Lebih Dari Pernikahan

Lebih Dari Pernikahan
Bertemu Agra


__ADS_3

Pantry.


“Hey, cantik.” Alisa meraih gelas yang sedang di genggam Allen. Menengguk isinya sampai tandas. Dia meletakan kardus berisi tumpukan barang-barangnya di meja yang sama. Bersisian dengan kardus milik Allen. “Bola matamu bisa keluar jika kamu terus melotot begitu.”


Allen yang bingung dengan isi kardus di depannya hanya bisa melotot dengan mulut sedikit terbuka. Pada bagian atas tumpukan barang ada name tage Alisa yang terletak sembarang. Sama persis seperti isi kardus miliknya. “Lisa. Apa maksudnya ini?!” Menggoyang kardus milik Alisa.


Alisa hanya mengendikkan bahu lalu berucap santai, “Bukan apa-apa. Aku hanya mengundurkan diri.”


“What the ....” Allen memejamkan matanya. Menarik napas dalam dengan bahu naik turun. Melakukan berulang sampai emosinya mulai stabil baru dia berucap dengan penuh penekenan, “Jelaskan!” Allen bangun dari duduknya, berjalan mendekati mesin pembuat kopi. “Mau kubuatkan apa? Kopi atau teh? Kurasa ada yang salah degan otakmu.”


Alisa tertawa ringan. “Kopi hitam tanpa gula.”


Allen mengerutkan keningnya. Sejak kapan temannya suka kopi hitam? Tanpa gula pula. Sepertinya otak Alisa sudah pindah ke kerongkongan. “Jadi kenapa berhenti? Kamu dipecat juga?”


“Hei! Siapa yang berani memecatku? Ingin berhenti saja. Sepertinya kita berdua memang tidak cocok bekerja di perusahaan ini. Mungkin kita tidak cocok kerja di darat. Kurasa kita perlu mencoba kerja di air. Kita berdua ‘kan shio ular.” Alisa terkekeh sendiri dengan bualannya. Dia sendiri bahkan tidak tahu dia itu shio apa. Hanya mengarang bebas saja.


“Ngelawak kamu? Come on, Lis. Kita kerja sudah bertahun-tahun, kata tidak cocok sepertinya bukan alasan yang tepat.” Meletakan dua cangkir kopi di atas meja. Satu miliknya satu lagi untuk Alisa. “Kamu tidak perlu merasa kasihan padaku. Lagi pula aku bisa mencari pekerjaan lain. Jangan terlalu gegabah dalam mengambil keputusan.”


“Dia tidak profesional, Al. Bisa-bisanya mencampur adukkan perasaan dan pekerjaan. Tentu saja dua hal itu berbeda. Tidak bisa disamakan.” Meneguk kopinya, detik berikutnya Alisa menyemburkan kopi yang ada dimulutnya. “Allen! Tega, yah. Kamu benar-benar membuatkan kopi hitam tanpa gula?”


Mengangkat cangkir kopi miliknya. “Sesuai permintaanmu. Kopi hitam tanpa gula, jalanmu setelah ini tidak akan mudah. Semoga pahitnya kopi bisa membuat kamu sadar! Jangan mengambil keputusan seenaknya,” ucapnya penuh kekecewaan.


“Dasar! Kamu marah gara-gara aku menghardik Agra?”


“Bukan. Bahkan ketika kamu memakinya, aku tidak keberatan. Itu hakmu. Bagaimana kau menilai Agra bukan jadi urusanku. Aku hanya tidak habis pikir kenapa kamu mengundurkan diri.”


Terkadang Alisa memang tidak bisa membedakan mana setia kawan mana tindakan bodoh. Seperti sekarang ini, menurut Allen keputusan yang Alisa ambil terlalu gegabah.

__ADS_1


“Sudahlah. Tidak usah dibahas. Lagi pula ini sudah jadi keputusanku. Uang pesangonku juga sudah keluar, tinggal pikirkan langkah berikutnya. Apa kita perlu mempertimbangkan tawaran Tommy?”


“Oh, tolong jangan Tommy.” Allen kembali menyesap kopi latte buatannya. Ini sudah gelas ketiga. Hari ini pikirannya benar-benar tidak karuan. Nanti malam matanya pasti enggan terpejam. “Kita cari kerjaan lain saja yang penting jangan terima tawaran Tommy. Sumpah, tunangan Tommy galaknya bukan main.”


Alisa hanya tertawa sembari meneguk kopi milik Allen. Tommy benar-benar tergila-gila dengan Allen, tetapi Allen tidak pernah memberinya kesempatan. Selain Tommy yang sudah memiliki tunangan, laki-laki itu juga kelewat mesum. Tentu saja Allen tidak suka.


***


“Dasar kurang ajar!” Alisa membanting map coklat di atas meja Caffe, beberapa orang mulai menatap fokus. “Bisa-bisanya kita ditolak dibanyak perusahaan hanya karena mereka menjalin kerja sama dengan Agra Gup! Kalau begini ceritanya kita bakal susah mendapat pekerjaan baru. Agra Grup menjalin kerja sama dengan setengah dari perusahaan raksasa yang ada di sekitar kita. Masa kita harus pindah kota! Yang benar saja!”


Allen hanya tersenyum, tetapi ada gelenyar pedih yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Dia melambaikan tangannya untuk memesan minuman. Kepalanya nyaris tebakar emosi, hanya saja tidak terlihat karena Allen terlalu pintar mengatur emosinya. “Dua latte, yah, Mbak.”


“Baik, Kak. Ada tambahan lain?”


“Sementara itu dulu, Mbak.”


Allen terbahak melihat sahabatnya sedang memukulkan kening di meja. “Sudah kubilang jalanku tidak mudah ketika berurusan dengan Agra. Aku melewati lima tahun dengan susah payah. Dan kamu malah sok-sokan jadi pahlawan. Bekalmu harus banyak, Al. Terutama bekal mental.”


Sesaat kemudian pelayan datang membawa dua kopi latte. Meskipun tersenyum, tetapi hati dan pikiran Allen sedang bergelut gusar menyaksikan sahabatnya yang ikut susah karena dirinya. Dan dia tidak akan diam saja. Dia harus melakukan sesuatu. Mungkin.


“Habis ini mau ke mana lagi?” tanya Alisa sembari menyesap kopi lattenya.


“Pulang dulu. Hari ini sangat melelahkan, kita butuh istirahat yang cukup. Besok kita keliling lagi cari kerjaan lain.”


“Nih.” Alisa melempar kunci kontrakan di atas meja. “Pulang duluan, yah. Kalau kamu ada perlu keluar, taruh kunci di tempat biasa. Aku mau mampir ke toko dulu. Mau ngambil beberapa makanan.”


“Toko ibumu bisa bangkrut! Kamu terus saja menguras isinya. Kamu harus bayar!”

__ADS_1


“Hey, aku selalu bayar!” Alisa menghabiskan lattenya dalam sekali teguk. Dia bangun dari kursi sembari membersihkan sisa latte di bibirnya. “Duluan, yah.” tersenyum dengan lambaian tangan yang dibalas anggukan kepala oleh Allen.


Beberapa menit setelah Alisa pergi dia pun menyusul. Setelah membayar minuman ia bergegas menghentakkan kaki. Hal ini tidak boleh ditunda lebih lama. Allen bukan benar-benar ke kontrakan. Ada hal penting yang harus dia selesaikan. Dan di sinilah dirinya. Sedang berdebat sengit dengan receptionis di sebuah perusahaan telekomunikasi terbesar milik Agra Grup.


“Mba, tolonglah ... saya benar-benar ada perlu penting dengan Pak Agra.” Allen meletakan dua tangannya di atas meja resptionis, tetapi tidak ada tanggapan lebih kecuali kata maaf yang dibalut senyuman dari sang petugas. Sudah sepuluh menit dia berdiri, alasan apa pun yang Allen katakan tidak membuat receptionis memberi izin. “Paling tidak coba Mbak hubungi dulu Pak Agra-nya, katakan kalau Allen Caitlin ingin bertemu.” Masih berusaha membujuk. Namun, tetap tidak membauhkan hasil.


Allen memukulkan kepalanya di meja receptionis. Melakukan hal yang sama seperti yang Alisa lakukan ketika di Caffe. Padahal dia sempat mencibir Alisa karena frustrasi, sekarang dirinya mengalami hal yang sama. Mungkin lebih parah.


“Nona, sedang apa di sini?”


Suara seseorang yang Allen kenal berhasil membuatnya menoleh. “Ah, Nathan, begini ....” Allen langsung berhambur mendekati Nathan. Terburu-buru menyampaikan tujuan awalnya datang ke perusahaan untuk bertemu Agra, tetapi tidak bisa karena dirinya tidak mengantongi izin.


“Oh, jadi begitu.” Nathan manggut-manggut mendengar cerita Allen. Ada gelenyar sedih ketika mendengar kesulitan Allen dan Alisa dalam mencari pekerjaan baru. “Memang begitulah standar perusahaan kami. Untuk bertemu dengan Tuan, Nona harus membuat janji terlebih dahulu. Paling tidak harus mengantongi izin,” sambungnya.


Allen hanya tersenyum sembari meremat tali tasnya. “Aku mengerti, baiklah jika memang tidak bisa bertemu. Maaf sudah membuat keributan.”


Nathan tidak sampai hati, tetapi dia tidak bisa berbuat banyak. Perusahaan menetapkan standar yang cukup tinggi hanya untuk bertemu dengan Agra, seseorang harus memiliki janji terlebih dahulu. Atau paling tidak memiliki izin khusus. Biasanya izin ini diberikan untuk orang-orang terdekatnya seperti keluarga atau kawan lama. Mereka bisa bertemu dengan Agra tanpa janji temu sebelumya.


“Nona, sebenarnya ada cara agar Nona bisa bertemu dengan Tuan. Saat ini Tuan sedang keluar dan belum kembali, jadi ....”


Allen mengerutkan keningnya, dia tidak mengerti ke mana arah ucapan Nathan. Ayolah, jangan minta Allen untuk berpikir. Saat ini otaknya sedang panas dan kepalanya nyaris meledak. Seharian mencari pekerjaan dan berakhir dengan dirinya ditolak, bukankah sudah lebih dari cukup untuk otaknya istirahat?


“Begini, Nona. Mungkin Nona bisa menunggu dan ....”


“Berbicara langsung ketika dia datang, begitu?”


Nathan mengangguk pelan diikuti seyum tipis. “Begitu maksud saya.”

__ADS_1


“Ah, baiklah.” Seulas senyum nampak mengembang di bibir Allen. “Di mana aku harus menunggu?” tanyanya.


“Mari ikuti saya.”


__ADS_2