngelawan lo ya sekarang? Lo mau gua permalukan di sini? Hah!”


“Cukup, Kak!” entah keberanian dari mana. Dara berani mengeraskan suaranya di hadapan lelaki itu.

__ADS_1


 “Oouuh, berani lo ya cewek Bitches!” kecam Ardi sembari menggigit.


“Lo nggak kasihan sama nyokap lo di rumah, hah?! Asal lo tahu, bertingkah sedikit saja, sepulang lo dari sini, lo akan menemukan mayat nyokap lo.” kalimat ancaman itu terdengar lagi. Dalam hati sebenarnya Dara sangat takut jika Ardi membenarkan kata-katanya itu. Tetapi ia harus tetap menunjukkan sikap pemberaninya. Ia tidak boleh menciut hanya karena ancaman itu. Ya, itu hanya ancaman. Jika ia menyerah sekarang maka selamanya lelaki berengsek ini akan semakin semena-mena kepadanya.


Mata Dara berkaca-kaca. Tumpukan air mata dengan sorot gentarnya masih menampil apik di hadapan Ardi. Sudah tidak ada lagi toleransi kali ini. Semua harus dihadapi meskipun sulit.


“Sebenarnya apa yang kak Ardi inginkan dari saya? Katakan! Apa hanya tubuh saya? Atau kehidupan saya?” suara getir Dara. Ardi terkekeh mengejek.


“Hehehe, memangnya apa yang diharapkan dari cewek miskin dan bolong seperti lo, hah?! Lo itu cuma sampah buat gua. Sampah yang sudah gua mainkan.”


“Sampai kapan, Kak? Sampai kapan baru kakak akan berhenti?”


“Sampai gua bosan! Dan sampai waktu itu tiba, lo adalah milik gua. Siapapun nggak boleh menyentuh lo sedikitpun.”


Sekali lagi Dara merasa dihina dan dilecehkan. Harga dirinya seketika jatuh di tangan pria itu. Dengan begitu mudahnya lelaki itu menjadikan dirinya sebagai pelampiasan nafsu semata.


Rahang Dara terkatup. Ingin rasanya detik ini ia meninju mulut lelaki di hadapannya itu. Ardi memang tampan, namun sayang ketampanannya tidak selaras dengan prangainya.


Sekali hina maka akan selamanya ia berkubang dalam kehinaan itu.


“Apa maksud perkataan lo itu, hah? Emangnya lo punya cowok? Katakana! Siapa si berengsek itu?!” Ardi mengapit kasar pipi Dara. Membuat gadis itu meringis kesakitan. Tidak hanya itu, matanya menyala tajam kea rah Dara. Kontras sekali kalau ia tidak suka ada orang lain yang menyukai Dara.


Antara suka atau hanya obsesi semata, sikap Ardi sulit untuk ditebak.


“Sakit kak Ardi. Lepaskan!” Ardi mengempaskan wajah Dara dengan kasar. Gadis itu memegangi pipinya yang terasa sakit akibat jepitan tangan kekar Ardi. Sungguh lelaki ini bisa melakukan apa saja jika sedang marah atau kalut.


“Buruan kasih tahu! Siapa cowok yang menyukai lo selain gua! Gua akan buat perhituangan dengannya.”


“Memangnya apa pentingnya dengan nama itu, Kak? Bukankah yang terpenting bagi kakak adalah tubuh saya. Selama lelaki itu mau menerima keadaan saya, selebihnya tidak perlu. Toh dia mencintai saya. Dan kak Ardi hanya butuh tubuh saya. Hanya saja … kak Ardi lebih beruntung dari dia karena sudah memiliki perawan saya. Tetapi saya beruntung memiliki dia yang mau menerima saya apa adanya,” dalih Dara.

__ADS_1


Sejujurnya, sosok yang disebut Dara tidaklah pernah ada. Hal itu ia katakan pada Ardi hanya untuk memanasi pria labil tersebut. Setidaknya membuat ia termakan api cemburu dan kalut sendiri cukup layak sebagai pembalasan kecil atas perbuatannya.


Dalam hati Dara tertawa dan memaki sendiri karena berhasil membuat Ardi termakan emosinya sendiri.


“Rasakan, Ardi. Ini baru pembalasan kecilku saja,” batin Dara.


Suasana yang hening di dalam lorong sekolah itu sangat pontesial sekali bagi Dara dan Ardi untuk berdebat hebat. Tidak ada yang tahu jika di dalam salah satu kamar mandi itu sedang berlangsung sebuah berdebatan hebat.


“Apa lo pikir lo begitu tangguh, hah. Sampai berani manasin gua,” cibir Ardi lagi.


“Aku hanya bicara apa adanya, Kak. Aku nggak pernah manasin kak Ardi. Aku hanya mencoba membuka hati ka Ardi untuk kasihan sedikit saja sama aku.”


 “Berani lo! asal lo tahu, lo cuma seksdoll aja buat gue.”


“Oh ya? Apa juga buat ayah kak Ardi?” mata Ardi semakin menyala-nyala mendengar nama ayah ya dibawa-bawa dalam perdebatan mereka.


Dara tampak berbeda hari ini. entah karena pagi ini ia disuguhi tontonan menjijikkan dari ayah dan anak itu. bagaimana cerdiknya mereka membodohi ibunya. Hingga ibunya harus menanggung rasa bersalah pada dirinya.  lelah, itulah yang dirasakan Dara melihat perbuatan ayah dan anak itu.


 “Hati-hati dengan mulut lo itu, ******. Jangan bawa bokap gua di sini.”


“Kenapa? Kak Ardi keberatan? Asal kak Ardi tahu, selain kak Ardi yang meniduri aku ada ayah kak Ardi juga yang ikut menikmatinya. Kenapa? Kaget? Kalau nggak percaya, tanya saja sendiri ke ayah kak Ardi.”


DEGH.


Mata Ardi semakin melebar luas mendengar pengakuan Dara tentang sosok ayahnya. Ia tidak menduga jika ayahnya terlibat dalam hal ini juga. Lelaki itu lantas melepaskan kepungannya dan beranjak meninggalkan Dara. Tubuh Dara seketika merosot ke lantai, tangisnya kembali tumpah memeluki kedua kakinya.


“Kenapa nasib Dara seperti ini, Yah? Hik hik hik!” rintihnya meratap.


 

__ADS_1


 


__ADS_2