
Randy mengantarkan Ayu kedepan kelas Ayu.
"Sana, masuk. Kalau ada yang nakalin Ayu lagi bilang sama, Abang," ucap Randy tegas.
Ayu mengangguk, kemudian berjalan menuju ruang kelasnya
Ketika jam pelajaran usai, sopir pribadi yang di tugaskan oleh Bu Hera menjemput Randy dan juga Ayu sudah standby menunggu di depan gerbang, seperti biasanya Ayu pulang lebih awal di bandingkan Randy.
Maka sopir pribadi itu mengantarkan Ayu pulang lebih dulu, kemudian kembali lagi ke sekolah dan menjemput Randy.
Setibanya di rumah ibu angkatnya, ayu akan segera membersihkan rumah. Mencuci pakaian, menyapu serta mengepel lantai. Kemudian lanjut memasak, dan membersihkan perabotan kotor.
Tak terasa sudah dua tahun, Ayu tinggal di rumah keluarga barunya.
Ketika, Ayu hendak menyapu halaman yang banyak dedaunan berjatuhan dari pohon buah yang tumbuh di atas halaman.
Tiba-tiba ada paket dari kantor pos.
"Assalamualaikum ... permisi, apa benar ini rumah Bu Herawati?" tanya petugas pos
"Waalaikum salam ... iya benar, ada apa ya pak?" tanya Ayu.
"Ada kiriman untuk saudari Ayu," ucap petugas pos, sambil memberikan sebuah kotak dengan pita di atasnya.
Ayu segera mengambilnya.
"Silahkan saudari Ayu tanda tangan di sini, sebagai bukti bahwa paket sudah di ambil."
Ayu menandatangani, dan mengucapkan terimakasih kepada petugas pos.
Ayu segera duduk, di kursi yang tersedia di bawah pohon mangga. Di halaman rumah Bu Herawati.
Ayu membukanya dengan hati-hati, kemudian Ayu membuka isinya
Ternyata, berisikan satu set mukena baru lengkap dengan sajadahnya.
Juga ada dua pasang baju baru, sendal baru.
Ada juga jam tangan baru, dan lima lembar uang lembaran berwarna merah. Semua tersusun rapi di dalam kotak yang baru saja di terima oleh Ayu.
Ayu tersenyum, dan bertanya-tanya dalam hati, siapa pengirim paket ini.
Ketika Ayu membuka lembaran pakaian baru yang di kirim untuknya, Ayu mendapatkan selembar kertas di dalamnya, dengan rasa penasaran Ayu membukanya dan membaca tulisannya
"Assalamualaikum ...."
"Dear Ayu, adik-adik kami. Ketika surat ini sampai di tanganmu, itu artinya kamu telah menerima hadiah kecil dari kami abang-abang mu.
"Selamat ulang tahun yang ke 14 ya, barakallah fii umrik, untukmu ...
"Oya, Ayu. Bang Rama, ingin memberitahu kamu, bahwa kini Abang telah di terima bekerja pada sebuah perusahaan di Batam, sudah habis kontrak kerja satu tahun, dan Abang tambah masa kontrak lagi. kemungkinan tahun depan Bang Rama baru bisa pulang.
"Bang Ridho, sudah di terima bekerja di rumah sakit. Walaupun hanya sebatas security. Bang Ridho juga masih meneruskan pendidikannya, ke sekolah kesehatan.
"Sedangkan, Bang Hans di Ajak oleh Pak Guntur suami Bu Lestari yang pindah tugas ke kota Bandung. Untuk melanjutkan pendidikannya ke akademi militer.
"Abang-abangmu di sini semua baik-baik saja, kami harap pun demikian Adik kami di sana baik-baik saja.
__ADS_1
"Kami selalu, menyayangimu. Walaupun kamu tidak bersama kami.
"Wasallam ...."
Ayu meremas, surat yang baru saja dia baca.
Ingatan Ayu, tertuju ketika mereka semua masih bersama.
Kala, sore hari ketika hujan deras membasahi desa mereka.
Ayu dan abang-abangnya, duduk di teras depan sederhana mereka. Menikmati sebaskom jagung manis rebus, dan teh manis hangat.
Mereka bercanda ria, dan sesekali saling memojokkan hanya untuk mengundang tawa.
Mereka semua tertawa dengan riangnya.
Ayu menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya.
"Secepat itu, masa itu berlalu, sekarang mereka semua terpisah jauh. Entah kapan mereka akan berkumpul bersama lagi."
Tiba-tiba terdengar suara bel dari balik pagar.
Ayu segera berlari untuk membukakannya.
Ternyata ibu angkatnya pulang. Bu Hera yang menyadari Ayu yang habis menangis segera memeluk tubuh anak angkatnya.
"Ayu, kenapa menangis? Bilang sama mama, Abang nakalin Ayu lagi ya?" tanya Bu Hera.
Ayu hanya menggeleng pelan.
"Terus, Ayu kenapa?" tanya Bu Hera sambil mengusap air mata Ayu.
"Ini, hadiah dari siapa, Nak?" tanya Bu Hera, saat melihat kotak hadiah di dekat Ayu.
Kemudian, tanpa sengaja Bu Hera melihat secarik kertas yang sudah lusuh di remas-remas oleh Ayu
Bu Hera, membacanya. Akhirnya Bu Hera mengerti, Apa yang membuat Ayu merasa sedih.
Bu Hera, kemudian memeluk tubuh Ayu, dan membiarkan Ayu menangis sejadi-jadinya.
***
Ayu kini telah duduk di bangku kelas sembilan menengah pertama. Dan Randy Abang angkatnya telah duduk di kelas sebelas menengah atas.
Pagi ini keluarga Bu Hera berkumpul untuk sarapan bersama.
Semua masakan, di masak oleh Ayu dan Ibu angkatnya.
Kebetulan pak Wijaya sedang ada di rumah.
"Masakannya enak," puji pak Wijaya
"Iya, masakan Ayu memang nikmat," puji Bu Hera.
Sebenarnya, Randy pun merasa demikian, namun Randy orangnya gengsian.
"Bang, gimana, enak 'kan masakan, Ayu?" tanya pak Wijaya
__ADS_1
"Asin!" ucap Randy sepontan.
"Asin gimana? Itu sudah hampir habis sepiring lho kamu," sahut Bu Hera.
Kemudian, pak Wijaya dan Bu Hera tertawa.
Randy yang merasa kesal, membuang makanannya ke wastafel.
"Kok di buang," tanya Bu Hera.
"Ga enak," sahut Randy singkat.
Randy dan Ayu yang sudah mengenakan seragam sekolah, segera pamit untuk berangkat sekolah.
Randy kini sudah di perbolehkan oleh pak Wijaya membawa motor sendiri ke sekolah.
Sedangkan Ayu, kadang masih nebeng ibu Angkatnya. Kadang juga Ayu naik angkot, atau bus sekolah.
Arah sekolah Randy, melewati sekolah Ayu terlebih dahulu.
"Ran, coba kamu ajak adik kamu, berangkat bareng sama kamu saja. Kan sama-sama masuk pagi," usul pak Wijaya.
"Bareng sama Ayu? Ogah ah, tar di sorakin pacaran lagi," tolak Randy
"Ayu juga ga mau nebeng bang Randy, kok Pah. Ayu sudah ada janji sama teman Ayu, dia bakalan jemput Ayu di depan gerbang," sahut Ayu.
"Tin ... tinnn ...!" Suara klakson motor dari luar pagar.
"Nah, itu pasti teman Ayu. Pah, mah. Ayu berangkat dulu ya," pamit Ayu.
Kemudian mencium punggung tangan orang tua angkatnya.
Randy pun tak mau ketinggalan, dia segera mengeluarkan motornya dari garasi.
Pintu pagar pun terbuka, nampaklah teman lelaki Ayu, yang sedang menunggu Ayu di atas motornya.
Raut wajah Randy tiba-tiba berubah kesal.
"Ngapain lho ngejemput adek gua? dia bisa pergi sendiri!" bentak Randy.
"Maaf, Bang. tapi memang saya melewati sini, kalau mau berangkat ke sekolah. Jadi saya pikir apa salahnya kalau saya sama Ayu barengan," sahut teman lelaki Ayu.
"Bilang aja, lho mau modusin adek gua, udah ketauan kartu lho," sentak Randy
"Kita cuma sahabatan kok, Bang," sahut teman lelaki Ayu.
"Mana ada persahabatan remaja putra putri itu tulus, pasti juga ujung-ujungnya naksir!" sentak Randy
"Ya udah sana! lho berangkat duluan. Ayu sama gua," tambahnya.
Teman lelaki Ayu menatap Ayu dengan raut wajah kecewa.
"Ayu, duluan ya," ucapnya pelan, kemudian melajukan motornya
"Ayo, Ayu. Naik," ajak Randy
Ayu nampak kebingungan atas sikap Randy, yang tadinya gengsian berubah menjadi baik seketika saat melihat lelaki asing bersama Ayu.
__ADS_1
Bersambung