Kutunggu Ibu Di Stasiun

Kutunggu Ibu Di Stasiun
Bab 4


__ADS_3

"Selamat tinggal desaku," lirih Ayu dengan deraian air mata.


***


Kereta api mengantarkan Ayu dan Bu Hera tiba di provinsi.


Bu Hera, mengajak Ayu untuk mencari rumah makan.


Mereka memesan makanan, dan istirahat sejenak.


Kemudian mereka melanjutkan perjalanan menggunakan bus antar kota.


Menuju kota B, setelah tiba di kota B, mereka melanjutkan perjalanan menuju rumah Bu Hera menggunakan taxi.


Menjelang sore hari, barulah mereka tiba di depan gerbang rumah mewah bak istana itu, Ayu terkagum-kagum melihat keindahan rumah Bu Hera. "Mulia sekali hatinya, sehingga perduli kepada anak yatim sepertiku." Batin Ayu


Bu Hera, memencet tombol bel pada pagar rumahnya.


Keluarlah seorang anak laki-laki, berkisar berusia 14 tahun. Anak lelaki itu bertubuh tinggi, bongsor, serta berkulit putih.


Ketika pintu pagar terbuka, anak lelaki itu berlari merentangkan tangannya dan memeluk tubuh ibunya.


"Mama ...!" teriaknya sambil berlari, kemudian Bu Hera pun merentangkan tangannya dan memeluk anak semata wayangnya


"Mama, kok ga bilang-bilang dulu kalau mau pulang?" rengeknya.


"Bukan surprise namanya, kalau mama kasih kabar dulu, Sayang ...." bujuk Bu Hera.


"Oya, ma. Bi Uci, pamit pulang kampung, Ma. sudah seminggu lebih. Tapi belum datang lagi, Randy sendirian di rumah, Ma kalau papa kerja," cerocos anak Bu Hera.


"Iya, nanti kita cari art baru lagi ya, kalau Bi Uci ga darang lagi," bujuk Bu Hera.


"Sekarang Ayo, kita masuk, Oya, Randy. Mama bawa Ayu, anak angkat Mama dia bakalan tinggal sama kita disini, dan mulai sekarang Abang Randy punya teman main, teman belajar." Bu Hera memperkenalkan Ayu.


"Tapi. kenapa, Mama bawa adik angkat perempuan, Ma? kan Randy ingin adik laki-laki," sungut Randy.


"Randy, dengerin Mama yaa, Sayang ... Ayu ini anak yatim. Ayu sudah ga punya orang tua lagi, lagi pula Ayu anak baik. Bahkan Ayu telah nolongin Mama, pas hampir saja tertabrak motor sewaktu di desa. Jika tidak ada Ayu, mungkin Mama pulang hanya tinggal nama." Bu Hera memegangi kedua pundak Randy dan memandangi wajahnya.


Randy hanya diam dan menunduk.


"Ayu, mari Mama antar kamu ke kamar kamu ya," ucap Bu Hera.


"Baik Bu," sahut Ayu.


"Ayu, panggil, Mama saja ya, sama seperti, Bang Randy," pinta Bu Hera.

__ADS_1


Ayu mengangguk, Bu Hera membawa Ayu ke sebuah kamar di lantai atas. Namun, Ayu harus membersihkannya sendiri, karena kamarnya sudah lama tidak di tempati.


Namun, semua itu bukanlah masalah bagi Ayu,


Karena Ayu sudah terbiasa menghandle semua pekerjaan rumah, bahkan ketika dia di kampung pekerjaann jauh lebih susah dari pada di rumah ibu angkatnya ini.


Seperti biasa, setiap pagi, Ayu akan memasak, dan menyiapkan aneka masakan di meja makan. Dengan bahan-bahan yang sudah di sediakan oleh Bu Hera.


Setelah itu, Ayu akan menyapu lantai membersihkan seluruh ruangan termasuk juga kamar Randy dan kamar Bu Hera.


Kemudian, Ayu akan mengepelnya hingga seluruh ruangan menjadi bersih.


Setelah itu Ayu akan mencuci pakaian, termasuk pakaian Randy dan pakaian ibunya. Kemudian menjemurnya, setelah kering Ayu akan menyetrika dan melipatnya.


Dan, semua yang dilakukan oleh Ayu, membuat Bu Hera semakin menyayangi Ayu, terlebih lagi setelah rumah mewah itu tidak ada Asisten rumah tangga.


Bagi Bu Hera, kehadiran Ayu sungguh sangat membantu.


Justru itulah Bu Hera tidak pernah perhitungan memberi Ayu uang saku.


Hingga pada suatu pagi, Ketika Ayu akan mencuci pakaian. Randy melemparkan pakaian serta selimutnya ke arah tumpukan cucian Ayu.


Aku yang merasa kesal, menyisihkan pakaian Randy.


Randy tidak terima akan perlakuan Ayu


"Cuci sendiri!" bentak Ayu balik


"Itu baju mama, sama papa kamu cuciin, masa iya pakaianku kamu pisahkan. Dan, nyuruh aku nyuci sendiri!" teriak Randy.


"Oh jelas! karena, sudah kewajiban anak mencuci pakaian orang tuanya. Tapi pakaianmu kamu masih kuat, cuci sendiri!" sentak Ayu.


"Dasar anak kampung!" bentak Randy lalu menyiramkan segayung air ke tubuh Ayu.


Ayu yang tidak terima, membalas menyemburkan air ke tubuh Randy hingga terjadilah acara siram menyiram.


"Iya, aku memang anak kampung tapi aku tau tata krama, tidak seperti kamu!" sentak Ayu.


"Sudah, sudahlah anak-anak jangan bertengkar." Bu Hera berusaha melerai pertengkaran Randy dan Ayu.


"Randy, Sudah! Tidak pantas seorang laki-laki, menyakiti perempuan." Bu Hera membela Ayu, lalu memeluk Ayu.


"Kamu ngapain ke kamar mandi, sedangkan adikmu ada di kamar mandi?" tanya Bu Hera tegas.


"Randy cuma minta di cuciin baju, tapi Ayu ga mau, malah nyuruh Randy nyuci sendiri." Randy mengerucutkan bibirnya.

__ADS_1


"Ayu, benar. Kalau kamu mau pakaian bersih cuci sendiri, di rumah ini tidak ada art," sentak Bu Hera.


"Masa nyuci sendiri Ma? Randy kan masih kecil," ucap Randy menghiba.


"Ayu, bahkan jauh lebih kecil dari kamu! Pokoknya mama ga mau tau, kamu jangan pernah menyakiti Ayu!" bentak Bu Hera.


"Ayo, Ayu ... kita jemur pakaiannya, sudah di cuci semua kan?" tanya Bu Hera lembut.


"Sudah, Ma ...." sahut Ayu sambil menenteng baskom berisi pakaian basah.


Bu Hera dan Ayu meninggalkan Randy yang terlihat sangat kesal.


Seperti itulah hari-hari yang terjadi selanjutnya, ketika Randy berbuat usil kepada Ayu maka Bu Hera akan turun tangan langsung dan membela Ayu.


Pagi ini. Adalah hari pertama Ayu memakai seragam putih biru. Ayu duduk di bangku sekolah menengah pertama.


Bu Hera, mendaftarkan Ayu pada SMPN tempat Bu Hera mengajar. Demikian pun dengan Randy, Randy pun bersekolah di sekolah itu. Namun, Randy sudah duduk di kelas sembilan, sedangkan Ayu baru masuk kelas tujuh.


Siang itu, ketika jam istirahat. Lia dan gengnya, bermaksud mengerjai Ayu, dengan menjulurkan kakinya Ketika Ayu hendak lewat, dengan tujuan supaya Ayu terjatuh.


Namun sayang, mata Ayu jauh lebih jeli. Ayu sudah melihat mereka sedang menjebaknya.


Ayu pun melenggang pergi, tanda terkena jebakan Lia dan gengnya


Menyadari Ayu yang lolos, Lia pun marah. Dia dan gengnya mengejar Ayu, Manarik lengan Ayu, dan menarik rambut Ayu dengan kasar.


"Dasar anak kampung! Kamu bisa masuk ke sini karena bea siswa kan? Jadi jangan harap kamu itu sama kek kita-kita!" sentak Lia sombong.


Randy yang menyadari itu segera melerainya.


"Eh! Kalian apa-apa sih? Ayu, adik gua. Awas kalau lu semua gangguin dia. Kalian akan di keluarkan dari sekolah ini!" bentak Randy.


Lia dan gengnya, melepaskan Ayu. Kemudian, ayu bersembunyi di balik badan Randy, dan Randy memegang tangan Ayu.


"What? Bukannya lu ga punya adik Ran?" tanya Lia.


"Terus? Gua harus bilang sama lho gitu, kalau gua punya adik yang selama ini lho kaga tau? Lho siapa gua? Hah!" bentak Randy.


Ayah Randy memang bekerja pada perusahaan asing di luar negeri, paling hanya pulang tiga bulan sekali, dan itupun hanya sehari dua hari. Namun, kebetulan sekarang pak Wijaya sedang ada di rumah


Sehingga Lia dan gengnya mengira bahwa Ayu baru saja tiba di Indonesia.


Dan ibu Randy, Bu Herawati adalah kepala sekolah di SMPN itu, tentulah dengan mudah Bu Herawati menjatuhkan hukuman pada Lia dan gengnya jika berani membully anak angkatnya.


Seketika, nyali Lia dan gengnya ciut.

__ADS_1


"Ayo, Ayu ...." ajak Randy sambil menggandeng tangan Ayu


Bersambung


__ADS_2