KUTANG GANTUNG

KUTANG GANTUNG
DRAMA HERMAN LAGI


__ADS_3

Hari itu, tanpa sepengetahuan Dara,Mirna memeriksakan kesehatannya ke dokter. Alangkah terkejutnya Mirna ketika mendengar diagnosa dokter tentang penyakitnya.


“Ibu mengalami gangguan jantung. Dan ini sudah sangat akut, Bu. Jadi … saran saya, anda jangan terlalu stress. Sebab jika demikian,maka akan sesuatu yang tidak kita inginkan terjadi.”


“Apa tidak ada pengobatannya,Dok?”


“Ada. Operasi transplantasi jantung. Tapi untuk itu,ibu harus dirawat di rumah sakit agar kami bisa memantau perkembangan jantung ibu.”


“Ouh tidak usah, Dok.saya tidak ingin keluarga sayakhawatir, terutama putri saya. Baiklah, saya rawat jalan saja.”


“Kalau begitu, setiap seminggu sekali ibu harus rutin control ke sini ya bu.”


“Baik, terima kasih.”


Mirna berjalanlemah menelusuri lobi rumah sakit. Ia sedang memikirkan nasib Dara dan perusahaan yang akan ditinggalkannya. Mengidap penyakit yang mematikan sudah menandakan tiket kematian itu sudah sangat dekat. Tidak mungkin,sewaktu-waktu ia bisa saja meregang nyawa.


Herman memang baik, tetapi tetap saja dia tidak bisa mempercayakan perusahaan kepadanya. Terlebih banyak desas-desus yang sampai ke telinga Mirna akhir-akhir ini tentang kelakuan suami barunya itu. namun ia memili diam dari Dara dan semuanya.  Seakan berpura-pura jika ia tidak pernah mendengar semua itu.


“Aku harus bagaimana, Ra? Maafkan ibu, Ra.” Lirihnya meninggalkan rumah sakit.


***


Ardi masih duduk dengan kawan-kawannya. Ia baru saja mengatakan cintanya pada Gita. Rasa bahagia menjadi kekasih dari cewek idaman seluruh kampus tentu adalah penghargaan terbesar Ardi.


“Hebat lo Bro! bidadari berhasil lo taklukkan!” ujar Doni.


“Yoi! Semua berkat cewek panggilannya dia,” sahut Ragell yang sedang duduk bergabung. Kali ini Ragell membawa cewek yang berbeda dari kemarin.


“Diam lo! dia bukan cewek panggilan. Dia adik gue,” jawab Ardi yang larut dalam petikan gitarnya.


“Hah?Adik lo?! hei Bro, bercanda boleh aja, tapi yang masuk akal dong. Masak lo tidur sama adik lo sendiri? Sakit lo Bro,”ejek Doni.


“Ceper lo!” tampik Ardi kesal pada Doni.


“Lah iya, yang benar aja, lo tidurin adik lo? Sinting lo, Di!” ejek Doni menggeleng tak habis pikir.

__ADS_1


“Dia bukan adik kandung gue. Dia adik tiri gue.”


“Apapun namanya, Bro.Tetap aja adik lo! Entah dia tiri atau kandung.Kelakuan lo bejat tahu nggak?! Nggak takut azab lo,Bro.” Ardi semakin kesal dibuat Doni.Ragell hanya mengkikik geli saja menikmat pertengkaran sahabatnya itu.


“Jangan mulai ngedakwah deh lo, Don.Gue lagi happy. Gita udah jatuh di tangan gue. Dan bentar lagi dia akan menjadi milik gue utuh. Gua akan menjadi menantu keluarga Mahardika si milliyuner itu. hahaha!”


“Tapi dengan merampas kehormatan dan dunia adik tiri lo.Ingat Di, Tuhan itu nggak tidur. Kebahagiaan yang lo dapat ini adalah air mata kehancuran adik tiri lo itu. Gue jadi kasihan sama tuh cewek. Andai gue ketemuin dia,gue ajar di cara balas dendam sama lelaki bejat kayak lo itu.”


Doni meninggalkan teman-temannya. Ia sudah merasa tak sejalan lagi dengan mereka. Ragell yang tukang main perempuan, sekarang ditambah Ardi yang menghalalkan segala cara demi mendapatkan keinginannya bahkan dengan menodai adiknya sendiri.


“Gue doain lo nggak bakalan ketemu dia, Don!” pekik Ardi bernada ketus.Diiringi tawa riuh dari dia dan Ragell. Doni hanya berbalik dan mengacungkan jari tengahnya ke arah mereka.


“Hahaha! Banci!” balasArdi lagi menanggapi ejekan Doni tadi.


Mirna telah pulang dari rumah sakit. Ia langsung istirahat karena badannya semakin lemah.sementara di kantor,tampak Herman sedang berasyik-asyiknya bersama Ratna. Entah sejak kapan,Herman dan Ratna menjalin hubungan,namun yang jelas saat ini mereka sedang bersenang-senang.


“Milikmu sangat enak,Ratna.aghh, menggoda,putih,dan …aku tidak sabar,”kata Herman yang memanjakan matanya padakedua paha Ratna yang sudah memajang di depan matanya. Sementara tangan Ratna yang sudah terbuai oleh sentuhan Herman, sudah menuntun lelaki itu untuk menyusup ke dalam sana.


“Pak … kok lama sekali,saya sudah tidak tahan,ah,”lirih Ratna dengan mata merem-melek.


“Sabar,Ratna.biarkan saya menikmatinya dulu.kenyal.” kata Herman yang sudah memanjakan mulutnya dengan gumpalan daging kecil milik Ratna.


“Ouh, Pak. Saya sudah tidak tahan,Pak … ah. Sudah lama saya tidak merasakan hal ini,Pak.”


Ratna memang seorang janda. Dia sudah lama mengikuti Mirnadalam bekerja.sebab statusnya itulah Mirna tak pernah mencurigai Ratna akan bermain mata dengan suaminya.ditamba postur tubuhnya yang sedikit berlemak.


Tapi apa perduli Herman pada semua itu.baginya kebutuhan biologis tak memandang rupa dan tubuh. Yang penting dia suka dan ingin itu sudah cukup.


Termasuk yang dilakukan bersama Ratna saat ini.ia tidak sedikit pun merasa jijik menjilati gumpalan daging kecil itu. membuat Ratna harus menggoyangkan bokongnya demi menambah kenikmatan sensasi yang dibarengi dengan ******* suara seksinya.


“Bagaimana, Ratna?  Kamu suka?”kata Herman menjeda mulutnya dan mengganti dengan tangan. Ia menikmati wajah Ratna yang menjilat bibirnya sendiri.Seperti penggoda yang ingin segera dijamah.


“Bapak nakal! Ah …ah …”


“Wow, kau bahkan sudah banjir,Ratna.” Ucap Herman yang sudah merasakan cairan menggenang pada jari tangannya. Lelaki itu lantas memasang posisi siap menancap. Dan inilah yang ditunggu-tunggu oleh Ratna sejak tadi. Begitu Herman mengeluarkan benda tumpul dan keras itu dari celah resletingnya, tangan Ratna langsung menarik dan menyusupkannya ke dalam.

__ADS_1


Herman sangat menyukai agresif Ratna. Ia tidak perlu bersusah payah mengeluarkan tenaga untuk memulai.Cukup Ratna yang bergerak dan mendominasi permainan.


“Ouh Ratna, gerakanmu mantap sayang.Terus lebih cepat lagi sayang. Sini aku bantu biar kamu nggak capek.” Herman menggerakkan tubuh Ratna. Hingga pada deruan gelombang yang sangat dahsyat.


“Ah, Ratna …aku keluar Rat … terus lebih cepat gerakanmu!”


“Iya Pak. Aku juga mau keluar. Barengan ya Pak.”


Pada kecepatan yang bertempo, Herman menghentak keras bokong Ratna hingga benar-benar menempel pada kulitnya. Milik keduanya terasa berdenyut hebat di dalam sana. Titik kepuasan sudah diperoleh oleh keduanya. Ratna yang duduk di atas pangkuan Herman mendongak tegas setelah mengeluarkan cairan putih dari sana.


Ponsel Herman berdering.Ada nama Mirna di sana. Cepat-cepat ia mengangkat dan mengibaskan tangannya ke arah Ratna meminta wanita itu untuk meninggalkan ruangan setelah selesai membersihkan dirinya.


“Ya sayang. Bagaimana keadaanmu?”katanya.


“Mas, semua baik-baik aja kan,di sana? apa Ratna membantu kamu?”


“Ouh Ratna sangat membantu aku sayang.udah kamu istirahat aja. Jangan pikirkan macam-macam lagi.”


“Baiklh,Mas.”


Ratna mengedipkan mata sebelum akhirnya meninggalkan ruang kerja Mirna. Lepas dari telponan Mirna. Nama Ardi memajang di ponsel milik Herman.


“Ya,Di.ada apa kamu?”


“Kita harus ketemu,aku mau bikin perhitungan dengan ayah. SE KA RANG.” Suara Ardi terdengar marah hari itu. Seketika perasaan tak enak menyambangi hati Herman.


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2