
"Siapa kau sebenarnya?"
Pria itu menatapku dengan tatapan dinginnya yang tajam. Dia tidak menurunkan senjata itu, seolah-olah target tembakannya masih berada didepannya.
Tanpa bergeming sedikitpun, pria itu menarik pelatuk pistol itu, sehingga hentakan keras terdengar, dan sebutir peluru ditembakkan dari mulut pistol itu.
* * *
Deru mesin terdengar jelas, gerbong ini melaju kencang ditengah kegelapan lorong ini.
Disinari lampu terowongan yang berkelap kelip, mataku mengarah kearah kartu nama yang berwarna biru mengkilap itu.
"Kau diserang oleh monster itu. Apa kau terluka?"
Suara berat itu menyadarkan diriku. Aku mengangkat kepalaku dan menoleh kearah pria itu.
Sambil mengembalikan kartu nama itu padanya, aku mengangguk dan menjawab pertanyaannya.
"Tidak, aku baik-baik saja."
Dengan tangan kekarnya dia menerima kartu itu, kemudian aku menarik dan melepaskan tam tanganku yang rusak itu.
Seketika sesuatu melintasi pikiran pria yang bernama Devin itu. Matanya berbinar dan dia langsung menyambar lenganku.
"Apa jam ini rusak karena serangan monster itu?"
.....
Sambaran tangannya mengagetkanku yang terduduk tenang di kursi itu. Aku menoleh kearahnya dengan pandangan kosong, kemudian aku menganggukan kepalaku dengan pelan.
Devin terkejut melihat jawabanku, dia terdiam sejenak, kemudian langsung menyambar barisan koper yang tersusun rapi itu.
Koper-koper itu dibukanya satu persatu, seluruh isi koper itu dikeluarkannya dan diacaknya ke lantai, seperti seorang pencuri yang sedang melakukan aksinnya.
Aku menatapnya dengan beribu-ribu pertanyaan. Aku ingin berdiri dan menghampirinya, namun rasa takutku menghalangi niatku itu.
"A-apa yang kau lakukan?"
Tanpa menoleh kebelakang, Devin berteriak dan menjawab pertanyaanku. Sehelai demi sehelai pakaian mulai beterbangan, dan kain-kain itu menutupi mayat kering yang tergeletak disana.
__ADS_1
"Monster-monster itu tidak bisa menebus benda yang keras. Bantu aku cari pelindung tubuh yang kuat!"
Mendengar itu, aku menurunkan pandanganku dan melirik kearah jam tanganku yang rusak.
Jam itu pecah dan bagian tengahnya berlubang, namun lenganku tidak terluka sama sekali. Hal itu mengingatkanku pada kebiasaan monster itu, dimana mereka selalu menancapkan lidahnya pada leher manusia.
"Ah."
Menyadari hal itu, aku segera bangkit dan berlari kearah Devin.
Tanganku segera mengobrak-abrik isi koper itu, seakan-akan mencari harta yang terpendam didalamnya.
"Jangan menggunakan kain. Kita butuh sesuatu yang lebih keras."
Satu per satu koper itu terbuka dan isinya berhamburan, namun kami belum menemukan apa yang kami mau.
Aku mulai gelisah, karena kami menghabiskan waktu yang cukup lama untuk membongkar koper-koper itu. Pada akhirnya aku menghela nafas dan menghentikan aksiku sejenak.
Pandanganku tertarik pada segulung perekat yang tersimpan di bagasi gerbong ini. Dengan penuh penasaran aku mengambil benda itu, dan memikirkan apapun yang bisa dilakukan dengan benda ini.
'Ini...'
Sebuah ide melesat di pikiranku, aku segera menyambar tumpukan kertas itu dan menekukkannya di lenganku, sehingga tumpukan tebal itu terlihat seperti sebuah pelindung lengan.
Aku menarik perekat itu, kemudian dengan penuh semangat aku berteriak memanggil Devin.
"Tuan Devin! Kita bisa menggunakan ini sebagai pelindung!"
Devin langsung menoleh dan datang kearahku. Pandangannya menatap tumpukan kertas itu dengan cermat.
Perekat itu kutarik dan kurekatkan di tumpukan kertas itu, membuatnya menyatu dan menjadi pelindung lenganku.
Aku menghentakkan tanganku dan memutus perekat itu, lalu aku mengangkat lenganku yang dibalut tumpukan kertas itu keatas.
Devin terdiam sejenak, lalu dia menganggukkan kepalanya. Keringatnya menetes-netes dari kepalanya, menandakan staminanya telah terkuras banyak.
"Ya. Itu mungkin bisa digunakan."
* * *
__ADS_1
Devin menggulung kertas itu dengan perekat. Layaknya tentara yang siap tempur, kedua lengan kami dilindungi oleh tumpukan kertas itu, dan masing-masing dari kami memegang sebatang sapu sebagai senjata.
Baju yang membalut tubuhku dibasahi keringat, dan bayang-bayang ketakutan terlihat memantul dari pandangan mata kami.
Meskipun kami tampak siap tempur, namun mental kami tidak siap bertempur. Tubuhku berdiri dengan tegak, namun pikiranku begitu rapuh.
Keheningan melanda kereta ini. Mayat tergeletak dimana-mana, dan bercak darah mengotori seluruh tempat ini.
Beberapa saat kemudian, sebuah hologram berwarna biru muncul didepan kami. Bentuknya transparan seperti kaca, dan didalamnya terdapat sebuah tulisan.
[Anda akan segera keluar portal dan memasuki dungeon. Monster-monster akan melihat anda sebagai mangsa.]
[Anda akan memasuki dungeon dalam 00:10.]
'Apa?'
Aku menatap panel itu dengan beribu-ribu pertanyaan. Terdapat dua digit angka pada panel itu, dan angka itu terus berkurang seiring berjalannya waktu.
Suara deru kereta ini menjadi satu-satunya suara yang memasuki telinga kami. Perlahan-lahan kereta ini timbul dari balik kegelapan, dan menerobos kearah cahaya terang.
Devin menyadari sesuatu, matanya yang sebelumnya terlihat bingung berubah menjadi tajam.
Tangannya meremas tongkat itu dengan erat, dan dia mulai membuka mulutnya.
"Namamu...Leon bukan?"
Aku mendengar panggilannya dan menoleh kearahnya. Dengan pandangan yang lurus kearah jendela, dia tersenyum dan mulai berkata-kata.
"Bersiaplah. Sesuatu yang tidak terbayangkan olehmu akan terjadi."
"A-ap...?"
Sebelum aku sempat menyelesaikan kata-kataku, secarik cahaya tiba-tiba merembes masuk melalui jendela, dan gerbong ini melesat keluar dari terowongan ini.
Seketika mataku tertarik kearah jendela, dan melihat sebuah kota yang hancur, dimana terdapat naga yang beterbangan diatasnya dan bangunan-bangunannya yang roboh.
Aku tertegun, sampai tidak bisa mengatakan apa-apa. Dunia yang berantakan dan monster yang beterbangan ini, hanya bisa ditemukan didalam sebuah game.
Pada saat yang bersamaan, penunjuk waktu yang ada pada panel tersebut pun menunjukkan angka 0, yang diiringi oleh bunyi bel yanng nyaring.
__ADS_1
[Selamat Datang di Evangenesis!]