
Lepas dari muara besar Sungai Musi, lautan dipenuhi oleh sambau-sambau berpanji merah. Itu merupakan tanda perahu-perahu milik Kerajaan Sriwijaya. Selain berpanji
merah, sambau-sambau Sriwijaya dapat dikenali dari bentuknya yang besar dan tinggi mencolok. Sambau terkecil saja sudah bertiang layar dua. Bahkan, beberapa sambau ada yang bertiang layar lima. Panjang sambau pun mencapai dua puluh tombak untuk yang terkecil dan bisa mencapai seratus tombak untuk sambau utama.
Selain bentuknya yang besar dan panjang, sambau Sriwijaya juga memiliki beberapa ciri khas lainnya. Bagian depan kapal ditinggikan hingga tampak menjulang. Lalu, bagian buritannya datar dan kotak, tanda di situlah ruangan perahu berada. Ini berbeda dengan perahu-perahu dari Gujarat dan Cina, yang biasanya bagian depan dan buritannya
tampak hampir sama. Walau dibuat dari kayu yang mungkin sama dengan perahu-perahu itu, ada beberapa cara yang sedikit berlainan dalam pembuatan sambau, terutama teknik
penyambungan papan. Pada sambau, sambungan dibuat dengan cara pena kayu.
Cara ini semata-mata hanya menggunakan kayu sedemikian rupa sebagai alat penyambung papan. Ini tentu saja bisa menahan air asin dan tidak berkarat. Pada bagian tiang, tiang utamanya sengaja dibuat
agak miring ke depan sebagai pemancang layar yang berbentuk segi empat. Untuk layar penunjang biasanya digunakan bentuk layar segitiga, yang lebih dikenal dengan nama layar sudu-sudu.
Hampir semua sambau Sriwijaya bergambar mata elang di lambungnya. Ini dibuat berdasarkan satu kepercayaan tradisional yang masih berlaku hingga sekarang. Sedang di bagian tepi sambali terdapat ukiran berbentuk gelombang bertingkat. Jumlahnya disesuaikan dengan besar sambau. Dari jauh ukiran ini seakan menyatu dengan gelombang laut.
Secara umum sambau Sriwijaya terdiri dari tiga tingkat. Tingkatan terbawah untuk para pendayung, sedikit ke atas untuk prajurit perang, dan di bagian paling atas untuk para
panglima dan prajurit-prajurit pilihan.
Sambau terbesar bisa memuat seratus sampai tiga ratus orang yang separuh di antaranya adalah pendayung. Para pendayung ini juga merupakan prajurit Sriwijaya, biasanya adalah prajurit-prajurit baru. Bila mereka dianggap berjasa atau telah mengikuti perang cukup lama, barulah para
pendayung ini naik ke posisi yang lebih di atas lagi.
Selain sambau-sambau yang memenuhi perairan ini, terlihat juga beberapa perahu besar tanpa panji. Biasanya itu merupakan perahu-perahu pedagang dari tanah Gujarat
ataupun Cina. Sedikit ke tepi tampak puluhan perahu yang lebih kecil milik nelayan-nelayan. Perahu-perahu kecil ini biasanya merupakan perahu lesung atau perahu yang dibuat dari satu buah kayu besar yang dikeruk bagian dalamnya.
Beberapa di antaranya bercadik di kiri dan kanannya. Sejak dulu muara besar ini memang kaya dengan berbagai jenis ikan. Mungkin karena tanah di sekitar muara besar ini masih merupakan rawa-rawa yang begitu luas sehingga di sini dengan mudah dapat ditemukan ikan-ikan air tawar berbagai
jenis. Namun, agak menjauh sedikit dari pantai, ikan-ikan air lautlah yang akan banyak dijumpai.
Maka itulah, sejak puluhan tahun yang lalu, orang-orang yang tinggal di datu-datu
sepanjang muara besar ini menggantungkan hidup dengan menjadi nelayan.
Sebagai salah satu jalan menuju Telaga Batu, daerah itu dijaga dengan ketat. Tak lebih dari tiga datu dibangun di sekitar muara besar.
Datu utama ada di Muara Manan, yang
ada di sebelah timur laut Telaga Batu.
Di sinilah armada samudra Sriwijaya berpusat. Sejak kedatangan Sri Maharaja Balaputradewa, belum ada perubahan yang berarti pada datu ini. Para pengawal masih
tampak berjaga seperti biasa. Semua kegiatan masih tampak seperti sedia kala.
Namun, di hari ini, saat matahari tepat berada di atas kepala, seorang prajurit dengan langkah terburu memasuki Kedatuan Muara Manan. Sejak turun dari kudanya ia terus
berlari dengan cepat. Beberapa prajurit yang dilewati, hanya membungkuk kecil, dan terus memberinya jalan hingga ia sampai di ruang utama kedatuan.
"Salam sejahtera untuk Dapunta Mawaseya," ujarnya sambil berlutut, tanpa bisa menutupi napasnya yang tersengal
"Hamba ingin melaporkan bahwa salah satu
sambau kita kembali dirampok dan dibakar. Kali ini sambau milik Panglima Muda Sru Suja."
Sosok yang berdiri tegak di depan prajurit itu seketika terentak. Ia adalah Dapunta Mawaseya, Datu Muara Manan, penguasa yang ditunjuk untuk mengawasi perairan di muara besar ini.
"Bagaimana mungkin?" ia bertanya tak yakin. Ia tahu betul kemampuan semua panglima muda Sriwijaya.
Seorang panglima muda dipilih secara khusus dari ribuan prajurit. Kecakapan dalam bela diri dan kecerdasan mengatur strategi adalah poin utama menjadi seorang panglima muda. Hanya orang yang benar-benar istimewa yang bisa terpilih.
Sampai saat ini sudah ada tiga belas panglima muda di bawah Panglima Samudra Jara Sinya yang mengawasi seluruh perairan di Sriwijaya. Selain itu ada juga tiga belas panglima muda di bawah Panglima Bhumi Cangga Tayu yang mengawasi daratan Sriwijaya.
Seorang panglima muda nantinya akan memimpin sekitar dua puluh sampai lima puluh sambau sekaligus, atau sekitar seribu sampai selaksa prajurit, tergantung kemampuannya.
Dapunta Mawaseya mengetahui sekali bila Panglima Muda Sru Suja merupakan panglima termuda dari tiga belas panglima muda lainnya. Ia baru bertugas tak lebih dari dua tahun. Namun, kecakapannya dalam bela diri tak bisa diragukan lagi. Ia merupakan salah satu prajurit yang dibimbing secara khusus oleh Panglima Samudra Jara Sinya
sejak sepuluh tahun silam. Jadi, sungguh sulit disangka bila ia dan sambau-nya. dapat dikalahkan hanya oleh sekelompok
perampok!
"Bajak Laut Semenanjung Karang yang melakukannya, Dapunta,"
__ADS_1
prajurit yang masih menunduk itu kembali berucap.
Mendengar kalimat itu, tanpa sadar Dapunta Mawaseya mengepalkan tinjunya.
"Keterlaluan!" suaranya tiba-tiba menggelegar.
"Ini sudah ketiga kalinya mereka bertindak di depanku. Benar-benar menantangku!"
Amarahnya tak bisa lagi ditutupi. Dapunta Mawaseya memang sudah sewajarnya semarah itu. Ini menyangkut reputasinya di mata Sri Maharaja, pemimpin Sriwijaya. Tiga
purnama lalu, ia ditunjuk secara langsung oleh Dapunta Chra Dayana karena dianggap paling mampu mengawasi perairan di muara besar ini. Namun, belum genap tiga purnama ia memimpin, bajak laut itu sudah beraksi tiga kali.
Ini sungguh memalukan!
Padahal sejak sehari saja Dapunta Mawaseya menduduki posisi ini, ia sudah mengerahkan puluhan armadanya untuk berjaga di perairan ini. Beberapa kelompok bajak laut lain, bahkan berhasil dihancurkannya. Namun, tidak dengan Bajak Laut Semenanjung Karang.
Harus diakuinya diam-diam, Bajak Laut Semenanjung Karang memang bukanlah bajak laut biasa. Ia adalah kelompok bajak laut terkuat yang pernah diketahuinya beraksi di Pantai Timur ini.
Walau sebenarnya pasukan mereka hanya
terdiri dari perahu-perahu sedang saja, yang jumlahnya tak lebih dari sepuluh perahu. Namun, kemampuannya bergerak sangat mencengangkan. Sebelumnya Dapunta Mawaseya tak pernah menemukan bajak laut yang begitu rapi dalam beraksi sebagaimana Bajak Laut Semenanjung Karang ini. Mereka
begitu terorganisasi. Kemampuan mereka menentukan waktu menyerang dan menyelinap sungguh luar biasa. Tak heran
serangannya selalu mengejutkan karena selalu saja dalam posisi yang tak wajar. Jelas sekali selain menguasai bela diri, anggotanya pastilah dipimpin oleh ahli strategi yang andal, bahkan mungkin pernah menjadi pasukan di lingkungan Sriwijaya!
"Bersabarlah, Dapunta," Pu Punja Supa, penasihatnya yang berjenggot putih, mendekat.
"Bersabarlah!"
"Kau ingin aku bersabar berapa lama lagi, Pu?" Dapunta Mawaseya balas bertanya.
"Dengar!" Pu Punja Supa semakin mendekat,
"Bila ia bisa mengalahkan sambau Panglima Muda Sru Suja, itu artinya bajak laut ini... sama sekali bukanlah lawan yang ringan."
Dapunta Mawaseya terdiam. Ucapan Pu Punja Supa yang pelan tetapi tajam seakan kembali mengingatkannya pada dugaannya.
Memang seharusnya Panglima Muda Sru Suja bukanlah orang yang dapat dengan mudah dikalahkan! Saat itulah Dapunta Mawaseya baru meyakini kalau Bajak Laut
Dapunta Mawaseya kemudian membuang pandangannya ke hamparan laut di depannya. Pikirannya mencoba kembali mengingat-ingat. Tetapi, tak banyak yang diketahuinya tentang Bajak Laut Semenanjung Karang. Sebelum memegang kekuasaan di sini, ia memang pernah mendengar kabar-kabar yang tak jelas tentang bajak laut ini. Konon bajak laut ini dipimpin oleh seorang bekas dapunta di Sriwijaya.
Namanya Dapunta Abdibawasepa, yang dulunya merupakan penguasa Datu Muara Jambi. Kabar ini sungguh sudah begitu lama
didengarnya. Sejak ia masih saja menjadi prajurit biasa.
Kabar tentang pembelotan Dapunta Abdibawasepa cukup mengguncang Kedatuan Sriwijaya. Selama ini Dapunta
Abdibawasepa dikenal sebagai sosok karismatik yang dianggap paling setia bagi Kerajaan Sriwijaya. Maka itulah, kabar
tentang bergabungnya ia dengan bekas pemimpin Kerajaan Malaya cukup mengejutkan.
Akan tetapi, belum sempat Dapunta Abdibawasepa membela diri, hukuman gantung sudah dijatuhkan kepadanya,
juga kepada seluruh keluarganya. Saat seluruh keluarganya dihukum itulah Dapunta Abdibawasepa diselamatkan oleh anak buahnya yang masih setia. Mereka membawanya pergi entah ke mana.
Sejak itu yang didengar olehnya adalah kisah perburuan pasukan Sriwijaya menangkap Dapunta Abdibawasepa bersama anak buahnya yang berjumlah tak lebih dari dua
ratus orang.
Mengingat kisah itu, Dapunta Mawaseya hanya bisa terduduk perlahan.
"Sebaiknya," suaranya terdengar pelan
"apa yang harus aku lakukan, Pu?"
Pu Punja Supa mendekat satu langkah,
"Kupikir masalah ini cukup pelik. Hamba pikir Dapunta harus membahasnya secara
mendalam dengan Panglima Samudra Jara Sinya."
Dapunta Mawaseya mengangguk setuju,
__ADS_1
"Kupikir memang itu jalan yang terbaik," ia kemudian segera menoleh kepada
para prajuritnya yang lain
"Hari ini juga, siapkan kereta. Aku ingin bertemu Panglima Samudra Jara Sinya di Telaga Batu
Panglima Samudra Jara Sinya merupakan sosok penuh karisma. Walau usianya telah mencapai lima puluh tahun lebih, tak terlihat ketuaan pada dirinya. Tubuhnya masih tegap, matanya masih tajam, dan pedang yang disandang di pinggangnya pun masih tampak begitu besar, tanda kekuatannya belum juga berkurang.
Pedang itu adalah Pedang Wangga. Ukurannya hampir dua kali pedang biasa. Sejak menjadi panglima muda dulu, pedang
itu sudah dipegangnya. Tak semua orang bisa menggunakan pedang itu dengan baik karena ukuran dan beratnya yang tak biasa. Hanya orang-orang dengan kemampuan tenaga dalam yang tinggi saja yang bisa memainkannya dengan sempurna.
Sudah lima belas tahun Panglima Samudra Jara Sinya memegang kekuasaan tertinggi di armada samudra Sriwijaya. Bersama Panglima Bhumi Cangga Tayu, ia merupakan dua tokoh terpenting di Sriwijaya.
Bila kekuatan armada darat ada di tangan Panglima Bhumi Cangga Tayu, kekuatan armada samudra sepenuhnya ada di
tangannya. Dibantu oleh dua orang putranya, Luwantrasima dan Sanggatrasima, serta tiga belas panglima muda yang dipilihnya, ia menguasai perairan dari Semenanjung Malaya hingga ke Bhumijawa.
Hari ini, tak seperti biasa, ia terpekur menatap tamu yang datang menghadapnya, Dapunta Mawaseya. Beberapa saat yang lalu ia larut mendengarkan seluruh cerita dari mulut
dapunta yang paling kerap berhubungan dengan armada samudranya.
"Sebenarnya, ini bukan termasuk urusanku, Dapunta Mawaseya," akhirnya ia berujar pelan
"Tetapi, kupikir, kekalahan Sru Suja benar-benar di luar dugaan. Tampaknya bajak laut ini memang merupakan musuh yang harus kita urus dengan serius."
Dapunta Mawaseya mengangguk cepat,
"Benar, Panglima, ini bukan masalah sederhana. Mereka bukan sekadar bajak
laut biasa"
"Apalagi," tambahnya sambil mencondongkan tubuhnya ke depan
"ada kabar yang mengatakan bahwa bajak laut itu adalah bekas pasukan ... Dapunta Abdibawasepa"
Panglima Samudra Jara Sinya menoleh dengan wajah tak percaya,
"Apa yang kaukatakan?" ujarnya dengan kening berkerut
"Dapunta Abdibawasepa?"
"Ya, Dapunta Abdibawasepa, bekas Datu Muara Jambi."
Panglima Samudra Jara Sinya tertegun. Pikirannya mendadak melayang jauh ke saat itu ....
Dapunta Abdibawasepa ....
Ah, ia mengenal sekali sosok itu. Sebelum menjadi dapunta di Datu Muara Jambi, Dapunta Abdibawasepa merupakan Panglima Bhumi Sriwijaya. Beberapa tahun ia pernah bertugas bersama dengan tokoh itu sehingga mengenalnya secara pribadi. Dulu, sewaktu ada kabar tentang pembelotannya dari
Kerajaan Sriwijaya, hanya ia yang terus berusaha membela dapunta itu hingga mengutus beberapa orang kepercayaannya
untuk membuktikan kebenaran kabar itu.
Namun, tampaknya bukti-bukti sama sekali tak terbantahkan lagi. Ia pun tak bisa
melakukan apa-apa selain diam. Namun, jauh di lubuk hatinya, ia tak pernah yakin Dapunta Abdibawasepa bisa berkhianat pada tanah yang disanjungnya ini.
Hingga Kelompok Rahasia Wangseya, kelompok rahasia yang ada di bawah kendali langsung Dapunta Hyang penguasa Sriwijaya, mengusulkan hukuman mati bagi Dapunta Abdibawasepa dan keluarganya!
Sungguh, Panglima Samudra Jara Sinya masih mengingat itu semua dengan jelasnya.
Maka itulah, ia kemudian segera berpaling ke arah Dapunta Mawaseya
"Baiklah Dapunta," ujarnya
"Sebaiknya kita bergerak cepat....”
Jauh di timur muara besar, di balik sebuah pulau besar, terdapat gugusan pulau-pulau kecil tak bernama. Sebagian besar hanyalah pulau-pulau karang. Di sanalah embusan angin musim penghujan terasa begitu luar biasa. Rintikan airnya sesekali datang dan sesekali berhenti. Namun, gelombangnya
benar-benar seakan tak terkendali. Sungguh, berbeda dengan perairan yang ada di sebelah barat pulau yang selalu tampak ramai, di sini laut seakan tak berkawan.
Sudah sejak lama perairan di sini dikenal dengan perairan yang berombak sangat ganas. Namun, jalur ini tetap saja selalu dilalui oleh perahu-perahu besar. Tak heran, perairan ini memang merupakan satu-satunya jalur yang paling dekat bagi perjalanan dari Cina ke Bhumijawa, juga sebaliknya.
__ADS_1
Karena keadaan inilah, beberapa bajak laut kemudian menduduki daerah ini sebagai tempat aksi mereka!