
Apa yang lebih menakutkan dari mimpi yang mengoyak setiap malam dan mengentak diri dalam kesendirian?
Mimpi yang memerangkap diri dalam ketakutan dan kengerian?
Ya, apa yang lebih menakutkan dari itu?
Mimpi panjang tentang malam yang seakan tak pernah selesai. Malam yang semula hanyalah bercerita tentang gerimis kecil yang jatuh satu-satu pada pori-pori tanah. Malam
yang semula membuat gerimis kecil terasa begitu melenakan dan dapat membuat sepasang kekasih semakin erat berpelukan. Malam yang semula tentunya akan diduga
menjadi malam yang berlanjut indah ....
Akan tetapi ternyata tidak. Gerimis mendadak semakin deras. Semakin menderu. Langit mendadak bergelora. Petir menyambar bumi berkali-kali. Tak ada yang bisa menghitungnya. Semua hanya mengingat petir itu seakan tak berhenti berkilat. Menyambar, menyambar, dan menyambar. Seakan menandakan luka di tanah itu ....
Lalu, gemuruh jejakan kaki-kaki itu bergetar panjang ilan seakan tak terhenti. Teriakan-teriakan bergema dan suara peperangan tak lagi bisa dihindari. Semuanya seakan sebuah jalinan kisah yang menyatu. Lalu, tubuh-tubuh pun mulai berguguran satu demi satu. Darah seketika berpadu dengan tetesan air. Teriakan-teriakan seakan menyentak langit tak habis-habisnya....
Dan saat itulah pekikan kecil itu menyadarkan semuanya. Menciptakan sebuah akhir yang sengaja diciptakan dengan menggantung.
Sri Maharaja Balaputradewa tersentak dari tidurnya. Napasnya memburu dan keringatnya mengucur membasahi tubuhnya. Selalu seperti ini, selalu seperti ini.
Kedatangannya ke Telaga Batu, yang begitu jauh dari Bhumijawa, sama sekali tak membuatnya melupakan hari itu!
Sri Maharaja Balaputradewa hanya bisa terpekur setelah itu. la tak lagi bisa memejamkan matanya. Pikirannya tanpa
bisa dikendalikan lagi akan menyelisip ke celah-celah ruang yang kosong, melayang jauh ....
Begitu jauh ....
Sangat jauh ....
Ia akan segera teringat saat dirinya dan para pengikutnya mendirikan benteng dari bata-bata berwarna merah di Desa Iwung di Bhumijawa.
__ADS_1
Ia akan teringat tengah berdiri di salah satu menara mengamati gerakan pasukan Jatiningrat Rakai Pikatan yang merangsek maju ke bentengnya.
Ia ingat, ia ingat....
Seperti saat ia ingat ketika Pramodawardhani berlari-lari ke arahnya bertahun-tahun sebelumnya ....
Waktu itu Pramodawardhani masih begitu kecil dan tawanya masih begitu ringan. Gadis kecil itu mengitari tubuhnya berkali-kali sambil memanggil-manggil namanya di
sela-sela tawanya,
"Paman Bala ... Paman Bala ... Paman
Bala..."
Dan, Balaputradewa, dengan tertawa-tawa juga, akan segera meraih tubuh itu dan menggendongnya tinggi-tinggi
Ia ingat, ia ingat....
Saat teriakan-teriakan bergema....
Saat tubuh-tubuh berguguran ....
Sungguh, Sri Maharaja Balaputradewa, dan orang-orang yang tersisa di malam itu,
tak akan pernah bisa melupakan malam itu. Mereka akan terus mengenangnya sebagai malam saat langit terbelah ....
Sri Maharaja Balaputradewa menarik pedangnya. Sesaat dipandanginya pedang itu dengan saksama. Kemilaunya yang tertimpa cahaya bulan yang menyelisip seakan membiusnya.
Ini pertama kalinya ia menarik pedang ini dari sarungnya, setelah sekian lama pedang ini hanya tergantung di mejanya. Sejak di Telaga Batu, ia seakan melupakan pedang yang telah sekian lama menemaninya. Dan, yang ditakutkannya kemudian terjadi! Pertanyaan-
pertanyaan yang selama ini menggantung di benaknya tiba-tiba muncul begitu saja ....
__ADS_1
Sudah berapa tubuh yang lerluka oleh pedang ini? Berapa nyawa yang terbunuh? Dan, berapa kepalayang terpenggal?
Sri Maharaja Balaputradewa menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Ia mencoba menepis pertanyaan-pertanyaan itu. Ia memulai berkonsentrasi penuh. Lalu, secara mengejutkan ia telah menggerakkan tubuhnya, memainkan jurus-jurusnya.
Bagai seorang pendekar yang tengah berhadapan dengan musuhnya, ia bergerak berirama. Bulan yang menyipit menyaksikannya dengan gamang.
Terus bergerak ... terus bergerak ... terus bergerak ....
Ia berputar, lalu menukik tajam, seakan-akan udara adalah lawannya. Perlahan-lahan mulai dimasukinya ruang lain dalam imajinasinya yang sebelumnya tak pernah dijamahnya. Ia
seakan melupakan semua bayang-bayang dan semua kata-kata yang selama ini menggantung dalam pikirannya. Ia pun bergerak semakin liar.
Sungguh, kali ini Sri Maharaja Balaputradewa benar-benar ingin melupakan semua bayang-
bayang di kepalanya.
Terus bergerak ... terus bergerak ... terus bergerak ....
Hingga akhirnya tubuhnya tak bisa lagi menolak kelelahannya. Ia terjatuh, seiring keringat yang membanjiri tubuhnya. Seorang pengawalnya yang sejak tadi mengawasinya dari balik pintu segera berlari mendekat dengan ragu.
Akan tetapi, sebelum pengawal itu bertanya, Sri Maharaja Balaputradewa malah bertanya terlebih dahulu
"Pengawal, apakah kau tahu sebuah ramuan yang dapat melupakan mimpi-mimpi?" tanyanya.
Pengawal itu terdiam, tampak bingung. Akan tetapi, sekali lagi, sebelum pengawal itu menjawab pertanyaan itu, Sri Maharaja Balaputradewa mengibaskan tangannya.
"Sudahlah, kau pergilah sana!" ujarnya.
"Biarkan aku sendiri"
Lalu, Sri Maharaja Balaputradewa kembali terpekur dalam keheningan ruangannya
__ADS_1