
Allen tidak menyangka jika dirinya harus terlibat percakapan lebih serius dengan Agra. Berada dalam ruangan yang sama dengan cinta pertamaya. Bisa melihat wajahnya yang sedang serius dengan
jelas,
ia yang mengenakan setelan tiga potong yang pas di tubuhnya. Rambut berpomade dan kacamata yang bertengger di hidung mancungnya berhasil membuat dada Allen berdegup kencang. Saat ini Agra sedang sibuk menandatangani beberapa dokumen.
“Apa kau datang hanya untuk melihatku bekerja?” Agra mendongak, menatap sejurus ke arah Allen. Mengembuskan napas kasar sembari meletakan bolpoin. “Bicaralah!”
Allen menarik napas berulang kali lalu mengembuskan perlahan, tetapi tidak bisa mengurangi rasa gugupnya. Dia gugup bukan main. Allen baru sadar jika berhadapan dengan Agra lebih menakutkan ketimbang ketika dia menghadapi sidang skripsi.
“Aku tidak punya banyak waktu. Apa tujuanmu menemuiku. Katakan dengan jelas dan cepat.” Menggeser tumpukan dokumen ke sisi kirinya. Dan kini Agra mulai fokus dengan orang di depannya, sikunya bertumpu pada meja dan
kesepuluh
jemarinya saling mengerat. Terlihat sangat serius. Tentu saja membuat Allen semakin gugup. Agra terlihat berkali lipat lebih tampan. Dan selalu berhasil membuat Allen jatuh cinta. Lagi dan lagi.
Allen menarik napas lagi sebelum bicara. “Begini ... emm, saya tahu alasan Bapak memecat saya. Baik, anggap saja saya bukan pekerja yang kompeten sehingga perusahaan memberhentikan saya dengan keputusan sepihak. Dan untuk ....”
“Jangan berputar-putar, langsung ke intinya saja. Kau bilang bisa memberikan apa pun yang aku mau asal aku bisa memenuhi permintaanmu. Bukan begitu?” Agra menaikan sudut bibirnya.
Allen mengangguk pasrah. Sebenarnya itu hanya kalimat asal-asalan saja agar dirinya diberi kesempatan untuk bicara. Siapa sangka Agra justru menganggapnya serius. “Benar. Bapak bisa meminta apa pun pada saya, tapi sebagai gantinya tolong terima Alisa kembali di perusahaan Bapak. Seharian
ini
kami sudah keluar masuk ke banyak perusahaan untuk melamar pekerjaan, tetapi tidak ada satu pun dari perusahaan yang mau menerima kami. Saya tahu alasan penolakan itu adalah karena saya. Bagi saya, tidak masalah jika Bapak menolak saya, tapi tolong jangan Alisa juga. Dia butuh pekerjaan ini.”
__ADS_1
Agra menumpu dagu dengan tangannya. “Lalu, apa yang bisa kudapatkan? Kita sedang bicara untung rugi.”
Allen menggigit bibir bawahnya, ada getaran kecil di sekujur tubuhnya. Agra pun sadar akan hal itu. “Kalau kau belum tahu akan memberiku apa, jangan menemuiku. Keluarlah!” Agra bangkit dari duduknya. Melepas kancing jas, memasukkan kedua tangannya ke dalam kantung celana lalu matanya fokus pada lukisan di depannya. Menatap khidmat sebuah foto yang menemaninya lima tahun belakangan.
“Kau telah menghancurkan hidupku, Allen! Aku tidak bisa bersama dengan orang yang kucintai. Lima tahun ini aku tersiksa dengan perasaan kesepian dan rindu yang tidak bertuan, yang kau alami belum seberapa jika dibandingkan denganku! Kau berutang banyak padaku!” serunya.
Allen tidak tahu benar arti kata ‘Utang’ yang disebutkan agra. Seingatnya dia tidak pernah meminjam uang, tetapi jika itu berbicara soal hidup. Sepertinya utang di sini bukanlah perkara uang, tetapi lebih kepada perasaan. “Aku hidup dalam penderitaan yang tak berkesudahan, sedang kau hidup tenang.”
Hidup tenang katanya? Tunggu! Memangnya Agra tahu apa tentang derita hidup Allen? Hidupnya juga tidak semudah yang Agra bayangkan, bahkan mungkin lebih terjal dari jalannya. Hanya saja Agra tidak tahu atau ... tidak mau tahu.
“Keluarlah! Ruanganku terasa sesak dengan adanya dirimu.”
Allen bangkit dari kursinya. Sempat menyeka sudut matanya yang berair. “Aku tidak bisa menawarkan uang ganti rugi untuk Bapak. Karena aku yakin Bapak memiliki lebih dari cukup. Mungkin ....” Allen diam sejenak. Menimbang kalimat yang tepat setelahnya. “Mungkin Anda bisa memanfaatkan tenaga saya ....”
“Contohnya?” tanya Agra tanpa berbalik badan. Masih membelakangi Allen.
“Cih, kau pikir itu saja cukup? Aku tidak kekurangan pelayan. Tawaranmu tidak bisa kupertimbangkan.”
“Mu-mungkin itu tidak cukup bagi Anda, tapi tidak ada yang bisa saya berikan pada Anda kecuali diri saya sendiri.”
“Dirimu sendiri?”
Sesaat kemudian Allen menyesali kalimatnya yang terdengar ambigu. Dia bahkan mengutuk lidah dan otaknya yang tidak bisa diajak kerja sama. “Maksudku, saya bisa memberikan tenaga saya untuk Anda. Selain bekerja di rumah Anda. Saya ... saya ....”
Tiba-tiba kepalanya terasa berat. Dia bingung harus merangkai kalimat apalagi setelah kalimat ambigu yang dia ucapkan. Dirasa pandangannya mulai mengabur, Allen dengan sigap memegang kepala kursi guna menopang tubuhnya yang nyaris oleng.
__ADS_1
Akhir-akhir
ini kesehatannya memang sering terganggu, dia mudah lelah dan sering kali kehilangan kesadaran hanya karena gugup. Banyaknya hal yang dia pikirkan menjadi salah satu faktor kesehatannya menurun, terutama mengenai biaya pengobatan sang Nenek.
“Menikah denganku! Maka semua utangmu di masa lalu kuanggap lunas.”
------- END! ------
Penting untuk dibaca.
Q : Loh, kok end, Mak?
A : Iya. End di lapak ini, tapi masih lanjut di lapak lain. Jadi Novel emak LEBIH DARI P**ERNIKAHAN pindah lapak ke KBM (APK YANG WARNANYA IJO TUH) yah dengan judul MORE THAN MARRIAGE**.
.
.
Kalian bisa search judulnya atau tulis nama emak juga bisa ROSEELILY. Jangan lupa bantu emak dengan klik subscribe yah.
.
.
__ADS_1
Jadi jawaban Allen akan terungkap di sana. Apakah Allen bersedia atau tidak.