
Satu yang paling dikenal saat ini adalah Bajak Laut Semenanjung Karang. Tak ada yang tahu mengapa disebut demikian. Semenanjung Karang bukanlah kata yang umum.
Gugusan pulau karang ini sama sekali tak bisa disebut semenanjung. Namun, nama itulah yang melekat pada kelompok bajak laut itu. Mungkin karena tempat aksi mereka,
juga tempat persembunyian mereka, ada di sepanjang Semenanjung Malaya hingga di gugusan pulau karang ini. Tak ada yang benar-benar tahu
Awalnya Bajak Laut Semenanjung Karang tampak tak berbeda dengan bajak laut lainnya. Namun, semakin lama aksinya semakin terlihat berbeda. Mereka selalu beraksi di tempat-tempat yang sama sekali tak bisa diduga. Bahkan, sekali dua kali mereka beraksi di dekat muara besar.
Sungguh, mereka merupakan bajak laut paling berani yang dikenal sepanjang waktu ini. Tak hanya sampai di situ, lama-kelamaan Bajak Laut Semenanjung Karang juga tak segan-segan menyerang sambau-sambau Sriwijaya, yang biasanya paling dihindari oleh bajak laut lainnya. Inilah yang kemudian membuat mereka menjadi bajak laut yang paling dicari oleh Kerajaan Sriwijaya.
Aksi terakhir Bajak Laut Semenanjung Karang adalah saat mengalahkan sambau bertiang layar empat pimpinan Panglima Muda Sru Suja. Hanya dengan sepuluh perahu yang
panjangnya tak lebih dari sepuluh tombak dan memuat sekitar lima belas orang, mereka dapat mengalahkan ratusan pasukan
Panglima Muda Sru Suja, melalui pertempuran yang tak terlalu lama. Lalu, setelah menguras harta di sambau itu, mereka segera membakar sambau itu dan segera melarikan diri ke arah gugusan pulau-pulau karang.
Tak ada yang tahu ke mana kemudian mereka melarikan diri. Tak ada yang pernah tahu. Gugusan pulau-pulau karang ini seakan menelan kesepuluh perahu itu dalam kebisuannya.
Akan tetapi, bila dengan saksama mengamati sekitar pulau-pulau itu, di salah satu pulau yang terletak di tengah gugusan pulau itu, akan terlihat sebuah celah yang nyaris tak terlihat. Celah itu hanya sempit saja dan sangat berkelok. Mata yang tak awas, tak akan mengenalinya sebagai sebuah celah.
Namun, ke situlah kesepuluh perahu-perahu tadi menyelinap.
Celah itu ternyata membawa perahu-perahu itu menuju ke sebuah perairan tenang yang cukup berkelok. Sebuah daratan dengan dermaga kayu kecil seakan menjadi tujuan pelarian itu. Ya, sebuah dataran yang seakan menjadi pulau kecil yang dikelilingi karang-karang tinggi di sekitarnya. Di situlah,
terhampar sebuah tanah yang tampak begitu hijau.
Pohon-pohon kelapa berderet seirama dan puluhan rumah berjajar dalam susunan yang teratur. Beberapa perempuan dan anak kecil segera berlarian menyambut kedatangan perahu-perahu itu, yang satu per satu
mulai mendarat. Orang-orang di atasnya segera saja turun dengan tawa berderai. Beberapa langsung berpelukan dengan
perempuan-perempuan dan anak-anak yang berlari menyambut tadi.
Suasana seperti ini selalu tercipta di setiap kepulangan perahu-perahu ini. Walau terkadang, suasana gembira ini diimbangi oleh tangisan-tangisan pilu ketika didapati bahwa sosok yang ditunggu ternyata telah menjadi korban saat pembajakan!
Seorang pemuda gagah bertelanjang dada dengan ikat kepala berwarna putih tak lama kemudian juga melompat turun ke daratan. Matanya yang tajam memandang sekilas
sekelilingnya. Senyumnya mengembang sambil menepuki pundak orang-orang yang ada di dekatnya. Beberapa orang yang dilewatinya, terutama perempuan-perempuan yang tengah menyambut itu, tampak sedikit menundukkan kepala kepadanya.
Pemuda itu adalah Kara Baday, pemimpin Bajak Laut Semenanjung Karang.
Kara Baday segera beranjak dari kerumunan itu. Bergegas-gegas ia berjalan menuju rumah-rumah yang ada di sebelah utara. Beberapa orang yang akan menyambut rombongan itu di dermaga berpapasan dengannya.
"Kau tampak lelah, Kara," seorang perempuan menyodorkan air kepadanya dalam sebuah ruas bambu.
"Begitukah? Padahal aku sama sekali tidak merasa lelah,"
Kara Baday tersenyum sambil menerima ruas bambu itu dan menenggak isinya beberapa teguk.
"Ah, segarnya, Bibi"
Perempuan itu tersenyum. Setelah ia berlalu, giliran beberapa bocah berlarian mendekatinya sambil berteriak-teriak
"Kakak Kara, Kakak Kara! Ayo, ceritakan kepada kami petualanganmu kali ini!"
Kara Baday tersenyum lebar. Diacaknya rambut bocah-bocah itu satu per satu
"Tentu saja akan kuceritakan, tetapi nanti. Bukankah aku harus pulang dahulu untuk menjenguk Abah?"
Bocah-bocah itu mengangguk dan kembali berlarian menuju tepi pantai.
Kara Baday kembali melangkah ke sebuah rumah yang letaknya ada di belakang rumah-rumah lainnya. Hanya beberapa tombak di belakangnya, karang-karang tinggi sudah
terlihat menjulang. Bentuk rumah-rumah yang ada di sini begitu sederhana. Dindingnya dibuat dari pelupuk, atau bambu yang diretak-retakkan pada ruas-ruas dan buku-bukunya, sedang atapnya terbuat dari daun-daun kelapa yang dikeringkan dan dianyam sedemikian rupa.
Namun, walaupun sederhana, rumah-rumah
ini tampak begitu nyaman. Rumah yang didatangi Kara Baday merupakan rumah
terbesar di antara rumah-rumah lainnya. Perbedaan yang lebih mencolok, rumah itu berdiri di tanah yang lebih tinggi.
Beberapa undak-undakan dari kayu terlihat di depan rumah. Undak-undakan teratas seakan menjadi semacam teras yang lebar bagi rumah itu. Di sinilah biasanya digelar pertemuan para penduduk di Pulau Karang ini. Kara Baday memasuki rumah itu.
"Abah," ia memanggil sambil melepas ikat
kepalanya.
Seorang tua yang berjalan sedikit terbungkuk tampak tengah mendekat ke arahnya.
"Bagaimana petualanganmu kali ini, Kara?" tanyanya.
Kara Baday segera mencium tangan ayahnya.
"Kami berhasil, Abah," ia tersenyum lebar.
Lelaki tua itu tersenyum samar di balik jenggotnya yang telah memenuhi wajah. Ia
__ADS_1
adalah ayah Kara Baday, tetua pemimpin Pulau Karang ini. Penduduk biasa memanggilnya dengan nama Abah Kara.
"Kali ini bukan perahu biasa, Abah," ujar Kara Baday lagi.
"Melainkan ... sambau Sriwijaya. Pemimpinnya bahkan sudah sangat terkenal. Namanya Panglima Sru Suja, satu dari tiga
belas panglima muda"
Senyum samar di wajah Abah Kara segera hilang, berganti raut wajahnya yang tampak tak gembira.
"Kau semakin berani, Kara," ujarnya parau.
"Sudah berkali-kali kukatakan, seharusnya kau tak perlu berhubungan dengan panglima-panglima itu ...."
Kara Baday tersenyum lebar
"Aku tahu, Abah. Tetapi, saat itu posisi kami begitu menguntungkan. Sambau Sriwijaya itu tengah merapat di salah satu pantai, tanpa pengawalan sambau lainnya. Jadi kupikir, ini waktu yang tepat buat menyerang mereka. Bukankah ... seharusnya Abah gembira
mendengar kabar ini?"
Abah Kara menggeleng pelan
"Kau masih terlalu muda, Kara. Kau ... terlalu meremehkan mereka" Ia kemudian membuang pandangannya melalui jendela.
Walau tubuhnya sudah tampak begitu tua dengan keriput di seluruh kulitnya, tetapi samar-samar guratan wajahnya yang gagah masih terlihat. Sangat jelas bahwa lelaki tua ini bukanlah orang biasa!
Seperti kabar yang telah beredar sebelumnya, lelaki tua ini dulu dikenal dengan nama Dapunta Abdibawasepa, bekas penguasa Datu Muara Jambi. Hampir lima belas tahun sejak kejadian itu, wajahnya memang telah banyak berubah.
Mungkin ia kini telah dilupakan banyak orang. Walaupun begitu, tak ada yang bisa memungkiri bahwa dulu ia adalah satu dari dapunta paling terkemuka di Bhumi Sriwijaya.
Sejak dirinya dinyatakan berkhianat dan seluruh keluarganya dihukum mati, ia bersama dengan anak buahnya melarikan diri dari Datu Muara Jambi. Ia tak bisa membawa apa-apa saat itu, selain anak bungsunya yang waktu itu baru berusia lima tahun. Anak itulah yang kini berdiri dihadapannya.
"Lain kali, kau harus bisa berpikir dengan lebih dalam, Kara," suaranya terdengar pelan.
Dan, Kara Baday hanya mengangguk, mengiyakan. Saat itulah tiba-tiba terdengar suara langkah kaki berjalan dengan
terburu di teras rumah. Dan, sebelum diketahui siapa pemilik langkah itu, sebuah suara telah terdengar ....
"Kakak Kara?"
Lalu, wajah seorang gadis dengan rambut diikat ke belakang muncul dari balik pintu,
"Kau sudah pulang?" ia tersenyum.
"Maaf, tadi aku tengah sibuk membersihkan
Kara Baday segera mendekati gadis itu sambil tersenyum,
"Aku baru saja akan ke tempatmu," ujarnya.
Lalu, segera ia berpaling kepada ayahnya,
"Abah, aku pergi dulu."
Sebelum sempat ayahnya menjawab, Kara Baday sudah menarik tangan gadis itu keluar rumahnya.
Gadis itu adalah Aulan Rema. Ia tinggal bersama Paman Kumbi Jata dan istrinya dan mungkin merupakan satu-satunya orang yang sebenarnya tak mempunyai hubungan apa-apa dengan kelompok bajak laut ini.
Umurnya tak lebih dari tiga belas tahun. Wajahnya masih tampak begitu kekanakan. Ia merupakan adik dari Phri Jandi, kekasih Kara Baday dulu.
Sebelum menetap di Pulau Karang ini, Dapunta Abdibawasepa bersama anak buahnya yang berjumlah dua ratus orang lebih memang tinggal berpindah-pindah. Hampir selama lima belas tahun, lima belas tanah telah diinjak untuk dihidupinya. Dari membaur dengan penduduk yang sudah ada sampai membabat hutan untuk membuat permukiman baru, semuanya telah dilakukan sekadar untuk bertahan hidup.
Tahun-tahun awal pelariannya adalah masa terberat bagi Dapunta Abdibawasepa. Selain ia kehilangan seluruh keluarganya, empat orang istri, sebelas anak, dan hampir seribu orang pengikutnya, ia juga telah menjadi sosok paling dicari oleh Sriwijaya. Saat itu, setiap kali pasukan Sriwijaya mengendus keberadaannya, mereka akan berusaha
menangkapnya.
Maka itulah, Dapunta Abdibawasepa selalu
pergi mencari tanah baru lainnya. Untungnya memasuki tahun kesepuluh pelariannya,
pencarian pasukan Sriwijaya sedikit mengendur. Ia bisa lebih lama tinggal di satu daerah. Hingga satu saat, mereka pernah
tinggal di sebuah datu tak bernama cukup lama.
Waktu itu tak terasa telah lebih tiga belas tahun pelariannya. Kara Baday tak lagi menjadi bocah ingusan yang selalu menangis di setiap pelariannya. Ia telah menjadi sosok remaja dengan ilmu bela diri yang lumayan.
Para pengikut ayahnya, yang jumlahnya
semakin sedikit, selalu mengajarinya di setiap ada kesempatan. Terutama Paman Kumbijata, yang dulu merupakan salah satu Pu di Datu Muara Jambi.
Saat itulah Kara Baday mengenal Phri Jandi. Mungkin itu adalah potongan hidupnya yang paling indah. Ia melihat sosok jelita itu di antara hamparan padi yang menguning. Harum padi yang menyusup di hidungnya membuatnya seakan memasuki ruang-ruang waktu yang sangat asing baginya.
Waktu itu usia Phri Jandi memang beberapa tahun di atas Kara Baday, tetapi itu sama sekali tak menghalangi cinta keduanya.
Akan tetapi, pasukan Sriwijaya kembali mengendus keberadaan mereka. Tak lama kemudian, datu itu pun dikepung dan dibakar.
__ADS_1
Semua seakan musnah saat itu, hamparan padi, rumah-rumah, dan orang-orang yang
mendiaminya. Namun, Dapunta Abdibawasepa dan anak buahnya serta
beberapa penduduk berhasil melarikan diri ke arah utara. Di situlah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan diri ....
Menceburkan diri ke sungai yang mengalir deras! Lalu, tanpa memiliki pilihan lain, semuanya segera menceburkan diri ke sungai itu. Semuanya hanyut mengikuti aliran sungai itu.
Semuanya tercerai-berai. Puluhan orang meninggal saat itu, terutama para penduduk datu. Akan tetapi, Dapunta Abdibawasepa dapat selamat, juga Kara Baday. Ia dapat bangkit dengan luka di sekujur tubuhnya. Namun, ia tak lagi menemukan Phri Jandi di antara tubuh-tubuh tak bernyawa di hilir sungai itu. Yang ditemukannya hanyalah Aulan Rema yang tengah menangis
"Kali ini Kakak membawakan aku apa?" Aulan Rema menarik Kara Baday dengan manja.
Kara Baday mengeluarkan sesuatu dari balik ikat pinggangnya. Saat itu untuk menyimpan keping emas dan perak, ataupun belati, biasanya diselipkan di dalam ikat pinggang yang terbuat dari kain. Kain ikat pinggang ini
dililitkan melingkar hingga tiga-empat kali dan dibentuk sebuah simpul di sampingnya.
"Ini,"
Kara Baday mengeluarkan sebuah kalung dari kerang laut.
Mata Aulan Rema berbinar menerimanya.
"Ah, indahnya," ujarnya sambil tak lepas memandanginya
"Bentuknya aneh. Sungguh, aku belum pernah melihat kerang seperti ini...."
Kara Baday tertawa
"Tentu saja kau belum pernah melihatnya. Itu kerang dari Pantai Barat. Aku membelinya
langsung dari sana."
Mata Aulan Rema semakin tampak senang,
"Kakak sampai ke Pantai Barat?"
Kara Baday mengangguk
"Tentu saja. Saat itu kami mengecoh sambau Sriwijaya agar semakin menjauh dari sini. Kau tahu sendiri kan beberapa bulan ini, banyak sekali sambau Sriwijaya melewati pulau kita"
Aulan Rema mengangguk-angguk. Ia memang sudah mengetahuinya sejak lama ketika muara besar dipegang oleh Dapunta Mawaseya, sambau-sambau Sriwijaya jadi semakin sering terlihat berkeliaran di sekitar perairan ini. Bahkan, di ujung selatan pulau besar itu, beberapa sambau tampak jelas
berjaga.
Aulan Rema kemudian memakai kalung itu. Namun, karena ikatannya masih terlalu lebar, kalung itu tampak terlalu besar bagi Aulan Rema.
"Sini, biar kubantu mengikatnya," ujar Kara Baday.
Aulan Rema sedikit membalikkan badannya. Diangkatnya rambutnya yang panjang, membiarkan Kara Baday mengikat kalung itu.
Setelah selesai, ia langsung berdiri menghadap Kara Baday.
"Hmmm, Kakak tak berkomentar apa-apa?" tanyanya.
Kara Baday tersenyum
"Hmmm, kau ... tentu saja terlihat semakin jelita, Aulan"
Aulan Rema mencibir
"Huh, kalau tak kupaksa berkomentar, Kakak pasti diam saja," ujarnya tanpa bisa menutupi pipinya yang merona.
Kara Baday hanya tertawa. Saat itulah, tiba-tiba beberapa bocah kecil berlarian ke arah keduanya.
"Kakak Kara, Kakak Kara, ayo ceritakan kepada kami!" salah satu bocah, yang beringus paling hijau, segera menarik-
narik tangan Kara Baday.
"Kami tadi minta Paman Kumbi untuk bercerita," ujarnya lagi.
"Tetapi, baru sempat beberapa kalimat saja, Paman Kumbi sudah tertidur"
Kara Baday tertawa
"Tentu saja ia tidur, kami ini begitu lelah"
"Tetapi, Kakak Kara tidak terlihat lelah," seseorang bocah yang terus-terusan mengorek hidungnya menimpali. Kara Baday mengacak rambut bocah itu.
"Baiklah kalau begitu," ujarnya.
"Akan kuceritakan kepada kalian semua tentang sebuah pantai yang jauh di barat sana,"
Kara Baday melirik kepada Aulan Rema yang mendadak turut memasang wajah ingin tahu, seperti bocah-bocah di depannya.
"Ini cerita tentang perahu-perahu kecil yang berhasil meloloskan diri dari kejaran sambau-sambau Sriwijaya" ujar Kara Baday sambil memulai cerita.
__ADS_1
Dan, langit pun kemudian turut mendengarkan cerita itu....