
Herman terlihat kikuk mendapat pertanyaan Ardi malam itu. Memang benar, sangat aneh mendapati orang tua di depan kamar anaknya tengah malam begini.
“Kok, ayah kelihatan bingung gitu?” Ardi semakin terlihat heran.
“Ayah … ayah mau cari toilet. Toilet kamar ayah lagi rusak, kerannya bocor,” alasan Herman. Semakin tak masuk akal saja dengan alasan yang diberikan Herman kepada Ardi. Ardi yang notebenenya adalah seorang mahasiswa, tentu tidak akan percaya begitu saja. Terang saja, toilet ada di lantai bawah, memangnya toilet yang mana yang dimaksud ayahnya di lantai atas?
“Yah, toilet di lantai bawah. Di sini nggak ada kecuali kamar mandi aku dan Dara. Ayah ngaco deh, malam-malam. Jangan-jangan ayah kelimpungan ya?” Ardi menempelkan telapak tangannya di kening Herman.
Sedikit pura-pura memasang wajah kesal, Herman menampik tangan Ardi dan berjalan meninggalkan anaknya itu.
“Kamu apaan, Di?! Memangnya ayah ini sudah tidak waras apa?” gerutunya berlalu.
“Ya habis, tengah malam cari toilet di lantai atas, mana ada. Ayah aneh-aneh aja,” kata Ardi mengikuti Herman menuruni anak tangga.
“Lah, kamu sendiri mau ke mana itu?”
“Mau ke dapur. Haus.”
“Oooo,” Herman berjalan lesu ke kamarnya. pupus sudah harapannya untuk meniduri Dara. Padahal dibandingkan dengan Dira dan Mirna, rasa yang ditinggalkan Dara jauh lebih nikmat di mata lelaki itu. tidak hanya Herman yang berpikir demikian, Ardi yang sudah meniduri gadis itu berkali-kali pun mengatakan hal yang serupa.
***
Pagi ini, Herman tampak bersiap-siap pergi ke kantor. Tetapi tidak dengan Mirna. Entah kenapa hari ini badan wanita itu terasa meriang. Alis Herman mengangkat ketika mendapati istrinya sedang mencuci sayur di wastapel.
“Loh, kamu nggak ngantor, Mir?”
“Ngga, Mas. Badan aku meriang gini. Padahal aku sudah minum obat penghilang rasa nyeri.” Herman mendekati Mirna, ia menempelkan telapak tangannya di kening wanita itu. sebagai rasa perhatiannya pada wanita itu. tetapi tidak untuk Dara. Dari sudut anak tangga, sungguh gadis itu merasa jijik dan ingin muntah melihat sikap palsu lelaki yang sudah menodainya. Ugh, hampir aja semalam ia harus melayani birahi pria licik itu.
__ADS_1
“Minafik!” bentak Dara dalam kesendiriannya.
“Ya udah, urusan kantor biar aku yang tangani. Nanti kalau ada apa-apa, aku akan minta tolong sama Ratna,” kata Herman menyudahi perhatiannya. Lelaki langusng berjalan meninggalkan Mirna dan yang lainnya. Ardipun tampak bersiap-siap untuk pergi ke kampus pagi ini. ia bahkan menyalip Dara yang berjalan di tangga.
Kening Dara merengut heran melihat tingkah Ardi pagi itu. tidak biasa. Apalagi dengan siulan yang menciptakan nada ceria.
“Loh, kamu mau ke kampus sepagi ini, Di?” tanya Mirna. Dara masih mengamati percakapan itu dari anak tangga.
“Iya, bu. Ardi mau jemput pacar dulu. Biar barengan pergi ngampusnya. Oh ya, Bu. Terima kasih mobilnya ya? Ardi sayang Ibu,” kata Ardi seraya mengecup pipi Mirna.
“Oh ya, Ra. Lo naik taksi aja. Gue ada janji sama Gita. Dan satu lagi … thanks ya, berkat lo, bidadari milliyuner itu jatuh ke tangan gue,” ucapnya mengedipkan mata.
Dara menerbitkan senyum singkat dan paksaannya. Ia tahu maksud terimakasih yang diucapkan Ardi kepadanya. Begaimana tidak, berkat perannya menjadi partner pesta **** pemuda itu bersama kawannya, gadis pujaannya itu akirnya bisa dimiliki. Hati Dara remuk lagi, andai saja nasibnya seberuntung Gita. Yang tak perlu ngengkang untuk mendapatkan cinta seorang lelaki.
“Dara, kenapa kamu murung gitu?” suara Mirna membuyarkan lamunan Dara. Gadis yang sudah mengenakan seragam sekolah itu turun dari tangga dan langsung memeluk ibunya. Mirna semakin bingung dibuatnya.
“Bu … Dara boleh tanya, nggak?”
“Mau tanya apa?” suara keibuan Mirna terdengar hangat di telinga Dara. Menenagkan jiwanya yang sedang berkecamuk saat ini akibat perbautan ayah dan kakak tirinya.
“Apa ibu bahagia dengan pernikahan ibu yang sekarang ini?”
“Loh kok, tanyanya gitu? Tentu saja ibu sangat bahagia. Mas Herman adalah pria yang terbaik. Dia sangat menyayangi Ibu. Bahkan di kantor sudah tak mau lagi memamerkan kemesraan dan perhatiannya kepada Ibu. Kenapa, nak?”
“Apa dia selalu minta jatah kepada Ibu setiap malam?”
__ADS_1
“Eumm … jatah sih nggak, tapi tiap Ibu bangun pagi, dia masih di dekat ibu memeluk.”
“Dasar lelaki bajingan! Begitu pintarnya kau bermain drama kebohongan ini,” gerutu Dara dalam batinnya.
“Kamu kenapa sih? Kok tanya aneh gitu? Memang ayah Herman sudah menyakitimu? Atau Ardi yang berlaku kasar sama kamu?” Mirna menarik tubuh Dara. Meminta anak gadis itu menatapnya dengan intens.
Dara sangat tenang menemukan dua bola mata yang angat cantik dari sang ibu. Tatapan yang selalu menghangatkan dirinya sejak kecil. Dara tahu persis bagaimana perjuangan wanita ini dulu membesarkan, menyayanginya dan berjuang mendidiknya. Sampai hatikah Dara untuk melukainya lagi?
“Tidak ibu. Tidak kedua-duanya. Dara Cuma penasaran aja. Siapa tahu mereka berbuat kasar sama ibu dan mengancam ibu.”
“Hehehe, anak ibu. Kok ngomongnya gitu. Kamu tahu sendiri kan, Ra. Kalau ibu ada apa-apa kamu nggak mungkin nggak mendapatkan imbasnya. Jika ayah Herman kasar sama ibu, otomatis dia akan bersikap kasar juga sama kamu.”
“Begitu ya bu?”
“Heem. Sekarang mendingan kamu ke sekola aja. Udah telat nih.” Dara mengangguk dan berlalu menjauh dari tubuh sang ibu. Tatapan sendu dan hangat masih diberikan Mirna di balik senyum khasnya. Namun belum jauh anak gadisnya itu melangkah, suara Mirna menderu menghentikannya.
“Eh Dara!” gadis yang disebut namanya itu berbalik dan menatap bingung pada sang ibu.
“Maafkan ibu ya Nak,” ucap Mirna tiba-tiba. Kening Dara semakin mengkerut mendengar kalimat maaf dari sang ibu.
“Atas?”
“Maafkan Ibu karena tidak membelikanmu mobil. Ibu malah membelikan Ardi. Seharusnya ibu sudah mengajarkanmu menyetir sejak dulu, tapi ibu malah sibuk dengan urusan kantor.” Minra menghela napas berat dan panjang membuat pundaknya turun naik. Hati Dara semakin berdebar tak menentu.
“Ada apa bu?” tanyanya penasaran.
“Sebenarnya keuangan perusahaan sedang tidak baik, Ra. Ibu tidak tahu apa permasalahannya. Inilah alasan kenapa hanya Ardi yang ibu belikan mobil saat ia meminta beberapa waktu lalu,” kata wanita yang menurunkan tatapan sedih itu.
__ADS_1
“Nggak usah dipikirkan, Bu. Mendingan ibu fokus saja sama kerjaan. Okay. Mengenai Dara … abaikan saja, Dara masih nyaman kok, dengan kayak gini. Dara pamit ya, Bu.”
Dara segera meniggalkan rumahnya. Dia tidak sanggup melihat ibunya menderita akibat perbuatan dua lelaki bejat di dalam rumahnya itu. air mata Dara mengantar langkahnya menapaki jalan komplek perumahan. Entah apa jadinya keluarga kecilnya itu apabila ia membeberkan kejahatan yang sudah dilakukan Herman dan anaknya.