
Di sebuah desa, hiduplah seorang janda yang di tinggal wafat oleh suaminya. Bu Maryam namanya, Bu Maryam punya empat orang anak.
Rama, anak tertua laki-laki berusia sebelas tahun, dan sudah duduk di bangku kelas enam sekolah dasar.
Ridho, anak kedua juga laki-laki, berusia sembilan tahun dan sudah duduk di bangku kelas empat sekolah dasar.
Hans, anak ketiga, laki-laki juga berusia tujuh tahun, dan sudah duduk di bangku kelas dua sekolah dasar.
Dan juga Ayu, anak bungsu, perempuan yang masih berusia lima tahun.
Bu Maryam, sehari-harinya bekerja sebagai asisten rumah tangga. Serta buruh cuci dari rumah ke rumah yang lain.
Dengan upah yang tak seberapa, Bu Maryam membiayai ke empat anaknya, tanpa bantuan dari keluarga almarhum mendiang suaminya.
Rama di ajak salah satu pemilik steam motor dan mobil, untuk mencuci setiap kendaraan pelanggan yang datang. Alhamdulillah. cukup untuk menambah kebutuhan dia dan adik-adiknya, setiap sebelum berangkat ke sekolah, dan setelah pulang sekolah. Rama selalu singgah di steam untuk bekerja.
Gaji Rama dibayar perhari, oleh pemilik steam. Tergantung dari banyaknya pelanggan yang datang, satu motor Rama diberi upah seribu rupiah, dan lima ribu untuk mobil.
Ridho, di tawari oleh Bu Ida tetangga mereka, untuk berjualan gorengan dan es lilin keliling. Setiap pagi, Ridho akan mampir untuk mengambil dagangannya untuk dia bawa ke sekolahnya. Jika setelah pulang sekolah dagangannya masih tersisa, maka Ridho akan berjalan kaki berkeliling kampung. Sampai semua dagangan habis.
Jika dagangannya terjual habis, maka Ridho akan diberi upah sepuluh ribu rupiah. Dan jika dagangannya masih ada sisa, maka pemilik dagangan akan memberikannya untuk Ridho tentu saja dengan upah yang dikurangi.
Hans, di minta oleh kedai nasi yang tak jauh dari rumahnya untuk mencuci peralatan yang kotor. Hans, hanya datang dua kali sehari, sebelum berangkat sekolah, dan setelah pulang sekolah. Tentunya Hans akan disambut dengan tumpukan piring yang sudah menggunung. Hans, menyelesaikan berdua dengan Wahyu temannya.
Hans pun digaji perhari, senilai lima belas ribu rupiah, dibagi dua dengan temannya. Namun setiap Hans, akan pulang pemilik kedai nasi, akan memberikan lauk yang masih tersisa untuk Hans dan keluarganya.
Hingga, pada suatu malam sehabis sholat isya berjamaah. Bu Maryam, mengumpulkan anak-anak nya, di ruang keluarga sekaligus merangkap sebagai ruang tamu.
Sebuah rumah sederhana, berukuran 6x6 persegi, berdinding bata merah dan lantai semen seadanya. Peninggalan almarhum ayah mereka.
"Anak-anak ibu yang sangat ibu sayangi, ibu sebenarnya berat berpisah dengan anak-anak ibu semuanya ... namun ibu ingin sekali mengubah perekonomian keluarga kita.
"Besok pagi, ibu akan berangkat ke ibukota bersama teman ibu yang sudah sukses bekerja di sana," ucap Bu Maryam dengan tatapan sendu. Air mata Bu Maryam menetes menatap wajah-wajah polos anak-anaknya.
"Tapi, ibu janji. Setelah ibu dapat pekerjaan yang memadai disana, ibu akan menjemput anak-anak ibu semuanya, dan kita akan tinggal di ibukota, kita akan berkumpul bersama lagi." Bu Maryam meneteskan air mata.
"Kami harap, Ibu tidak akan melupakan kami," jawab Hans.
"Jika, itu pilihan terbaik menurut ibu, maka berangkatlah, Bu kami semua akan mengiringi perjalanan ibu dengan do'a," sahut Rama.
"Kapan ibu akan berangkat?" tanya Ridho.
"Besok pagi, anak-anak ibu boleh mengantarkan kepergian ibu ke stasiun yang tak jauh dari sini. Tapi kalian semua pulangnya harus hati-hati," ucap Bu Maryam sambil memeluk anak-anaknya
__ADS_1
"Ayu, sini sayang ...." panggil Bu Maryam, karena Ayu hanya diam saja sambil menikmati semangkuk mie instan di hadapannya
Seketika Ayu mendekat, dan duduk di pangkuan ibunya.
"Rama, Ridho, dan kamu Hans. Ibu harap kalian bisa melindungi serta menjaga Ayu adik kalian. Ibu harap kalian semua akan menyayangi Ayu sampai kapanpun," pinta Bu Maryam
Suasana haru, menyelimuti keluarga Bu Maryam, dengan penerangan seadanya. Dengan aliran listrik bersubsidi dari pemerintah, cukup untuk menerangi ruangan sederhana itu.
Keesokan paginya
Bu Maryam, berangkat ke stasiun bersama teman seusianya yang sudah sukses di ibukota. Teman Bu Maryam pulang kampung dengan membawa kesuksesan, dan hal itu membuat Bu Maryam ingin mencoba bekerja di ibukota juga.
Bu Maryam, menaiki kereta api, meninggalkan ke empat anaknya.
Bu Maryam, melambaikan tangannya, dan anak-anaknya pun melambaikan tangan mengiringi kepergian ibunya.
Waktu terus berjalan, detik menjadi menit, menit menjadi jam, jam menjadi hari, hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun. Namun ibu mereka tak kunjung kembali, untuk menjemput mereka.
Untunglah. Rama, Ridho, dan juga Hans. Sudah bisa mengais rezeki sendiri.
Hari itu, adalah hari kenaikan kelas. Dan sebentar lagi, penerimaan siswa siswi baru, Rama akan meneruskan pendidikannya ke sekolah menengah pertama, dan Ayu akan memasuki sekolah dasar.
Rama memecahkan celengannya yang selama ini dia isi, dari hasil upah dia bekerja. Demikian pun dengan Ridho, Ridho memecahkan celengannya untuk membantu biaya sekolah Abang dan adiknya.
Hans pun tak ketinggalan, dia memecahkan celengannya, dan dia berikan pada Ayu, adiknya
Rama lulus sebagai siswa terbaik, dan mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan ke sekolah menengah pertama.
Semakin besar, maka aktifitas mereka semakin padat, mereka harus sekolah dan mengais rezeki sendiri untuk membiayai kebutuhan hidup mereka. Jangankan ibu mereka datang untuk menjemput, ataupun mengirimi mereka uang, kabarnya saja sudah tidak pernah terdengar lagi.
Entah apa kabar Bu Maryam mengadu nasib ke ibukota.
Rama, sebagai Abang tertua. Membuat sarapan seadanya untuk adik-adiknya, nasi goreng sederhana dengan telur ceplok.
Tapi itu sungguh lezat di lidah adik-adiknya, Alhamdulillah ... walaupun anak yatim selalu saja ada rezeki untuk mereka makan.
Bahkan tetangga yang habis panen padi pun sering memberi mereka beras baru, sebanyak 20 hingga 30 kilo, itu semua cukup untuk anak-anak yatim itu tidak merasakan kelaparan.
Hari ini adalah hari minggu, Rama bermaksud bekerja di steam seharian.
"Hari ini, siapa yang akan menjaga rumah dan mengasuh, Ayu?" tanya Rama
"Aku, bermaksud berjualan di stasiun dan taman kota, Bang, hari ini pasti ramai," sahut Ridho
__ADS_1
"Aku juga, aku hari ini aku juga kerja Bang, apa lagi hari libur. Kedai Bu Lestari akan sangat ramai, dan aku dan temanku akan mencuci peralatan kotor di sana, dan biasanya setiap pelanggan ramai, kami akan di kasih uang bonus," jawab Hans.
"Lalu, siapa yang akan menjaga, Ayu?" tanya Rama lagi
"Asal Ayu mau berjalan, dan tidak minta gendong. Ayu ikut Abang Ridho saja. Kita berjualan gorengan dan es lilin ke stasiun," sahut Ridho.
"Mau, Bang ... Ayu janji, tidak akan nakal," sahut Ayu.
"Ya sudah, berarti Ayu sama Ridho," ucap Rama.
Pagi itu, Ridho mengajak Ayu, mendatangi rumah Bu Ida, untuk mengambil dagangannya.
"Assalamualaikum ...." ucap Ridho sambil mengetuk pintu
"Waalaikum salam ...." Suara dari dalam menyahut
Pintu pun terbuka
"Ridho ... wah, Ayu ikut juga, Ibu sedang sarapan. Mari kita sarapan bareng," ajak bu Ida.
"Ga usah Bu, kami sudah sarapan," tolak Ridho.
"Oya, ini dagangan kamu," ucap Bu Ida sambil menunjuk sekeranjang gorengan dan satu box es lilin.
"Nah, ini bekal buat Ayu. Siapa tau nanti Ayu laper di jalan," ucap Bu Ida sambil memberikan wadah bontot dan selembar uang lima ribuan kepada Ayu. Ayu menyambutnya dengan girang.
"Terimakasih banyak, Bu," ucap Ayu
Bu Ida tersenyum sambil mengangguk
Ayu dan Ridho, berjalan menyusuri aspal, menuju stasiun kereta api.
Alhamdulillah, dagangan Ridho hari ini laris manis, bahkan banyak yang membeli dagangan Ridho, kembaliannya mereka berikan untuk Ayu.
Bahkan, banyak bapak-bapak dan ibu-ibu yang lalu lalang, di stasiun memberi uang untuk Ayu.
Menjelang, sore hari. Dagangan Ridho habis tak bersisa.
"Ayo, Ayu ... kita pulang," ajak Ridho.
Ayu hanya diam, matanya menatap sayu setiap kereta api yang berhenti di stasiun. Dan menyaksikan penumpang turun.
"Abang, ibu kok ga pulang-pulang ya? Padahal ibu sudah janji mau jemput kita di sini?" tanya Ayu dengan wajah polosnya.
__ADS_1
Ridho, nampak kebingungan alasan apa yang akan dia katakan pada Ayu.
Bersambung