Lebih Dari Pernikahan

Lebih Dari Pernikahan
Pemecatan Sepihak


__ADS_3

Allen menatap nanar amplop putih di depannya. Kedua tangannya mengepal sampai kuku tajamnya terasa menancap di telapak tangan. Buku-buku kukunya sudah berubah kemerahan. Dia merasa diperlakukan tidak adil. Ingin marah dan berteriak, tetapi hanya akan membuatnya malu dan membuang energi percuma.


“Maafkan saya, Allen. Sungguh saya tidak berniat memecatmu,” ucap laki-laki yang duduk di depannya. Memangku kedua tangan di atas meja kerja. Laki-laki bertubuh gemuk dengan kepala yang jarang ditumbuhi rambut, dia adalah Manager di perusahaan tempat Allen bekerja.


“Pak, tolong berhenti minta maaf padaku. Jika memang Bapak tidak berniat memecat saya, kenapa tetap Bapak lakukan?”


“Saya terpaksa, Allen. Maaf.”


“Pak, jangan mengatakan maaf terus. Paling tidak Bapak harus menjelaskan kenapa saya dipecat? Memangnya apa salah saya? Saya pekerja yang baik, tekun, dan tidak pernah minta ijin selama satu tahun terakhir. Bahkan dalam keadaan sakit pun saya tetap bekerja. Berusaha memenuhi kewajiban saya sebagai karyawan yang baik dan tidak pernah merugikan perusahaan.” Kepalan tangannya semakin kuat diikuti amarah yang tidak bisa disalurkan. “Sudah lima belas menit saya duduk di sini dan Bapak tidak bisa menjawab satu pun pertanyaan saya. Apa salah saya sampai saya dipecat? Tolong jawab, Pak.”


“Saya benar-benar tidak tahu alasannya. Saya hanya bisa bilang maaf atas pemecatan sepihak ini.”


Allen meremat ujung kemejanya dengan tangan gemetar. Cih, tidak tahu alasan kenapa aku dipecat? Bukankah itu terdengar tidak masuk akal, batinnya.


Ingin sekali Allen melontarkan kalimat itu, tetapi rasanya dia tidak sampai hati berkata kasar pada Managernya. “Bisakah Bapak berhenti mengatakan maaf? Tolong. Itu tidak memperbaiki apa pun.” Allen memalingkan wajahnya. Segera menyeka sudut matanya yang basah. Dia tidak ingin Bossnya melihat betapa lemah dirinya.


“Saya juga tidak tahu alasan pastinya, Allen. Saya hanya menjalankan perintah dari atasan yang baru. Kau tahu ‘kan jika perusahaan kita sudah diakuisisi?” tanya Bossnya dan Allen mengangguk. Kabar tentang perusahaan yang telah beralih pemilik sudah tersebar seminggu yang lalu, tetapi tak ada satu pun dari karyawan yang tahu wajah sang Presdir. “Kudengar Presdir sendiri yang meminta kau diberhentikan. Mungkin beliau tidak suka kinerjamu atau ....”


“Ada apa dengan kinerjaku, Pak?” sergah Allen, “Selama ini aku berkerja dengan sangat baik. Bahkan Bapak sendiri tahu kinerjaku. Kupikir Bapak memanggilku karena ingin menaikkan jabatanku, bukan malah dipecat.” Allen menggigit bibir bawahnya.


Tidak! Dia tidak boleh menangis meskipun kelebatan wajah keriput neneknya sudah menari-nari di otaknya. Hari ini seharusnya dia membelikan obat untuk neneknya. Siapa sangka dia begitu sial. Dipecat tanpa tahu apa alasannya. Sementara mendapat pekerjaan lain dalam waktu dekat juga tidak semudah membalik telapak tangan.


“Begini saja, Allen. Jika nanti ada lowongan pekerjaan di kantor ini, maka saya akan langsung menghubungimu. Untuk saat ini saya tidak bisa banyak membantumu.” Menarik laci. Mengambil amplop putih kedua dan menyodorkan pada Allen. “Saya bener-benar minta maaf, Allen. Siapa pun tahu kinerjamu yang luar biasa, tetapi sekali lagi saya hanya menjalankan perintah dari atasan. Saya tidak berani membantah.”


Tubuh Allen sedikit bergetar. Beruntung dia masih bisa mengontrol perasaannya. Dia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Masih bingung kenapa tiba-tiba dirinya harus dipecat dan dipaksa menerima uang pesangon. Sedangkan alasan pemecatannya masih abu-abu. Allen Meraih amplop dengan tangan gemetar. “Baiklah, Pak. Saya mengerti. Maaf kalau selama ini saya sering menyusahkan Bapak. Setelah berpamitan dengan teman-teman dan membereskan barang-barang, saya akan pergi.” Bangkit dari duduknya.


“Allen. Hari ini Presdir yang baru akan datang. Tunggulah sebentar, siapa tahu kamu bisa bertanya langsung padanya tentang alasan pemecatanmu. Karena sungguh, di antara kami tidak ada yang tahu alasannya. Tiba-tiba saja kami mendapat perintah pemecatanmu.”

__ADS_1


Allen mencengkeram kuat amplop berisi uang. Tidak terima sebenarnya dengan pemecatan sepihak ini, tetapi tidak ada yang bisa dia lakukan selain menerima dengan lapang dada. Dan tentu saja dia akan menunggu berapa lama pun sampai Presdir barunya datang. Dia harus tahu alasan dibalik pemecatannya. “Baik, Pak. Kalau boleh tahu jam berapa orangnya datang?”


Melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. “Sekitar satu jam lagi jika tidak ada kendala. Tunggu saja di ruanganmu atau di mana pun kau mau.”


Allen mengangguk. "Saya permisi, Pak.” Menutup pintu dengan perasaan sedih.


Begitu pintu tertutup Allen terperanjat mendapati teman-temannya yang sudah berdiri di depan pintu. Menampakan ekspresi beragam.


“Kenapa?”


“Kok mukamu sedih?”


“Ditegur, yah?”


“Itu amplop apa?”


Rentetan pertanyaan langsung menghampirinya begitu Allen berbalik badan, mereka bahkan tidak memberi jeda untuk Allen menjawab.


“Jangan bilang ....”


“Ok, stop! Berhenti mencecarku. Semua pertanyaan kalian hanya punya satu jawaban,” ucap allen membuat kening teman-temannya berkerut. “Aku dipecat,” lanjutnya.


“Apaaaa?! Dipecat?!” teriak mereka bersamaan. Allen mengangguk.


“Are you kidding me?” tanya Alisa dengan mata membulat. Padahal sudah pakai kacamata tebal, sempat-sempatnya melebarkan kelopak mata.


“Ssttt ... jangan berisik di sini.” Meletakan jari di bibirnya. “Mending kita ke pantry deh,” ajak Allen, “Nis, kalau Boss baru datang kabari kita, yah?”

__ADS_1


“Maksudmu Presdir baru?” tanya Nisa, teman satu tim-nya. Allen mengangguk. “Sip.” Mengacungan jempolnya.


Pantry.


“Jadi kenapa? Kok bisa dipecat? Si botak itu maunya apa, sih?” Menyodorkan segelas teh hangat yang baru dibuatnya.


“Bukan salah Manager kita.” Meneguk teh. Menjeda sejenak untuk mengontrol emosinya yang nyaris meledak. Alisa yang duduk di depannya sudah tidak sabar mendengar lanjutan cerita Allen. “Aku dipecat tanpa alasan yang jelas. Beliau sendiri tidak tahu alasan pastinya. Katanya Presdir baru tiba-tiba saja mengeluarkan surat pemberhentian kerja untukku.”


“What?! Kamu bercanda? Boss baru kita mana kenal dengan karyawan di perusahaan kecil begini. Aku dengar dia bahkan baru datang dari luar negeri. Dan perusahaan kita hanya perusahaa cabang. Kamu yakin?”


Allen mengendikkan bahunya. “Aku rasa Manager tak berbohong, Al.”


“Lagi pula kalau dilihat dari kinerja seharusnya kamu tidak masuk dalam daftar berbahaya sampai harus dipecat.”


Allen tersenyum tipis. Dia tahu maksud Alisa tentang daftar berbahaya, yaitu karyawan yang sering minta izin bahkan malas-malasan dalam bekerja.


“Seharusnya memang begitu, tapi mau bagaimana lagi. Perintah pemecatanku memang dari atasan langsung. Pak Manager dan yang lain mana berani membantah.” Allen nampak memijat pelipisnya. “Aku mau beres-beres dulu, yah, sekalian nunggu si Boss baru yang sumpah ... aku ingin mengumpatinya dengan kata-kata kasar.”


“Hari ini jadwal beli obat nenekmu, yah?"


Allen mengangguk lemas. "Ada uang pesangon. Kurasa cukup untuk beli obat dan biaya hidup selama satu bulan."


"Jika butuh apa-apa jangan segan untuk minta bantuanku. Hari ini pulang ke kost-anku saja. Nanti sekalian mikir buat nyari kerjaan yang baru.”


“Thank you, Alisa.” Allen tersenyum sembari mengusap lembut lengan sahabatnya. Dia meneguk habis teh hangat buatan Alisa dan bergegas ke mejanya untuk membereskan barang-barang


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2