Kutunggu Ibu Di Stasiun

Kutunggu Ibu Di Stasiun
Bab 3


__ADS_3

"Ayu? Dengerin, abang ya ... kita harus selalu berdoa supaya ibu baik-baik saja dan kita semua bisa berkumpul kembali," bujuk Ridho mencoba menenangkan Ayu.


"Tapi, Bang ... Ayu kangen sama, Ibu," rengek Ayu.


"Iya sama, abang juga. Justru itulah, kita harus sekolah yang pintar supaya bisa menyusul Ibu ke ibukota," bujuk Ridho.


"Sekarang, mari kita pulang. Sebentar lagi sore," ajak Ridho.


Ridho menenteng keranjang gorengan beserta box es lilin yang sudah kosong, Ridho menuntun Ayu supaya mau pulang. Ayu nampak masih enggan untuk meninggalkan stasiun, namun Abangnya menarik tangannya untuk berjalan pulang.


Di tengah jalan, Ridho dan Ayu berpapasan dengan penjual jagung rebus keliling menggunakan sepeda, Ridho membeli dua buah jagung rebus untuknya dan adiknya, sebagai cemilan mereka di perjalanan.


Tiba-tiba langit mendung, angin berhembus kencang, sepertinya akan segera turun hujan. Ridho dan Ayu mempercepat langkahnya. Namun barulah sampai separuh perjalanan, hujan turun dengan derasnya. Ridho dan Ayu berlari ingin mencari tempat berteduh.


Akhirnya, mereka tiba pada pasar pekan yang dibuka seminggu sekali.


Disana ada kios sederhana, namun ada atapnya. Ridho dan Ayu berteduh disana, yang penting tidak basah.


Ayu meminta abangnya untuk menghitung uangnya yang diberi orang-orang baik hati, yang tadi dia temui di stasiun.


Ridho menghitung uang, Ayu.


"Alhamdulillah ... ada 27 ribu. Yu," ucap Ridho


"Alhamdulillah ...." jawab Ayu sambil mengusapkan telapak tangannya ke wajahnya.


"Sekarang uangnya Ayu simpan baik-baik, jika Ayu mau jajan atau Ayu kehabisan buku, Ayu bisa beli," ucap Ridho.


Ayu mengangguk tanda mengerti.


Karena khawatir kemalaman di jalan, Ridho mengajak Ayu melanjutkan perjalanan setelah hujan mereda, hanya tinggal gerimisnya saja lagi.


Ridho memotong daun pisang yang cukup lebar, menggunakan pecahan kaca. Lalu, meminta Ayu untuk berlindung di bawahnya, supaya Ayu tidak terkena air hujan.


Kaki mungil mereka semakin jauh melangkah, hingga tibalah mereka di rumah Bu Ida, Ridho bermaksud menyetorkan uang dagangannya


Bu Ida, biasanya memberinya upah sepuluh ribu rupiah, namun karena hari ini semua terjual habis, maka Bu Ida memberi uang bonus lima ribu rupiah.


Ridho dan Ayu segera pamit pulang.

__ADS_1


Setibanya, mereka di rumah. Rama Abang tertua, sudah menunggu mereka. Rama khawatir terjadi apa-apa dengan adiknya, hingga menjelang Maghrib baru adik-adiknya pulang


Melihat pakaian adiknya yang basah karena terkena hujan, Rama segera menyuruh adik-adiknya mandi air hangat, yang telah tersedia di atas tungku kayu bakar.


"Assalamualaikum ...." ucap Hans yang baru pulang.


"Waalaikum salam ...." jawab Rama.


"Kamu juga baru pulang, habis dari mana kamu?" tanya Rama kepada Hans, dengan lembut.


"Tadi hujan, Bang. jadi Hans nunggu hujan reda dulu. Oya, Bang ... ini lauk dari Bu Lestari," jawab Hans sambil berlalu menuju meja makan dan memasukkan sayur nangka dan sambal tempe ke dalam mangkok.


"Abang juga tadi beli ikan goreng, kesukaan Ayu. Sekarang ayo kita makan bareng," ajak Rama.


Semua kakak beradik itu berkumpul di meja makan sederhana, dengan lauk seadanya. Yang penting bisa kenyang, itulah prinsip mereka.


"Bang Rama, hari ini Ridho dapet uang 15 ribu," ucap Ridho ketika mereka berkumpul di ruang keluarga sekaligus merangkap sebagai ruang tamu.


"Aku juga dapat, 15 ribu," sahut Hans.


"Abang sendiri, hari ini dapat 20 ribu, tapi Abang belikan lauk 5 ribu, sisa lima belas ribu lagi," jawab Rama.


"Punyaku, aku kasih 10 ribu," jawab Ridho.


"Punyaku ambillah, 10 ribu," jawab Hans.


"Abang punya 15 ribu, itu artinya kita punya 35 ribu, besok pagi-pagi Abang akan pergi ke pasar pekan, untuk membeli semua kebutuhan keluarga kita," ucap Rama.


Seperti itulah selanjutnya, mereka akan mengais rezeki, dari hari ke hari. Alhamdulillah, Allah maha kuasa, anak-anak yatim itupun di berikan rezeki yang cukup


Hingga pada suatu hari, datang lah ibu-ibu penjual pakaian di pasar pekan. Ibu itu memberikan masing-masing dua set untuk Rama, Ridho, Hans, dan juga Ayu. pakaian tersebut adalah jualannya yang tersisa, namun masih baru merk-nya pun masih ada


Karena hendak, memperbarui dagangannya, maka dagangan yang lama ia sedekahkan pada anak-anak yatim itu.


Ibu-ibu itu sengaja, memberikannya untuk mereka sebagai pakaian ganti.


Nampak sekali senyum bahagia tersungging di bibir mungil anak-anak yatim itu.


Kemudian datang, bapak-bapak tetangga mereka yang baru saja selesai panen padi. Bapak-bapak itu memberi anak-anak yatim itu beras baru, berkisaran 25 kilo, Alhamdulillah.. beras itu sungguh sangat berarti bagi mereka.

__ADS_1


Menurut para tetangga, rezeki mereka tidak akan surut, bahkan semakin bertambah jika mereka membuat anak yatim tersebut merasakan kebahagiaan.


Waktu terus berlalu, tiada sedikitpun kabar ataupun tanda-tanda bahwa ibunya akan pulang.


Rama, kini sudah duduk di bangku kelas sebelas menengah atas.


Ridho, kini sudah duduk di bangku kelas sembilan menengah pertama.


Hans, kini sudah duduk di bangku kelas tujuh menengah pertama.


Dan Ayu sudah duduk di bangku kelas lima sekolah dasar.


Dan, itu artinya, lima tahun sudah ibu mereka pergi tanpa kabar.


Rama, telah bekerja sudah bekerja pada sebuah toko bangunan, Alhamdulillah. Bos yang punya toko tak mempermasalahkan jika Rama bekerja sepulang sekolah.


Ridho, bekerja sebagai tukang parkir di pusat perbelanjaan.


Hans, bekerja pada sebuah lesehan milik bu Lestari yang juga telah membuka kedai di depan pusat perbelanjaan, cuma bedanya kini Hans sudah di angkat menjadi pelayan, dengan gaji harian tetap.


Sedangkan, Ayu. Sepulang sekolah Ayu lebih memilih berjualan buah di stasiun. Sejenis semangka, pepaya, nanas, melon, dan berbagai macam jenis buah-buahan yang sudah di potong-potong dan di masukan ke dalam plastik.


Saat semua Abangnya tak lagi mengharapkan kepulangan ibu mereka. Namun Ayu, masih setia menunggu kepulangan sang ibu.


Ayu akan setia di menunggu di stasiun sambil menjajakan dagangannya. Dari lubuk hati Ayu yang paling dalam, dia ingin sekali bertemu dengan ibunya di stasiun ini. Bahkan ketika ibunya pulang Ayu ingin menjadi orang pertama yang menyambut kepulangan ibunya.


Namun harapan Ayu, tak kunjung terjawab.


Hingga pada suatu hari, Ayu melihat. Seorang ibu-ibu turun dari kereta api. Ibu-ibu tersebut bertanya di mana SDN 01. Kebetulan SDN yang di tanyakan ibu-ibu itu adalah sekolah Ayu


Ayu, memberi tahu arah jalan menuju SDN yang di maksud.


Ibu-ibu itupun mengucapkan terima kasih, dan berlalu meninggalkan Ayu. Saat ibu-ibu itu berdiri di pinggir jalan dan hendak menyetop angkot.


Sebuah motor dengan kecepatan tinggi, melaju dengan kencang dan hendak menabrak ibu-ibu tersebut.


Ayu yang melihatnya, segera mendorong ibu-ibu menjauh. Namun akhirnya, motor tersebut justru menabrak Ayu.


"Astaghfirullah hal azim," lirih ibu-ibu tersebut, dan segera memeluk tubuh Ayu yang berlumuran darah.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2