Leongenesis

Leongenesis
Permulaan


__ADS_3

Sore itu kereta melaju kencang. Aku terduduk di dalam kereta dengan setelan jas yang rapi, seakan-akan hendak melamar pekerjaan.


Deru mesin kereta terdengar halus di telingaku, orang-orang berdiri dan mengurusi urusan masing-masing, membuat kereta ini menjadi sunyi.


Kedua tanganku menggenggam ponselku, dan mataku mencermati tulisan yang tertulis disana.


Itu adalah game Evangenesis yang akan segera kuunduh. Dahulu aku merupakan pemain top dalam game itu, namun aku telah berhenti memainkannya sejak lama.


Aku terlihat ragu-ragu saat memandang ponsel itu. Aku terdiam sejenak, dan beribu-ribu pertimbangan bertebaran di otakku.


Rasa nostalgia membalut diriku, membuatku teringat kenagan yang begitu indah dengan permainan itu.


Beberapa saat kemudian, keputusan pun bulat dan jariku menekan tombol itu.


Unduhan pun dimulai. Aku menoleh kesamping dan mengintip melalui jendela, pandanganku mengarah kearah sebuah kota metropolitan yang indah.


Tempat ini adalah Singapura, sebuah negri indah dimana semua orang menaati peraturan, dan aku adalah seorang mahasiswa yang belajar disini.


Namaku Leon, hanya Leon. Aku adalah seorang mahasiswa asal Korea Selatan, dan aku mengikuti program pertukaran pelajar di tempat ini.


Karena ketampananku, orang-orang sering mengira aku adalah seorang anggota boyband yang terkenal, namun mereka semua salah.


Aku hanyalah seorang mantan pemain profesional, dan itu membuatku cukup kecewa.


'Hahh...apa aku bisa mencari pekerjaan lagi?'


Aku melayangkan pandanganku ke ujung kota itu, dan tanpa sengaja aku melihat sesuatu yang aneh.


Awan hitam berkumpul dan membentuk sebuah lingkaran yang besar, dan cahaya petir menyala-nyala ditengah awan itu.


Pandanganku tertarik ketengah awan itu, sebuah cahaya merah muncul ditengah awan itu, dan cahaya itu menerjang tanah dengan keras.


Ledakan besar terjadi dan dentuman keras memekikkan telingaku. Gelombang energi menyebar luas, dan memecahkan semua jendela yang ada.


Kami terhempas dan jatuh ke lantai, pecahan kaca bertaburan seperti pasir, dan beberapa diantaranya menancap di wajahku.


Sirine perang memenuhi negara ini, orang-orang panik dan berteriak dengan keras.


'U-Uhhh...'


Aku terjatuh dan kepalaku membentur lantai. Kepalaku sedikit pusing dan wajahku terasa pedih, dan aku menoleh kesana kemari.


'Apa yang terjadi?'

__ADS_1


Seluruh jendela pecah dan berhamburan, namun kereta ini tidak kunjung berhenti. Kemudian aku mencoba untuk berdiri dengan bantuan kursi yang ada disebelahku.


Kereta melesat memasuki terowongan yang gelap, deru mesinnya menggema dan sepanjang kereta ini menjadi gelap.


Ekspresi gusar terlihat di hadapan orang-orang, beberapa dari mereka terluka parah, dan mereka saling membantu satu sama lain.


Mereka pun terus bertanya-tanya mengenai hal yang terjadi sekarang, dan kebanyakan dari mereka menduga bahwa ini adalah serangan *******.


Tidak lama kemudian, sebuah hologram berwarna biru muncul didepan kami. Bentuknya transparan seperti kaca, dan didalamnya terdapat sebuah tulisan.


[Anda telah memasuki dungeon level neraka.]


"A-apa?"


Suara gemuruh terdengar keras. Dibalik kegelapan itu, sesuatu yang panjang menarik dan mengupas kereta ini layaknya kulit jeruk.


Sebuah mahluk aneh pun muncul dan menampakkan dirinya, membuat orang yang melihatnya berteriak ketakutan.


Kkrrriii!!!!!


Makhluk itu merayap dan bertengger di atap kereta ini, tubuhnya putinya terlihat sangat kurus, dan otaknya terpampang jelas di kepalanya.


Seperti sebuah cicak yang menangkap mangsanya, makhluk itu menembakkan lidahnya kearah nenek tua yang ada di depannya.


Dalam beberapa detik, nenek itu mengering, dan tubuhnya menjadi kurus dan menghitam.


Monster itu membuka mulutnya dengan lebar dan mengaum dengan nyaring, membuat kami tersadar kembali dan mengubah keadaan yang sunyi menjadi ramai.


Kemudian seorang pria berteriak dan menggerakkan orang-orang.


"Lari!"


Teriakan histeris memenuhi telingaku, orang-orang mulai bersikap egois dan berlari menjauhi monster itu.


Mereka berlarian layaknya mangsa yang sedang diburu, dan menabrak apapun yang ada didepannya. Aku mulai bergerak dan hendak berlari, namun mereka mendorongku hingga aku terjatuh.


"Ah!"


Lenganku membentur lantai dengan keras. Pada saat yang bersamaan, lidah itu menari-nari di kereta ini, dan hujan darah pun terjadi disini.


Teriakan sakit orang-orang terdengar dan mayat berjatuhan. Trauma merasuki pikiranku, membuat darah itu menjadi seram bagiku, dan seluruh tubuhku gemetaran melihatnya.


'Apa ini....'

__ADS_1


'Darah?'


Mataku menatap darah itu dengan suram. Detak jantungku terdengar keras dan menghancurkan pikiranku, dan aku kehilangan kendali atas tubuhku.


Monster itu meluncurkan lidah panjangnya kepadaku, namun sebuah tongkat besi menghantamnya dengan keras.


"Tuan, apa kau baik-baik saja?"


Suara itu memecahkan kebekuanku, aku menoleh kearah orang itu dengan tatapan kosong.


Seorang pria berseragam polisi menjulurkan tangannya dengan senyum, seakan-akan pahlawan super yang sedang menyelamatkan sandra.


Tanganku merespon orang itu, dan bergerak perlahan-lahan kearah uluran tangannya.


Namun sebelum sampai pada tujuannya, sebuah lidah yang panjang menancap di leher polisi itu, dan menariknya kearah monster itu.


"P-Pak polisi!"


Uluran tanganku mengikuti tubuh polisi itu, dan aku melihatnya diserap oleh monster gila itu.


Darah mengalir dan orang itu melemah, namun dia masih menunjukkan senyum tampannya diakhir.


Aku melayangkan tanganku kearah polisi itu. Tanganku bergerak-gerak seperti hendak menggapainya, namun aku tidak bisa melakukannya.


"P-pak..."


Pada akhirnya seorang pria menarik badanku. Aku tidak sempat menoleh kebelakang, dan aku ditariknya menuju gerbong yang lain.


"Jangan hiraukan polisi itu! Selamatkan dirimu sendiri!"


Perlahan-lahan aku menjauh dari polisi itu. Tubuhku terus meronta-ronta dan hendak menggapainya, namun aku terus tertarik kebelakang.


Pintu gerbong pun tertutup dengan pelan. Sebuah gerakan terlihat di mulut orang itu, kemudian garis-garis biru memancar dari tangannya.


Polisi itu menatapku dengan senyum, di tubuhnya yang mulai mengering, dia mengepalkan tangannya.


"Pak...tidak..."


"Tidakkk!!!!!"


Tiba-tiba polisi itu meledakkan dirinya dan menghanguskan monster itu. Kereta ini pun terbelah, sehingga aku dapat melihat terowongan ini dengan jelas.


"Ugh!"

__ADS_1


Aku menutup mataku karena ledakan itu, dan aku sangat terkejut atas kejadian ini.


Nafasku terengah-engah dan aku terlihat sangat berantakan. Kini aku terbaring di tengah kereta, dengan orang-orang yang berdiri mengelilingiku.,


__ADS_2