Lebih Dari Pernikahan

Lebih Dari Pernikahan
Tidak Merubah Apa Pun


__ADS_3

Derap langkah menggema di perusahaan yang baru saja memecat karyawannya tanpa sebab yang jelas. Semua petinggi, karyawan, dan bawahan pun sudah berdiri. Berkumpul rapi membentuk formasi untuk menyambut kedatangan Presdir baru yang konon katanya, memiliki sifat lebih dingin dari gunung Everest.


Di sudut lain Allen masih mengemas barang-barangnya. Tanggung sebentar lagi selesai. Dia tidak perlu memberi hormtat, ‘kan? Dia saja dipecat dengan cara tidak hormat. Dipecat tanpa alasan yang jelas, memanganya itu menghormati?


Perlahan derap langkah berganti dengan suara bisik-bisik dari karyawan. Samar tapi pasti Allen bisa mendengar ucapan kagum dari mereka. Tampannya, tingginya, putihnya, dan banyak lagi pujian-pujian yang membuat rasa penasaran di hati Allen membeludak. Allen mengemas barang terakhir, menumpuk di kardus dan membawanya mendekati sang Boss kejam. Ya, julukan untuk Bossnya yang semena-mena. Baru dia berikan tadi pagi.


Deg!


Sontak matanya membulat sempurna dengan mulut sedikit terbuka. Degup jantungnya berdetak tak beraturan manakala melihat sosok di depannya. Seketika tubuh Allen melemas. Allen membungkuk guna meletakan kardus yang nyaris terjatuh. Berusaha bangun sembari memegang ujung meja di dekatnya, meraih apa pun untuk menyangga tubuhnya agar tidak oleng.


Semua rencana yang Allen susun untuk menuntut Bossnya hancur sudah, menguap bersamaan dengan rasa sakit di hatinya. Padahal dia sudah menyusun banyak kalimat menohok guna meminta keadailan. Namun, tampaknya kalimat-kalimat itu akan terpendam selamanya. Dia hanya bisa memukul dadanya yang terasa begitu sesak.


Sebenci itukah kamu padaku, Agra? Sampai hati kamu memecatku, padahal dari pekerjaan inilah aku menggantungkan hidupku.


Kini Allen tahu kenapa dirinya dipecat. Bukan tanpa alasan, dan alasan satu-satunya adalah kerena Agra teramat membencinya. Sampai tak ingin melihat Allen di perusahaan miliknya. Iya Allen paham. Allen bisa terima dan akan pergi dengan lapang dada.


Allen sempat mencuri pandang sebelum berbalik badan. Dia tersenyum lebar, bersyukur karena Agra sudah menjelma menjadi laki-laki sukses. Menatap lekat wajah sang cinta pertama, membingkai dalam hatinya sebelum dia benar-benar meninggalkan perusahaan. Setelah dirasa cukup, dia pun perlahan meninggalkan kerumunan. Allen butuh minum untuk menyegarkan tubunya. Tenggorokannya terasa tercekat. Pantry adalah tujuannya. Otaknya kini mengepul seperti cerobong asap. Ingin marah pun tidak akan bisa. Rasa cinta di hatinya mengalahkan segalanya.


Ruangan Presiden Direktur.


Pintu diketuk. Agra menghela napas panjang, baru juga menyandarkan tubuhnya di punggung kursi setelah memeriksa setumpuk laporan


“Periksa, Nath. Jika bukan tamu penting katakan aku sedang sibuk!” titahnya sembari merenggangkan tangan.


“Baik, Tuan.”


Nathan membuka pintu dan mendapati Alisa sedang berdiri dengan map coklat di tangannya. Matanya menatap nyalang ke arah Nathan yang justru melempar senyum. Percayalah, di dunia ini tidak ada yang bisa membuat Nathan tersenyum kecuali Alisa.


Nathan tidak terkejut ketika melihat Alisa, karena dia sudah tahu bahwa Alisa bekerja di perusahaan Bossnya. Begitupun dengan Alisa, dia tidak terkejut. Karena dia pun tahu jika ada Agra sudah bisa dipastikan ada Nathan juga.


“Alisa? Apa kabar?” Berniat merengkuh pergelangan tangan Alisa. Namun, gagal kerena Alisa bergerak mundur.

__ADS_1


“Maaf, Tuan, saya datang ke sini untuk bertemu dengan Bapak Agra. Bukan untuk berbagi kabar dengan Anda. Apa bisa?”


“Alisa ... kenapa harus seformal itu? Aku hanya bertanya kabar.” Nathan melihat ekspresi Alisa yang tidak bersahabat. “Baik ... baik, berhenti melotot padaku. Tapi bahasamu tidak perlu begitu formal. Kalian berteman akrab, bukan?” Melangkah maju, masih berusaha mendekat. Dan berakhir sama. Gagal.


“Maaf, Tuan, ini di kantor. Saya rasa saya harus menjunjung tinggi profesionalisme. Sekalipun kami berteman akrab, tetap saja saya hanya bawahan dan Pak Agra adalah atasan saya.”


Nathan hanya bisa menarik napas berat. Tatapan mata Alisa tidak pernah berubah sejak pertemuan tekahir mereka. Matanya masih saja dipenuhi kebencian.


“Siapa, Nath?”


“Tunggu sebentar.” Nathan bergegas masuk, meninggalkan Alisa di depan ruangan.


“Alisa, Tuan,” ucap nathan begitu berdri di samping Agra. Kening Agra berkerut, dia menghentikan gerakan tangannya yang sedang sibuk membuka dokumen penting. Bola matanya tertarik ke sudut.


“Alisa, si kaca mata, teman kampus Anda, mahasiswi beasiswa di kampus Anda.” Nathan berusaha menjelaskan ciri-ciri Alisa tanpa menyebut nama Kinara. Sebisa mungkin dia tidak melontarkan nama terlarang. Yang pertama Allen, wanita yang dia benci setengah mati. Dan yang kedua Kinara, mantan kekasih yang membuatnya hampir mati.


Sepersekian detik barulah mata Agra membulat. “Oh ... Alisa. Dia bekerja di sini? Aku belum melihat semua data karyawan. Apa ada teman kampusku yang lain yang juga bekerja di perusahaanku?”


“Baiklah. Sekarang suruh dia masuk. Sudah lama aku tidak bertemu dengannya.”


Alisa menarik napas panjang sebelum mengutarakan niatnya. Tidak terlalu berat bertemu dengan Agra, tetapi manusia tidak bertanggung jawab yang berdiri di belakangnya yang menjadi sebab rusaknya mood Alisa. Sehingga dia sempat mengabaikan sopan santun.


“Lama tidak bertemu dan kau semakin cantik, Alisa. Apa kabar?” Agra mengulurkan tangannya. Alisa bingung harus meraih uluran tangannya atau tidak. Hey, ayolah. Sekarang Agra bukan lagi teman kampusnya yang sering makan Bakso dengannya, tetapi bossnya. “Ayolah Alisa, jangan terlalu kaku begitu. Aku masih tetap temanmu. Apa kamu sudah lupa padaku?”


“Tidak. Bukan begitu. Masalahnya sekarang Anda adalah atasan saya. Rasanya saya tidak punya kelebihan apa pun untuk berjabat tangan dengan Anda.”


“Hey, sesama teman tidak ada kata atasan dan bawahan. Kamu tidak perlu memiliki kelebihan apa pun untuk menjabat tanganku. Kamu bahkan boleh memanggil namaku. Aku tidak akan marah. It’s ok.” Agra tertawa kecil.


Alisa memerhatikan dengan seksama laki-laki yang duduk di depannya. Bersandar di kursi empuknya. Dia tidak lagi mengenali Agra. sepertinya Agra yang dulu begitu periang dan humble sudah hilang. Yang duduk di depannya terlihat seperti mayat hidup. Seperti tubuh tanpa perasaan. Agra memang tertawa dan tersenyum, tetapi Alisa tidak melihat kehangatan di mata Agra.


“Saya akan tetap memanggil Anda dengan sebutan Bapak. Saya harap Bapak bisa mengerti posisi saya.”

__ADS_1


“Baiklah terserah kamu saja. Jadi ada perlu apa menemuiku?” Masih mencoba tetap tersenyum. Senyum palsu tentunya.


“Begini ... saya hanya ingin mengundurkan diri dari perusahaan Bapak. Dan ini surat pengunduran diri saya.” Meletakan map coklat di atas meja. “Saya tahu seharusnya saya tidak datang ke ruangan Bapak hanya untuk urusan pengunduran diri, tetapi karena kita adalah teman lama jadi saya ingin menyerahkan langsung sekaligus menyapa Bapak.”


Agra masih terkejut. Duduk di tempatnya dengan tatapan bingung. “Kenapa? Apa ada karyawan atau atasan yang bertindak buruk padamu? Apa selama ini gajimu kecil? Katakan. Sebagai temanmu mungkin aku bisa membantu.”


“Tidak, bukan itu masalahnya. Selama ini gajiku cukup. Atasan dan teman-temanku juga sangat baik padaku. Aku juga termasuk karyawan lama. Jadi sudah akrab dengan karyawan lain.”


“Lalu kenapa kamu mengundurkan diri?”


“Karena saya akan kehilangan sahabat saya. Bapak tentu tahu dengan salah satu karyawan bernama Allen Caitlin. Yang Bapak pecat tanpa alasan yang jelas. Sahabat baik saya, juga termasuk sahabat Bapak, bukan?”


Oh tidak! tolong jangan sebut nama itu. Nathan cemas. Menunggu akan seperti apa reaksi Agra. Jika harus memilih antara Alisa dan Agra, Nathan tidak akan bisa memilih. Keduanya adalah orang yang penting untuk Nathan.


“Oh jadi itu masalahnya. Jika pengunduran dirimu adalah cara, agar aku menarik kembali surat pemecatan untuk All ....” Diam sesaat. Padahal nama Allen nyaris lolos dari mulutnya. “Untuk sahabatmu, sepertinya itu tidak akan berhasil. Kamu mungkin sedang bersikap setia kawan, tapi maaf tindakanmu tidak merubah apa pun."


Bahkan nama saja tidak mau disebut. Memang separah apa luka yang sudah Allen torehkan padamu? Tolong jangan buta, kau pikir hanya dirimu yang terluka? Allen juga terluka. Alisa hanya bisa membatin, tidak akan berani mengucapkan kalimat tadi.


“Bukan begitu, Pak. Saya hanya ingin mengundurkan diri saja. Tidak ada sangkut pautnya dengan All ... maksudku, dengan karyawan lain. Ini murni keputusan saya pribadi.” Tentu saja Alisa bohong. Alasan pengunduran dirinya jelas karena Agra tidak bisa bersikap profesional, mencampur adukan perasaan dan pekerjaan.


Alisa bangun dari duduknya, memasang senyum tipis untuk Agra. Dia tidak mau memperkeruh keadaan. “Kalau begitu saya permisi dulu, Pak,” ucapnya sembari sedikt membungkukkan tubuh. Alisa tidak ingin berlama-lama di dalam ruangan Agra. Tidak ingin berurusan dengan manusia yang memiliki hawa lebih dingin dari es.


Pintu ditutup. Alisa sudah keluar meninggalkan Agra yang masih membatu di atas kursi. “Urus pesangon untuk Alisa.”


“Tapi, Tuan.”


“Lakukan saja, Nath!” serunya. Nathan membungkuk, pamit undur diri untuk mengurus pesangon Alisa.


Agra memang tidak tega dengan Alisa, tetapi tidak mungkin bagi dirinya untuk berada dalam bangunan yang sama dengan Allen. Sungguh demi apa pun dia benar-benar membenci Allen. Setengah mati.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2