
Nama Tokoh.
Jayanasa : pendiri Sriwijaya
Wisnu : Raja Sriwijaya keturunan dari Wangsa Sailendra Samaragrawira ayah Balaputradewa
Samaratungga atau Rakai Garung : kakak Balaputradewa ayah Pramodawardhani
Balaputradewa : anak bungsu Samaragrahira, yang terusir dari Bhumijawa dan menjadi raja di Sriwijaya
Dharanindra atau Rakai Panunggalan : kakek
Balaputradewa, terkenal sebagai "pembantai para panglima"
Jatiningrat Rakai Pikatan : suami Pramodawardhani, merupakan keturunan Wangsa Sanjaya
Pramodawardhani atau Sri Kahuluan : istri Jatiningrat
Dyah Lokapala atau Rakai Kayuwangi : anak Jatiningrat dan Pramodawardhani
Gunadarma : perancang Kamulan Bhumishambara
I Tsing : seorang pengelana dari Cina, yang sempat lama tinggal di Sriwijaya
Tandrun Luah : pahlawan Sriwijaya yang ada dalam Prasasti Kedukan Bukit
Kandra Kayet : pemberontak Sriwijaya yang ada dalam Prasasti Kedukan Bukit
Tunggasamudra : murid Biksu Wang Hoi
Bayak Kungga : kakek Tunggasamudra
Areng Suwa : ibu Tunggasamudra
Tansa Kalu : ayah Tunggasamudra
Biksu Wang Hoi : Biksu Buddha yang bertugas menyebarkan Buddha berasal dari Cina, pewaris Aliran Liang Qiang atau Aliran Dua Pedang
Chra Dayana : Dapunta Sriwijaya, pemimpin Sriwijaya sebelum kedatangan Balaputradewa
Chra Bukadhasa : ayah Chra Dayana, bekas pemimpin Sriwijaya sebelum anaknya
Jara Sinya : Panglima Samudra Sriwijaya
Luwantrasima : putra pertama Panglima Samudra Jara Sinya
Sanggatrasima : putra kedua Panglima Samudra Jara Sinya
Kra Dawang : Panglima Muda Armada Samudra Sriwijaya
Patakanandra : Panglima Muda Armada Samudra Sriwijaya
Mandrasiya : Panglima Muda Armada Samudra Sriwijaya
Sru Suja : Panglima Muda Armada Samudra Sriwijaya yang terbunuh oleh Bajak Laut Semenanjung Karang
Mawaseya, Dapunta Muara Manan : penguasa di perairan muara besar
Punja Supa : penasihat Dapunta Mawaseya
Wantra Santra : Ketua Kelompok Rahasia Wangseya
Mahak Ilir : salah satu keturunan bekas penguasa Kerajaan
Malaya : yang kemudian ditunjuk menjadi dapunta di Minanga Tamwa oleh Kerajaan Sriwijaya
Mu Sangka : anak buah Wantra Santra, anggota utama Kelompok Rahasia Wangseya
Basa Kante : anak buah Wantra Santra, anggota utama Kelompok Rahasia Wangseya
Kung Muda : anak buah Wantra Santra, anggota utama Kelompok Rahasia Wangseya
Cangga Tayu : Panglima Bhumi Sriwijaya
Mahilir : Panglima Muda Armada Bhumi Sriwijaya
Ja Srabu : Panglima Muda Armada Bhumi Sriwijaya
Tatasandra : Panglima Muda Armada Bhumi Sriwijaya
Kangga Kiya : dapunta penguasa Datu Singkep Kawelu, penasihat Datu Singkep
Cahyadawasuna, Dapunta Talang Bantas, yang kemudian dipindahkan ke Kedatuan Sriwijaya di Telaga Batu
Mula Suma : penasihat Datu Talang Bantas
Rapa Sungka' : penasihat Dapunta Cahyadawasuna, pengganti Mula Suma
Abdibawasepa/Abah Kara, ayah Kara Baday : bekas Dapunta Muara Jambi
Kara Baday : pemimpin Bajak Laut Semenanjung Karang, yang kemudian menjadi Panglima Muda Sriwijaya
Phri Jandi, kakak Aulan Rema : kekasih pertama Kara Baday
Aulan Rema : adik Phri Jandi, tinggal di Pulau Karang
Kumbi Jata : bekas abdi Dapunta Abdibawasepa dan menjadi anak buah Kara Baday
__ADS_1
Pande Wayu : anak buah Kara Baday
Ih Yatra : Datu Muara Jambi, ayah dari Agiriya
Agiriya : gadis jelita putri Datu Jambi, tubuhnya begitu harum hingga kupu-kupu selalu hadir padanya
Katra Wiren : salah satu kakak Agiriya
Jungga Dayo : salah satu kakak Agiriya
Kuya Jadran : guru Agiriya di Panggrang Muara Gunung
Magra Sekta : teman seperguruan Agiriya, yang paling lemah.
Windra Kutra : kakak seperguruan Agiriya
Payan Walu : kakak seperguruan Agiriya, yang selalu mengganggu Magra Sekta
Sangda Alin : pendekar perempuan yang bersembunyi di bawah jurang dan muncul kembali sebagai pendekar bercadar dengan rajah kupu-kupu di pipinya
Pande Wayu : bajak laut terbengis di Pantai Barat Cengko
***
swasti cri cakrawarsatita 605 ekadaci cuklapaksa wulan waicakka dapunta hyang najlk di samwau mangalap siddhayatra di saptami cuklapaksa wulan jyetha dapunta
hyang marlepas dari minanga tamwa mamawa yang wala dua laksa ko dua ratus cara disamwau dengan jalan sariwu tlu ratus sapulu dua banyaknya datang di matadanau sukhacitta di pancami cuklapaksa wulan asada lagku mudita datang marwuat wanua criwijaya jaya siddhayatra subhiksa ....
*Bahagia! Pada tahun Saka 605 hari kesebelas, bulan terang bulan Walsaka, Dapunta Hyang naik di perahu melakukan siddhayatra. Pada hari ketujuh dari bulan terang bulan Jyestha, Dapunta Hyang berangkat dari Minanga Tamwa membawa tentara dua laksa orang dua ratus orang di perahu, yang berjalan seribu tiga ratus dua belas banyaknya, datang di matadanau dengan senang hati. Pada hari kelima dari bulan terang bulan Asada dengan lega gembira datang membuat wanua Sriwijaya melakukan perjalanan jaya dengan lengkap...
(Prasasti Kedukan Bukit*)
***
Kembalinya Balaputradewa Empat puluh tahun silam dari hari ini, bumi pernah terasa
murka. Bergemuruh penuh amarah, meretakkan setiap jengkal tanah tempat biasa dipijak. Ketakutan seakan melingkupi
seiring bau belerang yang menusuk. Burung-burung beterbangan menjauh, hewan-hewan berlarian, juga manusia....
Empat puluh tahun silam dari hari ini, salah satu gunung terbesar di gugusan bukit-bukit itu meletus dengan dahsyat, seakan mencoba memecahkan langit. Debunya yang panas
kemudian memenuhi udara. Disusul munculnya lahar yang menyembur dari ratusan titik di retakan-retakan tanah itu....
Empat puluh tahun silam dari hari ini, teriakan-teriakan memekik terdengar di sepanjang sudut. Ketakutan memenuhi setiap benak. Hingga suara tangis bayi, yang sebenarnya masih terdengar sayup-sayup pun sama sekali tak tergubris oleh siapa pun yang tengah berlari menyelamatkan diri. Ya, bayi yang baru saja selesai ******* ****** ibunya, yang kini telah tergeletak tak bernyawa memeluknya, seakan terlupa. Ia hanya bisa terus menangis di antara semburan lahar itu....
Itu adalah kisah empat puluh tahun silam, saat hari terlahir murka. Kisah yang mungkin telah hilang dari ingatan siapa pun, termasuk orang-orang yang memekik ketakutan kala itu.
Dan kini, di tahun 843 Saka, hari terlahir tak lagi murka. Sepertinya sudah begitu lama hari selalu lahir dengan bersahabat. Langit cerah, sinar matahari hangat, dan awan terus-terusan membuat tebak-tebakan di tubuhnya untuk anak-anak yang melihatnya....
Di atas sambau, perahu khusus milik Kerajaan Sriwijaya bertiang layar empat, Balaputradewa memejamkan matanya kuat-kuat. Dihirupnya udara dalam-dalam hingga merasuki rongga dadanya. Seharusnya, aroma tajam laut yang akan diciumnya, tetapi tidak kali ini. Sudah sekian lama, sejak
Semuanya akan menggantung, tak mau pergi. Terus mengikuti dirinya, walau sudah begitu jauh sambau-nya membawa dirinya pergi dari tanah itu. Balaputradewa hanya bisa mengeluh diam-diam.
Kini setiap hari, ia hanya bisa mencoba menghitung untuk keberapa kali matahari telah menyapanya. Ia juga mencoba menikmati setiap lekuk awan yang bertebaran di langit. Dan, bila malam tiba, ia akan memperhatikan pergeseran bulan di setiap malam atau bahkan mencoba mengamati bintang-bintang. Semua ini dilakukan hanya untuk mengalihkan pikirannya agar lepas dari bayangan peperangan itu. Akan tetapi, Balaputradewa selalu merasa gagal.
Bagaimana mungkin ia bisa melupakannya? Itu adalah peperangan pertamanya, juga kekalahan pertamanya.
Bagaimana mungkin ia bisa melupakannya begitu saja?
Terlebih pada Dusun Iwung. Dusun yang mengiringinya tumbuh itu kini porak-poranda dan tergenang oleh lautan darah karena telah menjadi ajang pertempuran tersebut.
"Sri Maharaja," suara seorang pengawalnya tiba-tiba mengagetkannya.
Balaputradewa menoleh. Dilihatnya seorang pengawalnya tengah berlutut di dekatnya dengan kepala tertunduk dalam. Walau ia belum benar-benar menjadi raja, semua pengawal sudah memanggilnya dengan gelar itu, gelar yang hanya digunakan bagi raja-raja keturunan Sailendra.
"Ada apa?" tanyanya.
Lelaki setengah baya dengan kumis melintang itu mengangkat kepalanya
"Kami sudah melihat daratan."
Mata Balaputradewa membulat. Tak bisa dimungkiri, ia begitu merindukan daratan. Selama ini, ia belum pernah sekali pun melakukan perjalanan laut sejauh ini.
"Apakah itu ... Bhumi Sriwijaya?" tanyanya.
"Tampaknya benar, Sri Maharaja," jawab pengawalnya lagi.
Balaputradewa segera beranjak ke arah anjungan dengan gerakan terburu. Dari sana dibuangnya pandangan ke depan. Ia dapat melihat daratan hijau di kejauhan sana.
"Segera kabarkan," ujarnya tanpa menoleh kepada pengawalnya
"kabarkan pada sambau yang lain, kita akan
segera merapat" Lalu, pengawal itu segera berlari menuju dek sambau di bagian buritan, yang merupakan tempat tertinggi di seluruh
bagian sambau.
Segera saja, dengan bendera kecil di tangannya, ia memberi tanda pada sepuluh sambau yang terus berlayar mengiringi sambau utama ini di belakangnya.
Balaputradewa menarik napas panjang. Matanya tak lagi lepas memandang daratan di kejauhan. Entah mengapa, dadanya tiba-tiba terasa bergemuruh, seiring ombak yang
berkali-kali menghempas sambau-nya dengan kuat seperti ...
kerinduan akan kampung halaman. Sungguh, ia benar-benar tak tahu mengapa sensasi ini bisa begitu dirasakannya.
Sriwijaya, Sriwijaya, Sriwijaya, sekian lama ia sudah mendengar bumi moyangnya itu, tetapi baru sekali ini ia akan menginjakkan kaki di situ.Menginjakkan kaki untuk ... menjadi seorang raja.
__ADS_1
***
Hanya beberapa hari berselang, pengangkatan Balaputradewa dilakukan di Kedatuan (Pusat kerajaan/pusat datu seperti halnya keraton) Sriwijaya yang ada di Telaga
Batu.
Chra Dayana, orang yang selama ini memegang tampuk kekuasaan di Bhumi Sriwijaya, memimpin sendiri pengangkatan itu. Selama ini Chra Dayana-lah yang menjadi dapunta (Sebutan bagi peminpin tinggi) atau penguasa di Bhumi Sriwijaya ini. Ia memang memiliki hubungan keluarga dari keturunan penguasa Sriwijaya di Bhumijawa.
Bersama dengan beberapa pendeta Buddha Mahayana, ia mengambil sumpah Balaputradewa, diiringi dengan pandangan para pu (gelar abdi di kedatuan pada masa
Kerajaan Sriwijaya), juga para dapunta yang ada di bawah kekuasaan Sriwijaya.
Pu merupakan sebuah gelar yang digunakan untuk petinggi-petinggi yang ada di kedatuan di seluruh wilayah Sriwijaya, sedangkan gelar dapunta biasanya digunakan untuk orang yang menjadi penguasa sebuah datu (desa).
Maka mulai saat itulah, Balaputradewa bergelar Sri Maharaja. Ia sengaja tak lagi memakai gelar Dapunta Hyang (Sebutan bagi raja tertinggi Sriwijaya) yang selama ini dipakai oleh Raja-raja Sriwijaya di Telaga Batu. Beberapa generasi sebelumnya, kekuasaan Sriwijaya memang sempat terpecah ke Bhumijawa. Saat itulah gelar Sri Maharaja kemudian dipakai oleh Raja-raja Sriwijaya, terutama bagi raja-raja keturunan Wangsa Sailendra. Maka itulah, sebagai penerus Wangsa Sailendra, Balaputradewa kemudian memakai gelar itu.
Hanya sehari berselang, Sri Maharaja Balaputradewa langsung memanggil semua Pu di kedatuan kerajaan ini. Terlalu banyak hal yang harus dibicarakan dan dipelajarinya.
Ia bagai seorang bayi yang baru terlahir di tanah ini. Sambil menunggu dimulainya pertemuan itu, ia memandang sekitarnya dengan saksama. Dari arah kedatuannya yang berada di dataran yang lebih tinggi, ia bisa melihat sekelilingnya dengan jelas.
Perdatuan (pedesaan) ini dikelilingi oleh tembok bata berwarna merah yang membentuk seperti sebuah kotak besar. Tebalnya lebih dari dua tombak. Tingginya hampir menyamai setengah pohon kelapa, bahkan di beberapa sudut, menara-menara terlihat mencolok, melebihi ketinggian pohon-pohon kelapa. Kekukuhan benteng ini begitu terlihat jelas. Apalagi di setiap sudut, prajurit-prajurit tampak berjaga.
Dari kedatuan ini pula, terlihat Pelabuhan Telaga Batu jauh di timur laut sana dengan Sungai Musi yang selalu tampak berkilau. Beberapa sambau dan perahu-perahu asing tampak di sekitar pelabuhan. Sungai Musi memang bermuara di Telaga Batu. Bagian muara yang lebih besar lagi berada jauh
ke arah timur. Namun, kehirukpikukan masih dapat dirasakan dari kedatuan itu.
Sebagai pusat kekuasaan Sriwijaya, Telaga Batu memang jauh lebih ramai bila dibandingkan dengan datu-datu lainnya. Beberapa permukiman, tempat rumah-rumah
sederhana dibangun, mengelompok di beberapa titik.
Beberapa wihara juga terlihat di sana. Ribuan biksu Buddha Mahayana kerap melintas berbaur di antara penduduk. Pada masa itu perkembangan agama Buddha memang telah mencapai puncaknya di Sriwijaya. Bahkan, di sini pulalah pusat pengajaran Buddha Mahayana sehingga tanah ini begitu menarik bagi peziarah dan kaum-kaum terpelajar dari tanah-tanah yang jauh, terutama dari Cina dan India.
Sri Maharaja Balaputradewa terus mengamati sekitarnya. Ia masih teringat cerita turun-temurun tentang sejarah berdirinya kerajaan ini yang sering dikisahkan oleh ayahandanya, Sri Maharaja Samaragrawira.
Dulu moyangnya, Dapunta Hyang Sri Jayanasa, memimpin dua laksa pasukan,
atau dua puluh ribu pasukan, yang berupa pasukan darat dan juga beberapa ratus sambau, datang dari arah Minanga Tamwa menuju ke selatan. Dari situlah kemudian Kerajaan Sriwijaya berkembang.
Sriwijaya sendiri merupakan sebuah nama dari bahasa Sanskerta. Sri berarti 'bercahaya' dan wijaya berarti 'kemenangan'.
Sejak tahun 500-an, orang-orang Cina, India,
dan Khmer sudah datang untuk berdagang.
Orang Cina menyebut bhumi ini San Fot Tsi, sedang orang Arab menyebutnya Zabag, dan orang Khmer menyebutnya Malaya. Dalam bahasa Sanskerta sendiri, Sriwijaya sering disebut Yavadesh dan Javadeh.
"Hormat hamba kepada Sri Maharaja," sebuah suara sedikit mengagetkannya. Pu Chra Dayana tiba-tiba saja sudah membungkuk di belakangnya. Setelah kekuasaan diserahkan
kepada Balaputradewa, kini Chra Dayana memang diangkat menjadi Pu tertinggi di kerajaan ini
"Semua tamu sudah berkumpul," sambungnya.
Sri Maharaja Balaputradewa mengangguk perlahan. Sedikit hatinya merasa ragu. Pertanyaan-pertanyaan dari benaknya,
sepertinya terngiang di telinganya. Apakah kehadiranku diinginkan oleh orang-orang di Telaga Batu ini? Apakah mereka tetap mempunyai kesetiaan kepadaku?
Perlahan, Sri Maharaja Balaputradewa melangkah ke dalam ruangan itu. Dalam suasana seperti ini, entah mengapa,
secara tiba-tiba, bayangan kekalahannya di Dusun Iwung kembali menyeruak. Namun, tak lagi hanya sekadar bayangan peperangan itu, tetapi diiringi dengan bayangan sosok
Pramodawardhani yang berkelebat begitu saja, juga bayangan Jatiningrat ....
Lalu, ketika akhirnya dirinya duduk di singgasana itu, suara penghormatan terdengar serentak di telinganya. Namun,
entah mengapa, sambil memandang puluhan orang yang bersimpuh di depannya, Sri Maharaja Balaputradewa merasakan kalau gema suara itu terasa begitu datar di
telinganya ....
Sri Maharaja Balaputradewa menarik napas panjang-panjang.
"Kini keinginan terdalamku adalah," ia memotong kalimatnya sambil menyapukan pandangannya pada semua yang hadir,
"mengembalikan lagi kejayaan Wangsa Sailendra" Namun, ucapannya itu pun terasa begitu datar.
Sungguh, hari ini, walau seharusnya menjadi hari terpenting baginya, benar-benar terasa begitu biasa. Seakan-akan hari ini akan
terlalu begitu saja, tanpa tanda akan sesuatu yang besar....
Jauh sebelum hari itu, lebih dari dua puluh tahun yang lalu, sungguh, ada satu hari yang juga terlahir tanpa tanda.
Semuanya seakan sangat biasa. Angin tak berembus, daun tak bergoyang, dan awan tak bergerak. Sungguh, sebuah hari yang begitu biasa, hari yang tak mungkin diingat.
Namun, jauh dari tanah Telaga Batu, di Desa Tebu Nangga, kejadian tak biasa baru saja terjadi. Desa yang hanya berisi tak lebih dari dua puluh keluarga itu, seakan sontak menghentikan seluruh kegiatannya. Mereka
berduyun-duyun merubung sebuah rumah talang, atau rumah yang dibangun di atas tanah dengan bertumpu pada empat
batang kayu kelapa, yang terletak di ujung desa.
Di situlah, Bayak Kungga baru saja melahirkan seorang cucu.
"Aren sudah beranak," seorang berujar dengan berbisik kepada seorang yang baru datang.
"Akan tetapi, anaknya tak biasa," tambah yang lain.
Ya, bayi yang dilahirkan Aren Suwa, anak dari Bayak Kungga, memang lahir tak biasa. Bayi itu bertangan tiga. Di pangkal tangan kanannya, tepat di bagian pundak, ada
sebuah tangan kecil lainnya yang tampak tak bertulang.
__ADS_1
Bayak Kungga hanya bisa memandang tak mengerti. Berkali-kali disentuhnya tangan itu dengan tangannya yang kasar.